Di hukum keluar kelas

1242 คำ
Akhir-akhir ini kak Axel makin dekat dengan ku, setiap kami berpapasan dia selalu tersenyum dan menyapaku. Dia sering bergabung dengan ku dan Ludy untuk makan siang di kantin. Dua juga sering ikut membaca buku di perpustakaan bersama kami. Kedekatan kami membuat Lusi bingung, dan kami juga bingung akan hal itu. "Kok Lo sekarang bisa Deket sama kak Axel lagi?" Tanyanya sembari mencomot kue kering yang ku letakkan di atas meja. Saat ini Lusi sedang ada di kost-an ku, kost-an yang terdiri satu kamar dan satu kamar mandi di dalam. Kami sedang mengerjakan tugas kuliah yang sangat banyak. "Mana gue tempe," jawabku asal. "Lah, gue bingung banget tahu enggak, tiba-tiba gue pas masuk, Lo sama kak Axel udah Deket kayak gitu lagi, padahal kemarin-kemarin Lo kayak orang yang enggak saling kenal." Lusi bicara begitu sembari memainkan kucing orange kesayangan ku, namanya babi. Haha kalian pasti bingung kan, kenapa namanya babi? Aku pun.... "Apa pas gue enggak masuk gitu, ada kejadian gitu? Yang bisa bikin kalian deket lagi?" Tanya Lusi penasaran. "Enggak ada, Lusi? Ya... kita pernah ngobrol dikit aja pas pulang kuliah, terus dia maksa nganterin pulang gitu, deh...." Aku memberikan tanda titik di akhir kalimat yang sedang ku salin. Akhirnya tugas kuliah ini selesai dan aku segera bergabung dengan Lusi di kasur yang sedang asik bermain dengan Babi. "Terus gimana?" Dia tampak tertarik dengan jawabanku tadi dan langsung berbaring miring menghadap ku. "Ya gitu, abis nganterin gue pulang, besoknya tiap papasan dia selalu nyapa dan akhirnya ngajak makan siang bareng." Aku tidak perlu menjelaskan lebih lanjut lagi, karena Lusi ada di sana saat kak Axel menyapaku dengan dengan senyum hangatnya. Lusi terdiam, dia memainkan bulu Babi yang halus untuk beberapa saat, kurang lebih selama lima menit kami sama-sama terdiam. Tidak ada tanggapan apapun darinya ketika aku menjelaskan semua itu. "Vay," panggilnya memecahkan keheningan di antara kami berdua, aku menoleh ke arahnya dan mendapati wajahnya yang sedang menatapku dengan serius. "Lo masih suka sama dia?" "Lo masih suka sama dia?" "Lo masih suka sama dia?" Pertanyaan itu masih terus berputar di kepalaku, Lo masih suka sama dia? "Kalaupun iya, semuanya enggak akan sama kayak dulu lagi, Lusi...." Jawaban yang sangat menohok hatiku sendiri. *** Salah satu hal yang paling menyebalkan adalah jika ada mata kuliah pagi. Kenapa? Ada banyak alasan kenapa aku tidak menyukainya. Pertama, aku harus bangun pagi-pagi sekali, agar bisa sampai di kampus sebelum jam enam. Kedua, mimpi ku untuk menikah dengan Jung Jungkook harus terputus gara-gara ini. (oh... oke, abaikan ini.) Ketiga, aku masih sangat mengantuk karena malamnya aku harus bekerja menulis artikel. Dan terakhir, aku lapar karena tidak sempat sarapan. Ah... tidak, ralat, sebenarnya karena sedang pengiritan juga. Cukup empat alasan kenapa aku malas bangun pagi, dan sebenarnya masih ada alasan lainnya. Semisal suara tante bule yang biasanya setia untuk membangunkan ku. Tapi sepertinya bangun pagi dan berangkat pagi-pagi adalah jurus yang cocok untuk menghindar. Setidaknya, iya kan? Ini hari Rabu, dan aku tidak boleh datang terlambat, sayang juga... sudah bayar kuliah mahal-mahsl tapi malah bolos. Aku tidak sebandel itu kawan. Tapi sepertinya aku benar-benar terlambat hari ini. Dor Dor Dor! "VAYAAAA....!!" Suara gedoran pintu yang di barengi dengan menyebut namaku. Suara yang tidak asing lagi. Aku melirik jam dinding di kamar ku, waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat. Ah... Sudahlah. Sepertinya Vaya Adelia tidak beruntung hari ini. *** "Maaf deh pak, saya kan enggak sengaja telat, pak," aku memohon dengan wajah memelas dan itu sepertinya sangat tidak berhasil untuk membuat pak Asrul luluh. Ya... untuk pertama kalinya, setelah hampir satu setengah tahun aku kuliah di sini, aku mengaku telat di mata kuliah komunikasi visual. Iya... aku telat! Sangat menyebalkan, aku tidak akan terlambat jika pikiran-pikiran bodoh itu menggerayangi otakku yang sedang lemot-lemotnya setelah bangun. Apalagi harus mendengar ceramah terlebih dahulu dari Tante bule. Rasanya otak sudah ingin meledak saja. Alhasil setelah acara mandi ku yang berlangsung sepuluh menit, tanpa sarapan, dan bahkan tanpa menyisir rambut. Aku pergi ke kampus dengan penampilan yang acak kadul. Dan aku akui jika sekarang aku sedang berdiri di depan pak Asrul dan di saksikan satu kelas dengan penampilan tidak karuan. Dengan rambut berantakan tentunya, juga tali sepatu yang tampak terlepas, atau sepertinya belum sempat ku ikat, entahlah.... "Keluar!" "Duh... jangan dong, pak. Kan sayang udah bayar kuliah mahal-mahal tapi saya enggak belajar." Rayuku. "Keluar!" Ujar pak Asrul sekali lagi. "Pak Asrul kan baik hati dan tidak sombong, saya jangan di suruh keluar, ya, pak, ya...." "VAYA! Apa kamu sekalian saya scors?!" Suara pak Asrul yang meninggi terdengsr menakutkan di telingaku. Sepertinya aku memang di takdirkan untuk tidak masuk kelas kali ini. Aku keluar kelas dengan di iringi sorak teman-teman di kelas. Ku ikat tali sepatuku di depan kelas sembari terus mengucapkan sumpah serapah untuk semua hal yang terjadi pagi ini. "Semangat, Vay," ucap Lusi dengan pandangan ibanya, dia melihatku dari kaca jendela di sampingnya. Aku hanya mengangguk kecil dan beringsut pergi dari sana, tidak ada tempat lain yang ku tuju selain kantin. Kebetulan sekali, perutku memang sedang lapar. Tapi sesampainya di areal yang masih sepi itu. Aku baru ingat jika aku tidak punya uang. Aku hanya bisa makan satu kali sehari untuk satu bulan ini. Jadi aku terpaksa berbalik arah dan menahan rasa lapar ku. Dan akan menahannya sampai jam makan siang tiba nanti, sembari menunggu Lusi juga. Lalu, aku harus kemana sekarang? Aku memutuskan untuk berjalan ke taman yang ada di belakang areal kampus, aku akan menunggu Lusi disana sembari menyelesaikan artikel yang sepenuhnya belum selesai semalam. Entah kenapa kepalaku terasa begitu pusing dan aku merasa badanku sedikit limbung. "Vay!" "Vay!" Dih... siapa sih?! Aku menghiraukan panggilan itu dan terus berjalan, tunggal sedikit lagi dan aku akan bisa duduk di taman. "Vay!" Aku sungguh tidak ingin tahu siapa yang sedang memanggil nama ku berulang kali, kurang kerjaan sekali, siapa sih?! Gue boleh enggak manggil nama Lo 'Vay' aja? Vay, Vay, Vay, gue suka manggil Lo kayak gitu. Jangan tidur malem-malem, Vay.... Cantik Vay.... Vay... gue mau ngomong sesuatu.... Suara-suara itu menggema di kepalaku, beserta kilasan-kilasan yang muncul dengan cepat, rasanya seperti slide film yang berputar di alam kepalaku, membuat kepalaku semakin pusing dari sebelumnya. Duk! "Aww!" Aku meringis tepat saat lututku menyentuh rumput hijau di taman dan bertemu sebuah batu yang tersembunyi di baliknya. Rasanya sangat sakit dan membuatku ingin menangis. Ah... sangat memalukan bukan, jika akuntiba-tiba menangis di depan beberapa pasang mata yang kini menatapku dengan kaget? "Vay!" Suara itu membuatku mendongak dan mendapatinya tengah berlari ke arahku. Kak Axel dengan wajah khawatirnya langsung berjongkok dan memeriksa lukaku. "Lo enggak kenapa-kenapa?" Aku diam tak menjawab dan hanya meringis kesakitan. "Augh, sakit!" Teriakku saat kak Axel mencoba menyentuh pergelangan kaki ku. "Kayaknya, kaki Lo keseleo, deh," ucap kak Axel dan wajahnya terlihat merasa bersalah karena membuat ku kesakitan. "Gue bawa ke UKS, ya?" Belum sempat aku menjawab, kak Axel susah lebih dulu meraih tubuhku dan menggendongnya ala bride style. Aku terkesiap kecil dan menyembunyikan wajahku di dadanya. Mungkin aku harus meralat sumpah serapahku pagi ini, bahwa di usir keluar dari kelas itu memalukan. Dan itu sama sekali tidak ada apa-apanya di bandingkan di gendong seperti ini. Ini jauh lebih MEMALUKAN! Wajahku memanas dan aku tidak berniat ingin tahu bagaimana kondisinya sekarang. Seperti kepiting rebus? Tomat? Atau malah seperti p****t monyet Bonbon? Entahlah.... Apa lagi mendengar siulan siulan dari para mahasiswa lain. Mau di taruh di mana muka ku? Ingin rasanya ku timpuk Mereka semua dengan sepatu! "Kak, turunin gue deh!" "Huh? Kenapa?" "Malu, di liatin tahu!" "Tapi gue nyaman, gimana dong!" Bersambung
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม