keributan

1335 คำ
Di lantai 120, Roy tampak masih menikmati aktivitasnya di kolam renang yang berada di samping kamar pribadi miliknya. Sudah menjadi rutinitasnya di pagi hari, berenang setidaknya hingga dia bosan. Apalagi jika dia sedang libur seperti hari ini. Emm.. ralat, bukan libur tapi meliburkan diri. Menatap jam yang bertengger manis di dinding atas pintu penghubung antara kolam dan dapur. Pukul delapan lebih dua puluh tiga menit, membuat Roy segera menepi dan naik ke atas kolam. Meraih Handuk yang tersedia di kursi panjang dekat kolam. Dan menggosok rambutnya yang basah. Kring... Ponsel yang berada di meja tak jauh dari tempatnya berdiri kini berdering, ada panggilan masuk. Membuat Roy segera menghampirinya dan melihat siapa yang meneleponnya saat ini. ‘Reno’ “Halo” ucap Roy setelah benda tipis itu menempel sempurna di samping telinganya. Detik kemudian, kening Roy tampak berkerut saat mendengar keributan di sebrang telepon. “Halo, Bos. Maaf di depan ada yang ingin bertemu dengan anda.” Ucap Reno dengan suara yang sedikit tak jelas. Roy menghela nafas berat, “Aku ‘kan sudah bilang. Hari ini aku tidak mau di ganggu.” Ucapnya sedikit tajam. “Maaf, Bos. Saya sudah memberi tahunya, tapi dia tidak mau pergi. Dan terus berteriak di lobi, Bos. Semua kewalahan melerai gadis ini.” Jelas Reno, dan memang benar. Samar-samar Roy bisa mendengar ada yang berteriak tak jauh dari tempat Reno. Suara wanita yang memanggil-manggil namanya. “Gadis?” tanya Roy. “Iya, Bos. Gadis yang membuat masalah di kafe tempo hari. Dia kesini ingin bertemu dengan anda karena di suruh oleh tuan Daffa. Dan dia tidak mau pergi kalau belum bertemu dengan anda.” Jawab Reno. “Hmmm... Biarkan dia masuk.” Ucap Roy setelah beberapa saat diam. “Anda yakin, Bos?” tanya Reno memastikan. Takut kalau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, apalagi gadis yang terus berteriak itu tampak bukan sembarang gadis yang akan takut dengan ancaman dan sifat tak berperasaan sang bos. “Hmmm..” “Baik, Bos.” Tuut... Panggilan itu dia akhiri, detik kemudian Roy tampak menaikkan sudut bibirnya. Pikirannya tertuju pada gadis yang tengah menunggunya untuk bertemu. Dengan santai Roy berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Sementara di bawah sana, Reno serta dua satpam masih berusaha mencegah Jasmine yang terus berteriak memanggil nama Roy. “Mbak.. pak Roy sedang sibuk tidak bisa di ganggu. Lebih baik embak pulang saja.” Ucap salah satu satpam bernama dadda ‘SARTO’ itu. “Saya nggak akan pergi sebelum bertemu dengan tuan anda yang sombong itu!” seru Jasmine berani. “Ini anak jaman sekarang susah banget sih di bilangin.” Geram satpam satunya lagi dengan nama dadda ‘BUDIMAN’. Namun, tak di gubris oleh Jasmine. “Woy... Saudara Royyano Davin Erza!! Buruan keluar. Selesaikan masalah kita. Sekarang juga!!” Teriak Jasmine membuat semuanya melotot mendengar kata-katanya kali ini. “Anda harus tanggung jawab atas apa yang sudah anda lakukan!” teriak Jasmine lagi. Dan itu sukses membuat semua yang mendengar itu langsung berhenti dari semua aktivitasnya lalu mulai berkerumun di Lobi. “Heh.. kamu apa-apaan sih?!” ucap Reno yang juga terkejut dengan kata-kata Jasmine yang meminta pertanggung jawaban bosnya. “Kenapa?? Saya ngomong apa adanya. Bos anda itu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan. Jangan mentang-mentang dia bos perusahaan besar dan punya harta berlimpah, terus bisa seenaknya berbuat tercela dan tak mau tanggung jawab.” Balas Jasmine tanpa merendahkan suaranya. Mata Reno tampak membola mendengar kalimat yang di lontarkan Jasmine. Melirik sekitar, tampak semua karyawan yang berada di area lobi kini tengah berkerumun dan saling berbisik. Jelas, mereka tengah membicarakan tentang ucapan Jasmine barusan. Sedangkan Jasmine kini tampak tersenyum meremehkan. Reno menatap ke arah Jasmine yang juga menatapnya tak kalah tajam. ‘Gadis ini tak bisa di anggap remeh.’ Batin Reno dengan mata yang tak beralih dari wajah cantik Jasmine. “Kenapa?? ... oh, jangan-jangan anda juga sama dengan bos anda yang itu.” Sergah Jasmine menatap curiga ke arah Reno dengan tangan yang semula di pinggang berpindah ke depan d**a. Sedikit menjauh dari Reno seperti orang yang hendak di sakiti. Sontak membuat Reno gelagapan, dan segera menormalkan ekspresinya. “Kamu...” geram Reno. “Bener ‘kan? Kalian berdua sama-sama kurang ajar.” Pekik Jasmine, kemudian melangkah mundur menjauh dari Reno. “Jangan sembarangan ngomong kamu ya!” geram Reno menatap tajam ke arah Jasmine. Mata Jasmine pun kembali menajam, “Saya bicara apa adanya ya.” Balas Jasmine. "Ehem.. " terdengar Suara deheman khas dari arah pintu masuk membuat semuanya menoleh, detik kemudian mereka tampak terkejut dan tanpa di komando langsung menundukkan kepalanya. Kecuali Jasmine yang justru menatap tajam ke titik itu. Disana, sudah berdiri sang big bos dengan setelan jas rapi. Entah sejak kapan Roy berdiri di sana. Menatap lurus ke arah gadis yang dengan berani mengusik ketenangannya. Dan membuat kegaduhan di kantor miliknya. Hal yang selama ini tak pernah terjadi, karena siapa pun yang berani melakukannya berarti dia sudah sia untuk berurusan dengan si dingin tak berperasaan itu. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Jasmine, Roy mulai melangkah mendekat ke sumber keributan. Sama halnya dengan Roy, Jasmine pun masih menatap e Roy dengan tatapan yang seolah tengah berhadapan dengan musuh lama. Meskipun dalam hati dia mulai merasa takut dan was-was kalau tiba-tiba Roy berbuat sesuatu padanya. Apalagi mengingat dia berada di daerah kekuasaan pria angkuh yang ada di depannya itu. Berhenti tepat di antara Jasmine dan Reno. Menatap bergantian ke arah keduanya. Terakhir dia menatap Jasmine yang kini tampak manis dengan dres di bawah lutut dengan motif polkadot. Yang di permanis dengan belt di bagian pinggang. “Maaf, Bos. Dia benar-benar tidak mau pergi dari sini.” Ucap Reno sopan kepada Roy. Sontak membuat Roy menoleh sesaat ke arahnya. “Hmm.. “ jawab Roy mengalihkan pandangannya ke arah Jasmine yang kini mulai merasa tak nyaman karena di tatap oleh Roy sedekat dan seintens ini. “Eh, saya kesini karena di suruh sama pak Daffa. Kalau bukan karena menghormati pak Daffa, saya nggak akan pernah mau bertemu lagi dengan kalian.” Sungut Jasmine menatap ke arah Roy dan Reno. Tak ingin membuat keributan semakin menjadi, Roy tampak menghela nafas lalu meraih tangan Jasmine kemudian menariknya berjalan ke dalam lift khusus ke lantai 120. Membuat semua yang ada di sana terkejut dengan respon Roy yang kini tampak berbeda dari biasanya. Sementara Reno hanya menatap kepergian sang bos dan gadis pembuat keributan itu dengan perasaan yang aneh. Tepat setelah pintu lift tersebut tertutup, Reno baru menyadari dimana dia saat ini. Menatap ke arah karyawan yang masih berkerumun dan bergosip di beberapa titik, membuat semuanya tampak ketakutan karena aura sang asisten bos kembali menyeramkan seperti biasanya. Beda sekali saat berhadapan dengan Jasmine yang tampak hilang aura kejamnya. “Huufftt..” ‘Semoga gadis itu tidak membuat masalah yang bisa membuat si bos tambah marah.’ Batin Reno seraya berjalan menyusul keduanya dengan menaiki lift yang sama yaitu lift khusus sang bos dan dia. * Di dalam lift. Jasmine terus memberontak, berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Roy di tangannya. Namun, bukannya di lepas justru semakin kuat. Hingga membuat pergelangan Jasmine tampak memerah dan perih. “Lepas...” ucap Jasmine. Namun, tak di gubris oleh Roy yang mengalihkan pandangannya ke arah angka yang tertera di dinding. “Lepasiin.... lepas ..” ucap Jasmine dengan terus memberontak. Ting.. Pintu besi itu pun terbuka, Roy segera menarik tangan Jasmine ke dalam sebuah ruangan yang terdapat sofa set serta ada televisi dan dapur yang berada dalam satu ruangan itu. Melepaskan tangan Jasmine saat mereka sudah sampai di tempat yang Roy inginkan. Jasmine yang baru menyadari kalau di tempat itu Cuma ada dia dan pria di depannya itu pun tampak sedikit was-was dan ketakutan. Roy yang tahu jika Jasmine mulai merasa tak nyaman dan ketakutan karena di tempat yang hanya ada mereka berdua, tampak tersenyum dari dalam hati. Rencananya berjalan dengan mulus sampai saat ini. Roy pun berjalan perlahan mendekati Jasmine yang semakin terlihat ketakutan. “Ka—kamu mau A—apa??” ucap Jasmine takut, dengan kaki yang melangkah mundur. Namun, hanya di balas dengan senyuman iblis oleh Roy.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม