"Ayah menduga kau dalam masalah." Makan siang yang berlangsung sama sekali tidak mengesankan Karin sekarang. Ia membereskan semua pekerjaannya sampai tidur larut, tidak ingin mengecewakan sang ayah yang memintanya untuk makan siang bersama. "Tidak ada masalah," balasnya pelan. Memainkan garpu pasta asal. "Hanya kurang tidur." Namun Kato tidak percaya begitu saja. Ia mengenal Karin selama tiga puluh dua tahun. Putrinya, satu-satunya warisan berharga yang sang istri tercinta punya. "Berkaitan dengan Abe?" Senyum Karin mengembang masam. "Kenapa harus Abe? Pekerjaan." "Kau berbohong." Karin mendesah, mengusap anak rambutnya yang terjulur ke kening. Ia sudah memasang raut sedatar mungkin agar orang-orang tidak bisa menebak secara mudah perasaannya. Tetapi Daffa benar. Dirinya seperti buk

