ESOKNYA, perang dingin terjadi. Tapi bukan dalam artian yang benar-benar buruk. Yusuf tetap memandang marahnya Aini sebagai sesuatu yang wajar. Maka ia pun memutuskan tetap bersikap seperti biasa walau Aini tetap mendiamkannya. Melihat sikap perempuan itu, ia jadi teringat masa-masa sekolah mereka, sekian tahun lalu. Minggu pagi yang tenang tetap terasa tenang bagi Yusuf, tetapi tidak demikian bagi Aini. Ia masih tidak habis pikir, bisa-bisanya lelaki itu menamai anak pertama mereka persis seperti nama perempuan yang ‘merawatnya’ saat masa-masa perantauan di Sagaranten dulu. Niat Aini untuk menuntaskan pembicaraan mereka semalam sudah sungguhan terhapus. Ia tidak tertarik lagi mendengar nama perempuan itu dari mulut Yusuf. Untung saja, untung, ketika melihat Fifi, Aini sama sekali tak t

