“Kau memikirkan sesuatu?”
Tiba-tiba lamunan Tirta tersentak. Ia melihat sekeliling dan semuanya berbeda dengan semalam. Ternyata ini sudah pagi. Ia tengah berada di ruang kerja dan Ratu Natasha berdiri dengan raut muka terheran-heran.
“Atau kau tidak sedang sakit? Aku perhatikan sejak pagi kau tidak bisa berkonsentrasi. Tidak seperti biasanya.” Ratu Natasha mendekat hendak menyentuh dahi Tirta.
Namun Tirta tanggap menangkap pergelangan tangan Ratu Natasha sebelum kulit mereka bersentuhan. Lantai Ratu Natasha terkejut. Sebelah alisnya naik, mempertanyakan apa yang terjadi.
“A-aku tidak apa-apa.” Tirta bicara tergagap.
Tak dielak olehnya berdekatan dengan Ratu Natasha membuatnya debar jantung meningkat. Ini sungguh tidak baik. Terkadang hal itu menambah kadar fokus Tirta semakin berkurang. Meski Tirta menyukai saat-saat di mana jarak mereka sangat dekat, Tirta harus bersikap biasa saja.
Pasalnya Ratu Natasha belum mengetahui Tirta telah memendam rasa suka padanya dari lama. Sedangkan Ratu Natasha hanya menganggapnya sebagai teman dekat. Walaupun status mereka telah berubah menjadi raja dan ratu. Sayangnya Tirta tak bisa mengubah hubungan seperti status mereka. Sebab di sini hanya Tirta yang mempunyai perasaan itu.
“Lalu, apa sesuatu yang buruk sedang terjadi? Kau seperti habis menerima kabar korupsi salah-satu petinggi Azurastone.”
Ratu Natasha berjalan mengelilingi ruangan kerja raja. Melihat-lihat lukisan-lukisan orang yang pernah memimpin Kerajaan Azurastone. Termasuk lukisan mendiang raja sebelumnya. Raja Ryasion tampak gagah mengenakan pakaian raja dan mahkota di kepala. Jemari Ratu Natasha menyentuh lukisan itu penuh sayang.
Dari tempatnya duduk Tirta melihat pemandangan Ratu Natasha mengagumi lukisan raja sebelumnya. Ada banyak cinta di kedua mata Ratu Natasha. Binar indah yang belum pernah Tirta dapatkan darinya. Tirta sangat berharap suatu hari bisa mendapatkannya juga.
Padahal sekarang wanita itu merupakan miliknya. Namun Tirta tidak bisa mendapatkan wanita itu seutuhnya. Tirta tidak mendapatkan hati Ratu Natasha. Dalam hati Ratu Natasha hanya ada satu orang. Meski Tirta sangat ingin menjadi orang itu, ia tidak bisa memaksa.
“Tidak ada yang korupsi. Aku harap tidak akan pernah ada. Hari ini hanya ada masalah-masalah kecil.”
“Jadi jangan terlalu dipikirkan. Masalah-masalah kecil itu bisa cepat diselesaikan,” ujar Ratu Natasha tersenyum, beralih pada lukisan lain di ruangan itu. “Para pemimpin sepertimu terbiasa menghadapi banyak masalah.”
Ruangan kerja raja di penuhi barang-barang antik yang berasal dari berbagai belahan dunia. Biasanya barang-barang itu didapatkan dari perjalanan jauh atau hadiah dari pemimpin kerajaan lain sebagai tanda hubungan baik. Di ruangan Ratu Natasha juga terdapat banyak barang-barang antik pemberian kerajaan lain. Ratu Natasha menyimpannya dengan baik.
“Masalah kecil bisa cepat diselesaikan, tapi biasanya masalah kecil lain akan cepat datang juga. Hidup ini dipenuhi masalah.” Tirta mengela napas.
Ratu Natasha terkekeh. “Kau bisa beristirahat jika lelah.”
“Mana bisa aku beristirahat saat banyak beban dan banyak harapan bertumpu di bahuku? Sepertinya aku tidak ditakdirkan beristirahat dengan tenang.”
Sesaat Ratu Natasha tertegun mendengar keluhan Tirta. Mendadak ia dibelenggu rasa bersalah begitu besar. Ia tahu Tirta hanya melontarkan candaan, tetapi baginya terdengar seperti kejujuran. Tirta berada di posisi sekarang ini karena dirinya. Ratu Natasha sedikitnya ambil peran memaksa Tirta naik ke singgasana. Lelaki itu menolak keras usulan semua petinggi kerajaan perihal kekosongan pemimpin negeri ini.
“Maafkan aku,” lirih Ratu Natasha sarat akan rasa bersalah.
Kening Tirta mengkerut. Lantas baru menyadarinya setelah beberapa saat. Ratu Natasha salah paham pada ucapannya. Tirta tak bermaksud menyinggung soal itu. Ia tidak punya masalah dengan menjadi seorang raja. Karena inilah keinginannya.
“Karena aku, kau harus menanggung beban berat ini. Aku, aku tidak berdaya, Tirta. Semua orang menekanku. Sedangkan kau tahu kerajaan kita tidak punya pewaris lain selain Gyusion. Demi menjalankan kerajaan ini kami butuh seseorang yang pantas duduk di singgasana itu. Kaulah orangnya, Tirta. Maafkan aku.”
Tirta bangkit dari posisi duduknya menghampiri Ratu Natasha. Sungguh, mendengar permohonan maaf Ratu Natasha menambah pilu dan rasa bersalah Tirta. Ia tidak tega membiarkan wanita yang dicintainya bersedih.
“Tidak, Natasha. Kau sama sekali tidak bersalah. Aku hanya bercanda. Jangan pernah berpikir aku sangat terbebani dengan semua ini. Terkadang aku hanya sedikit khawatir jika tidak bisa memenuhi kepercayaan rakyat. Itu saja. Selebihnya, ada banyak orang yang membantuku, mendukungku, dan mengajarkanku menjadi pemimpin. Meski aku tidak didik untuk memimpin sebuah kerajaan sejak kecil, tapi aku terus berusaha mengatasi semuanya sampai batas kemampuanku. Kau turut andil dalam perjalananku menjadi pemimpin negeri ini, Natasha.”
“Jika saja Raja Ryasion tidak pergi terlalu cepat—“
“Ratu Natasha ....” Tirta menggeleng.
Justru jika Raja Ryasion tidak pergi terlalu cepat, mereka berdua tidak akan pernah ada alasan sedekat ini. Selamanya Tirta hanya akan menjadi pelayan kerajaan dan menyaksikan Ratu Natasha tertawa bersama lelaki lain. Tirta bisa membayangkan dirinya bersembunyi di balik pilar-pilar itu sembari menggepalkan tangan. Baru bayangan saja sudah sangat menyeramkan.
“Jangan pernah merasa bersalah atas apa pun. Semua yang terjadi bukan kesalahanmu. Kau bisa mengandalkanku lebih dari. Aku bersedia melakukan apa pun. Berusaha mewujudkan semuanya. Aku berjanji.” Tirta meraih jemari Ratu Natasha dalam genggaman lembut.
Ratu Natasha menunduk, lalu membalas tatapan dalam Tirta. Lelaki di hadapannya berkaca-kaca. Jenis ekspresi yang sesungguhnya sulit dijelaskan. Ratu Natasha coba menyelami semua itu, yang ia temukan dalam mata Tirta adalah ketakutan. Ratu Natasha lebih dulu melepas genggeman tangan mereka.
Jarak kembali tercipta di antara mereka. Tirta yang paling merasakan kehilangan. Tirta segera tersadar, apa yang dia lakukan barusan telah lancang. Ia melewati batas, melupakan bahwa di antara mereka ada benteng tinggi.
“Maafkan aku, Natasha. Aku bersikap lancang padamu—“
“Tidak apa-apa,” sela Ratu Natasha mengalihkan pandangan. Perasaannya berubah aneh, entah mengapa. “Kau bisa kembali bekerja. Maaf aku mengganggu waktumu.”
“Kau bisa tinggal lebih lama di sini.”
Ratu Natasha memberi gelengan lemah sebagai caranya menolak halus. “Aku harus melakukan pekerjaan lain.”
“Baiklah,” ujar Tirta terdengar agak kecewa. Tirta kembali ke meja kerjanya.
Menyadari perubahan suasana hati Tirta, Ratu Natasha merasa bersalah. Setelah melimpahkan banyak tugas pada lelaki ini, setidaknya Ratu Natasha memberi semangat.
“Kau ada waktu luang nanti malam?”
Perlahan Tirta mendongak. Ternyata Ratu Natasha masih ada di ruangannya. Ratu Natasha menunggu jawaban. Sementara Tirta masih mencerna apa yang dikatakan wanita cantik itu.
“Aku ingin keluar istana melihat festival malam ini. Kalau bisa tanpa pengawalan. Tapi jika kau masih banyak pekerjaan aku tidak—“
“Aku bisa.” Tirta menyambar cepat. Sadar terlalu cepat menanggapi, Tirta berdeham sebelum lanjut bicara, “Aku bisa menemanimu.”
Terbitnya senyuman manis Ratu Natasha bagai dewi yang baru saja turun dari surga di tengah musim gugur. Saking terpananya Tirta sampai lupa berapa lama dirinya menahan napas. Tak pernah baik-baik saja memang jika berdahapan dengan orang yang disukai.
“Baiklah. Kalau begitu, sampai nanti.”
Hingga Ratu Natasha telah hilang di balik pintu itu, Tirta masih ternganga di meja kerja. Seolah sosoknya masih ada di tempat itu. Tirta sempat menampar diri sendiri demi membuktikan ini nyata atau khayalan belaka. Ternyata tamparannya sakit. Berarti ia tidak salah dengar bahwa wanita yang ia sukai dari lama mengajaknya keluar hanya berdua.
***
“Kemarin Lolita membakan banyak makanan enak dari luar Darkness. Katanya itu hadiah ulang tahunku. Jadi aku membaginya padamu. Enak bukan?”
“Aku iri Kakak selalu merayakan ulang tahun. Sedangkan aku? Aku saja tidak yakin ibu mengingat kapan aku lahir. Baginya yang paling penting hanya kerajaan dan posisinya.”
Gyusion menepuk bahu adiknya. “Kau kan selalu merayakan ulang tahunmu bersama kami. Mengapa kau sedih? Sudah jangan pikirkan lagi. Nikmati saja kue-kue ini. Sangat jarang kita makan makanan unik seperti ini.”
“Bentuknya mirip bunga, tapi rasanya manis dan seperti kue yang terbuat dari tempung yang sering dibuat pelayan di istana.” Xevana memerhatikan dengan teliti bentuk kue yang ia ambil. Warnanya putih dan berbentuk lapisan-lapisan kelopak bunga yang mekar. Jika makanan sebagus itu, sangat sayang memakannya. “Apa boleh aku memakannya?”
“Jelas boleh, ini adalah makanan. Aku membawa banyak. Di rumah juga masih banyak jika kau mau.”
“Bukan itu maksudku, Kak. Kue ini terlalu cantik untuk jadi makanan.”
Gyusion terkekeh. Adiknya sangat lucu. “Makanlah. Seperti bentuknya yang indah, rasanya juga enak. Naya bilang kue ini namanya kue bunga teratai. Bunga ini hidupnya mengapung di air.”
“Mengapung di air?” Mata Xevana membulat.
“Iya, aku juga baru mendengarnya. Kau tahu kemarin hari apa?”
“Ulang tahunmu?”
“Iya, selain itu ternyata di Azurastone di gelar festival. Tepat di hari ulang tahunku. Sepertinya setiap aku ulang tahun Naya dan Lolita pergi ke sana. Sebab di hari ulang tahunku mereka selalu memberikan barang atau makanan aneh.”
“Seperti apa festival itu?”
Gyusion juga bingung bagaimana bentuk festival. Mereka sama-sama belum pernah menghadiri sebuah festival. Namun dari penjelasan Naya dan Lolita mengenai kemegahan festival, Gyusion rasa tahu jawabannya.
“Mungkin sejenis perayaan.”
Di Negeri Darkness sering diadakan perayaan. Pesta rakyat di balai kota yang dihadiri banyak orang. Rakyat Darkness merayakan hasil panen mereka setiap musimnya.
Xevana mengangguk-anggukan kepala mulai paham. “Apa yang mereka rayakan? Apa hasil panen juga seperti kita?”
“Aku tidak tahu. Soal itu sepertinya aku harus bertanya lagi pada Naya dan Lolita. Aku terlalu senang dibawakan banyak pakaian baru dan makanan jadi tidak terlalu peduli soal itu.”
Sebenarnya dalam benak Gyusion berkecamuk. Andai saja dirinya bisa keluar dari Darkness sebentar saja untuk menyaksikan festival itu. Sangat beruntung menjadi Naya dan Lolita bisa sesekali melihat dunia luar.
“Nanti juga Kakak bisa melihat dunia luar,” celetuk Xevana seolah bisa menebak isi pikiran Gyusion.
Gyusion kembali menyuap roti di genggamannya. Sudut bibirnya berkedut, baru saja melintas bayangan dirinya bisa melewati benteng pertahanan Negeri Darkness. “Saat hari itu tiba aku ingin membawamu melihat dunia luar itu. Pasti menyenangkan, bukan?”
Xevana ikut menerawang jauh ke angkasa.