18 : AMANAH YANG LEBIH BESAR

1361 คำ

Aini belum pernah melihat pria paruh baya yang kini duduk di ruang kerja Yusuf itu. Meski begitu ia tetap menampakan senyum sopannya pada saat mengantar suguhan ke meja tamu di sana; di depan kursi panjang ruangan itu. Melirik Yusuf yang tengah dalam mode seriusnya, Aini jadi yakin kedatangan pria berjas ini berhubungan dengan pekerjaan Yusuf—atau minimal...GPI. Maka Aini memutuskan untuk beranjak ke ruangan sebelah tanpa berminat ikut campur urusan mereka. Ia berusaha mati-matian menyingkirkan rasa penasarannya dengan tak menoleh ke belakang lagi. Tapi sayang, keberadaan Ifa plus ocehannya di ruang makan sedikit memudarkan niat Aini. Ia memergoki anak keduanya itu tengah mencomot sisa ayam suir dari meja makan, omong-omong. Menyadari keberadaan uminya, Ifa mengeluarkan cengiran gugup. “

อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม