jika saja

1054 คำ
"Oh, Abe? Masuklah. Apa ini kejutan bagimu?" Abe tercenung. Mendapati ruangan besar itu tidak dapat menyembunyikan sosok Conan yang keras dan bertangan dingin. Tangannya membeku pada gagang pintu, menyadari raut mereka sama-sama keras tak lantas membuatnya gentar atau ingin berpaling. Sedangkan Tuan Kato menganggap tidak ada permasalahan rumit yang terjadi di antara keduanya. Oh, tentu saja. Abe tidak akan bersuara. Sama halnya dengan Conan, ayahnya yang menjunjung tinggi gengsi dan reputasi menghindari tuduhan buruk dari orang-orang di sekitar. "Sini, duduk." Suara Conan terkesan memaksa. Abe tidak punya pilihan karena rumah sakit bukan tempat pelarian. Ia hanya mengabdikan diri. Sesuai sumpah dan aturan yang mengikat. Ayahnya ada di sini. Bermodalkan kursi roda, reputasi dan tekad, ia berhasil duduk di ruangan kepala yayasan dengan dagu terangkat angkuh. Akram Conan akan tetap sama di matanya. "Aku akan senang hati menunggu Karin," ujar Conan ramah. Tuan Kato sangat senang mendengarnya. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari putrinya yang disayang dan mendapat keluarga terpandang. Sebagai pemilik firma hukum terbaik di kota ini, nama Conan bukan angin lalu. Kasus remeh mau pun skandal terbesar, berhasil ayahnya lewati. Firma hukum mereka besar, menjadi yang terbaik dan termahal di kelasnya. Pengacara-pengacara handal bertangan dingin di bawah asuhan Conan bukan lagi menjadi yang terendah. "Aku rasa teh di pagi hari baik untuk kita bertiga." Nada suara Kato terdengar ceria. Abe masih setia diam, mempertahankan raut dingin mencekik. "Bagaimana, Abe? Teh hangat atau air putih?" "Terima kasih. Tapi itu tidak perlu." Abe berkata mantap. Sama sekali tidak peduli dengan air muka Tuan Kato dan Conan yang berubah. "Aku punya jadwal pagi ini." "Sesibuk itu?" Conan mengernyit. "Aku tidak pernah melihatmu santai-santai. Kato, apa kau membuat putraku kesulitan?" Kato mengangkat alis. "Abe muda yang terbaik di kelasnya. Kami bangga punya dirinya," balasnya serius. "Tapi Abe, kau sepertinya butuh istirahat sebentar. Kau ingin berlibur?" Kepalanya menggeleng. "Tidak. Aku hargai kebaikanmu." Conan menghela napas. Terlihat tidak suka dengan reaksi dingin putranya. "Aku harap kau tidak terlalu lama memaklumi tingkahnya. Kadang-kadang ia harus diberi cambukan sedikit keras." "Conan, sudahlah." Abe memutar mata. Sama sekali tidak terpengaruh atas kalimat ayahnya yang menjurus. "Kekerasan tidak diperlukan atas apa pun. Aku bertindak normal." Kato menyunggingkan senyum. "Aku berterima kasih pada Karin. Karena dia masih mau berkunjung ke rumah sesekali. Dia cukup peduli," ucap Conan ramah. "Ah, kau berlebihan. Karin memang menaruh perhatian pada pria-pria tua seperti kita." Kato mencoba bercanda. "Putriku ingin yang terbaik untuk ayah dan calon mertuanya." Obrolan itu memuakkan. Abe bosan dengan keduanya—atau atmosfir yang tercipta di tempat ini memang luar biasa mencekik. Saat ia bangun, mengamati kedua pria paruh baya tanpa ekspresi. "Aku harus pergi. Lanjutkan obrolan kalian." "Abe?" "Abe, duduk." "Aku pamit. Selamat pagi." Kato dan Conan memandangnya dalam diam. Abe sama sekali tidak peduli. Menutup pintu tanpa suara. Berjalan membelah koridor dalam sepi. Sama sekali mengabaikan suara-suara yang tercipta di sekitarnya. "Abe?" Bahkan Karin sekali pun. "Kau tak apa?" Abe membisu. Tidak membiarkan langkahnya berhenti untuk sekadar menjawab, untuk sekadar menatap Karin yang baru saja tiba. Ia acuh. Begitulah dirinya. *** "Lelaki yang duduk di tepi jendela memerhatikanmu sejak tadi." Bianca menautkan alis. Melempar lirikan tanpa suara. Mencuci tangan dengan sabun setelah ia membereskan meja-meja dari sisa piring kue dan gelas. "Tapi dia tidak buruk," celetuk Aisha antusias. "Menurutku dia hanya lebih muda sedikit. Iya, kan?" "Berhenti bergurau." Bibir sahabatnya cemberut. "Kau yang seharusnya lebih peka terhadap sekitar," tudingnya tanpa sesal. "Aku tidak akan memaksa. Tapi ini hanya saran. Kau sebaiknya membuka hati." Bianca diam. Aisha menghela napas. Seketika merasa bersalah. Tetapi ia ikut membisu. Berbalik untuk memeriksa pecahan uang kecil di dalam kasir, berpura-pura sibuk. "Apa itu sebuah keharusan?" "Apa Chayim menyukai kau yang berlarut-larut berduka karena kehilangannya?" Mata birunya berkilat penuh sesal. Tetapi Aisha tidak bisa menarik kata-katanya kembali. Barangkali Bianca tersadar, bahwa mencoba membuka hati bukan kejahatan. Ia tidak melakukan kesalahan dengan mencoba menjalani hidup sebaik mungkin. "Aku tidak bisa," akunya lemah. Memilih untuk membuang tatapannya pada tempat tisu. "Kau tahu, tidak ada yang bisa kupercaya. Selain Chayim. Benar, selain dia." "Belum. Kau hanya belum menemukannya," sahut Aisha optimis. "Suatu hari nanti, kau bisa menarik semua kalimatmu untuk dirimu sendiri. Tenang saja. Dan aku harap, kau bertemu dengan pasanganmu tidak di waktu yang salah." "Kau baik sekali," ujarnya gemetar. "Tapi aku harap itu terjadi padamu. Lebih daripada aku, kau yang pantas." "Tidak. Aku akan menyesali banyak hal semisal kau masih berkabung. Lima tahun, dan kehidupanmu belum menanjak." Aisha meneleng miris. Mengamati Bianca lirih. "Siapa yang pantas membuatmu bahagia selain dirimu sendiri?" "Aku masih dalam masa berkabung." "Berkabung karena kehilangan Bibi Ama itu perlu. Tapi untuk Chayim? Bianca, dia tersiksa di surga karena melihatmu sekarang." Bibir Aisha yang terbuka lantas mengatup. Membiarkan dirinya bungkam, menyadari kalau Bianca menderita oleh banyak hal. Ia tidak bisa lakukan apa pun selain mendorongnya untuk tetap melanjutkan hidup. Berdiri di sisinya. Berbagi suka dan duka. "Aku pikir kau benar. Kadang-kadang aku berpikir hal yang sama," balasnya ragu. Berbalik untuk mengusir panas pada matanya pergi. Ini tempat umum. Ia tidak boleh menangis tanpa sebab. "Semesta belum memberikan kesempatan itu." "Bukan sekarang. Tapi nanti. Kau harus ingat itu." Bianca tidak bersuara atas apa pun lagi. Karena memang tidak ada satu pun kalimat yang ingin muncul. Aisha kembali bekerja, sedangkan ia menangani pembeli yang baru saja masuk. "Selamat datang. Ingin pesan apa?" "Uh, kau?" Saat kepalanya mendongak, Bianca melihat perempuan baik hati yang mau membantunya ketika tidak sengaja menjatuhkan kopi pesanan Alya, perawat rumah sakit yang memintanya memberikan kopi pada Dokter Abe kala itu. "Hai. Senang melihatmu lagi." "Aku juga." Si wanita membalas senyumnya tak kalah lebar. "Aku menduganya. Sayang sekali, kau tidak memakai seragam saat itu." Bianca meringis. "Aku berpakaian biasa ketika mengantar pesanan di luar kafe. Ada yang bisa kubantu?" "Beri aku rekomendasi," kata wanita itu riang. "Omong-omong, aku Karin." Mengulurkan tangan dengan ramah. "Kau?" "Bianca." "Nama yang bagus. Nah, Bianca. Beri aku rekomendasi sekarang." "Ada sesuatu yang ingin kau minum?" "Kafein." Karin berkata dengan senyum. "Aku sedikit setres sekarang. Lalu mampir karena melihat sepeda motor terparkir cukup ramai. Tempatnya bagus. Ini unik." "Terima kasih. Oh, untuk kopi aku punya beberapa rekomendasi." Bianca dengan ramah memberi rekomendasi. Mentraktir Karin sepotong brownis andalan kafe mereka dengan senang hati. Sedikit berbincang sebelum Bianca kembali larut dan sibuk. Kemudian pada Karin yang melamun, memandang kaktus mungil di pot gantung.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม