Chapter 12

1677 คำ
“Kau gila!” Rae berteriak. Alis Dave berkerut menatapnya. “Aku tidak mau pulang!” “Rae,” panggil Dave lembut. Rae menepis tangan Dave yang akan memegangnya. “Aku tidak mau pulang! Aku tidak mau bertemu ibuku.” Ia menghindari mata Dave yang terus menatapnya ingin tahu, tetapi Rae juga tahu Dave bukanlah orang yang mudah menyerah. Pria itu menggenggam erat kedua tangannya. “Ada apa?” Dia berbisik. “Sir! Anda adalah atasan saya, saya rasa tidak pantas kita membicarakan kehidupan pribadi saya.” Rae kembali bersikap professional seperti selama ini. “Rachel Queensha Johnson, ada apa?? Apa yang dilalukan ibumu padamu??” Rae menggeleng. Tidak, dia tidak bisa mengatakannya pada Dave. Dave merogoh saku jaketnya dan menyerahkan ponselnya. “Telepon ibumu sekarang!” “Tidak!” “Atau aku yang akan menghubunginya? Tidak sulit bagiku mencari nomor telepon ibumu.” Mata Rae melebar. Dave tidak boleh masuk ke dalam kehidupannya. Pria itu tidak boleh tahu bagaimana berantakan hubungannya dan ibunya.  Namun jujur, jauh di dalam hatinya, Rae sedikit merindukan ibunya. Biar bagaimanapun, wanita itu sudah membesarkannya. “Aku akan meneleponnya dengan ponselku sendiri,” ucap Rae akhirnya. Dia melepas kukungan Dave di badannya dan berjalan ke ruang duduk untuk mengambil ponselnya. Dave mengikutinya dan duduk di hadapannya. “Apa kau akan menguping apa yang aku bicarakan dengan ibuku?” “Ya. Aku harus tahu apa yang terjadi antara kau dan ibumu.” Rae memutar bola mata. “Kau ini tidak tahu apa itu privacy ya?” “Aku butuh alasan kenapa kau menolak ajakanku untuk ke Donaghadee.” Pria itu tetap tidak mau mengalah. Rae menggerutu dan mulai mengetik nomor telepon rumahnya. Ah, nomor telepon kafe karena wanita itu pasti di kafe sekarang. “Hallo.” “Ha...hallo, Mom.” Rae menarik napasnya. “Rachel!! Untuk apa kau menelponku anak tidak tahu diri??” “Mom...aku...” “Tidak usah menghubungiku lagi!! Asal kau tahu, aku sudah menjadi orang kaya sekarang. Aku tidak membutuhkanmu lagi. Kau bukan anakku.” Tutt...tutt...tutt... Ponsel Rae meluncur jatuh dari tangannya bersamaan dengan air matanya yang juga mengalir. “Rae, ada apa??” Dave beralih ke sampingnya dan memeluk bahunya. “Ada apa?” Desaknya lagi. Rae tidak mampu menjawab. Dia hanya bisa terisak. Kenapa ibunya berkata seperti itu padanya? Apa memang wanita itu tidak pernah mencintainya? Dave tidak bertanya apa-apa lagi dan hanya memeluk tubuh Rae di dadanya dan mengelus punggung Rae lembut. “Apa aku memang tidak pantas dicintai, Dave?” Bisik Rae dengan suara parau. “Kenapa kau berkata seperti itu?” Dave balas berbisik. “Ibuku tidak mencintaiku. Jamie juga begitu. Apa aku seburuk itu? Apa aku tidak pantas dicintai? Aku tidak punya siapa-siapa yang mencintaiku.” “Ssstt... jangan bicara apapun lagi. Dan jangan pernah berpikir seperti itu lagi. Kau tidak sendirian, Rae. Ada aku. Ada bahuku yang siap menerima sandaran kepalamu. Dan ingat, kau pantas dicintai. Kau cantik, kau pintar, kau baik, walaupun sedikit galak.” Rae cemberut dalam tangisnya dan mencubit perut Dave hingga membuat pria itu terkekeh. “Aku tidak galak! Kau yang galak dan suka marah-marah seperti singa tua yang murka!” Dave mengangkat alisnya. “Hei! Aku bukan pemarah.” Rae mencibir dan bangkit dari duduknya. Dia menghapus air mata dan berjalan ke kamarnya. “Bagaimana kalau kita pergi belanja?” ****** Dave tersenyum dan mengangguk mendengar pertanyaan Rae. Dan dia semakin tidak bisa menahan senyumnya saat gadis itu menghilang di balik pintu kamarnya. Saat melihat air mata gadis itu terjatuh, Dave merasa ada yang meremas jantungnya. Hatinya sakit melihat sorot mata Rae yang terluka. Apa yang dikatakan ibunya hingga gadis itu menangis? Dave meraih ponselnya dan menghubungi Scott. Scott adalah anggota kepolisian dan seorang detektif. Dave selalu memakai jasanya jika ia harus menyelidiki latar belakang seseorang. “Scott, aku ingin kau menyelidiki seseorang. Aku akan mengirimkan datanya padamu sebentar lagi.” “Baik, Sir.” Segera, tanpa merasa perlu membuang waktu, Dave mematikan telepon dan mengirimkan email pada Scott. Email yang berisi data pribadi Rae dari kantornya. Dia harus tahu latar belakang gadis itu. Dave merasa, hidup gadis itu jauh lebih berat dari apa yang diperlihatkannya. Rae rapuh dan butuh sandaran. “Ayo kita berangkat.” Dave mendongak dan lagi-lagi terpana. Rae terlihat sangat cantik dengan gaya kasualnya. Hanya sweater tangan panjang berwarna hitam, celana jeans, dan sepatu kets. Rambut coklatnya digerai berantakan. Rae sangat cantik walau tanpa make up seperti biasanya. Akan tetapi, entahlah, sekarang Dave sangat senang melihat wajah polos gadis itu. “Dave?? Hellooo...” Dave tergagap dan bangkit dari duduknya. Dia berjalan di belakang Rae. Menyaksikan bagaimana b****g kecil itu bergoyang. Dave menelan ludahnya. Sial! Jangan menggodaku, little bunny!! Kedua alis gadis itu berkerut menatapnya. “Ada apa? Kau sakit? Wajahmu merah.” Ya, aku sakit menahan juniorku yang berontak ingin memasukimu. “Ti... tidak,” jawabnya dengan suara serak. Dave sedikit berdehem untuk menetralkan suaranya.  Rae mengangkat bahu dan berjalan dengan santai keluar bangunan apartemennya. Dave menarik tangannya. “Kau akan ke mana?” “Belanja.” “Mobilku di sana, Rae.” Dave  menunjuk sebuah Porsche mengkilat warna hitam di seberang jalan. “Siapa bilang kita akan naik mobil?” “Maksudmu?” “Sir Cromwell, aku hanya akan berbelanja di minimarket sana!” Rae menunjuk jalan di depannya. “Aku akan mengajakmu ke supermarket.” Rae menggeleng. “Aku tidak perlu berbelanja di supermarket. Aku tidak punya uang banyak untuk belanja di sana.” Dave menghela napas. “Kau pergi dengan bujangan terkaya di Edinburgh dan masih memikirkan uang?” “Aku tidak butuh uangmu, Sir. Ikut denganku atau silahkan pulang.” Rae menyentak genggamannya dan berjalan meninggalkan Dave. Double sial! Kenapa dia selalu kalah dari gadis ini? Dave mengenakan kacamata hitamnya dan mengikuti gadis itu. Bisa saja besok muncul berita di koran, tentang dirinya yang berbelanja di toko kecil. Namun dia tidak ingin meninggalkan gadis itu sendirian. Lebih baik dirinya masuk koran daripada harus meninggalkan Rae sendirian. Dave mendorong trolley, sementara Rae memilih sayuran yang akan dibelinya. Mereka tampak seperti pengantin baru yang sedang berbelanja untuk kebutuhan rumah tangga mereka. Beberapa wanita melirik mereka sambil tersenyum-senyum. Beberapa dari para wanita itu bahkan mengajaknya berfoto. Dave cemberut saat Rae tertawa dan meledeknya. Gadis itu tampak sangat menikmati kekesalan Dave hari itu. “Hentikan tawamu itu, little bunny!” Rae terkikik sambil mengambil beberapa batang selada. “Aku tidak suka selada!” Dave meraih selada di tangan Rae dan menaruhnya kembali. Alis Rae berkerut menatapnya. “Lalu apa peduliku? Aku belanja untuk kebutuhanku!” Bibir Dave kembali mencebik. “Ayolah, Rae, jangan membeli sayuran berbau aneh itu.” “Berbau aneh? Apa maksudmu berbau aneh?” Dave mengendikkan bahu. Dia benci selada sejak dulu. Entahlah, dia merasa rasa dan bau daun itu sangat aneh. Jika memakan burger, dia akan selalu memesan tanpa selada. Karena itulah, dia tidak pernah suka makan salad. “Lalu apa yang harus aku makan jika aku ingin makan salad?” Rae melotot dan berkacak pinggang di hadapannya. Dave menyeringai. “Makan saja salad buah.” Rae memutar bola mata. “Hanya karena kau tidak suka selada, bukan berarti orang lain juga tidak boleh memakannya, Dave.” “Mereka romantis sekali ya?” Suara itu membuat mereka berdua menoleh. Sepasang suami istri lanjut usia terkekeh melihat mereka berdua. “Kami dulu juga sering berdebat seperti kalian di awal kami menikah,” ujar sang istri. “Ngg...kami...” “Istriku ini memang sangat suka sayuran, Nyonya. Dan aku benci sayuran itu,” potong Dave sambil memeluk bahu Rae. Rae melotot galak padanya. Laki-laki tua dan istrinya itu tertawa mendengar perkataan Dave. “Justru di situlah kesenangannya, anak muda. Menyatukan dua kepala berbeda dalam satu rumah. Senang bertemu kalian berdua.” Pria tua itu menepuk bahu Dave dan berlalu dari hadapan mereka. Rae melepas tangan Dave dari bahunya dan melotot. “Istrimu?? Sejak kapan aku setuju menjadi istri pria tua sepertimu?” “Whatt?? Apa kau bilang? Aku? Pria tua?” Rae menjulurkan lidah dan meninggalkannya. Dave berdecak sebal dan mengikutinya. Anak ini... batinnya gemas. Entah sejak kapan, menggoda Rae membuatnya senang. Gadis itu tidak terlihat menyebalkan lagi di matanya. Walaupun Rae masih saja galak seperti saat mereka pertama bertemu. Akan tetapi, justru hal itulah yang membuat Dave sangat suka menggodanya. Jika wanita yang biasa digodanya akan tersipu atau balas menggodanya, Rae malah marah-marah dan mengomel padanya. Dan Dave sangat menikmati omelan gadis kecil itu. “Sampai kapan kau akan berdiri di sana??” Lihat, gadis kecil itu bahkan bisa lebih bossy darinya. Dave mendorong trolley-nya mengikuti langkah kaki Rae. Dia mengerutkan kening saat gadis itu menuju kasir. “Hanya ini saja belanjaanmu?” Tanyanya melihat belanjaan Rae yang menurutnya sangat sedikit. Bahkan ini tidak ada seperempat bagian trolley. Rae menoleh dan mengangguk. “Tahu begini aku ambilkan saja dari kulkas rumahku,” Dave menggerutu sambil menurunkan belanjaan Rae. “Apa yang kau lihat, Miss??” Bentaknya galak pada kasir yang melongo menatapnya. Rae terkikik di belakang punggungnya. “Jangan tertawa, anak nakal!” Katanya sambil menjitak kepala Rae, membuat Rae mengaduh dan cemberut. Dave terkekeh seraya mengeluarkan dompetnya. Rae mencekal tangannya saat Dave hendak mengulurkan kartu kreditnya. “Siapa yang menyuruhmu membayar?” “Oh, ayolah, Rae! Ini sedikit sekali, biarkan aku yang membayarnya.” “Tidak!” “Rae...” “Ehm, sampai kapan kalian akan berdebat?” Tanya seorang wanita gemuk di belakang mereka. Dave tersenyum pada wanita gemuk itu hingga wanita itu tersipu-sipu. Rae kembali terkikik di belakang punggung Dave. Saat itulah Dave melempar kartu kreditnya pada kasir wanita yang masih juga melongo melihatnya. “Kau curang!” Gerutu Rae saat mereka berjalan kembali ke apartemen. Dave terkekeh. Satu tangannya yang tidak menenteng belanjaan, meraih tangan Rae dan menggenggamnya erat. Tangan kecil itu terasa pas di genggamannya. Dia melirik wajah Rae yang memerah. Mereka terus berjalan sambil bergandengan tangan tanpa saling bersuara. Namun entah mengapa kesunyian itu terasa nyaman. Dave ingin saat-saat seperti ini berlangsung seterusnya. Akan tetapi, tentu saja itu tidak mungkin karena gedung apartemen Rae sudah terlihat. Mereka baru saja akan memasuki bangunan itu saat seseorang menepuk bahu Dave dari belakang. “Dave??”          
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม