1 : ANAK HITAM

1361 คำ
1956.           Terakhir kali, Aini mengingat orang itu sebagai bocah pemalu, sama dengannya, tetapi kini tidak lagi. Yang ada dalam kepalanya saat nama orang itu disebut adalah bukan bocah sepuluh tahun penghafal al-Quran dan, yah, tampan. Bukan sama sekali. Yang ada dalam kepalanya begitu nama ‘Yusuf’ disebut hanyalah bocah tengik—meski kenyataannya awalnya teman-teman Yusuflah yang membuat perilaku orang itu berubah drastis dari si pemalu, menjadi si tengik. Guru-guru di sekolah maupun pendidikan pondok sudah paham betul bagaimana kucing-tikusnya mereka. Kalau nama Aini sudah disebut, pasti ada Yusuf di dalamnya, juga sebaliknya; tapi bukan dalam artian bagus seperti saling suka, dijodohkan, atau alasan positif lainnya. Di sekolah formal dan pondok, kelakuan dua anak manusia itu hanyalah saling jahil-menjahili, ledek-meledek, dan adu-mengadu. Paling parahnya mereka tak pernah bosan bersaing berprestasi untuk sekolah dan pondok meski berbeda tingkat. Yah, tak ada habisnya. Begitupun hari ini. Di acara perpisahan sekolah, di hadapan 150 wisudawan plus orangtua/wali murid tingkat M.I, Madrasah Diniyah, MTs. bawah, dan MTs. atas, mereka membawa-bawa persoalan pribadi itu dalam bentuk satu kalimat sederhana yang diulang dua kali. “Anak hitam lagi nyanyi! Anak hitam lagi nyanyi!!” Muka Aini langsung merah padam, menyadari beberapa guru memandang mereka berdua secara bergantian dengan dengusan yang menyusul. Ia yang sedang berada di panggung karena tengah menyanyikan salah satu lagu daerah tentang perpisahan, berduet dengan teman sekelasnya; Iis, jelas tidak bisa melakukan apa-apa untuk meredam suara itu. Dari sisi kanan ruangan serba guna ini, Yusuf kompak mengomando teman-temannya berteriak, tak peduli kalau teriakan itu terdengar tak sopan. Ia terlihat bebas meluapkan ‘kebenciannya’ terhadap Aini dari kalimat-kalimat itu. Kesenangan dan—bahkan—kebahagiaan yang amat sangat, terlihat dari wajahnya karena gadis itu tengah berada dalam keharusan menyelesaikan lagu. Tapi di balik ketidakberdayaan Aini itu, semua orang yang sudah mengetahui kisah mereka sudah bisa menebak kelanjutan dari teriakan kata-kataan itu. Aini akan menabuhkan genderang perang pada Yusuf, lebih keras daripada sebelumnya. Sudah pasti. *** BRAK! Seisi kelas tiga MTs. atas yang hanya berjumlah tujuh orang murid laki-laki itu kompak menoleh ke arah pintu. Pintu kelas mereka baru saja didobrak dengan tenaga laki-laki, walau nyatanya yang melakukannya adalah seorang perempuan. Bagai melihat hal horor, keenam pasang mata di dalam ruangan itu memandang satu sosok di ambang pintu dengan takut-takut. Mata beralis tipis itu memandang seisi ruangan dengan murka, seperti biasa. Tanpa butuh waktu lama, enam orang lain di ruangan ini kabur ke luar, ngeri dengan apa yang akan dilakukan Aini jika mereka terus berdiam diri walau dalam kelas mereka sendiri. Sementara itu Aini tak menghiraukan keenam orang itu karena memang targetnya hanyalah satu orang utama: Si Otak Kata-kataan itu. Diekori Iis, Aini memandang Yusuf dengan geram sambil mendekatinya. Pemuda itu tengah konsentrasi membaca buku Ilmu Pasti—salah satu mata pelajaran mereka, meski bahkan Aini sudah paham betul Yusuf tak pernah benar-benar membaca buku itu kalau ‘pose’ kegiatannya dilakukan di saat seperti ini. Itu hanya akal-akalan Yusuf agar ketika Aini ‘menindaknya’, lalu ada guru yang lewat, ia bisa mengadukan gadis itu ke guru terkait dengan tuduhan telah mengganggu kegiatan belajar orang lain. Dengan begitu, Aini lah yang akan kena hukum. Tapi sayang, hingga saat ini nyatanya gadis itulah yang selalu lebih dulu mengadu dan aduannya pun terlihat lebih meyakinkan pula. Jadi, tingkah laku Yusuf yang memutar-balikan fakta itu seolah tidak ada apa-apanya, dan otomatis hukuman selalu datang bagai bumerang kepadanya. Apes benar. Oh, ralat. Bukan hanya Aini yang paham soal itu, tapi juga Iis. Sahabatnya sejak kelas satu MTs. bawah ini sudah makan asam-garam dalam rangka memahami perilaku Yusuf. Makanya saat melihat gelagat sok tak peduli dari cowok pandai tapi tengik itu, ia langsung menarik buku Ilmu Pasti milik Yusuf tanpa permisi. Si Empu mengangkat wajah. Alis tebal nan hitam itu mengerut, lalu matanya menyeru Aini dan Iis dengan tidak terima. “Apaan, sih? Aku kan lagi baca!” “Apa buku Ilmu Pasti yang lagi kamu baca itu ngajarin gimana caranya bersikap santun ke orang-orang?” sindir Aini sengit. “Anak hitam, anak hitam! Apa maksud kamu, hm? Belum puas terakhir kali kamu berhasil membuatku menempel di bangku taman sekolah?” Mendengar pengungkitan itu lagi, Yusuf menekan mati-matian tawanya yang ingin menyembur keluar. Terakhir kali ia sukses membuat Aini mendadak membeli rok sekolah baru di koperasi karena rok lamanya terkena lem kayu yang sengaja dioleskan ke kursi taman yang memang terbuat dari kayu. Saat itu, di jam istirahat sekolah, salah satu teman Yusuf mendorong Aini duduk ke kursi itu. Jadi, yah, menempelah ia. Kejahilan satu itu membuat Yusuf dihukum membersihkan lapangan sekolah bersama teman-teman sekelasnya. Kini ia menarik napas, mencoba tetap di jalur obrolannya dengan Aini soal kata-kataan ‘anak hitam’ itu. Tak lama kemudian, setelah terpikir kata-kata yang cukup bisa membuat telinga Aini panas, Yusuf membalas: “Buku Ilmu Pasti mengajarkan soal eksakta, bukan sosial. Jadi, enggak. Aku nggak pernah menemukan di buku itu kalau kamu termasuk salah satu spesies yang patut diperlakukan secara santun.” S-spesies...?— Kedua pasang mulut itu; milik Aini dan Iis, sempurna membulat karena mau menyemprotkan kata-kata tidak terima atas ucapan Yusuf yang kurang ajar. Tapi memang dasar Aini, baginya yang pantas membalas ucapan keterlaluan itu bukanlah ledekan balik, melainkan perlakuan fisik. Maka tanpa ba-bi-bu lagi, tangan Aini mengangkat, menjawil bibir Yusuf, keras. Kepalanya membayangkan kalau yang tengah ia pegang itu adalah kuping caplang Yusuf. Kukunya yang agak panjang karena belum sempat potong setelah junub tadi pagi, melengkapi perihnya jawilan itu. “AINI! SAKIT! Hmmmpppf! Lepashhh!—” “Rasain!” Iis menyahut puas sambil tertawa, sementara Aini makin kuat menekankan jemarinya pada bibir tipis itu. Sayang, sebelum mereka sempat mengeraskan tawa, sebuah suara sudah menyapa seisi ruangan dengan lantang—bersahut dengan cuitan kecil yang memojokan Aini dan Iis. “Aini! Yusuf! Kalian ke ruangan bapak sekarang!” *** Mereka berdua sama-sama tertunduk di bawah omelan kepala sekolah MTs. atas—jenjang pendidikan mereka kini. Pak Syah, namanya. Kepalanya yang sudah setengah botak itu rasanya makin botak memikirkan cara mendamaikan kedua santri sekaligus murid terbaik yayasan ini pada tingkatnya masing-masing. Lengkaplah sudah lelahnya di hari ini dengan harus memarahi mereka berdua di ruang kerjanya. Luapan kemarahan dan ucapan menyayangkan yang dilontarkan Pak Syah dibalas dengan anggukan dan ucapan mengerti dari Aini maupun Yusuf. “...Tiga belas tahun dan lima belas tahun. Bapak kira sudah bukan saatnya lagi kalian saling menjahili dan meledek. Ayolah, tolong dewasa sedikit. Terutama kamu, Suf, yang sebentar lagi lulus dari sini. Tunjukan sikap baik kamu, dong, tolong.” “I-ya, Pak.” Yusuf menjawab sekenanya. Sepasang mata berbingkai kacamata hitam itu memandang mereka berdua bergantian. Pak Syah berdeham, “Kalau nanti-nanti bapak melihat atau mendengar kalian bertengkar lagi, kalian benar-benar harus diisolasi—jangan pernah lagi saling melihat satu-sama lain! Mengerti?!” Sementara Yusuf mengangguk dalam tundukan yang masih sama, Aini agak menaikan kepalanya. Namun pandangannya tak tertuju pada Pak Syah, melainkan ke luar ruangan ini. Di luar sana, di pelataran ruangan kepala sekolah, Iis tengah melihat sidang dadakannya. Ia tak ikut dimasukan karena Pak Syah tahu persis keributan yang dilaporkan teman-teman sekelas Yusuf itu hanya melibatkan Yusuf dan Aini. Tidak ada yang lain. Tidak ada Iis. Aini menggumul, bermaksud menunjukan gumulan tak jelas itu pada Iis. Tapi Pak Syah yang tiba-tiba menoleh ke jendela membuat Iis jadi menghindar karena tak mau terlihat menguping. Ia hilang sejenak ke balik kaca. Terpaksa, Aini kembali teralihkan. Meski tak ikhlas, ia berusaha fokus lagi ke petuah-tak-berguna milik Pak Syah—karena yah, sesungguhnya nasehat menyelesaikan konflik berkepanjangan ini tak akan terlaksana kalau tak disetujui oleh kedua-belah-pihak, kan? Satu alasan terbesar mengapa mereka tak pernah berdamai adalah gengsi. Aini gengsi untuk berhenti bersaing dan menzholimi Yusuf, sementara Yusuf terlalu gengsi untuk menyebut kata maaf setelah membalas atau memulai kembali semua tindakan pemicu konflik di antara mereka itu. Tapi kini ia sepertinya harus melakukan itu. Suara Pak Syah sudah sangat tegas dan menggelegar. Dengan kemungkinan Yusuf bisa saja dikeluarkan dari sekolah dan pondok kalau sudah keterlaluan, jelas teguran dari Pak Syah adalah salah satu yang harus didengarnya. “Pokoknya, dengar ya: untuk kalian berdua, ledek-ledekannya sudah cukup. Begitu ke luar ruangan ini, bapak harap kalian juga tak saling menghina fisik lagi—anak hitam lah, atau semacamnya, oke?” Kompak, Aini dan Yusuf membalas, “Ya, Pak.”     -YUSUF & AINI-
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม