ADZAN isya’ sudah berkumandang sejak nyaris dua puluh menit lalu. Aini tengah melaksanakan sholat rawatib setelah isya’-nya. Kegiatan ibadah satu itu tak terganggu karena Fifi, Ifa, dan Umam sudah terlelap di kamar mereka (satu ruangan, dibedakan bagian kasurnya saja). Aini tahu ia bisa dengan leluasa melambatkan sholatnya dalam rangka bermunajat. Maka ia lakukan itu. Seharian ini meski minggu di pertengahan Novembernya secara fisik terasa seperti hari minggu yang biasa dan ceria—ditambah kehadiran Iis sampai tadi siang, justru beban perasaan lah yang melingkupi Aini. Ia baru menyadari, bahwa bukan marah-nya Yusuf yang bisa membuatnya sesak hati, tetapi justru diam-nya. Tak banyak bicara-nya lelaki itu pada Aini seharian ini, menghasilkan sebongkah beban yang rasanya ingin sekali dia lepa

