"Bukan."
Bianca termangu tanpa suara. Bibirnya yang terbuka perlahan mengatup. Rona merah menjalar di sepanjang leher dan pipi. Menyadari dinginnya sorot mata yang terhampar dari sosok di depannya. Dokter Abe terbentuk dari ucapan orang-0rang; kehangatan itu hanya ilusi.
Tuduhan itu kembali diletakkan di atas kepalanya tanpa bersalah. "Kau salah orang," tegurnya. Bianca membisu, menyadari kalau ingatannya tidak berfungsi baik. Ia merasa rentan, payah, dan sesal.
"Aku minta maaf."
Kemudian membungkuk sebagai ucapan maaf dasar. Ketika mata mereka bertemu, Dokter Abe terlihat tidak tertarik untuk bicara lebih jauh dengannya. Bianca bergegas mundur, mengusap bagian belakang ikatan rambutnya dalam diam. Mencoba mengambil napas, dan merasa canggung. Ini semua karena dirinya sendiri, cemoohnya dalam hati.
Sang dokter masuk ke dalam mobil. Sedangkan Bianca mengamati, melamun dalam diam. Semilir angin menerbangkan apron dan anak rambutnya yang lepas dari ikatan. Setelah mobil mahal itu melintas, lenyap dari pandangan mata, Bianca baru menyadari untuk bergegas pergi. Bukannya terpukau pada keindahan belakang mobil yang mewah.
"Kau tidak apa?"
"Aku baik," sahabatnya berjalan dengan pandangan cemas. "Aku hanya bicara dengan dokter itu sebentar."
Aisha mengerutkan kening. Namun tidak mengatakan apa pun.
"Kau tahu, soal Chayim. Ini bersangkutan dengan lima tahun lalu. Aku hanya—," Bianca mencoba merangkai ratusan kata di dalam kepalanya. "—ingin memastikan."
"Dan Dokter Abe bicara kalau itu bukan dirinya?"
Bianca menggeleng. Menepis kewarasannya yang bilang bahwa Dokter Abe adalah orangnya. Malam itu, saat Bianca hancur dan terpuruk. Tetapi sang dokter menolak, mengelak fakta tersebut dan Bianca tidak memiliki bukti untuk mendorong dokter itu mengaku.
"Aku menyesal mendengarnya," balas Aisha pelan, mengambil napas berat. "Lima tahun lalu, dan mungkin dia sudah lupa. Bianca, pekerjaannya banyak. Banyak orang yang ia temui setiap menitnya. Tidak perlu merasa bersalah."
Bianca menengadah, memberi senyum tipis meski perasaannya belum sepenuhnya membaik. "Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya."
"Lain kali." Aisha merangkul bahu sahabatnya. Memintanya untuk memegang kasir selagi ia membereskan meja-meja bekas pengunjung yang kotor dan basah. "Lain kali, kalimat itu akan meluncur bebas pada orang yang tepat. Chayim memang tidak selamat saat itu, tapi dokter yang bertugas telah bekerja keras. Begitu, kan?"
Bianca membenarkan dalam hati. Membersihkan meja kasir dan meja-meja lain yang baru digunakan. Kafe mereka cukup besar. Pinjaman bank yang tidak sedikit membuat mereka harus bekerja keras. Uang sewa pertahun bersama pajak pun tidak murah. Tetapi apa pun, itu semua sepadan. Bianca menyadari kalau ia dan Aisha tidak akan bisa melanjutkan hidup seandainya kafe kecintaan mereka ini bangkrut.
"Selamat datang." Bianca menyalakan mesin kasir saat dua pembeli masuk ke dalam kafe. "Ingin pesan apa?"
"Satu karamel s**u dingin dengan macaron matcha. Dan satu lagi kopi latte tanpa es."
Mereka mencari tempat duduk dengan nyaman. Setelah pesanan selesai, salah satunya berdiri tanpa Bianca yang perlu mengantar ke meja. Saat Aisha baru saja kembali dari loker, sudah mencuci tangan dan merasa bersih.
"Aku ingin bicara jujur padamu."
"Tentang?"
Sahabatnya terlihat gelisah. "Aku mencoba mendaftar pada sebuah aplikasi pencari teman kencan," mata biru Aisha bersinar redup. "Tolong jangan hakimi aku. Ini hanya iseng. Aku kadang-kadang berpikir mencari teman kencan yang cocok tanpa mau mengeluh."
