Bab 3. Video Call

1109 คำ
"Paman," Zahra berusaha tersenyum begitu melihat Marco datang. Meski begitu, jelas sekali bahwa senyumnya masih dipaksakan. Lagipula, wanita mana yang masih bisa tersenyum saat tahu suami yang sangat dicintai sekarang sudah menikah lagi dengan perempuan lain? Tidak ada. Zahra juga sampai sekarang belum bisa percaya. Awalnya, Zahra tidak menyangka bahwa dia sudah koma dalam waktu yang sangat lama dan 9 tahun sudah dia lewati tanpa tahu apa-apa. Dunianya masih ada di sekitar Jovan karena sebelum dia koma, Jovan adalah pusat kehidupannya. Kenyataannya 9 tahun sudah berlalu dan dunia Jovan bukan dirinya lagi, karena 5 tahun sebelumnya sudah dilalui suaminya untuk meratapi kepergiannya dan di tahun ke 6 akhirnya suaminya membuka hati dan menikah lagi. Zahra merasa hancur tapi tidak ada yang bisa dia salahkan atau diminta pertanggungjawabannya. "Sudah makan?" tanya Marco. "Iya, ini sudah bisa makan sendiri." Setelah sebulan di rumah sakit, Zahra sudah mulai bisa beraktivitas ringan. Meski begitu kesehatannya masih sangat memprihatikan karena selain trauma pasca koma, dia juga sangat tertekan dan sedih karena mengetahui Jovan yang sudah menikah lagi. Karena kesedihan inilah penyembuhannya menjadi lebih lambat. "Bagus, kamu yang kuat ya. Terapi ini mungkin memang lumayan lama, jadi kamu harus sabar." Marco berusaha menghibur. Zahra hanya mengangguk dengan patuh, wajahnya masih agak pucat dan belum ada tanda-tanda penambahan berat badan. "Paman akan pergi beberapa hari untuk menjemput bapak dan ibumu." Marco memberitahu, karena dia merasa jika ada orangtuanya mungkin Zahra akan terlihat lebih baik, bukan menyimpan kesedihan seperti ini. Setidaknya akan ada yang bisa menemaninya selama 24 jam dan menghiburnya. "Terima kasih Paman, Aku memang kangen banget sama mereka." Zahra masih terlihat sedih dan membuat Marco semakin merasa bersalah. "Sama-sama, kamu baik-baik di sini dan jaga kesehatan, segera sembuh seperti sedia kala," ucap Marco sembari menahan rasa sesak di d**a karena melihat Zahra yang patah hati. "Kalau begitu paman pergi dulu, kalau ada apa-apa kamu bilang ke Javier." Lagi-lagi Zahra hanya mengangguk dan Marco berdiri hendak beranjak pergi. "Paman, tunggu dulu." Suara Zahra terdengar agak ragu. "Ya, ada apa?" tanya Marco. "Aku, itu, apakah ... apakah paman bisa melakukan video call dengan mas Jovan dan Mahesa?" tanya Zahra. "Aku ngin melihat mereka meski hanya lewat ponsel, Aku janji aku enggak akan terlihat dari layar dan hanya melihat dari samping." Meski sudah berusaha namun Zahra tetap tidak bisa menahan rasa rindu pada mereka. Dia yang melahirkan Mahesa, tapi dia bahkan belum tahu seperti apa wajah anaknya itu. Zahra sudah melewatkan 9 tahun kehidupan putranya sendiri dan itu adalah rasa sakit yang tidak bisa dia ganti. "Apakah kamu yakin?" tanya Marco. Merasa apa yang diinginkan Zahra sesuatu yang pasti akan menyakitinya. "Aku yakin Paman, ingin melihatnya meski hanya sebentar saja." Zahra menatap wajah Marco dengan sangat yakin. "Oke." Marco setuju, dia segera menyalakan ponsel dan menghubungi keponakannya itu. "Paman ... tumben video call, ada apaan?" Suara Jovan datang dengan sangat cepat dan masih sama persis seperti yang Zahra ingat. Jantungnya seketika berdetak kencang dan kedua matanya fokus melihat layar ponsel Marco yang memperlihatkan wajah suaminya yang masih tampan dan terlihat muda meski sudah memasuki kepala tiga. Air mata seketika jatuh dan rasa sesak di d**a yang beberapa waktu lalu dia tahan seperti akan meledak karena kerinduan yang tidak bisa dia bendung. Namun, Zahra tahu dia masih harus menahannya jika ingin melihat anaknya, jadi dengan paksa, Zahra menggigit kain selimut dengan kuat untuk meredam tangisannya "Mahesa mana?" tanya Marco tidak berani melihat ke arah Zahra karena khawatir dia akan ikut menangis. "Oh, mau ngomong sama Mahesa? Kenapa enggak telp langsung ke nomor Mahesa." Jovan merasa heran. "Sama saja, 'kan kalian ada di tempat yang sama," jawab Marco berusaha menampilkan ekspresi yang biasa. "Iya sebentar aku panggil anaknya dulu. Mahesa, Opa Marco nyariin nih." Jovan berteriak dan layar ponsel bergoyang-goyang sebelum akhirnya memperlihatkan wajah anak laki-laki yang sangat tampan. "Ada apa, Opa?" tanya Mahesa dengan wajah riang. Zahra menatap lekat wajah putranya yang memiliki kemiripan dengan Jovan, tapi juga ada ciri-ciri gen darinya, yaitu bagian alis yang tebal dan rambut hitam. Dada Zahra semakin terasa sesak, apakah jika mereka bertemu, anaknya akan mengenali dirinya sebagai ibu? Zahra tidak tahu seperti apa Mahesa ketika masih bayi, dia tidak tahu makanan apa yang dia sukai, Zahra juga tidak tahu mainan apa yang dia miliki dan bagaimana kehidupannya yang harus dia jalani tanpa kasih sayang seorang ibu selama lima tahun penuh. Apakah ada yang mengejek karena dia tidak punya ibu, lalu ... apakah ibu barunya memperlakukan dia dengan baik? Zahra ingin bertemu. Cengkraman di selimut meningkat, bahkan saking kencangnya darah seperti terkuras dari tangan Zahra. "Enggak ada apa-apa. Mau nanya aja, kamu tahu tempat buat beli Lego edisi Falcon atau enggak? Opa mau beliin buat Juliette." Juliette adalah cucu Marco. "Itu sulit Opa, soalnya itu edisi terbatas, udah enggak ada lagi, kebanyakan udah ada di tangan kolektor." Mahesa juga punya tapi ya memang cuma satu, mau di kasih Juliette nanti dia enggak punya dong. "Cariin lah, kasihan sepupu kamu cemberut terus gara-gara pengen Lego itu," bujuk Marco tidak berbohong karena memang Juliette sedang merajuk gara-gara Lego edisi Falcon miliknya dicolong saudara kembarnya untuk dijadikan hadiah untuk sang pacar. "Tapi Mahesa enggak bisa janji ya." Dari pada mencari edisi Falcon lebih mudah membeli mobil Ferarri. "Iya, Opa paham, asal kamu coba cariin masalah harga gampang itu, Opa yang nanggung dan nanti Opa tambah uang jajanmu juga." "Siap Opa." Seketika Mahesa bersemangat. "Eh, ada paman Marco? Tumben video call?" Tiba-tiba ada wajah Ella yang muncul di layar ponselnya, di mana Jovan dengan reflek merangkul bahunya dengan mesra. "Hallo Ella, udah dulu ya ada keadaan darurat." Marco tidak menunggu jawaban mereka dan buru-buru mematikan ponselnya namun jelas wajah Ella masih sempat dilihat oleh Zahra. Marco menoleh ke arah Zahra yang berlinang air mata dan seketika terkejut melihat darah yang merembes di bibirnya. "Zahra, lepaskan!" Marco bergegas dan berusaha menarik kain yang digigit Zahra dengan kuat, tubuhnya terlihat kaku dan tegang dengan d**a naik turun seperti kesulitan bernapas. "Zahra, istighfar Zahra." Marco berusaha menyadarkan Zahra dari rasa paniknya. Zahra menatap Marco dengan air mata yang terus berlinang, ada rasa sakit yang luar biasa terpancar dari pandangan matanya. Zahra ternyata salah. Zahra pikir waktu akan membuatnya menjadi lebih kuat dan bisa menerima bahwa anak serta suaminya bukan lagi miliknya. Ternyata, dia terlalu menyepelekan hatinya sendiri. Zahra tidak sekuat itu, karena begitu melihat wajah Jovan, Zahra ingin datang dan memilikinya lagi, Zahra juga ingin merengkuh putranya agar segera mengenalinya sebagai Ibu. Zahra menginginkan mereka berdua. Sayang, ada Ella di sana. Wanita yang sekarang menjadi dunia Jovan, wanita yang sekarang dicintai Jovan dan sudah menggantikan posisinya sebagai istri. "Zahra, Zahra!" Marco memeluk tubuh Zahra yang jatuh lemas dan langsung pingsan. Zahra tidak bisa menerima kenyataan bahwa suaminya bukan miliknya lagi.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม