Setelah meninggalkan cafe, Lien memutuskan untuk pergi ke perusahaan Goumin. Berusaha untuk berpikir jernih dengan menanyakan secara langsung ke pria itu. Jika saja, Goumin tidak menjawab, maka sudah dapat dipastikan bahwa... Namun, di perjalanan, dia berhenti dulu karena perutnya terasa sangat mual. Saking tidak bisa menahan rasa mualnya, dia muntah-muntah di tepi jalan. Hanya saja muntahannya berupa cairan putih saja, air. "Kenapa sih aku mual seperti ini? Apa karena aku tidak makan sejak tadi malam?" tanyanya pada diri sendiri. Sebuah air mineral terulur padanya. Lien mengerutkan kening heran melihat sesosok bocah lelaki menyodorkan air kepadanya. Wajah bocah itu terlihat sangat khawatir. "Minum lah, kak. Kakak pasti sakit karena sibuk bekerja untuk kami." Lien mengernyit. "Aku b