Bianca mengulum senyum. Mendengus saat ia melayani satu pembeli lagi dengan pesanan singkat. Berbalik menghadap Aisha yang lelah.
"Aku tidak akan mengejekmu. Yang terjadi hanyalah aku akan mendukung. Ponselku selalu aktif dua puluh empat jam kalau kau butuh seseorang yang bisa melempar tongkat baseball dengan jangkauan kurang dari empat meter."
Aisha tersenyum bosan. "Kau konyol."
***
Abe mengalungkan stetoskop pada leher. Mengamati gadis berusia tiga belas tahun yang baru saja menjalani prosedur operasi usus buntu. Operasi berjalan lancar. Gadis itu kembali pulih secara bertahap.
"Dia keras kepala sekali."
"Aku pikir kau tidak ingin bertemu dengan pisau bedah lagi? Atau ada rencana masuk ke ruang operasi di tahun berikutnya?"
Si gadis bermata kecokelatan itu menyipit, mengamati Abe dengan bibir cemberut. "Tidak. Bau rumah sakit sama sekali tidak menyenangkan. Aku ingin pulang."
Si perawat yang memeriksa perkembangan kondisinya hanya menggeleng dengan senyum. Sesekali melempar pandang pada sang dokter yang meneleng, memerhatikan pasiennya dalam diam.
"Pola makanmu harus berubah," kata Abe santai. "Aku sudah bicara pada ibumu untuk bersikap lebih ketat. Untuk sekadar informasi, kau pasien termuda yang pernah menjalani prosedur ini."
Kedua matanya melebar. "Dokter pasti bercanda."
Abe menggeleng. "Tidak sama sekali. Satu tahun lalu, remaja berusia lima belas tahun akhir. Dia bahkan menjalani perayaan ulang tahun ke enam belas di rumah sakit. Ibunya terus menangis. Apa kau mau merasakannya?"
Ibunya mengulum senyum. Meski binar matanya telah kembali. Pancaran rasa lega itu membanjiri dirinya bagai air bah. Putrinya akan kembali pulih dan sehat. Menjalani kehidupan sebaik mungkin dan memerhatikan hal sekecil apa pun pasca operasi.
"Bisakah aku membelikannya bubur di luar rumah sakit?"
Abe beralih, bersiap-siap pergi setelah si perawat beres menyelesaikan semua catatan atas kunjungan mereka siang ini.
"Tidak. Untuk sementara biarkan makanan rumah sakit menemani makan putrimu. Aku akan membebaskannya kalau kondisinya membaik secara utuh. Di sini, dia masih dalam pengawasan."
Sang ibu menghela napas. Tampak tidak ingin menolak atau membantah. "Baiklah. Terima kasih banyak, dokter."
"Sama-sama. Beristirahatlah. Tidak ada yang perlu dicemaskan."
Dokter Abe pamit setelahnya. Ketika sang ibu mengangguk, membiarkan sang dokter pergi dari ruangan kelas satu putrinya. Bersama Alya, perawat manis yang bertugas bersamanya.
"Um, dokter?"
"Sebelum kau bicara, aku akan menyela." Kemudian tubuh tegap itu berbalik. Membuat Alya menarik napas berat, tidak bisa menatap sorot tajam itu sama sekali. "Kau tidak perlu memberikan apa pun padaku. Dalam bentuk kopi atau makanan sekali pun. Terima kasih. Tapi lebih baik kau menggunakan uangmu untuk yang lain. Kau paham?"
Alya menunduk, mendekap berkas data di data dengan sepasang bahu mengendur. Ia sedih, tetapi tidak bisa berbuat apa pun. Dokter Abe telah memberi ultimatum, ia seharusnya menurut.
"Aku paham, dokter. Maaf kalau selama ini aku bersikap lancang."
"Kita sebatas rekan profesional di rumah sakit, Alya. Kau bukan orang baru di sini."
Tanpa merasa bersalah, Abe berbalik setelah puas mengatakan segalanya. Berjalan membiarkan Alya sendiri untuk kembali ke tempatnya. Jalan mereka berbeda. Dan Abe dengan santai melangkah menuju ruang pribadinya.
"Aku tidak terkejut sama sekali. Arogansi memang melegenda."
Abe melempar lirikan pada Karin yang baru saja tiba. Perempuan berusia tiga puluh dua tahun itu melempar senyum sinis, yang sama sekali tidak membuat Abe goyah.
"Kau tahu benar akan hal itu. Tetapi berpura-pura buta. Kau dan mereka sama saja."
Karin terdiam. Membisu cukup lama sampai sosok Abe tidak lagi tampak di matanya. Sebelum erangan lolos dari bibirnya, kedua tangannya terkepal. Mengamati seisi rumah sakit yang senggang, lalu menghela napas berat.
***
Selayaknya Abe paham bahwa kematian adalah jarak yang sesungguhnya, ia hanya bisa berpesan pada diri sendiri untuk tidak berlarut-larut meratapi kesedihan. Menjadikan kematian sebagai cambukan, pengingat kalau mereka yang hidup pasti berpulang.
Namun kematian ibunya bagai membuka neraka babak baru. Tiga tahun lalu, ketika Elina mengembuskan napas terakhir setelah berbisik kalau dia menyayangi Abe tanpa pamrih, airmata mendesak untuk keluar. Abe hanya bisa mundur, terpukul, dan mencari tempat yang lebih sunyi untuk berduka.
Orang-orang memandangnya sebuah kesalahan. Ibunya tidak. Kalau saja inspirasi lahir dari dunia sekitar, Abe merasa dunianya terpusat pada sang ibu. Hanya ibunya. Ia akan jatuh bangun melakukan apa pun untuk sang ibu.
Sejenak dunianya kosong. Bumi tidak lagi terlihat sama. Dunia tidak memiliki poros. Sama halnya dengan dirinya. Mempertanyakan eksistensi dengan gerungan frustrasi. Ia merasa bersalah, terlarut dalam penyesalan.
"Kau di sini."
Sebuah suara tidak lagi mengejutkannya. Selama matanya hanya sanggup menatap, kosong, tanpa arti pada sebuah nisan yang tertancap. Makam ibunya telah menjelma menjadi tempat yang cantik. Abe hanya tidak mau ibunya dikenang dengan cara-cara buruk.
"Abe, apa kabar?"
Pernyataan itu berimbas pilu pada hatinya. Ketika ia menarik napas, mencoba untuk memasang raut datar dengan pengendalian penuh ketika berbalik.
"Tidak ada yang salah denganku mengunjungi makam ibu."
Salah satunya menggeleng. Meneleng menatap nisan dengan pandangan lirih. "Tidak. Bukan kesalahan. Dia juga ibumu."
"Dia akan selamanya menjadi ibuku," suaranya bergetar, bertentangan dengan rasional yang selama ini bercokol. "Tidak ada siapa pun lagi."
Ayahnya—Conan membisu. Semilir angin sama sekali tidak berguna membawa dukanya pergi. Abe terhempas dalam realita. Setelah kematian ibunya, semua berubah. Tidak ada yang sama. Dingin kembali menjadi tembok di rumah yang membesarkannya. Semula hanya bentuk serpihan, tidak tahu kalau berubah menjadi dinding bata yang padat dan keras.
Daffa memberinya senyum tipis. "Aku senang melihatmu. Apa kabar? Kau tidak pernah kembali ke rumah."
"Dia lupa akan rumahnya," balas sang ayah serak. Menyipit menatap putra bungsunya. "Kalau kau ingat pulang, kau seharusnya tahu kalau kau masih punya orang tua yang tersisa."
Abe mendengus. Membiarkan wajahnya berpaling ke sisi lain. Tawa mengejek nyaris meluncur. Kalau saja ia tidak bisa menahan diri. "Aku tidak punya tempat untuk kembali. Tapi terima kasih untuk tawarannya."
Daffa mengambil napas, mencengkeram tepi dorongan kursi roda dalam senyap. "Kau selalu punya ruang untuk pulang. Jangan bicara begitu. Ibu sedang tidur, dan dia akan sedih jika mendengarnya."
Abe kehilangan suara. Ketika matanya bertemu dengan mata sang kakak yang penuh arti, dirinya menunduk. Banyak hal yang Abe lepas setelah ibunya pergi. Salah satunya adalah hubungan erat yang sempat terjalin bersama Akram Daffa dulu. Ada harga besar yang harus ia korbankan.
"Kalau kau tidak mau kembali, mari kita membahas beberapa hal di sini."
"Ayah," tegur si anak sulung. "Kau tidak bisa bicara serius di pemakaman. Orang-orang mampir untuk mengenang mereka yang sudah pergi."
"Lantas? Aku kehabisan cara untuk membuat manusia super sibuk ini duduk di sofa rumah. Dokter Abe sangat sibuk, sampai-sampai membuat temu janji jika ingin bertemu," sindir Conan tajam. Abe membisu.
"Kalau ini tentang Karin, kau tidak akan mendapat jawaban memuaskan." Abe membalas tanpa ragu. Membisukan kedua manusia yang menatapnya dilema dan dingin. "Pernikahan ini hanya akan menyenangkan satu pihak."
"Oh, kupikir kalian saling jatuh cinta? Karena kalau kau bisa melihatnya, Karin tergila-gila padamu," ujar Conan sinis.
"Itu urusannya, bukan urusanku."
Ultimatum itu seharusnya berhasil membuat mulut sinis Conan diam. Tetapi Abe terlampau mengenal sosoknya terlalu dekat, sampai-sampai mengira hal itu tidak akan terjadi. Ayahnya tidak pernah berdiri di sisinya. Hanya ada ibunya, ibunya dan ibunya. Ayahnya hanya peduli uang, takhta, dan serakah. Ia tidak peduli pada hal lain selain apa pun yang membuatnya meraup keuntungan berlipat.
"Arogansimu menyedihkan."
Daffa membisu. Memandang sang adik dalam kebisuan yang menghantam dadanya bagaikan palu godam. Ekspresi Abe terlanjur datar. Terlanjur tanpa emosi. Hal yang Daffa cemaskan sejak dulu. Adiknya terlalu pintar memendam segalanya. Tidak bersuara saat dunia melukainya, tidak bicara saat ayahnya bersikap kasar padanya. Hubungan racun antara ayah dan anak yang sudah tercipta belasan tahun lalu. Atau mungkin puluhan tahun. Karena usia mereka tidak lagi muda.
"Kau membuat marah banyak pihak. Kau mungkin tidak peduli padaku. Tetapi pikirkan soal kepala yayasan. Kau akan membuat malu dirinya," kata Conan serius. Menjalin kedua tangannya di atas pangkuan. "Karin satu-satunya yang tersisa. Pewaris, memiliki segalanya yang perempuan di dunia ini idamkan. Hanya kau, pria tidak normal yang tidak tertarik. Apa yang salah darimu?"
"Ayah, sudah. Cukup. Selesaikan sampai di sini. Tidak baik membicarakan masalah pribadi di tempat umum." Daffa bersuara, membuka mulut untuk menyampaikan pendapatnya.
"Tidak. Tidak ada siapa pun selain kita bertiga di sini. Adikmu harus tahu bagaimana caranya menjalani hidup dengan baik. Ia terlunta-lunta setelah kematian Elina."
Abe menarik napas. Menyugar rambutnya yang kering tanpa suara.
"Berhentilah membelaku. Usahamu tidak akan berguna. Dia hanya akan menyalahkanmu karena terlalu lama berdiri di sisiku," sahut Abe pahit. Menyadari kalau posisi sang kakak yang terombang-ambing membuat dadanya berdenyut. "Cukup ibu yang menjadi sasaran kebrutalan hewan tidak berlogika seperti itu. Tidak ada korban lagi."
"Lain kali, jaga bicaramu. Aku tahu kau cerdas. Tetapi kau harus bisa menempatkan dimana kau bicara," tegur ayahnya dingin. Terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kalimat sang anak. "Aku masih ayahmu. Sampai kapan pun, aku ayahmu."
"Terima kasih. Aku akan mengingatnya secara jelas. Terutama untuk peran ayah sebagai nama resmi untuk dokumentasi negara."
Conan terkejut. Rautnya merah padam menahan emosi ketika Abe membungkuk, tanpa basa-basi segera berbalik dan meninggalkan keduanya dalam diam. Membiarkan kedua kakinya melangkah, membelah jalan bebatuan pemakaman yang sepi.
Bayangan mendiang ibunya yang tersenyum menari-nari di dalam ingatan. Abe tidak bisa melihat sosok ceria penuh warna selain sang ibu di masa lalu. Benaknya bergejolak, sensasi pedih itu masih memaksa berdenyut-denyut dalam dadanya.