Mila : Marlesi Resto jam 19.00 meja no.13, itu nama restoran yang sudah tante reservasi untuk kalian ya sayang, semoga kalian berjodoh dan keinginan tante terkabul.
Rania : baik tante, rania akan datang.
Mila : terima kasih sayang, tante tunggu kabar baiknya ya.
***
Rania mencoba menarik napas dalam sebelum memasuki restoran, matanya pun seketika langsung tertuju pada satu orang yang tengah berdiri dengan sebatang sebat di bibirnya, karena hanya pria itu yang saat ini berada di dalam restoran tersebut mungkin mila benar-benar memesan restoran ini hanya untuk mereka saja karena tidak mungkin jika restoran sebesar dan megah ini tidak memiliki pengunjung sama sekali. Rania berjalan mendekatinya dan terlihat sorot mata pria itupun mengarah padanya.
“rania?” sebut pria itu yang mendapati anggukkan rania. “aku hans, putra dari sarmila,” ucapnya lagi dengan mengulurkan tangan dan di sambut juga oleh rania. “silahkan duduk, pesanlah apa yang kamu suka!” sambungnya lagi dengan nada yang terdengar datar, rania seperti merasa jika pria yang bernama hans itu tidak senang dengan rencana mila dan bisa jadi jika hans mengira inipun termasuk akal-akalan rania saja untuk bisa menjadi menantu dari keluarga yang sangat terpandang di kota bandung.
Rania hanya memesan minuman tanpa makanan sama sekali berbeda dengan hans yang memesan begitu banyak makanan, entah apa tujuan perlakuan hans saat ini pada rania, dan Jika bukan karena janjinya pada mila pasti rania tak akan mau datang menemui putranya untuk perjodohan ini, rania sendiri juga sangat menyayangi mila sama seperti rasa sayang nya pada kavita, mereka adalah dua wanita yang selalu memberikan rasa aman dan nyaman yang selama ini belum pernah rania rasakan, dan mungkin karena itulah juga menjadi salah satu alasan rania setuju untuk menemui putra dari mila.
Suasana masih terasa hening tanpa percakapan lainnya, rania mengambil secangkir kopi yang di pesan lalu meneguknya pelan. “berapa yang kamu minta pada mama untuk pertemuan perjodohan ini?” rania menjeda minumnya dan tak selang lama meneguknya kembali tanpa sisa, “ini untuk kopi ku, terima kasih sudah mau menyetujui keingingan tante mila untuk bertemu dengan ku,” setelah meletakkan uang seratus ribu di bawah cawan kopinya tanpa basa-basi rania pun bergegas berdiri dan terlihat ada tatapan seperti mengintimidasi dari hans saat melihat punggung rania yang perlahan menjauh, “lumayan,” sudut bibir hans terangkat dan diapun juga tak lupa meneguk americano miliknya.
Tepat di depan restoran rania masih mencoba memesan taksi online tapi sama sekali tidak ada yang terpaut pada akunnya, tak hentinya rania mengumpat atas segala kesialan yang terjadi padanya hari ini, ternyata putra yang selalu di bangga kan tingkah laku nya oleh mila sangat berbanding terbalik dengan apa yang baru saja di temui dirinya, “astaga kenapa nggak dapat-dapat sih taksinya mana tinggal 1% lagi baterainya, sial banget aku harus bertemu sama pria seperti itu dan di tambah ini lagi,” gerutunya sambil menatap layar ponselnya yang belum menunjukkan pergerakkan apapun, dan tak selang lama dari arah samping kanannya terlihat mobil yang sedang melaju kearah rania dan benar saja sekarang mobil itu berhenti tepat di depan rania lalu kaca mobil pun turun dan nampak hans dari arah kursi kemudi, “ayo, aku antar! Susah dapat taksi malam ini, ada perbaikan jalan di perbatasan simpang,” ucapan hans sangat masuk akal karena sedari tadi memang tidak ada perubahan sama sekali pada aplikasi taksi online rania tapi rasanya rania sudah tak mau berurusan dengan pria itu lagi namun jika dia tidak menerima tawaran hans pasti dia tak akan bisa pulang malam ini. “lihat lah, primadona ku sudah ingin berburu kabar sedari tadi, bekerja sama lah dengan ku!” hans mengarahkan ponselnya pada rania untuk menunjukkan panggilan telepon dari mila. Rania masih terdiam dan menimbang-nimbang lagi atas tawaran hans lalu terdengar dering ponsel miliknya yang juga menunjukkan nama mila pada layar ponselnya dan seketika panggilan itu terputus karena ponsel rania kehabisan baterai, “naik dan jawab telponnya!” sambung hans yang memperlihatkan lagi panggilan dari mila namun saat rania membuka pintu mobil tangan nya tertahan oleh seseorang yang sangat membuat seluruh tubuh rania seketika bergetar hebat.
“rania.. “ pemilik suara itu berhasil membuat tubuh rania membeku, suara yang sudah sama sekali tidak ingin di dengar oleh rania kini malah sang pemilik suara itu terpampang nyata di hadapannya, rasanya sudah begitu lelah jika setiap malam harus hidup dalam trauma selama 4 tahun ini, terasa nyeri pada jantungnya saat genggaman itu terasa lebih erat dan kedua matanya pun sudah terasa memanas, hans yang sedang menatapnya sangat sadar jika sekarang rania tidak dalam kondisi yang baik-baik saja kemudian dia segera turun dari mobil lalu berjalan kearah rania dan sontak melepaskan dengan kasar tangan pria yang sedang mencengkeramnya itu dan seketika perbuatan hans merubah raut tatapan rania padanya
“siapa anda, saya hanya ingin berbicara sama rania!” ucapnya dengan nada sedikit tinggi setelah hans melepas paksa tangannya dari lengan rania. “nia, dengarkan penjelasan saya nia, tolong,” sambung pria itu lagi dan mencoba kembali meraih tangan rania namun hans lebih dulu memeluk rania dan menyingkirkan rania dari hadapan pria tersebut. Tak ada tolakan dari rania atas sikap hans sebab dia hanya ingin segera pergi tanpa melihat wajah pria yang pernah singgah di hatinya lagi, “tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, sebaiknya anda pergi dari sini,” tegas hans dan mengarahkan rania untuk memasuki mobilnya dan rania pun mengikutinya tanpa penolakan "saya tidak ada urusan sama anda, sebaiknya anda tidak perlu ikut campur," gertaknya sambil mendorong pundak hans, "semua urusan rania adalah urusan ku, paham!" setelahnya hans pun memilih pergi meninggalkan pria yang masih mematung menatap rania dari arah jendela pintu mobil hans, rania masih diam tanpa mengatakan apapun bahkan saat ini tatapan rania malah terlihat kosong, “maafkan saya nia, saya menyesal, saya harap kita bisa berbicara lagi seperti dulu,” ucapnya lagi disela kaca mobil hans yang perlahan menutup dan melaju pergi dari tempatnya sekarang.
***
Sesekali hans menatap rania untuk memastikan jika wanita yang baru saja di temuinya itu baik-baik saja, jika tidak dia bisa berurusan dengan ibunya sendiri, hans tidak tau apa yang sedang terjadi saat ini tapi yang hans tau jika rania ini adalah orang yang sangat di sayangi oleh mila karena setiap hari dalam hidup hans tidak ada jeda waktu untuk tidak menceritkan semua tentang rania. Rasanya sangat berbeda dengan rania yang tadi sempat di temuinya, kali ini hans merasa jika rania adalah wanita yang pemurung walau tatapan nya tak lagi terlihat kosong tapi hans tau jika ada banyak tekanan yang menyesakkan dadanya, “menangislah karena itu perlu, tidak harus berusaha tegar apalagi kuat dalam setiap hal yang mestinya kamu rapuh dalam keadaan itu,” pungkas hans yang tetap fokus dengan kemudinya, rania tak menjawab perkataan hans dia lebih memilih untuk memalingkan pandangannya kearah luar menikmati pemandangan malam itu.
“bicaralah!” hans menyodorkan ponselnya pada rania dan membuatnya mengerutkan kening, “dia sudah menunggu mu dari tadi,” sambungnya lagi yang sontak membuat rania paham jika saat ini ponsel hans sedang berada di panggilan telepon dengan mila.
Mila: halo sayang, anak tante baik kan sama kamu? Dia nggak jahatin kamu kan?
Hans: aku mendengar mu ma, tenang saja putri kesayangan mu ini baik-baik saja bersama ku.
Rania: anak tante baik kok, baik sekali malah sama rania.
Mila: oke sayang baiklah biar hans mengantar mu pulang ya, terima kasih sayang nya tante sudah meluangkan waktu untuk menemui anak tante itu.
Rania: iya tante sama-sama.
Panggilan telepon pun terputus, rania mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya dan setelah itu tak ada percakapan sama sekali antara mereka yang ada hanya deru lembut suara mesin mobil milik hans, begitu sunyi dan tenang hingga membuat kantuk pada rania yang sedikit demi sedikit perlahan menutup kedua kelopak matanya.