Marah (TW : Kekerasan, adegan tidak untuk ditiru!)

1824 คำ
Setelah mobil sampai di area pekarangan rumah Gia yang luas, Desta langsung keluar dari mobil kemudian kembali menyeret Gia untuk masuk ke dalam. Lelaki tersebut tak tau bahwa ada pembantu yang mengawasi tingkah laku mereka sejak baru datang tadi. Baru saja perempuan berusia hampir setengah abad itu hendak masuk untuk memastikan keadaan Gia, suara pedagang perabot rumah tangga yang memang sedang ia tunggu kedatangannya mengurungkan niat pembantu tersebut untuk masuk ke dalam. Bruk! Tubuh kecil serta ringkih Gia dilempar begitu saja di atas sofa yang terletak di kamar. Sebelumnya, Desta juga sempat menutup pintu kamar dengan cukup keras. Gia tentu saja meringis karena terkejut sekaligus merasa nyeri akibat bagian belakang kepala tak sengaja mengenai tembok. "Kakak nggak nyangka ya kamu bakal semurah ini." Cerca Desta sembari berkacak pinggang di hadapan Gia dengan wajah yang penuh amarah. Gia tak menjawab, tak menangis pula. Ia hanya diam menunduk dengan hati yang cukup tergores ketika mendengar kalimat terakhir sang kekasih. Apa sebenarnya yang gadis tersebut lakukan hingga Desta bisa berkata seperti itu? Apakah hanya karena latihan dansa dengan lelaki lain? Bukankah itu merupakan hal yang biasa apalagi di dunia perkuliahan yang memiliki banyak organisasi kemahasiswaan. "Kamu ikut ajang bulan dan bintang kampus itu mau tebar pesona ke siapa sih, Gia? Kenapa nggak bilang dulu sama Kakak? Udah ngerasa bisa hidup sendiri kamu?" imbuhnya tak kalah keras. Desta benar-benar kesal, ia tidak peduli dengan tubuh sang kekasih yang mulai bergetar ketakutan. Bahkan, rasa nyeri di sekitar wajahnya seketika hilang begitu saja, digantikan oleh amarah yang meluap bagaikan magma gunung berapi dan siap melahap siapa saja yang berani mengusiknya. "Oh, satu lagi." Grep! Dagu Gia dicengkeram keras oleh Desta hingga membuat gadis tersebut mengarahkan wajahnya ke atas, mulutnya terbuka setengah, sedangkan rahang Gia saat ini terasa sangat nyeri. "Kak– sakit," lirihnya sembari terus berusaha melepas cengkraman tangan Desta. "Kamu berangkat bareng sama cowok bule itu tanpa sepengetahuan Kakak. Gia, aku itu baru bangun tidur langsung ke sini niatnya mau ajak kamu lihat-lihat apartemen sama makan siang bareng. Tapi kamu justru mesra-mesraan sama cowok lain!" Setelah berkata demikian, Desta langsung melepaskan cengkeramannya hingga kembali membuat Gia sedikit terdorong ke belakang. Tanpa meminta maaf atas perilakunya atau mendengarkan penjelasan dari sang kekasih terlebih dahulu. Menurut Desta, apa yang ia lihat tadi sudah cukup membuktikan bahwa Gia bersalah dalam masalah ini walaupun belum sepenuhnya benar. Puas menatap Gia yang tengah meringis kesakitan namun anehnya tak kunjung menangis, Desta langsung berjalan menuju pintu meninggalkan gadis kecilnya begitu saja. Namun, ketika langkahnya berhenti tepat di hadapan pintu yang sempat terkunci karena tidak ingin orang lain masuk, Desta dengan cepat berbalik. Ia kembali mendekati Gia lalu sedikit menunduk, berusaha menatap wajah kekasihnya yang pucat dan dipenuhi keringat. "Kamu jangan cerita kejadian ini ke siapapun termasuk sama pembantu dan mas Gama, karena cuma kita yang ada dalam masalah ini. Kamu nggak mau kan kalau mas Gama tau terus pisahin kita berdua?" tutur Desta dengan nada dingin yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Gia, gadis tersebut tidak ingin jauh dari sang pangeran. Desta tersenyum tipis, "Bagus, untuk sekarang jangan kirim pesan atau telepon karena kakak masih marah sama kamu.* Lanjutnya sembari menepuk pelan bahu Gia lalu kembali melangkahkan kakinya menuju pintu dan keluar dari kamar. Ketika baru saja turun dari tangga yang menghubungkan kamar Gia menuju lantai utama, Desta berpapasan dengan pembantu yang saat ini terlihat tengah membawa satu keresek berukuran cukup besar berisi barang-barang perabot rumah tangga untuk dirinya sendiri. "Ada apa, Mas? Kok tadi saya lihat mas Desta seret non Gia masuk ke dalam rumah," ucap pembantu tersebut hingga membuat Desta membeku untuk beberapa saat. Ia mengutuk perbuatan bodohnya yang tak melihat situasi ketika menyeret Gia keluar dari mobil beberapa saat lalu. "Nggak ada apa-apa, mbok. Tadi Gia ada sedikit masalah waktu di kampus, jadi tolong jangan diganggu dulu, biarin dia tidur di kamar," tuturnya. "Tapi kalau sampai malam Gia nya nggak mau keluar, mbok telepon saya aja ya. Mas Gama nggak perlu tau, soalnya ini cuma masalah sepele," imbuh Desta sebelum benar-benar pergi meninggalkan kediaman Gia. Ia harus mengantisipasi agar semua orang tidak ada yang mengadukan hal ini terhadap Gama atau dirinya akan kembali terkena masalah. *** Di sebuah ruangan apartemen dengan d******i warna putih dan cokelat serta wangi segar greentea yang menguar di setiap sudut bangunan, terdapat seorang laki-laki bersama perempuan yang baru saja keluar daerah area dapur sembari membawa satu baskom penuh berisi air hangat, handuk kecil, serta kotak P3K. "Kamu nggak pernah main ke sini. Sekalinya main malah bawa surat peringatan sama wajah babak belur gitu," omel perempuan berkemeja cream tersebut, sembari menempelkan handuk kecil yang sebelumnya telah di celupkan ke dalam baskom air hangat menuju permukaan pipi Melvin. Iya, pada akhirnya pemuda itu tetap mendapatkan surat peringatan dari pihak kampus, walaupun telah menjelaskan semua permasalahan yang terjadi dari awal hingga berakhir pulang pukul 4 sore. Ia tidak berani pulang ke rumah karena pasti akan mendapat pukulan dari sang papa. Oleh karena itu, Melvin terpaksa singgah sementara di apartemen sang kakak meskipun ia tidak terlalu menyukai aroma greentea yang digunakan sebagai pengharum ruangan ini. "Pelan-pelan, Kak! Lo kalau ngasih obat ke pasien lembut, giliran sama adiknya sendiri nggak berperikemanusiaan banget," omel Melvin ketika luka di ujung bibirnya di tekan tanpa perasaan oleh yang lebih tua. "Kakak itu psikolog. Tugasnya merawat mental orang, kalau luka kayak gini seharusnya kamu bisa rawat sendiri, Vin," tuturnya hingga membuat sang adik melengos pelan, matanya kemudian tak sengaja menangkap sebuah jas dokter berwarna putih yang tergeletak di atas meja. Tanpa basa-basi, otak jahil Melvin langsung bereaksi dengan membiarkan tangannya terulur mengambil jas bertulisan dr. Rachel yang terletak di bagian atas saku tesebut, ia juga langsung mengusapkan dahinya yang basah akibat keringat ke permukaan kain itu. "Melvin, jas kakak kotor!" bentak perempuan bernama Rachel itu kemudian mencubit pelan pinggang Melvin. Kakak perempuan pemuda tersebut tak lain dan tak bukan adalah Rachel, sosok psikolog yang memiliki hubungan dekat dengan Gia dan Gama. Wanita cantik pemilik seribu rahasia serta torehan luka dalam yang tersembunyi di balik wajah tegasnya. Namun, ini bukan saatnya untuk mengetahui lebih dalam kehidupan Melvin beserta sang kakak. Setelah berhasil merebut jas tersebut lalu meletakkannya ke tempat yang sulit dijangkau oleh Melvin, dokter Rachel kembali fokus dengan luka sang adik, memberikan alkohol sebagai antiseptik penghilang bakteri, lalu mengoleskan salep penghilang memar dan menempelkan plester di bagian sudut bibir serta pelipis Melvin dengan penuh hati-hati. "Kamu semalam tidur dimana?" Pertanyaan tersebut sontak membuat Melvin mengernyitkan dahinya, tau dari mana .... "Kata bang Te, kemarin malam kamu juga berantem sama orang di Jenja," imbuh Rachel kemudian. Ah, lelaki bodoh itu ternyata masih suka memberi tau segala aktifitas Melvin ketika berada di kelab, batinnya tak terima kemudian berjanji akan melayangkan protes kepada barista tersebut saat ia kembali ke Jenja. "Biasa, masalah cewek. Tau nggak sih, kak, waktu di klub kemarin dia bilang ceweknya itu uang berjalan. Tapi ...," Melvin mulai menceritakan semua kejadian atau lebih tepatnya kesialan yang menimpa dirinya sejak kemarin malam hingga sore ini secara detail kepada sang kakak. Walaupun bahasa yang lelaki tersebut gunakan kurang sopan, tetapi hanya Rachel lah yang paling mengerti Melvin. Setelah kurang lebih 10 menit mendengarkan cerita Melvin yang menurut Rachel sangat menarik sembari sesekali menganggukkan kepala lalu merubah eskpresi wajahnya menjadi sedikit terkejut, akhirnya sesi curhat sang adik berhenti ketika telah sampai pada kejadian saat dirinya diberi surat peringatan oleh Pak Jaka. "Jadi, kamu itu berantem dua kali dengan orang yang sama tapi di tempat berbeda?" tanya dokter Rachel memastikan yang langsung dijawab anggukan kepala penuh semangat oleh Melvin. "Jangan-jangan dibalik kejadian ini semua, kamu suka ya sama gadis yang kamu ceritain itu?" Melvin terdiam, ia menatap sang kakak dengan tatapan tak percaya. Pasalnya, setelah 10 menit menjelaskan titik permalasahan yang terjadi, mengapa kakaknya justru menuduh Melvin menyukai Gia? Ia hanya membantu Gia agar membuka mata lebar-lebar bahwa kekasihnya saat ini bukan orang baik sekaligus memberi pelajaran terhadap Desta walaupun ia juga harus mendapat imbasnya, tetapi banyak orang yang salah kira akan sikap Melvin terhadap dua orang tersebut. "Gue udah punya pacar, Kak!" protes lelaki tersebut. "Pacar virtual mah buat apa, Vin. Kakak curiga kamu pacaran sama cewek yang ada di anime gitu, kan." Celetuk Rachel sembari mengembalikan baskom serta kotak P3K ke tempatnya semula. Wanita yang telah berkepala tiga tersebut memang tidak pernah percaya bahwa sang adik telah memiliki kekasih, Melvin bahkan tak pernah mengenalkannya secara langsung atau sekedar mengirim foto kekasihnya kepada Rachel. "Tau gitu gue ketemu Arsa aja daripada harus lo bakar kayak gini," celetuk Melvin lalu merebahkan seluruh tubuhnya di atas sofa sembari memejamkan mata, seluruh sendinya seakan tengah menjerit kesakitan saat ini. Rachel tertawa kecil, "Kenapa nggak ke sana aja? Arsa pasti kangen sama kamu." "Uang gue udah habis gara-gara salah pesan kamar hotel, nggak enak kalau ke sana nggak bawa hadiah," tuturnya. Pikirannya kembali berputar, ketika mengingat betapa bodohnya ia hingga salah pilih kamar hotel kemarin malam. Melvin juga harus segera pergi pagi-pagi sekali sebelum fasilitas pijat datang yang nantinya akan menambah biaya penginapan. Sang kakak lagi-lagi tertawa mendengar penuturan dari adiknya. Walaupun sudah berusia 22 tahun namun, Melvin masih seperti anak kecil dimatanya. Rachel kemudian duduk di sofa tunggal lalu memberikan beberapa obat pereda nyeri. Sejenak suasana kembali hening, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Pikiran yang berbeda namun tetap memikirkan satu orang yang sama hingga pada akhirnya Rachel terlebih dahulu memecah keheningan diantara mereka berdua. "Vin, kamu masuk fakultas ekonomi bisnis di universitas MG, kan?" Melvin menatap Rachel sekilas lalu mengangguk, "Kenapa?" tanyanya. Rachel kembali terdiam, ia rasa tidak perlu menanyakan hal yang sejak kemarin menganggu pikirannya karena jumlah mahasiswa di dalam satu fakultas pasti sangat banyak. Wanita tersebut tidak yakin Melvin mengenal salah satu mahasiswa baru fakultas tersebut walaupun jabatan sang adik saat ini adalah ketua BEM. "Nggak jadi deh, ponsel kamu bunyi tuh," Ucap Rachel mengalihkan pembicaraan seraya menunjuk ponsel Melvin yang tengah berdering dengan posisi terbalik di atas meja. Melvin yang pada awalnya terlihat enggan mengangkat panggilan masuk tersebut, tiba-tiba menunjukkan raut wajah sumringah ketika membaca nama penelepon yang tertera di bagian atas layar ponselnya. Dengan cepat, pemuda itu berdiri dan berlari menuju salah satu kamar kosong lalu menutup pintunya cukup keras hingga membuat Rachel menggelengkan kepalanya pelan. "Dasar anak muda. Obatnya jangan lupa diminum ya, Vin. Kakak mau ke supermarket dulu." Pukul 8 malam, terlihat seorang lelaki tengah duduk di dalam mobil yang telah terparkir di pekarangan sebuah rumah sejak beberapa menit lalu. Tangannya mengepal seolah sedang menggenggam sesuatu kemudian ia dekatkan pada area indra penciumannya, sedikit mengendus sembari memejamkan mata berusaha menikmati serta mendapat ketenangan dari benda kecil yang ia cium saat ini. Setelah cukup tenang, lelaki tersebut menggelengkan kepala dengan cepat, menggerakkan tubuhnya yang sedikit kaku lalu beranjak keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu utama dengan langkah sedikit gontai. Tok! Tok! Tok! Tak butuh waktu lama, pintu langsung terbuka, menampilkan sosok perempuan dengan balutan daster cokelat bermotif batik serta rambut yang diikat sederhana tengah berdiri menyambutnya. "Oh, mas Desta, toh. Baru saja saya mau telepon karena non Gia belum keluar kamar sejak mas tinggal pergi tadi."
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม