Mahesa: Semangat, semoga berhasil!
Satu pesan yang berhasil membuat Asha kembali bergerak seperti cacing kepanasan di dalam kelas terakhir siang ini.
Tadi pagi, Mahesa sengaja menyempatkan diri untuk mampir ke asrama Asha hanya untuk sekedar meminta id line gadis itu.
Sebenarnya, pemuda tersebut berniat untuk mengajak Asha berangkat bersama. Namun hal itu ia urungkan ketika Mahesa melihat wajah masam dari Brian.
Mungkin ia harus sedikit mengalah sebelum benar-benar menjatuhkan Brian, pikirnya.
“Kelas saya akhiri, jangan lupa minggu depan kita kuis,” ucap dosen mata kuliah pemodelan dan komputasi terapan tersebut, kemudian berjalan keluar kelas.
Asha yang sudah mengemasi semua barang-barangnya ke dalam tas sejak tadi, langsung berlari keluar meninggalkan Brian dan Maya yang dibuat keheranan.
"Pergi dulu, Brian. Nanti ketemu di parkiran, ya!!" teriaknya.
Sejak kelas dimulai, Asha selalu mengeluh lelah dan mengantuk. Namun saat dosen telah keluar, gadis itu justru kembali bersemangat seakan telah memenangkan arisan di fakultas sebelah.
Hari ini adalah hari pengumuman seleksi ekstrakulikuler musik. Asha sebenarnya tidak yakin dirinya akan lolos. Tetapi mengingat bahwa ia telah belajar gitar dengan giat dan suaranya yang cukup bagus, membuat gadis itu kembali sedikit memiliki harapan.
Ruang musik yang mulai ramai dikunjungi mahasiswa tahun pertama untuk melihat hasil seleksi, membuat Asha agak susah untuk maju ke depan. Badannya yang cukup kecil dengan mudah terdorong oleh beberapa orang ke belakang.
Setelah berusaha menyelinap di antara banyak orang. Akhirnya Asha sukses berada di papan mading yang berada di samping pintu ruangan musik. Di sana, tertempel sebuah kertas HVS dengan 12 daftar nama mahasiswa yang lolos.
Mata Asha dengan jeli mencari namanya. Dari nomor urut awal hingga sampai pertengahan, ia tak kunjung menemukan nama itu.
Baiklah, mungkin saat ini waktunya untuk pesimis dan menangis di pelukan Brian. Ah, tidak, sepertinya di pelukan Mahesa terasa lebih baik.
Asha memukul kepalanya pelan. Bisa-bisanya ia membiarkan pikirannya membayangkan berpelukan dengan Mahesa di saat yang menegangkan seperti ini.
Jari lentik itu kembali menelusuri daftar nama hingga sampai di urutan terakhir, Asha tiba-tiba menghentikan aksinya. Sepasang mata indah itu sesekali ia gosok dengan tangan, berharap bahwa ini bukan mimpi atau halusinasinya.
Nama Ashafa Kanala tercetak jelas di urutan paling terakhir.
Gadis itu tidak mempermasalahkan urutannya yang berada di paling bawah. Karena yang paling penting adalah lolos dahulu. Karena jika ia lolos, Asha akan memiliki waktu lebih banyak untuk bertemu dengan Mahesa.
Sembari berjalan menuju parkiran untuk mendatangi Brian, ponsel miliknya tiba-tiba berbunyi. Menampilkan nama seorang lelaki yang baru saja hendak ia temui.
“Halo, Bri? Ada apa?” Tanya Asha berjalan menyusuri lorong kampus.
"Gue ada pengumuman seleksi basket mendadak, nih. Lo susul ke lapangan dalam aja, ya!" Jawab Brian di seberang sana.
Asha mengerutkan kening heran. Kenapa klub basket selalu memberikan informasi yang mendadak?
Setelah mendengar kata setuju dari gadis tersebut, sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Brian.
Dengan cepat Asha kembali berbalik dan berlari menuju lapangan basket. Asha harus berada di sana sebelum pengumuman seleksi basket itu dibacakan, sekaligus memberitahu Brian bahwa dirinya juga lolos seleksi musik.
Asha sampai di lapangan basket tepat waktu. Gadis itu masih melihat Brian berada di dalam lapangan. Sedang berbaris bersama mahasiswa lainnya untuk menunggu pengumuman.
Nafasnya tersengal-sengal, namun senyuman di wajahnya tak pernah pudar, seakan memang tidak bisa hilang.
“Mau liat Brian juga?” tanya seseorang yang berada di samping gadis itu, ia adalah Maya.
“Loh, May. Iya, gue tadi disuruh Brian kesini, lo juga ya?”
Asha kembali bertanya kepada Maya yang sudah terlebih dahulu berada di lapangan basket, dan dihadiahi dengan senyuman serta anggukan kepala. Padahal, Brian sama sekali tidak menyuruhnya untuk datang ke sini.
Suasana menegang terjadi setelah sekitar 5 orang mahasiswa yang terpanggil namanya lolos. Asha bisa merasakan bahwa Brian sekarang pasti sudah berpikir yang tidak-tidak seperti dirinya tadi.
Tapi karena kemampuan yang dimiliki pemuda tersebut cukup bagus, gadis itu yakin bahwa Brian sudah tentu lolos. Apalagi riwayatnya sebagai mantan pemain basket saat masih sekolah di Amerika.
“Brian Voyage Alexander, teknik informatika,” ketika nama itu disebut oleh Banyu, selaku ketua UKM basket, tanpa sadar Asha berteriak kemudian disusul dengan Brian yang mengepalkan tangannya tanda berhasil dan berlari memeluk Asha.
Mungkin terlihat berlebihan, tapi ini memang salah satu tradisi yang mereka berdua lakukan jika salah satu dari mereka mendapat apa yang diinginkan. Untung saja lapangan basket saat ini hanya berisi beberapa orang.
“Selamat ya Bri! Eh, gue juga lolos musik loh!” ucapan Asha membuat Brian melepaskan pelukannya sejenak, lalu membuat wajah tak percaya dan dibalas anggukan penuh semangat oleh Asha.
Sekali lagi mereka berpelukan, semakin erat bahkan membuat Asha yang lebih pendek dari Brian tertarik ke atas.
“Udah, Bri, gue nggak bisa nafas!” ujar Asha sedikit terbata sembari memukul lengan Brian dengan keras, namun yang dipukul hanya terkekeh karena tidak merasakan apapun dari pukulan Asha.
“Tadi gue kayak liat Maya, dimana dia sekarang?” tanya Brian setelah melepas pelukannya.
Tersadar, Asha melihat ke arah sekitar. Ia menjawab, “Tadi ada di samping gue, kok. Nggak tau sekarang pergi kemana. Mau dicari aja?” tawarnya.
“Nggak usah, deh. Paling lagi ada urusan pribadi. Balik aja, yuk? gue traktir ayam geprek,” ucap Brian kemudian pergi meninggalkan lapangan basket bersama Asha yang kegirangan karena mendapat traktiran hari ini. Padahal, setiap hari ia selalu dibelikan makanan oleh Brian dengan alasan agar cepat tumbuh tinggi.
Di tribun yang berhadapan langsung dengan pintu masuk tempat Asha dan Brian berpelukan, terdapat seseorang yang masih sama. Selalu mengepalkan tangan dan mengeraskan wajahnya ketika melihat Brian memeluk Asha.
Tidak suka. Lelaki itu sangat tidak suka jika objeknya dibuat nyaman oleh orang lain selain dirinya.
“Cewek seceria Asha, yakin mau lo buat nangis?”
“Justru itu, biar dia tau kalau hidup nggak selamanya bahagia," sahutnya lalu turun dari tribun.
***
Pukul 7 malam, Asha kini sudah siap di depan asrama dengan celana jeans serta sweater rajut berwarna navy. Ia sedang menunggu Sang pujaan hatinya menjemput. Tentu saja, siapa lagi jika bukan Mahesa?
Mereka berdua memang berniat untuk merayakan kesuksesan Asha yang lolos masuk klub musik dengan makan malam bersama.
Sebenarnya, gadis tersebut sudah ada janji dengan Brian untuk merayakan kesuksesannya.
Tetapi tiba-tiba Mahesa menelepon Asha dan mau tidak mau, kali ini Brian harus mengalah karena papanya juga menyuruh ia untuk mengecek data perusahaan. Malam minggu yang cukup kelabu bagi Brian.
Sebuah mobil Honda CRV keluaran terbaru berhenti tepat di depan Asha. Sejenak, gadis itu langsung memejamkan matanya karena merasa silau. Tapi di sisi lain, ia juga hafal siapa pemilik mobil ini.
Detik berikutnya, terlihat seorang laki-laki dengan kaos santainya keluar dari mobil, lalu membukakan pintu penumpang untuk Asha, itu Mahesa.
Mahesa yang entah berapa kali selalu bisa membuat Asha terpana akan ketampanan dan tentu saja kekayaannya.
"Sesuai aplikasi ya, Mbak?" Goda Mahesa tersenyum tipis.
Asha memasuki mobil dengan senyum yang mengembang. Otaknya tidak mau berhenti melayangkan kalimat-kalimat pujian kepada seseorang yang kini sedang menyetir disampingnya.
Asha tidak habis pikir, kenapa pria ini terlihat sangat tampan walaupun hanya memakai kaos polos berwarna putih?
Gadis itu sampai berfikir apakah Mahesa adalah saudara Shawn Mendes yang walau hanya memakai kaos tanpa lengan pun masih terlihat tampan?
Namun bedanya, Mahesa memakai kaos yang masih ada lengannya. Bisa mati dirinya jika melihat Mahesa hanya memakai kaos tanpa lengan.
“Lo mau coba buat hipnotis gue?” seketika kata-kata Mahesa membuat ia membuyarkan lamunannya.
Bisa-bisanya ia membayangkan sosok Mahesa menjadi saudara Shawn Mendes. Padahal itu sangat tidak mungkin karena bagaimanapun, Shawn tetap menjadi lelaki nomor satu di hatinya untuk saat ini, entah 5 menit kedepannya bagaimana.
Sembari menahan malu, Asha mengalihkan pandangan matanya dari wajah Mahesa menuju jalanan malam minggu yang cukup ramai.
Sedangkan Mahesa yang tidak tahan melihat sikap salah tingkah Asha, akhirnya berinisiatif untuk membuka topik pembicaraan, “Jadi mau makan dimana, nih?” tanyanya.
Asha yang mendengar itu mulai memikirkan tempat dan jenis makanan apa yang sekiranya pas untuk mereka makan.
Ia ingin mengajak Mahesa ke lesehan pecel lele pinggir jalan, tempat makan favoritnya dengan Brian. Tetapi gadis itu sedang tidak sedang ingin makan lele.
Jika mengajak Mahesa makan di restoran, pakaian mereka berdua tidak pantas dan bisa-bisa mereka dikira pasangan low budget yang ke restoran hanha untuk kebutuhan insta story saja.
“Mau sate ayam nggak, Kak? yang deket-deket sini aja,” jawab Asha mengarahkan pandangannya ke arah Mahesa yang sedang fokus membelah jalanan ibukota.
“Boleh deh, lo yang kasih tau jalannya, ya." Ucap lelaki itu sembari membuka aplikasi maps di ponsel pintarnya, membiarkan gadis yang berada di sebelah menjadi penunjuk arah mereka.
Mahesa melesatkan mobil sesuai dengan petunjuk yang diarahkan Asha. Sekitar 15 menit kemudian, mereka telah sampai di sebuah tempat makan yang tidak terlalu besar, namun cukup ramai pembeli. Bahkan Mahesa yakin tidak ada kursi yang kosong di sana karena melihat banyaknya pembeli yang berdiri.
“Rame banget ya, katanya emang enak, sih,” ujar Asha lirih.
Mahesa tau. Saat ini, gadis itu berada dalam kebimbangan ingin mencari tempat makan lain, atau mencoba sate ayam yang memiliki banyak ulasan dengan bintang lima tersebut.
“Makan di mobil aja, yuk? Gue pesenin satenya dulu,” kata Mahesa lalu keluar dari mobil tanpa menunggu persetujuan dari Asha.
Jujur saja, Asha belum siap melihat perubahan perilaku Mahesa yang membuat jantungnya selalu berpacu lebih cepat seperti ini.
Mahesa yang dulunya irit bicara sekarang malah terkesan sangat bersahabat. Asha yang dulu ingin menaklukkan hati Mahesa, sekarang justru hatinya yang ditaklukkan balik oleh Sang senior.
Tak lama kemudian, Mahesa datang dengan membawa dua piring sekali pakai, berisi nasi serta sate ayam yang masing-masing berjumlah 10 tusuk.
“Maaf ya, lama." Ujar lelaki itu, memberikan satu piring untuk Asha.
Kemudian satu lagi, kini Mahesa lebih sering mengucap kata maaf. Padahal tau sendiri, sejak dulu Mahesa adalah orang yang paling susah untuk meminta maaf. Dan hanya untuk gadis itu, Mahesa rela mengatakan kata maaf berulang kali.
Asha menerima uluran piring tersebut kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Mau selama apapun jika bersama Mahesa, pasti rasanya hanya satu menit.
Mereka berdua mulai makan diiringi dengan canda dan tawa Asha. Menikmati hawa dingin udara di malam hari, dan sebuah musik yang tiba-tiba diputar oleh yang lebih tua.
Tunggu, Asha tau lagu ini.
Mahesa yang melihat Asha bersenandung kecil kemudian bertanya, “Lo tau lagu ini?”
“Brian sering banget muter lagu ini kalau lagi sama aku, sampai hafal di luar kepala nih liriknya." Jawab Asha sambil tertawa kecil, membuat Mahesa mengerutkan keningnya.
Ya, ini adalah lagu yang sering diputar Brian saat bersama Asha, It’s only me dari penyanyi solo tampan bernama Kaleb j.
Hanya dari lirik lagu ini, Mahesa dapat menarik kesimpulan bahwa Brian menyukai Asha. Hal tersebut tidak bisa dibiarkan, jangan sampai lelaki blesteran itu merusak jalan cerita yang sudah ia tata rapi dari awal.
Setelah menghabiskan makanannya, mereka berdua memilih untuk pulang karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Gadis itu tidak ingin berurusan dengan satpam asrama karena melanggar jam malam.
“Kak, sekali lagi makasih ya!” Ujar Asha berusaha membuka sabuk pengaman yang melilit tubuh bagian atasnya. Entah kenapa, dimana pun dan kapanpun, ia selalu bermusuhan dengan sabuk pengaman yang tidak mau terbuka.
Namun, sejurus kemudian ada tangan besar yang menghalangi tangan Asha untuk membuka pintu mobil. Mahesa tiba-tiba menatap gadis itu dengan jarak yang cukup dekat.
Sangat dekat seperti pertama kali Asha menumpangi mobil ini. Bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing seiring dengan jarak yang semakin dekat.
Tak ada kata-kata yang terucap dari mereka berdua, pun tak ada yang saling memundurkan badannya untuk sekedar memberi jarak.
“Sha,” Mahesa membuka suara yang membuat bibir mereka berdua sedikit bersinggungan, sangat sedikit namun Asha bisa merasakannya.
Perlahan, sepasang mata Asha tertutup. Seakan siap untuk menerima perlakuan Mahesa sampai ....
“Harusnya gue nggak lakuin hal ini, maaf,” ucap Mahesa yang langsung membuat Asha membuka matanya dan melongo tak percaya.
Belum sempat gadis itu bertanya kenapa, Mahesa langsung membuka ikatan sabuk pengaman milik Asha dan membuka pintu lebar-lebar, seolah ingin mengusir gadis itu dari dalam mobilnya.
Asha akhirnya keluar tanpa mengatakan sepatah kata apapun karena masih mencerna situasi yang terjadi.
Mereka berdua tadi hampir saja berciuman, kan?
Sungguh, bibir mereka bahkan sudah sedikit bersentuhan. Namun kenapa Mahesa justru berkata maaf dan mengusirnya?
Demi Tuhan, untuk kali ini, Asha benar-benar tidak suka dengan kalimat maaf yang Mahesa keluarkan.
“Kenapa sih? Kenapa? Ah gila gue! Kak Mahesa gila!” Teriak Asha frustasi saat berjalan menaiki anak tangga. Ia tak peduli dengan tatapan bingung beberapa orang yang berjalan melewatinya.
Di satu sisi, Mahesa juga sedang mencoba mencerna apa yang terjadi. Ia sendiri tidak tau kenapa tiba-tiba hendak mencium Asha. Ini diluar dari naskah yang Mahesa rancang, ini salah.
“Anjing bisa gila gue!” Umpat lelaki itu sembari mengacak rambutnya.
Benar, ini memang bukan salahnya. Salahkan saja bibir Asha yang terlalu menggoda, hingga membuat Mahesa tanpa sadar ingin mencium dan melumatnya.