twenty two - perasaan yang hadir

3363 คำ
"Dia tertidur sekarang." Mia bersimpuh tepat di depan sang istri yang sedang memangku putranya tengah tertidur. Sang tabib dengan ramah meminjamkan selimut dan membiarkan futon cadangan rumahnya terpakai untuk keluarga kecil tersebut. Sekarang mereka sudah kehilangan tempat tinggal tanpa alasan pasti dan setelah insiden menakutkan tersebut, mereka melarikan diri ke tempat yang lebih aman sebelum mengetuk rumah Mia dan meminta bantuannya. "Pengembara itu yang membantu kami," ucap sang istri lirih. "Pria yang tidur di rumahmu saat ini. Yang membelamu dari kejaran para pengacau pasar." "Dia yang menolong kalian?" Sang istri mengangguk pelan. Menunduk menatap wajah putranya yang pulas dan terasa damai. Semua rasa takut itu telah menguap saat putranya yang terluka mendapat obat dan terselamatkan. Keluarga kecilnya berhasil meloloskan diri dari api yang memakan habis rumah mereka. "Suamiku hampir saja tiada dengan benda mengerikan tersebut. Tetapi pengembara itu berhasil lari dan menepisnya. Dia selamat. Mereka saling berhadapan selagi penduduk berusaha memadamkan rumahku dan semua sudah terjadi begitu saja. Suara itu, pria misterius membawa seperti benda rakitan." Penjelasan itu sudah cukup membuat Mia tertegun. Kehadiran para pihak asing dari luar Asakusa sejujurnya membuat Mia cemas. Terlebih Geto telah membahas ini. Bahwasanya kekacauan tidak akan berhenti menimpa Asakusa jika Arata tidak kembali ke Tokyo dan menyerahkan diri dengan utuh. "Aku belum sungguh mengucapkan terima kasih padanya, Mia. Apa dia belum kembali?" Mia menggeleng setelah berkutat dengan jalan pikirannya sendiri. "Belum. Dia pasti pulang." "Kami akan menginap semalam di sini sebelum pergi mencari tempat tinggal," katanya lembut. "Tidak apa?" "Aku yang melarangmu pergi selama putramu masih dalam penjagaanku." Mia berujar hangat, menatap sosok mungil yang tertidur dalam pelukan ibunya. "Tinggalah untuk sementara. Aku akan menyiapkan ruangan." Senyum itu mengular manis. "Terima kasih banyak atas kebaikanmu, Mia." Dan bahkan setelah satu jam berlalu pasca kejadian itu menimpa salah satu rumah penduduk yang tak bersalah, Arata belum juga terlihat. Mia masih menanti dengan cemas, duduk menyendiri tanpa berniat kembali ke kamar. Sementara keluarga kecil yang menumpang tidur di rumahnya sudah beristirahat. Mia menyiapkan beberapa kudapan kesukaan Liana, memberikannya kepada mereka untuk mengisi perut. Dia berusaha memperlakukan tamunya dengan sangat baik. "Kau tidak lelah?" Saito menegurnya dari balik tirai yang membatasi antara dojo dan rumah pribadi. Mia menghela napas, menggeleng pelan. "Karena menunggu Arata?" "Dia yang sudah menyelamatkan keluarga mereka." Ekspresi Saito berubah lunak. "Memang. Dia melakukannya karena dia mau. Secara tidak langsung kegaduhan ini hadir karena masa lalunya, kan?" Mia terdiam kaku. "Apa aku perlu memeriksanya?" Kepala Saito menggeleng. "Aku akan menahanmu. Tabib muda kebanggaan desa ini harus tidur cukup. Kau ingin semua orang mencemaskanmu sekarang?" Kali ini Mia bereaksi dengan senyuman. Paman Saito akan selalu ada untuk membuat perasaannya lebih membaik. Mia tidak tahu sejak kapan dia merasa ketergantungan akan eksistensi sang paman yang selama ini mengurusnya. Sebelum dirinya beranjak untuk beristirahat, pagar kayu berdecit pelan. Arata terlihat dengan tampilan lusuh dan tampak tidak begitu baik. Saito bergeming menatap sosoknya. Sedangkan Mia membeku, mencoba mengontrol raut wajahnya sendiri ketika Arata memutuskan untuk meminta maaf dalam bisikan lalu berjalan menjauh pergi. Mia tidak mampu mengalihkan tatapannya dari pria itu barang sebentar. Melihat Arata yang melamun di depan pintu kamarnya sendiri seolah terbebani dengan berbagai macam pikiran, Mia merasa iba. Dan kemudian sosoknya tidak lagi terlihat. Arata memutuskan untuk pergi ke kamarnya sendiri tanpa menjelaskan apa pun kepada mereka. *** "Kami punya kerabat yang memberikan tumpangan sebelum mencari rumah lain." Mia mendengarkan penjelasan sang suami setelah mereka bersiap untuk pergi. Setelah malam besar terjadi, mereka memilih pergi untuk sementara waktu sampai mendapatkan rumah yang lebih layak ditempati. "Kalian akan tetap di Asakusa?" Sang istri mengangguk kecil. "Kami tidak bisa selamanya pergi dari sini." Saito yang menemani pasangan suami istri tersebut ikut mengangguk. Memberi tepukan ringan pada bahu pria malang itu. Bermaksud memberinya semangat. "Terima kasih sekali lagi, Mia. Asakusa memang membutuhkanmu tetap ada." Sebelum mereka berjalan pergi, pagar rumah terbuka dan Geto masuk seorang diri. Lengkap bersama seragam pekat menarik. Tatapan matanya tampak dingin ketika memandang mereka semua. "Oh, dia lagi." Liana menanggapi dengan bosan, kembali membersihkan sampah daun yang jatuh dengan kuap. "Kami yang bertanggung jawab atas rumahmu." Kalimat Geto seolah memberi harapan bagi keluarga kecil tersebut. "Sang suami bekerja sebagai pembuat barang antik dan sang istri berdagang di pasar. Berapa usia anak kalian?" "Lima tahun," ujar sang suami gemetar. Pintu bergeser dan Arata muncul dari dalam kamar. Tercenung dengan raut datar memandang mereka semua yang berkumpul. "Ini murni karena kelalaian petugas setempat termasuk timku," ucap Geto datar. "Aku harus meminta maaf." "Tidak, jangan seperti ini. Tuan, kami sudah merasa baik. Putraku selamat dan tidak ada luka serius. Terima kasih karena telah membantu." Geto kembali meluruskan punggung, melihat keduanya tersenyum lirih dan menoleh untuk menatap Arata yang diam. Keduanya juga mengucapkan terima kasih kecil sebelum pergi ke rumah kerabat dan Geto berjanji akan menemui mereka sebelum malam tiba. Mia berdeham, menutup kecanggungan dengan senyum tipis. "Kau mau duduk sebentar?" "Aku hanya ingin bicara sesuatu," kata Geto tanpa ramah. Melirik Mia yang diam membatu dan pada Saito yang menanti dirinya bicara tanpa minat berlebih. "Bagaimana bisa benda itu terayun tanpa ada niatan melukai? Apa mereka akan berbaik hati dengan membiarkan kita lepas begitu saja?" Kalimat Geto memancing reaksi pada wajah Arata yang dingin. Sesaat Mia menegang, membatu hebat. Sedangkan Liana terkejut terperangah karena ucapan tersebut terdengar kasar untuknya. "Bagaimana bisa kau bicara seperti itu?" tanya Liana masam, menuding Geto dengan tatapan sinis. "Tidak semua katana diciptakan untuk berbuat sejauh itu." Geto tampak tidak sama sekali terpengaruh. "Arata tidak melakukan apa pun pada pria itu semalam. Dia pergi bersama hancurnya rumah pasangan tadi." Setelah Geto menjelaskan, sebelah alis Saito terangkat naik. Sedangkan Mia menoleh menatap pria itu sekilas sebelum kembali pada Geto yang mendengus. "Jangan melakukan apa pun yang membuat dirimu menyesal. Aku dan kau sangat harus menjaga katana itu tetap hidup." Peringatan itu seakan memicu api yang terlanjur padam. Arata bergegas turun, meraih bahu Geto agak kasar bersama sepasang matanya yang memicing. "Kau bicara apa?" "Arata," panggil Saito tenang. "Tidak apa." "Katana ini urusanku. Jalan yang kupilih juga menjadi milikku," tegur pria itu dingin. "Kau tidak berhak mengaturnya termasuk aku." "Aku hanya menolongmu. Kalau kau tidak mengayunkannya hanya untuk membuat mereka mundur, akan banyak kekalahan jatuh dari sebelumnya. Arata, kau yang paling tahu rasanya melihat rasa sakit dari dekat, bukan?" Setelah Geto meletakkan sesuatu tak kasat mata di atas kepalanya, kepala tim itu pergi tanpa rasa sesal. Mia merenung, melamun menatap Arata dan Saito bergantian. *** Kyoto, 2 Februari 1910. "Siapa yang ingin mencoba peruntungan lebih besar? Tidak ada yang mampu mengalahkan juara bertahan kita selama dua tahun berturut-turut ini? Waah!" Seisi ruangan riuh dengan sorak ramai yang saling mencela satu sama lain. Setelah banyak dari yang kalah dan kehabisan uang, mereka tidak punya kesempatan untuk menggali keuntungan lebih banyak karena tidak ada satu pun yang berhasil mengalahkan juara bertahan paling terkenal di kota Kyoto. "Kemari, sinilah. Siapa pun datang untuk menantangku. Kenapa kalian semua lemah sekali?" Sorakan itu memelan karena tidak ada satu pun dari mereka berniat angkat tangan atau unjuk diri dengan memberanikan melawan seorang pendekar kelas atas. Dia menjadi pejuang kesayangan para petinggi Kyoto karena kebolehannya dalam menghadapi pihak luar. Semua pendekar yang merasa kemampuannya payah dan tidak terlalu hebat hanya bisa meringis, menunduk malu tak berdaya. "Aku yang akan maju." Salah seorang dari kursi penonton mengangkat tangannya. Tidak terlihat bagaimana rupanya sekarang karena rambut legam itu terlihat panjang dan tidak terurus. Lelaki itu sangat kurus, bertubuh kecil seolah kekurangan nutrisi. Tidak sepadan dengan pria yang kokoh dan kekar. "Oh, siapa bocah ingusan itu?" Semua orang mulai berbisik. Termasuk para pria yang diam menertawakan lelaki tersebut. Tatapan mencela hadir memenuhi tempat. Dan seakan tidak peduli, pemuda itu terus berjalan dengan kepala tertunduk dan bersama sarung katana biasa miliknya. "Kau serius, anak kecil? Kalau kau terluka kami tidak akan menguburkan apa pun." Saat masuk ke arena, semua orang memilih untuk mengunci rapat bibirnya. Tidak ada dari mereka yang mendukung pemuda berani tersebut. Tak ada kecuali satu orang. "Siapa namamu?" Akhirnya kepala itu terangkat. Wajah tirus nan gelapnya tampak misterius. "Arata." "Kau berasal Kyoto?" Pemuda itu mendengus pelan. "Tidak peduli darimana asalku saat ini." "Kau cukup sombong," ujar pria itu dengan celaan. Salah satu dari mereka mengangkat tangan, memberi harga tinggi untuk sang juara bertahan yang akan menghadapi pemuda kurus itu malam ini. Semua orang ikut setuju, menghabiskan sisa tabungan mereka malam ini. "Aku yang menaruh untuk Arata." Sebelah alis Arata terangkat naik, menatap seseorang yang memberanikan diri memberikan banyak untuknya tanpa ekspresi. "Lima ratus yen untuk malam ini. Luar biasa hebat." Para penonton masih bersorak riuh mendengar nominal uang yang terkumpul. Sebagian besar secara jelas mendukung Reiki, sang juara bertahan dengan semangat. Sementara Reiki menghampiri tanpa ampun, gesit dan penuh teknik pada Arata yang berhasil menghindar dengan mudah. Peluh membasahi keduanya, keringat mengalir deras setelah lima belas menit pertandingan dan Arata tidak memberi balasan melainkan hanya menangkis dan menepis semua kejutan milik Reiki dengan mudah. Para penonton terlihat fokus, tidak bisa mengalihkan tatapan mata mereka dari arena. Ketika Reiki kehilangan alatnya karena lengah, Arata segera mendekat dengan katana miliknya. Hanya benda mungil yang ringan dan terlihat rentan. Arata tampak lepas, membalas semua perbuatan Reiki dengan membiarkan ilmu bela dirinya menyentuh pria itu hingga mendesis kesakitan. Semua orang tercengang. Terkejut melihat Reiki sang juara bertahan meringkuk menahan diri sebelum mengeluarkan batuk yang pekat. Arata mendekat tanpa ekspresi, mengulurkan katana dengan singkat hingga membentuk goresan pada tangan Reiki tanpa ampun. Cairan itu menggenangi arena dengan deras. Semua orang tampak syok karena Reiki berhasil kalah hanya dalam waktu sebentar. Arata muncul sebagai juara untuk pertama kalinya. Dan saat tatapan dinginnya mengarah ke kursi para petinggi penting, Arata melihat sosok yang percaya untuknya bertepuk tangan tanpa ekspresi berarti. Seakan tatapan itu menyorot penuh makna, mengandung keseriusan yang dalam. Tak lagi peduli asalkan lima ratus yen untuknya. *** "Jadi, Arata seorang pendekar terlatih?" Saito terdiam, tidak menjawab pertanyaan gadis itu secara gamblang. Pertanyaan Liana dan otak cerdasnya mengarah pada satu orang, Geto. Rasa penasaran telah membuatnya berani seperti ini. Liana sudah kehilangan kesabaran. "Kenapa tidak kau tanyakan padanya?" "Apa dia masih melakukannya?" Dengan santai Saito mengangkat bahu. "Apa menurutmu ilmu itu satu sama lain sama? Kau dan Arata? Ajaran leluhur yang dia anut dan kau pelajari?" "Mia tahu?" Kepala Saito terangguk lirih. "Lantas dia diam saja?" "Keputusan tetap ada padanya," balas Saito tenang walau tidak terpengaruh dengan wajah Liana yang keras. "Aku tidak punya hak apa pun, Liana. Mia yang memutuskan dan dia telah memilih." Gadis kecil itu terlihat kesal. Kejengkelan melumuri wajahnya sebelum dia mengambil napas, membuangnya perlahan. Liana seolah tidak punya kalimat. Sama seperti dulu ketika Mia menolongnya dari mereka yang ingin melukainya. Menyentuh tubuh kurusnya karena sudah kepalang basah ketahuan. Mia menyelamatkannya. "Kau berpikir kalau posisi kalian sama dulu? Arata seorang si pejuang dan kau mengambil uang. Apa bedanya? Kalian juga melakukan hal yang salah." "Aku punya alasan," tukas Liana. "Arata juga memilikinya." "Guru membelanya?" tanya Liana tak percaya. Sorot mata cokelatnya tampak sedih. "Membela seorang sepertinya?" Saito menghela napas. Berbalik untuk menatap tulisan yang menjadi pedoman hidupnya. Prinsip kehidupan keluarga Mia secara turun-temurun telah mengakar dan Saito berhak meneruskannya kepada generasi baru walau mereka bukan bagian dari keluarga. "Kau masih terlalu kecil untuk memahami banyak hal di dunia ini, Liana. Ada beberapa kejadian yang tak bisa kau lihat dengan matamu sendiri. Kau sungguh harus mencernanya dalam hati, dengan segenap dirimu." "Arata punya alasan dan sebab itulah yang membawanya ke Asakusa sebagai pengembara?" Saito menghela napas pendek. "Dia mengembara tanpa tujuan. Aku melihatnya berbicara jujur tanpa kebohongan. Dan untuk Mia, dia punya pilihan serta alasannya sendiri." "Jika dia seorang yang dicari pihak atasan, ini pertanda buruk." Liana bergumam dan Saito menatapnya lekat. "Penduduk tidak akan hidup tenang selama Arata masih diburu oleh mereka." "Pemikiranmu cukup bagus. Ini yang Geto dan rekannya takutkan. Mereka juga melindungi Arata untuk bertahan di Asakusa." "Mengapa mereka melakukannya?" "Aku tak tahu apa pun," sahut sang guru serius. "Seperti Mia yang percaya padamu, dia juga merasakan Arata melakukan hal yang benar terlepas setelah semua ini," tambah Saito tenang, melihatkan raut tanpa ekspresi yang membuat Liana gundah. "Semua orang punya sebab melakukannya. Apa kau mau merahasiakan hal ini, Liana?" "Apa?" "Jangan bicara pada siapa pun." Gadis kecil itu menghela napas lirih. "Aku tidak akan bicara pada siapa pun, guru. Aku sudah berjanji padamu." Saito mengangguk setelah Liana pamit untuk undur diri, membiarkannya sendiri dan gadis kecil itu memilih membawa tubuhnya melamun, menatap kincir angin bebas yang terpasang di dekat pagar rumahnya. Hadiah dari Mia untuknya. Lalu Liana mendadak ingin menangis. *** Arata kembali bertemu Geto di markas tersembunyi. Pria itu baru saja kembali setelah mengurus keperluan rumah baru untuk keluarga kecil yang kehilangan tempat tinggal pasca insiden memilukan semalam. Beruntung, tidak ada yang serius dan rumah penduduk lainnya selamat. "Mereka para ronin yang ingin mendapatkan uang lebih untuk hidup bebas sebelum tiada. Kebanyakan dari mereka percaya terhadap balasan kepada manusia." Geto melirik Arata yang masih sedingin biasanya. Tidak ada yang berubah dari seorang Arata tanpa ekspresi di masa lalu hingga saat ini. Melihat rekan seperjuangannya, Geto merasa Arata serius menanggung segalanya sendirian. Beban dan rasa sakitnya tanpa jeda. "Bukan tanpa alasan kalau arahnya akan melebar ke arah rumah tabib itu, kediaman Mia." Geto menjelaskan karena dirasa Arata akan memilih untuk mendengarkan. "Itu kejadian yang disengaja. Asakusa lambat laun berubah merah, penuh tangisan. Mereka rela menciptakan tempat ini seperti itu hanya untukmu." "Kau memintaku kembali ke Tokyo saat ini?" "Kau tidak punya tempat untuk melarikan diri lagi," kata Geto serius. "Satunya yang bisa melindungimu hanya Asakusa. Kalau pun kau pergi, risikonya terlampau besar." "Dengan membiarkan banyak kehidupan tidak bersalah lagi?" Ekspresi Geto mengeras kala matanya lekat memandang Arata penuh tanya. Saat dirinya merapat, menyipit ke arah sang pengembara dengan serius. "Masa lalu apa yang sempat membuatmu terguncang?" Arata sempat tersentak, tercekat selama beberapa saat sebelum akhirnya terdiam. Sulit untuk bicara. "Kau terpengaruh karena hal tersebut." Kesimpulan singkat yang dibuat Geto sungguh memancing reaksi dari Arata yang terbiasa tenang, terkendali tanpa apa pun. "Ini bukan sepenuhnya salah Saito Yada," tambah Geto dingin matanya tidak lepas dari Arata yang balas memandangnya datar. "Ini juga bukan seutuhnya karena gadis itu. Tabib muda yang tidak berpengaruh sama sekali, kan? Apa kau merasa bergantung padanya sekarang?" Arata menghela napas, tidak mampu menjawab. "Aku punya hadiah untukmu. Seseorang yang sengaja datang memberimu sesuatu sebagai bingkisan." Langkah Geto memelan saat memeriksa lemari kecil miliknya dan mengeluarkan sesuatu. Sesaat dia terdiam, memastikan bahwa pancingan ini tidak akan salah langkah. Arata punya masa lalu yang pelik dan dia mencoba membuat pria itu sadar atas tindakannya. Membalaskan atas masa depan seseorang. Ada surat yang terlipat. Arata membuka gulungan dengan sebelah alis terangkat bersama Geto yang menatap. Sesaat matanya merenung, menatap ujung nama yang tersemat dan napasnya seolah terserap habis. "Kau mengenalnya, kan?" Arata mematung, bungkam seribu bahasa. Sinar matanya tak mampu berbohong. Geto melepas satu napas panjang, memejamkan mata lirih. "Kau tahu siapa dirinya. Ini alasanmu datang ke Asakusa?" "Siapa yang mengirimkanmu gambar ini?" Geto yang menunduk. "Dia masih hidup." Seulas senyum pahit mengambang nanar di wajah Geto yang murung. "Kau benar. Dia masih bernapas sampai saat ini." Arata tidak mampu melepas matanya barang sebentar pada gambar yang pinggirnya mulai menguning. Usia jelas tidak mampu menipu. Termasuk gambar lawas dalam genggaman. Kenangannya mengalir deras, memenuhi kepala tanpa ampun. "Apa dia sangat berarti untukmu?" Tidak seperti yang dia harapkan. Arata memilih untuk diam, menggulung kembali kertasnya dan merapikannya seperti semula. Seakan tidak pernah melihat apa pun sebelumnya, pria itu mendesah berat. "Terima kasih." "Untuk apa?" "Kau selalu membantuku," ucapnya datar. Geto menautkan alis, bangun dari tempatnya dan melihat Arata membiarkan kertas gulungan itu tetap di meja. "Kau tidak membawanya?" "Itu semua masa laluku," balasnya lirih. "Tanpa gambar itu, aku tahu yang coba mereka lakukan padaku. Mereka menginginkan hal yang sama. Serupa dengan sosok yang sudah menggambarnya." Geto tidak mengerti. Tetapi ia akan mencoba memahami. *** Kalimat itu selalu menghiasi mimpi buruknya seumur hidup. Semasa pelariannya, Arata tidak bisa mengingat banyak hal selain kehidupan yang telah dia renggut sebelumnya. Tidak asing lagi dengan malaikat maut, Arata mendapati dirinya hanya larut dan berkubang dalam duka yang sama. Yang tidak pernah menemukan jawabannya. Sejauh apa pun dirinya berlari, hasilnya akan tetap sama. Kosong. Hampa, tanpa ujung dan cahaya. Kedua matanya terpejam. Saat rasa lelah memuncak membuat tubuhnya rileks secara spontan melemah, mulai larut dalam damai. Saat itu Mia belum tidur. Sang tabib masih sibuk mengurus bahan yang baru kering, harus secara sempurna untuk dibuat ramuan. Sebentar lagi semua urusannya selesai dan dia bisa beristirahat. Tetapi mendapati Arata kembali larut dan masuk begitu saja ke kamarnya tidak melihat Mia masih terjaga, dia malah penasaran. Ketika malam bersinar tanpa bintang dan hanya membiarkan bulan bekerja semestinya. Mia membereskan semua pekerjaan di dapur, bergegas untuk pergi melihat Liana memeriksa gadis kecil itu sebentar. Sudah menjadi kebiasaannya selalu melihat keadaan Liana. Mia tidak punya pilihan selain menjadi wali sampai gadis itu besar dan bisa menjalani kehidupannya sendiri. Ia sudah bertekad dan tidak keberatan sama sekali menjalaninya karena Liana adalah keluarga. Pintu kamar Arata sedikit terbuka. Celahnya berhasil membuatnya mengintip ke dalam. Arata tertidur tanpa memeluk katana miliknya, sarung itu bersandar pada tempat lain walau masih dapat dijangkau tangannya. Mia menggeser pintu untuk memeriksa. Melihat futon dan selimut belum tergelar, gadis itu membantu dengan membuat tempat tidur. Merapikan alas tidur dan bantalnya agar Arata bisa berbaring dengan nyenyak. Arata terlihat salah dalam tidurnya. Mia mengambil selimut untuk membebaskannya, membuka lebih lebar dan menyelimuti tubuh pria itu dengan perlahan. Sepasang kelopak matanya terbuka. Arata menoleh, menatap dingin siapa yang bersimpuh di depannya. Saat kepalanya menunduk, memandang selimut yang membungkus tubuhnya, ia melamun. "Bahkan dalam tidur pun, kau tidak pernah merasa damai. Mengapa kau selalu bersikap gelisah? Siapa yang berniat melukaimu?" Arata membisu, menatap gadis itu dalam remangnya kamar. Mia masih setia menatapnya, seolah mencari pembenaran kalimat dalam matanya. Tidak, gadis itu benar. Dia tak pernah bisa tertidur untuk waktu yang lama karena selalu merasa takut. "Mengapa kau terluka sedalam itu?" Mia menarik napas, membuangnya perlahan. Kepeduliannya terhadap pria itu melebihi batas warasnya sendiri. Kalau pun tindakannya salah Mia seharusnya mundur dan melarikan diri. Tidak seharusnya dia bersentuhan dengan seseorang yang masih haus atas segalanya. "Apa kau masih terus melarikan diri?" Mata mereka bertemu dan Mia tidak melihat kehidupan lain di sana selain kesepian, kekosongan absolut yang memeluk nurani. Arata menyimpan segalanya dengan baik. Tetapi ada saat tertentu saat pria itu tidak bisa menahan diri untuk mencoba mengungkapkan lukanya. "Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban." Sebelum Mia pergi, pria itu berbisik untuk memberinya sebaris kalimat mencengangkan. Yang membuat jantungnya berdebar hebat. "Apa pun yang terjadi, aku melindungimu. Kau tidak akan pernah merasa kehilangan lagi." Mia membisu, terdiam selama beberapa menit mendebarkan sebelum kedua tangannya terbuka secara spontan memeluk Arata yang membeku. Tegang karena dekapan mengejutkan. Senyumnya terukir tulus tanpa bisa terlihat. Arata menunduk, menyembunyikan separuh wajahnya pada bahu gadis itu. Menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Ada rasa lega yang membasuh hatinya saat Mia memeluknya, memberinya ketulusan tanpa batas yang sedang Arata cari. Pelukannya mengendur ketika Arata melepaskan diri secara lamat. Bukan bermaksud menolak atau memintanya pergi, tetapi memberi kesempatan agar dirinya bisa menatap wajah gadis itu lebih dekat, meresapi makna tatapannya. Kedua telapak tangannya merambat naik, memangkas jarak di antara mereka untuk yang kedua kalinya. Berdekatan tanpa ruang, memberikan kesempatan untuk saling bersentuhan satu sama lain. Mia menahan napas, memejamkan mata ketika merasakan sapuan pada bibirnya membangunkan kupu-kupu yang telah lama tidur. Itu hanya sentuhan ringan, tetapi rasanya mendebarkan. Nyaris menyentuh batas normalnya sendiri. Mia yakin dirinya memerah sekujur tubuh, tetapi masih berhasil menahan diri. Arata menciumnya kali ini melebihi sebelumnya. Intensitas itu tidak hanya berupa sentuhan atau sapuan ringan, melainkan berupa pagutan. Seakan mencoba memberitahu Mia sesuatu tentang deritanya. Rasa putus asa dan beban yang ditanggungnya selama ini. Mengembara tanpa tujuan menetap dari satu tempat ke ruang lain tanpa alasan dan tidak memiliki rumah untuk pulang. Arata tidak pernah memiliki rumah, tidak sama sekali. Ciumannya terasa berbeda. Perasaan mereka dan bagaimana keduanya mencoba terbuka untuk saling memahami. Mia hanya berharap pria itu mau sedikit terbuka, tak memendam segalanya seorang diri. Arata punya tempat untuk tinggal walau hanya sementara. Arata memeluknya erat dan tidak mencoba melepaskan. Saat tubuhnya mendekap, merapat hingga tidak adanya ruang yang memisahkan mereka berdua. Kemudian Mia membalas dengan perasaan yang berkembang lebih besar. Lebih banyak untuk pria itu seorang.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม