33. Sebuah Keluarga

1543 คำ
Hidangan di meja makan menjadi tidak seenak kelihatannya. Tidak ada yang salah dari rasa atau pun tekstur. Penyebabnya hanya suasana yang tidak bagus. Dari awal makanan datang, dua orang yang duduk saling berjauhan di meja makan saling diam. Denting alat makan beradu saja yang menjadi suara satu-satunya. Para pelayan yang setia berdiri di sisi ruangan tampak merasakan ketegangan itu. Diam-diam mereka saling melirik rekan kerja. Mereka bicara lewat bahasa mata. Meski sebenarnya tak ada ujungnya. Mereka malah mendapat teguran dari pemimpin dapur. Mereka biasa melihat ratu dan tuan putri makan bersama tapi tak ada obrolan. Anehnya mereka biasa saja, seolah nyaman dengan keadaan begitu, yaitu punya dunia masing-masing. Para pelayan juga tak merasakan atmosfer mencekam seperti sekarang. Ini benar-benar seperti sebuah perang dingin. Dimana taruhannya siapa yang paling bertahan lama tidak bicara. Sesungguhnya kalau boleh mengatakan ini, keluarga kerajaan sangatlah aneh. Dan keanehan itu telah menjadi rahasia umum seluruh pekerja istana. Para pekerja di istana sangsi membicarakan setiap hal yang terjadi dalam istana ke luar. Sebelum mereka mengabdi, ada sumpah yang harus mereka laksana. Pelanggaran sumpah itu tak main-main. Urusannya soal nyawa dirinya dan seluruh keluarga maupun orang terkasih. Kerajaan memang selalu ketat soal peraturan. Terutama Ratu Alexa. Semua orang percaya mata dan telinga Ratu Alexa ada di setiap sudut Negeri Darkness. Apa yang dilakukan dan dikatakan seluruh rakyat di negeri ini diketahui Ratu Alexa. Mengapa mereka berpikiran begini? Sebab seorang orang tahu dan telah mengakui bagaimana kehebatan sihir Ratu Alexa. Setiap ada kejahatan sekecil apa pun di negeri Darkness pasti tidak membutuhkan waktu lama prajurit Darkness datang. Pelaku akan disidang dan diadili di muka umum. Bahkan yang berani menghina Ratu Alexa akan mendapat hukuman paling berat yakin The Gladiator. Sudah pasti The Gladiator adalah hukuman mati. Hanya orang-orang yang punya kekuatan luar biasa yang bisa terbebas dari tempat itu. Contohnya baru-baru ini adalah Akai. Rakyat Darkness banyak membicarakan Akai. Sekarang Akai menjadi salah-satunya jajaran orang berpengaruh di Negeri Darkness. Ratu mempercayakan Akai menjadi guru ilmu bela diri untuk melatih Putri Xevana. Denting sendok berati dengan piring kali ini cukup keras sehingga menarik perhatian Ratu Alexa di kursi ujung. Selanjutnya derit kursi bergeser terdengar. "Aku selesai." Xevana berdiri hendak meninggalkan meja makan. "Kau sudah selesai? Makanmu sedikit sekali. Apa semua makanan ini tidak enak?" Pertanyaan Ratu Alexa itu menghentikan langkah Xevana. Sekaligus menghentikan detakan jantung para pekerja dapur istana. Mereka bisa mati jika masakan mereka tidak disukai ratu dan putri kerajaan. Ratu Alexa tidak akan segan memberi hukuman berat. Xevana melirik beberapa pelayan yang menunduk. Mereka tampak tegang berdiri di sisi ruangan. Lalu beralih lagi pada ibunya. Meski sangat tipis, senyum licik Ratu Alexa tertangkap Xevana. Tampak jelas juga Ratu Alexa sengaja mengatakan hal itu untuk menakut-nakuti mereka. "Tidak. Bukan begitu. Aku hanya ingin cepat-cepat pergi beristirahat," jawab Xevana. Para pelayan yang berdiri di sisi ruangan kontan menghela napas dalam posisi kepala tertunduk. Mereka sangat lega mendengar jawaban Xevana. Pekerjaan ini sangat sulit dan penuh risiko. Sangat penting bagi mereka memastikan keluarga kerajaan menikmati setiap hidangan. Seperti yang dikatakan di awal, sumpah mereka berurusan dengan nyawa. Jangan sampai gara-gara kurang menambahkan garam, nyama mereka melayang. "Oh, iya. Hari ini kau telah mempelajari banyak hal. Pasti energimu juga banyak terkuras, bukan? Harusnya kau duduk kembali dan makan yang banyak. Kau harus mengembalikan energimu lagi. Lagu pula kelihatannya kau tidak ingin mereka menerima akibatnya." Sudut mata Ratu Alexa melirik barisan para pelayan. Jelas kalimat terakhirnya adalah sebuah ancaman. Emosi Xevana sedikit terpantik, "Apa yang Ibu katakan?" "Aku hanya mengatakan apa yang ingin aku katakan." Menyebalkan. Xevana merotasi bola mata. Dengan terpaksa kembali duduk. Hal itu mengundang kedutan di sudut bibir Ratu Alexa. Meski sangat tidak berselera Xevana mau menyantap makan malam lagi. Ratu Alexa memerhatikan di ujung meja makan. Sepertinya sudah lama ia menunggui putrinya menghabiskan makanan. Ia lupa terakhir kali melakukannya. Telah banyak yang terlewat. Sekarang, Xevana tak terasa sudah bukan anak-anak lagi. "Akhir-akhir ini kau telah berlatih dengan keras. Kemungkinan dalam waktu dekat kau bisa naik tingkatan. Apa yang kau inginkan sebagai hadiah?" Suapan Xevana terhenti di udara. Xevana menoleh ke ujung meja makan di mana Ratu Alexa duduk dengan gaya angkuhnya. "Kau akan menuruti semua keinginanku?" Xevana ternganga, masih tidak percaya pada penawaran dari ibunya. "Tentu, sebagai ibu, aku akan memberikan apa pun keinginan anaknya. Apa lagi saat anaknya meraih prestasi--" "Apa boleh," Xevana menyela ucapan Ratu Alexa, habis itu di ujung sana Ratu Alexa menunggu jeda kalimat Xevana," aku meminta sesuatu padamu bukan sebagai anak pada ibunya, tapi sebagai rakyat pada ratunya?" Sama seperti Ratu Alexa yang bergeming. Atmosfer dalam ruangan itu kembali mencekam. Bahkan kali ini berkali lipat. Raut wajah Xevana teramat serius. Seolah ia memang menanti hari di mana dirinya mengatakan keinginannya. Suara dalam diri Ratu Alexa mengatakan ini tidak akan baik. "Apa bisa?" Xevana mengulangi perkataannya lagi. "Selagi aku bisa memberikannya akan aku berikan." *** Sepanjang jalan utama di kota itu dipenuhi hiasan lampu gantung yang menyala kekuningan. Jika di siang hari mata disuguhi pemandangan barisan bendera kerajaan dan hiasan berwarna-warni di sepanjang jalan utama menuju istana Azurastone. Maka malam hari menjadi waktu paling tepat menyaksikan keramaian dan suasana hangat. Mereka melakukan ini hanya di hari-hari tertentu. Dalam rangka memperingati hari kelahiran pangeran yang disandra negeri seberang, mereka membuat perayaan ini setiap tahun. Awalnya kegiatan ini dilaksanakan atas titah Ratu Natasha. Namun, selama belasan tahun berlangsung menjadi turun-temurun dan berjalan seperti sebuah tradisi. Mereka menamai hari itu sebagai Hari Gyusion. Semua orang harus keluar rumah dan bersenang-senang di balai kota Dan sepanjang jalan utama. Musik mengalun sepanjang malam. Anak-anak berlarian di tengah orang dewasa. Sebagian lagi berkumpul menyaksikan festival lentera teratai yang diapungkan di sungai. Mereka menuliskan harapan pada lentera-lentera itu. Ratu Natasha juga selalu menyumbangkan satu lentera yang diapungkan di sungai. Pelayan istana yang mengantarkannya ke sungai. Dalam lentera itu harapan Ratu Natasha tetap sama. Ingin putranya segera kembali. Dari atas balkon kastil Ratu Natasha menyaksikan keramaian malam itu. Haru melingkup hatinya hingga tak bisa menahan laju air mata. Istana yang berada di atas ketinggian menambah takjub pemandangan. Lentera-lentera sepanjang jalan utama terlihat seperti aliran cahaya. Ratu Natasha memeluk diri sendiri. Matanya memandang jauh ke titik terjauh wilayah Azurastone. Kemungkinan bahkan lebih. Tempat itu di mana putranya berada. Ia berharap di tempat jauh itu putranya tengah merayakan hari ini juga. Gyusion .... Entah bagaimana rupanya sekarang. Ratu Natasha masih mengingat jelas bagaimana Gyusion kecil dalam dekapannya. Kini ia tak bisa membayangkan bagaimana Gyusion setelah belasan tahun berlalu. Mungkin Gyusion mirip dengan ayahnya, atau bisa juga Gyusion lebih mirip ibunya. Ratu Natasha hanya bisa tersenyum membayangkan rupa putranya. "Tahun ini terasa berbeda." Suara berat itu terdengar dari belakang. Tirta berjalan pelan menghampiri Ratu Natasha. Jika Ratu Natasha akan membiarkan Tirta melakukan kebiasaannya berada di luar ruangan untuk menatap bulan purnama. Tirta juga melakukan hal yang sama. Ia membiarkan Ratu Natasha diam di balkon kastil menyaksikan keramaian jalan utama sepanjang perayaan Hari Gyusion. Tirta menyampirkan jubah ke tubuh Ratu Natasha sembari berkata, "Kau juga harus menjaga kesehatan." "Terima kasih," balas Ratu Natasha menarik jubah itu hingga menutupi seluruh tubuh. "Tahun ini lebih meriah, bukan?" "Hm, tahun ini semua rakyat Azurastone turun ke jalan. Musiknya juga lebih keras. Mereka benar-benar sedang berpesta." "Ini baru hari pertama. Kita masih punya enam hari perayaan lagi. Sebenarnya aku tidak ingin malam ini cepat berlalu, tapi aku juga tidak sabar untuk menyaksikan bagaimana perayaan yang dibuat rakyat besok." "Hari-hari berikutnya pasti akan semakin meriah. Mereka selalu mempersiapkan hari ini selama satu tahun." "Mengagumkan, bukan? Mereka semua mencintai Pangeran Gyusion." Senyuman Ratu Natasha senantiasa mengembang. Helaan napas pelannya kemudian sedikit merubah suasana.Tirta memerhatikan wanita cantik jelita ini dari samping. Selalu saja sebuah pujian terlontar dalam hatinya. Tak berubah sejak mereka bertemu. "Ini sudah enam belas tahun jauh dari putraku sendiri. Bila mereka berkata waktu sebanyak itu tak terasa berlalu. Bagiku setiap harinya pun sangat berat aku lalui. Keinginan besar untuk menjemput anakku dari tempat itu menjadi beban besar. Tapi di sisi lain aku sadar, meski aku membawanya kembali, aku takut menjadi alasan anakku hilang selamanya." "Kutukannya akan hilang setelah usianya delapan belas tahun." Tirta memberi harapan. "Aku harap begitu. Aku harap Gyusion terbebas dari kutukan. Gyusion bisa hidup meski dia berada di luar wilayah kerajaan Darkness." Tirta mengangguk, mengikuti ke arah mana netra indah wanita di sampingnya memandang. "Enam belas tahun berhasil kau lalui. Aku yakin kau akan melewati dua tahun ke depan. Kalian akan hidup bersama. Setelah itu hanya akan ada kebahagiaan di istana ini." "Aku mengingatkan semua itu. Kau bisa berjanji mewujudkannya?" Tirta balas menatap Ratu Natasha yang tengah menatapnya penuh harap. Raut wajahnya membuat Tirta tak kuasa mengatakan hal yang bisa menghancurkan harapannya. "Jika kepercayaanmu bersamaku. Itu menjadi kekuatan tambahan bagiku untuk membawa kebahagiaan ke dalam istana kita. Aku akan membawa Gyusion ke hadapanmu." "Kau tahu, Tirta? Aku mengerti sekarang mengapa raja terdahulu sangat mengandalkan dirimu lebih dari siapapun. Karena kau selalu berusaha mewujudkan keinginan orang lain. Jika raja terdahulu sangat mempercayaimu, mana mungkin aku tidak mempercayaimu? Aku mempercayaimu, Tirta. Kau yang akan membawa putraku kembali. Kau, Tirta." Sesaat Tirta tertegun mendengat raja terdahulu disebut dalam pembicaraan mereka. Ini bukan pertama kalinya Natasha membahas suaminya ya g telah meninggal, tetapi malam ini pembahasannya membuat Tirta sakit. Mengingatkan Tirta pada pengkhianatan yang telah ia lakukan demi mencapai posisi tertinggi. Entah sampai kapan rahasianya terus terjaga. Tirta berharap semua rahasianya akan terus terkubur selamanya. 
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม