Jodoh

1483 คำ
Beberapa jam kemudian di rumah sakit. Hana terus terduduk di depan ruang rawat Richard. "Lama banget sih bangunnya, apa gue tinggal aja ya?" gumam Hana bingung. "Bapak ini yang tadi ada di meeting deh kayaknya, dia kayaknya punya jabatan tinggi di perusahaan itu. Apa gue hubungin Senja aja kali ya kasih tau dia?" tanya Hana dalam hati. Tiba tiba terdengar suara igauan dari dalam ruang rawat Richard. Hana langsung bergegas masuk ke dalam mendekati Richard yang terbaring. Richard mengigau. "Langit, Langit.." "Dia nyebut nama pak Langit? Apakah mungkin dia ayahnya pak Langit?" batin Hana. "Langit maafin papah nak." igau Richard. Hana terkejut. "Jadi dia adalah ayahnya pak Langit? Pantes ganteng, sama kayak anaknya." batin Hana. Richard tiba tiba terbangun. Ia melihat Hana, gadis cantik berambut panjang itu berdiri disamping kasurnya. "Saya dimana? Kenapa saya bisa ada disini?" tanya Richard seraya memijat pelipisnya. "Tadi bapak pingsan di parkiran lalu saya membawa bapak kesini." jelas Hana. Richard mendadak muram. "Kenapa anda menolong saya? Padahal saya bukan orang yang baik. Saya bukan orang yang pantas untuk ditolong." ujar Richard terisak "Kenapa nih? Kok mendadak dia kayak gini? Tenang Hana, dia orang besar. Dia ayahnya Langit loh! Gue harus bisa merebut hati dia!" ucap Hana dalam hati. Ia tersenyum licik. "Bapak enggak boleh berbicara seperti itu, alasan kenapa tuhan membuat saya menemukan bapak adalah karena bapak pantas untuk ditolong. Seburuk apapun perlakuan bapak, ada hal yang masih bisa bapak lakukan untuk menebus kesalahan bapak, jadi percaya sama saya. Bapak masih memiliki kesempatan untuk berlaku baik." ucap Hana yakin. Richard terkesan dengan perkataan baik yang meluncur dari mulut Hana. Ia tersenyum. "Makasih ya nak. Tapi kamu tidak tahu apa apa tentang saya, jadi mungkin kamu masih belum bisa menjudge saya seutuhnya. Saya adalah ayah yang paling buruk." ungkap Richard sedih. "Selama bapak masih memiliki kesempatan untuk berlaku baik dan bapak mau berubah, pasti kesalahan bapak bisa ditebus. Saya yakin." ucap Hana tersenyum. "Bagaimana jika dia tidak mau memaafkan saya?" tanya Richard "Bapak terus saja melakukan hal baik pada orang itu, jikapun dia tidak mau memaafkan bapak. Biarkan saja, karena Allah maha melihat. Allah saja mau memaafkan hambanya masa hambanya tidak mau saling memaafkan?" ujar Hana sok bijak "Terima kasih, setelah berbicara dengan kamu saya merasa lebih baik." ujar Richard. Jauh didalam lubuk hatinya Hana merasa senang, "Yes! kena kan Lo. Hana kenapa sih Lo pinter banget?" batin Hana licik. "Oh iya, kalo tidak salah kamu yang tadi ada di meeting ya?" tanya Richard. "Betul pak. Saya bekerja di Lion group, perusahaan yang baru saja menjalin kerja sama dengan perusahaan Langit corporation." jelas Hana. "Kamu bekerja sebagai apa?" tanya Richard. "Manajer pak." jawab Hana. "Oh, kamu sudah punya suami?" tanya Richard. "Kok nanyain gitu ya? Jangan jangan gue mau dijadiin bini keduanya lagi." batin Hana curiga. "Saya belum menikah pak." jawab Hana. "Kamu mau bapak jodohin dengan anak bapak?" tanya Richard. Hana langsung berbinar menatapnya. "Jangan bilang dia mau ngejodohin gue sama..!" batin Hana. "Kelihatannya kamu anak yang