Bianca membeku. Sekujur tubuhnya mendadak mati rasa. Sebenarnya itu pernyataan yang biasa, terlewat biasa, seandainya itu tidak mengalir dari bibir sang dokter bersama segudang reputasi dan sikap yang apatis. Abe seperti lamunan para gadis di siang bolong. Paras yang rupawan, sorot mata tajam, pembawaan yang tenang. Semua yang melekat di diri pria itu bagaikan angan. Sesuai yang mustahil tergapai. Dan Bianca merasakannya. "Kau serius?" Seharusnya ia tidak perlu mempertanyakan keseriusan pria itu. Karena bagaimana pun juga, mata pria tidak bisa berbohong. Abe sedang melakukannya sekarang. "Rasa sayangku sebatas pada ibu dan Ryuu. Tetapi tidak pada lawan jenis. Kalau kau bertanya apa aku pernah mencoba, aku akan menjawab ya padamu. Aku pernah. Dan aku tidak bisa." Kalau saja Bianca kemb

