eighteen - kemudian setelah senja

2318 คำ
Mia kembali ke pasar setelah menjenguk Emi dan Hiro yang sedang berkemas siap pergi dari Asakusa secepatnya. Mereka berencana untuk berangkat malam ini dengan kendaraan yang telah Hiro bawa dari salah satu kenalan jauh. Sedangkan Emi akan mendapat pengobatan yang lebih baik demi kesembuhannya. Mia hanya membawakan titipan kecil untuk mereka selama perjalanan, berharap agar Emi bertahan dari cuaca yang tidak menentu untuk sampai ke tempat tujuan dalam keadaan baik. Kepalanya mendadak berat, terasa keras dan sangat pening. Mia mengambil napas panjang, mengulurkan punggung tangannya sendiri untuk memeriksa seberapa parah dirinya. Rasa sakit itu seolah memanaskan tubuhnya dari dalam. Cuaca tidak begitu bersahabat siang ini. Ketika gerimis sempat hadir sebelum akhirnya angin membawa pergi, Asakusa dipastikan kembali dilanda hujan lebat sebentar lagi. Gelapnya langit mengundang rasa cemas penduduk bumi. "Ambil saja kembaliannya. Terima kasih." Mia berbalik pergi, bersiap pulang saat dua orang yang berlarian menyentuh dirinya dan dia tersungkur, melepaskan keranjang belanja dan semua bahan masakan berantakan di atas tanah. "Mia, kau bisa berdiri?" Saat Mia menengadah, seseorang mengambil cepat dompet mungil miliknya. Gadis itu terkesiap, berusaha bangun dari rasa sakit yang mendera kepala dan tubuhnya. Seakan hidup tanpa tulang, Mia merasa lemas luar biasa. Dia kelelahan dan ini tidak sama sekali membantu saat dirinya belum tiba di rumah. "Dompetku," katanya lirih. Bangun untuk berlari mengejar para pengacau pasar yang terkenal suka berbuat onar. Para pedagang membantu membereskan keranjangnya, mengganti bahan yang telah kotor dengan baru saat melihat Mia sedang mencari mereka dengan tertatih. Napasnya tertahan saat keduanya mengulurkan benda ke arahnya. Mia mendadak limbung, kembali jatuh ketika mereka dengan sengaja menggerakkan tangan itu untuk meledek. "Kembalikan milikku," desisnya kesal. Tidak ada sesuatu yang bisa digunakan untuk menghadapi mereka semua. Mia bangun, menjadikan dirinya sebagai peeisai karena mencoba maju. Saat tangannya terulur, memberikan mereka dengan kejutan, Mia bergegas ke depan hingga salah satunya berguling kesakitan. Pening membuat bayangannya mengabur. Mia terhuyung merasakan tangan dari salah satunya yang masih berdiri tegak. Kemudian mendengar suara tawa yang lebih banyak lagi ketika gerombolan manusia yang meresahkan banyak orang hadir dengan sengaja mencelanya. "Kau sendirian, tabib? Kenapa dengan wajah menyedihkan itu? Pucat sekali. Apa kau sakit?" Suara kekehan terdengar lagi. "Kau biasanya paling bisa membela orang lain dan dirimu sendiri di depan kami. Mengapa sekarang tidak? Lemah. Ilmu bela mulai dirimu terlupakan. Kau fokus menjadi dokter pengganti Kaza?" "Kembalikan dompetku. Itu bukan milik kalian," dengusnya menahan jengkel. "Bagaimana kalau kami tidak mau?" Mia merasakan sesuatu lain datang dari arah samping dengan cepat. Membuat dirinya terhempas ke arah batang pohon besar. "Siapa yang memintamu diam? Kau harus bangun." Isi kepalanya seolah ingin keluar. Mia meringis, memeluk dirinya sendiri yang gemetar ketika tambahan itu kembali datang dan dia tak bisa menghindarinya kali ini. *** Arata memungut kayu milik Yuda yang tertinggal saat bocah itu berlari pulang bersama temannya. Saat kepalanya menoleh, memandang langit yang mulai gelap dan Liana seolah bersiap menyusul Mia, dia lalu menghentikannya. "Aku yang akan mencarinya." "Aku khawatir," kata Liana lirih. "Kembalilah ke rumah sebelum turun hujan." Liana kembali mengurus jemuran ketika Saito membersihkan lantai dan mengepelnya. Arata membuka gerbang, membawa kayu itu di tangan saat menunduk melihat sarungmya sendiri menempel jelas. Pasar tidak terlalu ramai saat dirinya tiba. Para pedagang mulai berbenah untuk pulang sebelum hujan turun. Pandangannya mengedar ke seluruh tempat yang mulai sepi, tetapi sosok Mia tidak terlihat. "Apa Mia sudah kembali? Keranjangnya masih di sini." Sebuah percakapan singkat yang menarik perhatian Arata. Kala dia berbalik, menemukan keranjang milik gadis itu tertinggal dan perasaan gelisah memuncak memenuhi kepala. "Mia tidak ada di sini?" Kepala salah satu pedagang sayur itu menggeleng. "Dia tidak ada. Mia baru saja membayar bahan masakan dan seseorang sengaja menyenggolnya hingga jatuh. Pengacau pasar yang banyak tingkah juga mengambil dompetnya. Mia sekarang sedang mengejar mereka." "Aku yang membawa keranjangnya kembali," sahut Arata setelah mendengar penjelasannya. "Terima kasih banyak telah menjaganya." "Bawa dia pulang. Kami gelisah kalau dia sampai terluka." Si pedagang memberikan keranjangnya pada Arata yang bergegas masuk ke dalam alas untuk mencari gadis itu. Keadaannya sangat kacau saat Arata melihat gadis itu terbaring meringkuk, menahan dirinya dari para pengacau yang meresahkan. Kebanyakan dari mereka adalah pendekar kelas rendah yang mencari uang dengan cara kurang pantas, berbuat sesukanya atau pergi ke para saudagar kaya. Mantan pejuang yang mencari uang dengan ide kotor alias tidak baik. Mereka membuat cemas satu penduduk Asakusa karena kerap berbuat banyak keributan hanya demi meraup keuntungan pribadi. "Lepaskan dia." "Apa dia pengembara asing itu? Mau apa dia menetap di Asakusa?" Arata berniat menghampiri saat salah satunya datang dari arah belakang. Ia menaruh keranjang milik Mia, mengarahnya kayunya untuk membalas mereka semua. Berkebandingan dengan pihak satunya yang membawa alat sungguhan, Arata menepis semua serangan bersama alat bantu kayu milik Yuda yang tertinggal di teras. Mia berusaha bangkit, membawa kedua kakinya yang terasa sakit untuk berdiri dan kembali terhuyung. Melihat siapa yang datang menolongnya, merelakan diri untuk menjadi sasaran kedua matanya lantas melebar. "Arata?" "Kembalikan benda itu," sela Arata dingin saat menekan lelaki itu dengan ujung kayu. "Sekarang." Mia bisa merasakan gerimis mulai jatuh. Saat mereka yang berkelompok semakin gencar maju dan tidak segan berniat melukai Arata yang bertahan menghadapi semuanya sendirian. Puncak katana berhasil menggores kimono milik Saito, membuatnya sedikit sobek dan terbuka. Cibiran keras terdengar tatkala Arata membalas mereka dengan singkat. Dia belum sama sekali membuka sarung katana dan hanya mengandalkan bantuan kayu itu untuk melawan. Membuat mereka semua kesakitan pingsan hingga menyerah. Dan tersisa satu yang terkuat masih bertahan. Dengan kekesalan yang melumuri wajahnya, Arata meraih katana miliknya untuk menyudahi kegiatan di antara mereka dengan malaikat maut. Sebelum benda itu turun untuk memberi pelajaran sang pengacau, Mia berbisik lirih untuk menghentikan aksinya membuat hujan baru di Asakusa. "Berhenti. Jangan lakukan itu di depanku." Tangan Arata membeku, terdiam di udara saat pria itu menjerit ketakutan dan membungkuk berulang kali sembari melarikan diri dari Arata. "Kau tidak bisa melakukannya di hadapanku." Mia kembali terduduk tak berdaya ketika Arata berbalik, memutar dirinya untuk mengamati gadis itu yang terluka. Lalu menyadari gerimis yang turun semakin deras, Arata segera mengambil dompet dan menyimpan katana. Bergegas meraih keranjang dan membawa Mia ke dalam gendongan untuk pulang. *** Saito menatap hujan yang turun cukup deras sampai sore. Senja tidak mungkin terlihat saat cuaca sedang tidak bersahabat. Air menyerap ke dalam tanah, membentuk genangan kecil yang terletak di dekat sumur air. Liana merapikan meja saat Arata menghidangkan makanan untuk mereka. Ini adalah makan siang yang terlambat dan menjadikan lauk ini juga sebagai pelengkap makan malam. Arata memasaknya lebih banyak untuk persediaan dan Liana yang memastikan nasi matang lebih cepat. Semua hidangan dan peralatan makan telah disiapkan. Saito membantu menuangkan air untuk mereka bertiga sebelum bergabung bersama. "Bagaimana dengan demamnya?" Liana mendongak dengan gelengan. "Belum terlalu membaik. Tetapi Mia tidak lagi merintih kesakitan. Dia bisa tidur setelah meminum ramuan herbal. Aku membuat nasinya lebih lembut agar dia bisa makan nanti." "Kau mengurusnya dengan baik sama seperti dia memperlakukanmu," kata Saito dengan pujian setelah mengusap rambut panjang Liana. "Ayo, makan dulu." "Dia mungkin kelelahan," kata Arata sebelum menyendok lauknya. Membuat atensi Saito dan Liana bergulir ke arahnya. "Saat menangani penduduk yang sakit akibat ulah kepala desa dan mengurus putrinya yang lemah selama Hiro ditahan." Liana mendesah panjang. "Mia memang akan selalu begitu. Dia mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri. Emi bukan perempuan yang baik dulu, namun sekarang dia mau mengurusnya dengan biasa." "Liana," tegur Saito dan gadis itu kembali melanjutkan makannya setelah menundul. Arata seolah tidak berselera menyentuh makanannya sendiri. Resep makanannya tidak buruk, tetapi minatnya malah menguap pergi. Saito melirik pria itu dalam diam. Menghabiskan sisa ikannya dengan dengusan pendek. "Mereka itu adalah ronin yang kehilangan tuan dan suka berbuat kegaduhan. Kekacauan demi sesuap nasi. Pantas para pedagang sering mengeluh. Mereka meminta tanpa kenal ampun dan selalu berkata kasar yang tak sopan." "Guru juga mantan pendekar dan tidak melakukan hal sama," sahut Liana penasaran dan Saito hanya tersenyum sedih. "Masakannya tidak buruk, Arata. Kau juga perlu makan untuk mengisi perutmu." Saito melihat pria itu yang mengambil telur dan nasi dalam porsi sedikit. "Mia akan pulih secepatnya. Dia hanya butuh tidur lebih banyak dari sebelum ini." Liana mendadak mengulum senyum perhatian. "Bagaimana reaksinya jika tahu ada orang lain yang mencemaskannya selain aku dan guru, ya? Dia pasti akan senang." Liana berkedip pada Arata dan Saito menggeleng, menahan senyum geli. Suara hujan menjadi latar saat mereka menyantap makan tanpa suara. Tidak ada yang membuka percakapan setelahnya. Liana masih terjaga, terus memerhatikan dan memeriksa keadaan Mia hingga tertidur di dekat pintu kamar sang tabib. Sementara Arata membersihkan seisi dapur, mengambil pekerjaan yang bisa dia lakukan untuk mengurangi beban gadis itu. Dia mengintip jemuran, menyapu kamar dan teras, membantu menggeser perabotan yang terkena air hujan. Mengambil kain bersih untuk mengeringkan lantai yang basah. Lalu terakhir membangunkan Liana, meminta agar gadis kecil itu pindah ke kamarnya sendiri dari pada tidur di luar hanya demi menjaga Mia. Membiarkan Arata yang mengambil bagian untuk menunggu. *** Hujan baru berhenti mengguyur Asakusa malam ini. Satu jam sudah dan gerimis lebat kembali membasahi tanah yang sudah tak lagi sanggup menampung air. Arata terdiam, menatap malam yang gelap saat mengulurkan tangan untuk membiarkan dirinya merasakan air yang turun dari langit. Semua orang sudah terlelap dalam tidurnya. Saito dan Liana telah menempati kamar pribadi sementara dirinya masih terbangun, melihat hujan yang belum mau diam sekaligus menjaga Mia dari luar kamar. Ingatannya kembali mundur saat mendengar bisikan lirih yang menghentikan tangannya untuk bergerak. Katana itu membeku, tak lagi terayun untuk memberi balasan. Mia berhasil membuatnya bergeming hanya dengan memohon, bersuara rendah untuk membebaskan belenggu rasa hausnya. Realitanya, kematian itu tidak bisa dihindari. Iris gelapnya melamun, termenung menatap pemandangan sumur yang penuh. Gerimis masih membayangi malam yang kelam tanpa bintang. Arata bangun untuk memeriksa Mia yang masih tertidur, hanya memastikan bahwa demamnya tidak lagi tinggi. Ranjang tempat tidurnya kosong. Matanya bergerak mencari dan melihat gadis itu duduk melamun, bersandar pada sebelah tirai yang terbuka. Mia meringkuk, menekuk lututnya naik untuk memejamkan mata. "Mengapa kau tertidur di sana?" Arata menghampiri gadis itu yang setengah tertidur. Saat mengulurkan tangan merasakan suhu tubuhnya yang sedikit dingin, dia bergegas mengambil selimut dan membawanya untuk menutupi tubuh Mia secara menyeluruh. "Ibu," panggilnya lirih. Suara itu terkesan serak, menyebut dalam kegelapan yang seolah membutuhkan pertolongan. "Ayah, kakak belum kembali." Mia seperti tengah meracau. Ketika kedua matanya terbuka, pandangannya sedang mengabur. Napas gadis itu tercekat menatap wajah Arata gamang. "Aku sudah di rumah rupanya." Arata meliriknya sebentar sebelum ikut mendudukkan dirinya di dekat gadis itu. Bersandar pada tembok yang dingin, memandang langit yang pekat tanpa suara. Hanya membiarkan sunyi sebagai teman baik. "Kenapa kau membuka tirainya?" "Aku hanya ingin melihat hujan," balasnya sendu menatap gerimis yang belum mau diam membasahi Asakusa. Kepala Arata tertunduk, meraih napas panjang sebelum membuka matanya kembali. "Kau merindukan keluargamu?" "Apa aku baru saja melantur memanggil mereka?" tanya Mia sedih sembari mengusap pipinya yang memerah karena tadi. "Mungkin saja aku tidak menyadarinya." Pandangan dari iris teduh itu seolah membekukannya. Mia meneleng, memerhatikan Arata dari jarak mereka yang terlampau dekat. "Apa kau punya keluarga sebelumnya?" Bibirnya terkatup erat. Wajahnya tampak tegang. Arata menoleh, menatap ekspresi itu dengan anggukan kecil. "Aku memilikinya. Dulu sekali, sebelum insiden besar terjadi. Yang kuingat hanya pergi untuk membantu memakamkan para penduduk yang tiada. Termasuk bagian dari orangtuaku." "Aku memintamu untuk tidak berbuat itu sebelumnya," kata Mia mengenang kejadian siang hari sebelum Arata membawanya pulang ke rumah. "Maaf. Aku hanya tidak ingin melihat air hujan berubah gelap di depanku." Sepi membentang luas di antara mereka berdua. Mia menatap kosong pada Arata yang bergeming, seakan memikirkan sesuatu pelik yang memenuhi isi kepalanya. "Setelah era baru menjadi lebih kuat dan stabil, aku akan berhenti." Napasnya tertahan selama beberapa saat. "Aku berjanji untuk tidak lagi melakukannya atas siapa pun." Mia menghela napas bersama satu senyuman tipis. "Kau yakin dengan sumpah itu?" "Aku berjanji padamu dan semua penduduk Asakusa." "Bukan padaku, pada dirimu sendiri. Kau yang melakukannya juga yang memiliki niat itu dari dalam hati. Kau mau bersumpah?" Arata menoleh hanya untuk menatap wajah gadis itu dari dekat. Lekat menatapnya cukup lama tanpa bersuara. Seseorang pernah berbicara bahwa dirinya bertambah murung setiap hari. Seolah alasannya hidup tidak ada lagi. Hanya berjalan sekadar untuk menanggung segalanya sendirian. Sepuluh tahun lalu dirinya melarikan diri, mengasingkan kehidupannya dari dunia luar hanya untuk bersembunyi. Mencari makna kehidupan setelah berjanji tidak akan mematuhi siapa pun. Dia tidak akan menjadi suruhan siapa pun lagi. Katana hanya bergerak sesuai kemauannya, memenuhi keinginannya bukan karena ucapan orang lain. Kemudian saat zaman baru muncul, pergolakannya yang tidak kunjung berhenti membuatnya harus memilih. Arata hanya akan maju saat dirasa itu perlu. Dia berjalan menjadi pengembara bebas tanpa menanggung beban selain dari masa lalunya. Merengut masa depan manusia yang telah dia lewati. Membuatnya tak lagi bisa melihat dunia yang lebih indah di masa mendatang. Semuanya gelap, abu-abu monokrom yang tidak memiliki putih sebagai penetral. Mia bersandar pada bahunya, mengalungkan kedua tangan untuk memeluknya. Arata terdiam, terasa dingin kala merasakan dekapan itu mengerat. Napas hangat gadis itu berembus di bahunya. Ketika merasakan telapak tangan yang cukup kasar menyentuh pipinya, hasil kerja keras Mia selama beberapa tahun sebagai seorang tabib terbukti lekat dari sana. Arata tertunduk, menunggu dengan debaran antisipasi. Dengan suara gerimis melatarbelakangi suasana, Arata merasakan posisi gadis itu berpindah lebih dekat ke arahnya. Memalingkan wajah itu untuk menatapnya. Sesaat Arata bimbang, memandang rupa yang tergambar dalam tenangnya kamar. Sepasang kedua matanya terlihat sayu. Kelopak mata itu bergerak turun untuk tertutup saat Arata mengulurkan kedua tangan menyentuh lengan dan merambat naik ke bahu, memegangnya lembut. Sinar matanya ikut berubah saat Arata memajukan wajah untuk menutup jarak di antara mereka, memangkas ruang yang tercipta saat kedua ujung hidung bersentuhan dan yang tersisa hanya bunyi hujan bersama debaran dari kedua insan. Kedua tangan Mia bergerak memegang bahu pria itu. Ketika telapak tangan Arata berpindah ke pipinya, memberikan usapan ringan yang membuat perasaannya mencelus ringan, terlampau hebat. Bibir itu melekat pada bibir gadisnya. Hanya berupa sentuhan singkat yang menghidupkan kupu-kupu baru dalam perutnya. Arata menurunkan sebelah tangan, memeluk Mia tanpa mau melepaskan. "Dia harus tetap hidup, apa pun yang terjadi."
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม