Suara isak tangis dari seorang wanita yang saat ini tengah membenamkan seluruh wajahnya ke d**a bidang milik sang suami terdengar cukup keras memecah hening ruangan berukuran 12m² dengan nuansa serba putih tersebut. “Maaf ya,” lagi-lagi Mahesa berkata seperti itu sembari mengelus pelan punggung Asha yang tentu saja tetap tidak membuat tangisannya mereda. Setelah pasokan oksigen ia rasa berkurang, Asha lambat laun mulai mengangkat kepalanya lalu menatap si lelaki yang saat ini terlihat sangat pucat tidak seperti biasanya, namun anehnya tetap tersenyum manis seakan tidak terjadi apa-apa dan hal tersebut justru membuat air mata kembali membasahi pipi Asha yang agaknya tidak sempat kering sejak 15 menit lalu. “Harusnya aku yang minta maaf, mas. Aku nggak tau apa yang kamu rasain selama ini,