baik, kebetulan saya lagi mencari calon yang cocok untuk anak saya." ujar Richard. "Mau.. err gimana ya, boleh saya tahu siapa orang yang bapak maksud?" tanya Hana sok jual mahal. "Kamu pasti tahu, nama anak saya Langit. Dia yang tadi meeting bersama kita. Lelaki tinggi dan tampan yang tak lain adalah CEO di Langit corporation, anak dari mantan istri saya." ucap Richard. Hana langsung merasa sangat senang. "Yes! Usaha gue enggak sia sia!" batin Hana. "Oh yang itu pak, iya saya tahu. Itu anak bapak yah hehe?" tanya Hana pura pura tidak tahu. "Iya anak dari mantan istri saya. Saya ingin melihat dia menemukan bahagianya dan semoga saja bahagianya dia ada di kamu." ucap Richard langsung disenyumi licik oleh Hana. "Kamu mau kan dijodohkan dengan Langit?" tanya Richard. "Boleh pak, saya lihat pak Langit orang yang baik dan ramah dengan orang lain. Saya rasa, saya akan cepat menemukan kecocokan dengan dia." ucap Hana yakin. "Oke, kalau begitu saya minta nomor kamu." ucap Richard. Hana pun memberikan nomor ponselnya seiring Richard mengetik nomor yang disebutkan itu. "Nanti saya hubungi kamu lagi." ujar Richard "Baik pak. Saya tunggu kabar terbarunya." ujar Hana. Esok harinya, Senja membawa tempat makan berisi nasi dan lauk pauknya. Ia berjalan menuju Arini, Ratih, Bintang dan trio S yang duduk di ujung paling belakang kantin. Mereka saling bercanda dan tertawa kala itu. Senja datang dan langsung duduk disamping Bintang, ia duduk berhadapan dengan Arini. Menampak wajah Arini yang semula ceria langsung berubah kecut, apalagi ketika Senja melihatnya. Gadis itu langsung membuang muka. "Gue kira pak Langit mau ngikutin kita, tahu tahunya enggak." ucap Susanto. "Tapi lho ya, dia sempat curi curi pandang tadi sama kita." ujar Sandi. "Mungkin perasaan Lo aja pada. Udahlah mulai sekarang anggap aja pak Langit orang normal yang enggak bisa baca pikiran." ujar Bintang "Ya gue emang dari awal enggak percaya sama hal kayak gini. Masa iya direktur kita punya kemampuan baca pikiran? Seandainya bisa, dia mungkin udah jadi pahlawan super bukannya direktur." ujar Ratih langsung disetujui Bintang. "Haha ya bisa aja kan, kerjaannya double. Pagi pagi jadi direktur, malemnya jadi markonah eh maksudnya pahlawan super." tawa Susanto. "Jauh amat markonah sama pahlawan super?" tanya Soni heran. "Aku juga ngerasa pemikiranku salah, enggak semestinya aku berpikiran yang macam macam sama pak Langit." ucap Senja sambil melahap makanannya. Arini terlihat ganas dan langsung memotong motong ayam di piringnya dengan sendok. Dia terlihat sebal. Bintang yang melihatnya seperti itu langsung heran. "Napa lu kayaknya empet banget bawaannya? Nahan ber*k lu?" tanya Bintang pada Arini. Gadis itu terdiam, menghela nafas, tidak membalasnya. "Hayoloh diapain tuh Bin istri Lo? Istri lagi ngidam kagak diturutin. Nanti anak lu ileran baru tahu rasa." sindir Sandi. "Lu enak aja istri. Siapa lagi yang mau punya istri kayak dia." sahut Bintang. Arini langsung berkobar. "Heh! Siapa juga yang mau punya suami enggak pekaan dan suka main cewek! Udah tinggi kayak tiang, muka standar enggak ada barat baratnya, mata sipit kayak lubang celengan, bau ketek kayak bapak bapak." Bintang seperti ditancap panah ke seluruh tubuhnya, makjleb sekali perkataannya. "Enggak perlu sok! Gue enggak bakal pernah suka sama Lo! Apalagi jadi calon bini Lo! Inget itu!" ketus Arini langsung bangkit dari kursinya dan pergi membawa tempat makannya. Ratih tertawa geli bersama trio S. "Hahaha, gue yakin setelah ini dia bakal minta pisah ranjang." tawa Ratih. "Terus abis itu dia nyanyi kayak gini, pulangkan saja. Aku pada ibuku atau ayahku." ujar Susanto sambil menyanyi saat di akhir kalimat. "Atau nyanyi begini, kumenangis membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku." ujar Ratih sambil ikutan bernyanyi. "Apaan sih gak jelas." ucap Bintang. Senja ikutan tertawa. "Eh Senja, elo pasti enggak tahu. Teman kita yang satu ini sering banget cekcok rumah tangga. Kadang akur kadang berantem. Tapi liat mereka akur jarang banget, udah kayak liat kucing sama tokek." ujar Ratih "Tikus Mpok." Soni mengingatkan. "Hehe semoga langgeng ya." ujar Senja bercanda. "Sen, lu jangan ngikut ngikut deh, mereka nih aliran sesat semua. Lu kalo ikut mereka, masuk neraka Lu." ujar Bintang. Mereka tertawa termasuk Senja. "Tapi serius deh, gue penasaran sama kalian berdua. Kok bisa saling dekat begitu sih?" tanya Soni. "Awalnya kita satu SD, terus tetanggaan, satu SMP eh sampe SMA juga sama. Mungkin karena Sama sama nyari sekolah negeri yang dekat jadi sekolahnya milih disana." jelas Bintang. "Jodoh loh itu. Gue yakin kalian berjodoh." ujar Ratih langsung disetujui oleh trio S. "Iya jodoh tuh, masa sekolah bisa sama terus bahkan sampe kerja pun sama." ucap Sandi. "Halah apa apa jodoh." dalih Bintang. "Lagian nih ya, dia bilang sendiri kok seleranya artis barat. Bukan cowok betawinese kayak gue." tambah Bintang. "Ya gue juga seleranya orang barat, Robert Pattinson. Tapi coba lu liat laki gue? Orang Jawa." "Tuh denger kata emak, dia udah pakar." ucap Susanto. "Enggak mungkin, di mindset gue. Gue enggak pernah kepikiran sampe kayak gitu. Gue selalu mikir kalo jodoh gue ya bukan dia." dalih Bintang. "Hmm gimana ya supaya nyadarin Lo, kalo kalian itu berjodoh?" tanya Ratih. "Jodoh itu udah ada yang ngatur, gue enggak mau mendahului tuhan gue." ucap Bintang. "Suatu saat pasti Lo bakal nyadar Bin, kalo Lo emang berjodoh sama dia." ucap Soni. "Tahu deh." Bintang mengedikkan pundak. Beberapa saat kemudian seusai kembali dari kantin, Senja jalan beriringan dengan Ratih. Tiba tiba Senja melihat ada banyak bunga aster tertanam di pinggir halaman kantor. Senja yang merasa senang melihat bunga kesukaannya ada didepan mata pun langsung terhipnotis berbelok meninggalkan Ratih. "Waa kok bisa ada sih bunga kesukaanku? Perasaan kemarin enggak ada tanaman ini deh disini." Senja sangat mengagumi bunga aster berwarna merah, pink, orange dan kuning didepannya. Dulu ia sempat menanam bunga aster di pekarangan rumahnya namun tidak kunjung berbunga, padahal sudah ia beri pupuk dan obat namun tetap saja tidak berbunga. Senja mengamati dengan cermat bunga didepannya sembari tersenyum. Sesekali ia memegang bunga itu dan foto. Senja sibuk sendiri disana. Tiba tiba seorang pria muncul di belakangnya. Senja terkesiap. Ia langsung membungkuk menyapa. Ternyata pria itu adalah Langit. "Selamat siang pak." ucap Senja
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม