Pertemuan

1186 คำ
"Buka pintunya, cepat!!" Suara teriakan terdengar dari luar. Saat ini hujan badai tengah berlangsung dan Pak Wicaksono baru saja pulang memapah seorang pemuda asing. Petir menggelegar memekakkan telinga. Orang itu terluka sangat parah, darah segar menetes jatuh ke lantai membuat siapapun yang melihatnya akan tercengang. "Kakek!" Tyas berdiri dengan wajah pucat. Bagaimana tidak, orang yang ada di sebelah kakeknya sudah seperti mayat. "Telepon dokter, sekarang!" "B-baik, Kek." Tyas berlari meraih gagang telepon dan menghubungi seorang dokter. Kakek Wicaksono merobek baju yang dipakai pemuda itu dan memeriksa lukanya. Tangan kriput itu tertahan kala sang pemilik tubuh membuka mata. "Sembunyikan aku, mereka mungkin akan datang ke rumah ini." "Siapa mereka?" Tyas bergabung dan melihat keadaan pemuda itu. "Orang yang ingin mencelakaiku." Tyas dan kakeknya saling menatap. "Mereka ingin aku mati, cepat tidak ada waktu." Wicaksono terpaku sedang Tyas dengan sigap mengunci pintu dan mengambil kain pel. Dia berusaha membersihkan noda darah yang jatuh ke lantai dan kembali ke hadapan kakeknya. "Tolong selamatkan aku," ucap pemuda itu sebelum jatuh tak sadarkan diri. "Hey, anak muda. Bangunlah!" "Bagaimana ini, Kek?" Tyas cemas dan suara mobil terdengar berhenti di luar. Jantung Tyas berdetak hebat. Melihat luka pria itu, sepertinya masalahnya bukan masalah kecil. Kakek Wicaksono bangkit untuk melihat siapa yang datang. Segerombolan orang keluar dari mobil dan sedang mencari sesuatu namun ada yang tidak biasa. Mereka membawa pedang. Lelaki tua itu terkejut dan perlahan mundur. Melihat reaksinya, Tyas menghampiri dan melihat apa yang terjadi di luar. Orang-orang itu kini mengerubungi mobil kakeknya. Seolah mencurigai sesuatu. "Gawat!" Kakek Wicaksono terhenyak. Dia bergegas menghampiri pemuda tadi dan meraih lenganya. Dengan susah payah dia membawanya ke belakang. Tyas yang paham situasi lantas membersihkan sofa dan masuk ke dapur. Tak lama kakek Wicaksono datang dan pintu utama di gedor paksa. "Buka pintunya!" "Buka!" Brak!! Kakek Wicaksono terkejut. Pintu utama terbuka dan orang-orang itu masuk dan langsung menodongnya. "Hey kau! Anak buahku bilang kau baru saja melewati jalan pintas hutan jati di ujung desa." Kakek Wicaksono mengangguk. "B-benar, aku mengambil jalan itu karena jaraknya lebih cepat untuk sampai di rumah. Ada apa? Kenapa Tuan-tuan terlihat sangat marah?" Salah satu dari mereka datang dan meletakkan pedang di leher lelaki tua itu. "ACH!!" Tyas berteriak histeris. Ayam yang baru saja di potong jatuh ke lantai. "Kau! Kenapa berteriak!" Komplotan itu mendatanginya dan kakek Wicaksono segera menghalangi. "Jangan ganggu cucuku!" Brakk! Tubuh lelaki tua itu terhuyung jatuh ke lantai. Tyas melotot, menggigil ketakutan. "Tuan-tuan, ada apa sebenarnya? Kenapa kalian datang ke rumah kami?" "Kakek!" Keringat dingin membasahi tubuh. Tyas sangat takut hingga bernafas pun terlihat sesak. Wicaksono berusaha bangun untuk melindungi cucunya. Namun tekanan para penjahat itu melumpuhkannya. "Katakan kenapa kau berteriak?" Salah satu dari mereka mengecam Tyas. Gadis itu gemetar, dia menatap kakeknya yang kini juga tak berdaya. "A-aaku terkejut karena kalian mau membunuh kakekku." Komplotan itu menatap kesal, darah di baju kakek Wicaksono dan bangkai ayam yang ada di lantai membuat mereka menyipitkan mata. "Apa kau melihat seorang lelaki terluka parah di jalan tadi?" Kakek Wicaksono menggelengkan kepala. "A-aku tidak lihat apapun. Jalanan itu sepi, apalagi tak ada lampu jalan di sana." "Lalu, kenapa bajumu penuh darah? Jangan coba-coba berbohong! Atau kalian akan mati saat ini juga!" Ancamnya . Salah satu dari komplotan itu mengeluarkan senjata api. Tyas dan kakeknya seketika tergagap. "A-aku dari kota membeli bahan masakan untuk cucuku. D-dia ingin makan ayam malam ini, j-jadi aku memotong seekor ayam peliharaan kami." Kakek Wicaksono tampak panik, keringat dingin membasahi wajahnya. "Saat jalan dari kandang yang ada di belakang rumah, s-saya terjatuh dan darah ayam itu mengotori baju saya." Orang-orang itu bergegas memeriksa ke halaman belakang. Tyas dan kakeknya tegang setengah mati. Orang-orang itu berpencar dan sangat teliti, sayangnya mereka tidak menemukan apa-apa. Kakek Wicaksono menyembunyikan pemuda itu di gudang pangan. "Tidak ada, Bos!" "Periksa sekali lagi!" "Sudah Bos, benar tidak ada." "Ayo, cabut!" Komplotan itu mundur dan Wicaksono segera memeluk cucunya. "Kakek!" "Tyas, tenanglah." Tubuh lelaki tua itu kembali di tarik. "Dengar! Awas jika kalian berbohong! Kami akan kembali lagi nanti untuk memastikan." "K-kami tidak berani berbohong. P-percayalah." Komplotan itu menebas sofa hingga bulu dari bantal sofa berserakan di ruang tamu. Tyas menutup mata karena takut dan tak lama suara mobil kini terdengar menjauh. "Kakek, ada apa sebenarnya?" Wicaksono menggelengkan kepala. Tyas masih gemetar di pelukannya. "Kakek tidak tahu, sebaiknya telepon dokter itu dan katakan bahwa kita tidak jadi memanggilnya." "Tapi, Kek. Luka orang itu sangat parah." "Tidak apa-apa, jika orang luar tahu kita menolong dia, orang-orang tadi mungkin akan datang lagi. Dan bisa-bisa, mereka membunuh kita juga." "Kakek benar, aku akan menelpon dokter itu sekarang. Dan membatalkan kedatangannya." Saat Tyas ke meja telepon, Wicaksono buru-buru mencari keberadaan lelaki sekarat itu. Perut bagian bawahnya robek terkena senjata tajam. Wicaksono memapahnya ke kamar belakang untuk jaga-jaga. "Sudah , Kek. Syukurnya dokternya mengerti." Tyas kembali membawa obat-obatan dan air. Melihat pemuda itu tak sadarkan diri. Tyas tidak yakin dia akan selamat. "Sana ke dalam dan carikan obat penahan pendarahan di kebun belakang, tumbuk lalu bawa kemari." "Baik, Kek." Sepanjang malam, Wicaksono dan cucunya merawat pemuda itu dengan hati-hati. Hujan tak juga redah dan Tyas berulang kali terkejut karena suara petir. Dia tak bisa lupa dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Komplotan itu sangat menakutkan dan juga semena-mena. Tubuh pemuda itu di bersihkan dan lukanya di balur obat herbal. Kakek Wicaksono sangat ahli dalam pengobatan ini. *** 3 hari tak sadarkan diri. Wicaksono kembali melakukan rutinitas seperti biasanya, dia datang ke pasar untuk menjual ternak seperti ayam dan bebek lalu kembali lagi siang hari. Orang-orang jahat itu masih sering terlihat di desa namun Wicaksono tampak acuh dan bersikap tenang. Hingga kabar menggemparkan terdengar dibawa oleh seorang penjual ikan. "Hey semuanya, apa kalian sudah tahu?" Gosip menggemparkan selalu membuat para pedagang berkumpul jika pasar akan bubar. "Tahu apa?" "Abraham Kusuma beserta istrinya meninggal secara tragis di kediamannya beberapa hari yang lalu." Orang-orang saling melirik. "Siapa Abraham?" Kakek Wicaksono yang penasaran perlahan mendekat. "Kakek, masa kau tidak tahu siapa Abraham?" Kakek Wicaksono dan yang lainnya menggelengkan kepala. "Dia adalah seorang hakim yang terkenal adil di provinsi. Kabarnya ini adalah pembunuhan berencana setelah keputusannya menghukum seorang mafia tanah sebulan yang lalu." "Astaga, Tuan Abraham yang selalu membantu orang lemah menemukan keadilan itu?" Seorang penjual sembako tampak terkejut. "Iya benar, yang itu! Kabarnya lagi, putra satu-satunya menghilang hingga sekarang. Polisi belum bisa menyimpulkan detail khasus tersebut karena anaknya belum ditemukan." "Ya Tuhan, malang sekali nasibnya." Sang pedagang mendekat dan berbisik. "Dengar-dengar, ada beberapa orang berseragam hitam selalu mondar mandir di desa. Takutnya dia orang jahat dan anak pak Abraham itu lari ke desa kita." Kakek Wicaksono mengerutkan kening. "Memangnya berapa usia anak itu?" tanyanya. "Tidak tahu pasti, yang jelas marganya Kusuma." Kakek Wicaksono menganggukan kepala. "Kalau ada yang tahu keberadaannya, kalian sebaiknya diam saja. Tunggu sampai semuanya aman, keluarga Pak Abraham sekarang sedang mencari keturunan mereka yang hilang. Hanya saat dia dipulangkan ke keluarga aslinya maka anak itu akan selamat." Para pedagang menggagukan kepala. "Aku mengerti, kalau dengar sesuatu. Kita sebaiknya berkumpul dan mencari jalan keluar. Kita harus membantu keturunan Pak Abraham agar kembali ke keluarganya." "Benar! Kita pernah sangat terbantu dengan keputusan hakim ini, ingat tanah-tanah kita pernah terselamatkan lewat keputusannya." "Benar!"
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม