"Vay!" Maya datang dengan hebohnya tepat di saat aku baru sampai di depan kos ku.
Dih ngapain sih anak dateng mulu!
Dia datang dengan wajah berbinar-binar, sambil berloncat-loncatan yang membuatku sedikit ragu dengan kewarasannya.
"Kenapa, Lo?" Aku menatapnya horor, ketika dia masih cengar-cengir sendiri mirip orang gila.
"Gue ketemu sama dia, Vay!" Maya berlari ke arah ku dan segera menghambur ke pelukan ku. "OMG, gue juga enggak nyangka bisa kenalan sama dia!" Ucapnya lagi sembari menggoyang-goyangkan tubuhku.
Dasar! Salah minum obat kali nih, anak!
"Udah... udah, gue pusing tau!" Dia pun menghentikan aksinya mengguncang-guncang tubuhku, laku cengkram lebar yang menggemaskan itu muncul di wajah cantiknya.
"Bodo' ah! Yang penting gue hari ini seneng pake banget! Udah kenakan, ngobrol, dan tukeran nomer Hp. Mimpi apa coba gue semalem!" Lalu ocehannya berlanjut seperti sales yang sedang menawarkan produknya.
Dan yang menyebalkan, tanpa sadar dia meremas pundak ku.
Eh... sakit, woy!
Di tambah lagi dia teriak-teriak sendiri seperti orang gila karena gemas dengan ceritanya sendiri.
Sampai-sampai penghuni kos lain yang sedang ada di luar menatap ke arah kami.
Malu-maluin banget sih nih, anak!
Untung saja Tante Bule tidak sampai keluar rumah, entah kemana perginya singa betina itu. Kalau dia ada pasti sudah muncul dan suasana menjadi makin heboh.
Sebelum Maya makin menggila, ku tarik dia masuk ke dalam kost-an.
"Haduh... bisa enggak sih Lo jangan berisik katak tadi? Lo udah ganggu ketenangan penghuni kost lain tau enggak?" Tegur ku saat Ki sudah ada di dalam. Aku mengunci pintu kamar kost ku dan melempar tas ranselku ke sembarang tempat.
Karena tak tahan dengan rasa letih, segera saja ku jatuhkan diri ku di atas kasur kesayangan ku.
Maya mengikuti ku duduk di pinggir kasur tanpa dipan itu.
Maya menepuk-nepuk paha ku, memintaku untuk bangun, "Vay! Dengerin cerita gue dulu napah!"
Astaga... benar-benar gadis yang sedang kasmaran.
"Hem..."Jawabku tanpa berniat untuk bangkit duduk, aku benar-benar merasa lelah hari ini.
"Tau enggak, dia bilang ke gue, dia mau ke toko roti yang ada di Deket kampus gue dan dia mau ngajak ngobrol lagi, yeiii!" Maya berteriak kegirangan lagi dan membuatku memutar bola mata malas.
"Hemm..." Jawabku lagi, sebenarnya aku sudah sangat mengantuk dan ingin segera tidur, tapi terpaksa harus mendengarkan curhatan Maya yang menurutku tidak penting itu.
Kenapa cuma gara-gara cowok harus seantusias itu? Padahal kalau aku membayangkan bisa bertemu member BTS, aku akan bersikap bisa saja.
Suer....
Nah ini... si Maya malah terlihat seperti orang kesetanan.
Kasmaran... ya kasmaran aja. Biasa aja bisa kali!
"SAUN GANTENG, MUACH!" Teriakan Maya membuat ku terpaksa bangkit duduk dan menatapnya dengan jengkel.
Bagaimana tidak? Aku sedang ingin istirahat dan dia teriak seperti memakai toak. Menyebalkan sekali bukan? Dia hanya membalas ku dengan tawa cengengesan yang menyebalkan.
"Bisa diem enggak, sih! Berisik tau! Kuping gue pengang nih!"
Tawa Maya malah terdengar berderai lebih keras.
Sialan!
***
Pagi yang tidak pernah ku harapkan sebelumnya tjba-tiba terjadi, setelah beberapa hari aku tidak mendengar suara Tante Bule yang mengaum, tapi tiba-tiba pagi ini aku mendengarnya.
Dor dor for
"WOIII... BANGUN, JANGAN PURA-PURA BUDEG LO!"
Suara gedoran pintu beserta teriakan yang membahana itu terdengar dari luar.
Kalau begini caranya, aku berharap bisa budeg untuk sementara.
Eh... tapi jangan deng!
Serem juga kalau budeg beneran.
"VAYAAAA...!" Teriaknya laginyang belum mendapat respon dariku.
"Ya... bentar!" Sahut ku untuk sedikit menenangkannya. Tapi sebenarnya aku masih enggan membuka mata. Semalam aku habis begadang menyelesaikan tugas kuliah sekaligus membuat artikel baru.
Satu, dua, tiga detik kemudian. Teriakan yang membahana itu kembali terdengar. Dan kali ini aku benar-benar harus terpaksa bangun dari tidurku.
Ceklek!
Ku buka daun pintu kamar kos ku, dan ku temui Tante Bule sedang menatap tidak ramah ke arah ku.
"Ada apa sih Tante? Belum waktunya bayar kos kan?" Tanya ku dengan nada santai.
"Gue bukan mau ngomong soal itu," sahutnya ngegas.
Terus apa dong!
"Lo lupa peraturan di kos ini, ya? Di larang bawa temen nginep, kalau terbukti ketahuan.bawa temen nginep, Lo harus bayar benda, masih inget kan Lo sama peraturan itu, jangan pura-pura lupa, Lo!" Sergahnya.
Aku sontak menepuk jidat ku sendiri, kenapa aku bisa seceroboh ini melupakan masalah ini?
Benar juga, dua hari yang lalu Maya dan Lusi menginap di sini. Dan untungnya semalam aku usir Mata untuk pulang, jadi aku tidak perlu bayar denda dowbel-dowbel deh.
Tapi siapa sih nih yang reseh, pake ngadu-ngadu segala! Huh....
"Sekarang cepetan bayar dendanya! Dua ratus ribu!" Ucap Tante Bule.
Hah... banyak amat, dwit gue mana ada segitu?
"Belum ada dwit, Tante! Kas bon aja lagi ya?" Tawar ku sambil memasang cengir kuda.
"Kas bon Mulu Lo kerjanya, awas aja Lo kalo bulan ini PHP lagi. Suap-siap aja angkat kaki dari sini!"
Aku seketika menelan ludah kamar, karena jujur saja sampai hari ini aku masih bingung bagaimana bayar kos bulan ini dan dua bulan sebelumnya yang menunggak.
"Oh... tenang, Tante. Aku baru aja dapet proyek baru, jadi tunggakan plus sewa bulan ini, aku pasti bayar kok, tenang aja." Sahutku sok santai.
"Lagu Lo gede! Awas aja kalau Lo ngemeng doang kayak biasanya!"
Ini orang ngomongnya bisa enggak sih santai dikit?
Malu kan gue jadinya di liatin yang lain...
Dasar enggak berperi kemanusiaan,
Huh....
Aku menghela napas lega ketika akhirnya Tante Bule pergi juga dari hadapan ku, setelah dia termakan lagi oleh bujuk rayuku tentunya.
Hahaha....
Ini sebenernya lagi scen sedih atau lucu sih?
Bodo' amat lah, yang penting gue bisa selamat lagi walau cuma untuk sementara waktu. Sementara jatuh tempo bayar kos tinggal beberapa hari lagi.
Masa iya gue harus ngepet?
Ngepet juga kayaknya juga enggak sempet.
Ah elah....
Masa iya sih aku harus ngerengek sama orang tua ku? Mau di taruh di mana muka ku? Kalau aku tiba-tibs pulang? Kan aku sendiri yang putusin buat bisa hidup mandiri?
Lama aku mematung di depan cermin sembari meratapi nasib ku, tapi aku selalu yakin pasti ada jalan keluar.
Derrt derrt derrt
Bunyi ponsel yang bergetar membuyarkan lamunan ku. Aku segera beranjak dari tempatku dan berjalan menuju nakas untuk mengambil benda pipih persegi panjang itu.
Ada nama Bu Marni terpampang di layar sedang melakukan panggilan.
Kali aja kan dia mau ngasih gue uang kaget...
Yeee... ngarep!
Bersambung.