Persaingan

2035 คำ
“Lo mau camping apa KKN sih, Bri?” celetuk Asha saat melihat Brian berjalan ke arahnya. Sembari membawa sebuah tas punggung berukuran besar, dan satu tas selempang besar yang isinya terlihat memberontak ingin keluar. Brian benar-benar terlihat seperti WNA yang dipulangkan paksa akibat tidak membawa visa. Hari ini—lebih tepatnya dua hari setelah acara konser—, klub musik dan klub basket mengadakan acara camping bersama di sebuah perkemahan yang letaknya tak jauh dari area kampus, sekaligus mengadakan acara menanam pohon bersama. “Satu mobil sama gue ya,” ajak Brian dengan senyuman khasnya. Lelaki itu membawa mobil sendiri bukan semata-mata karena keinginannya. Tapi karena perintah Banyu yang mengutus dirinya untuk membawa mobil agar bibit tanaman bisa ditaruh di bagian belakang mobilnya. Banyu itu menyeramkan, Brian tidak ingin berurusan dengan dia atau lehernya akan patah. “Lo bareng gue sama Yere, Bri. Anak musik harus satu mobil semua,” bantah Banyu yang entah sejak kapan berada di antara mereka berdua. Brian tau tidak ada yang membuat peraturan bahwa seluruh anggota klub musik harus satu mobil. Ini pasti hanya akal-akalan Mahesa dan Banyu saja agar Asha bisa berdekatan dengan Mahesa. Tapi kembali lagi, Brian tidak ingin berurusan dengan lelaki berbadan besar itu. Asha yang mendengar percakapan antara Brian dan Banyu mengangguk serta melambaikan tangan kepada Brian, kemudian masuk ke dalam bus mini yang berisi anggota klub musik. Matanya mengedar ke seluruh penjuru bus. Mencoba mencari bangku yang nyaman untuk ia duduki sembari melihat pemandangan dari kaca. Belum genap dua menit, tubuh Asha tiba-tiba didorong oleh seseorang yang berada di belakangnya. Ia lalu didudukkan secara paksa di bangku penumpang paling belakang bersama dengan orang tersebut. “Hai! Ketemu lagi kita." Baru saja Asha ingin mengumpat, namun hal itu segera ia urungkan ketika telah melihat dan mendengar dengan jelas siapa lelaki yang duduk di sebelahnya. “Kak Mahesa?” ucapnya lirih yang dijawab dengan anggukan kepala serta senyum manis oleh Mahesa. Lelaki itu beralih memakai penyuara jemala miliknya dan membisikan sebuah kalimat di telinga Asha. “Gue tidur dulu ya, lo jangan nakal.” Tubuh Asha seketika menegang. Ia tidak mengerti arti kata 'nakal' yang dimaksud Mahesa. Selain itu, ia juga tidak tau harus bereaksi seperti apa karena detik selanjutnya, kepala Mahesa jatuh tepat di pundaknya. Sungguh, Asha ingin menjadi jelly saja sekarang. *** Sekitar 1 jam kemudian, bus mini yang mereka tumpangi telah sampai di sebuah lahan gundul dengan ukuran yang lumayan luas. Jika kembali melanjutkan perjalanan selama 15 menit, rombongan itu akan sampai di kawasan perkemahan yang akan mereka tempati untuk bermalam. Jika tadi Mahesa yang menjatuhkan kepalanya di bahu Asha, kini ganti Asha yang entah sejak kapan tertidur dan menjatuhkan kepalanya di pundak Mahesa. Sementara pemilik pundak sudah terbangun sedari tadi. Tidak ingin menganggu, ia membiarkan Asha mendapatkan kenyamanannya seperti ini. Beberapa menit kemudian, Mahesa merasakan ada gerakan dari gadis disampingnya yang langsung berubah menjadi pekikan terkejut. Dengan cepat Asha menempelkan tubuhnya pada jendela bis. Mencoba menjaga jarak dengan Mahesa sejauh mungkin, takut jika tiba-tiba otaknya mengirim sinyal untuk mencium lelaki itu. “Lo nggak mau turun? Kita udah sampai,” ujar Mahesa tidak mengindahkan wajah terkejut Asha. “Atau kalau lo mau terus tidur di bahu gue juga nggak apa-apa, kok," lanjutnya yang sontak membuat gadis itu menggelengkan kepala, lalu berdiri melewati Mahesa dengan terburu-buru. Bukannya tidak mau, tapi bukan juga Asha mau tidur di bahu Mahesa. Asha hanya sedikit terkejut karena baru pertama kali dirinya tidur di bahu laki-laki. Sepertinya gadis itu lupa bahwa ia juga sering tidur di bahu Brian. Malang, tubuh Asha yang belum sepenuhnya bugar setelah bangun tidur, tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke kursi seberang. Untungnya Mahesa dengan cekatan memegang lengan tangan Asha, membuat gadis itu semakin dibuat tak karuan. Hanya dipegang dan ia kembali merasakan sengatan listrik di sekujur tubuh. “Hati-hati, gue gendong aja mau gak?” Sungguh, kenapa semua kalimat yang keluar dari mulut Mahesa hari ini sukses membuat jantung Asha menjadi porak poranda? Asha tidak kuat, ia ingin berubah menjadi debu saat ini juga. Usai kejadian tadi, Asha segera turun dan berusaha menormalkan detak jantungnya dengan agak menjauh dari Mahesa. Gadis itu memang ingin meluluhkan hati Mahesa. Tapi kenapa justru Mahesa yang membuatnya luluh sejak awal? Ini tidak adil bagi jantungnya yang terus-menerus berdetak lebih cepat jika dekat dengan lelaki itu. Suasana di lahan kosong yang cukup terik membuat Asha yakin bahwa kulitnya akan segera menghitam. Ia menyesal karena meninggalkan jaketnya di dalam bus dan hanya memakai kaus lengan pendek bergambar siluet Barbie. “Pakai nih, nanti malah gosong kulit lo!” Perintah Brian sembari memberikan sebuah sunblock spray kepada Asha. Lelaki itu tau bahwa Asha selalu kurang persiapan dalam melakukan sesuatu seperti saat ini. Tas besar serta tote bag yang ia bawa sebenarnya berisi barang-barang kebutuhan Asha yang ia yakini gadis itu lupa membawanya. Asha menerima sunblock tersebut dengan senang hati dan segera menyemprotkannya ke seluruh tangan hingga wajahnya. “Makasih Brian,” ucapnya kemudian. “Heh, kok malah pacaran, sih? Ayo cepetan ambil bibit di mobil!” Lagi-lagi Banyu datang merusak keinginan Brian untuk terus berada di samping Asha. Dengan cepat lelaki tersebut merogoh saku hoodie miliknya. Mengeluarkan sebuah kunci mobil, lalu memberikannya kepada Banyu, “Ambil sendiri aja deh, Bang." “Nggak mau, maunya sama lo aja,” tolak Banyu lalu menyeret Brian menuju mobilnya dengan sedikit susah payah, karena Brian juga berusaha berlari dari Banyu untuk kembali kepada Asha. Asha yang melihat Brian dan Banyu bermain kejar-kejaran hanya tertawa kecil. Ia kemudian memasukkan sunblock pemberian pemuda itu ke dalam tas ransel kecil miliknya. “Lucu ya?” celetuk Mahesa yang tiba-tiba sudah berada di samping Asha. Untung saja detak jantungnya sudah kembali normal saat bersama Brian tadi. “Mereka?” “Bukan. Tapi lo,” jawab Mahesa santai, tak menghiraukan Asha yang sudah ingin menjambak rambutnya sendiri. Demi apapun, Asha tak siap atau bahkan tidak pernah siap dengan semua perilaku serta kata-kata yang keluar dari mulut dan tubuh Mahesa. Ini semua terjadi terlalu terburu-buru. Setelah semua anggota klub musik dan basket sudah berkumpul di suatu tempat yang telah ditentukan, Banyu dan Mahesa datang sembari membawa sebuah bola kaca transparan berisi beberapa gulungan kertas yang akan digunakan untuk kegiatan selanjutnya. “Jadi untuk menanam pohon, kita buat kelompok ya. Masing-masing dua orang,” jelas Banyu membuat semua orang mengangguk paham. “Silahkan ambil nomor disini, yang nomornya sama berarti satu kelompok,” lanjutnya. Brian sebenarnya bingung, sekadar menanam pohon saja kenapa harus berkelompok? Mereka bisa memilih kelompok sendiri atau bahkan bisa menanam sendiri tanpa perlu repot-repot. Ia yakin ini pasti ada hubungannya dengan Mahesa. Lelaki itu benar-benar memiliki 1001 ide tidak masuk akal. “Gue bukain!” seru Mahesa menyambar kertas milik Asha, membuat pemiliknya mengernyit bingung melihat tingkah Mahesa yang berusaha bersembunyi saat membuka gulungan kertas milik gadis itu. “Sama-sama enam, kita satu kelompok,” ujarnya kemudian kembali mengembalikan kertas tersebut kepada Si pemilik. Sedikit flashback, Mahesa sempat menyuruh Banyu untuk melakukan suatu kecurangan. Lelaki berbadan besar itu dengan sengaja membiarkan Mahesa memegang dua gulungan kertas berangka 6. Sedangkan angka yang sempat diambil oleh Asha akan dikembalikan secara diam-diam oleh Mahesa. Cukup licik untuk melakukan pendekatan, tapi tak apa. “Gue juga sama, tuh." Kali ini bukan Banyu yang menyela percakapan. Tetapi Brian dengan menunjukan sebuah angka di kertasnya yang juga menunjukkan angka enam, atau mungkin sembilan? “Itu sembilan!” protes Mahesa tak terima. “Tau darimana lo kalau ini sembilan?” balas Brian sembari tersenyum licik, membuat Mahesa mengepalkan tangan. Ia sepertinya tau jika Brian memang memiliki dendam tersembunyi dengan dirinya. “Lah gue juga dapat enam nih." Satu lagi, Banyu juga ikut menunjukkan sebuah angka yang sama dengan milik mereka bertiga. Tidak ingin wajah kedua lelaki tampan ini lecet akibat adu jotos,Banyu akhirnya menjadi penengah di antara Mahesa dan Brian. Lelaki itu memberikan sebuah permainan suit. Salah satu di antara mereka akan satu kelompok dengan Asha jika memenangkan permainan ini. Dan jika kalah, tentu saja akan satu kelompok bersama Banyu. “Setuju buat main sekali aja, kan?” ucap Banyu yang berdiri di antara mereka berdua persis seperti wasit tinju, kemudian menghitung mundur dari angka tiga. "Tiga." "Dua." "Satu!" Di waktu yang bersamaan, Mahesa mengeluarkan bentuk kertas sedangkan Brian tersenyum puas saat tangannya mengeluarkan gunting. Semesta kali ini berpihak kepadanya. Mahesa kalah. “Satu lagi!” ucap Mahesa berusaha menarik hoodie milik Brian yang sedang berjalan mendekati Asha. “Nggak mau, udah ada perjanjian kan tadi!” jawab Brian tak kalah keras, semua orang kini kembali menatap mereka. “Tapi nggak ada perjanjian hitam di atas putih!” timpal Mahesa yang sepertinya sedang mabuk. “Emang lo pikir ini jual beli tanah? Monopoli aja nggak pakai hitam di atas putih,” omel Brian yang benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Mahesa. Ia rasa, otak pemuda tersebut sudah terlalu lama terbakar di bawah matahari, hingga membuatnya berperilaku tidak jelas. Banyu yang kesal melihat perdebatan dua orang tampan ini kemudian menyeret Mahesa pergi sejauh mungkin dari Brian dan Asha, lalu membiarkan mereka berdua mulai menanam bibit pohon di tempat lain. Jika disuruh memilih, Asha sebenarnya juga akan memilih Brian sebagai teman yang satu kelompok dengannya. Bukan apa-apa, ia hanya ingin jantungnya berdetak dengan normal. Tidak lucu jika tiba-tiba Mahesa menggodanya dan ia langsung mengubur dirinya sendiri di dalam tanah. *** Terik matahari yang mulai berada di atas kepala membuat Brian dan Asha berkeringat. Gadis itu kembali mengelap peluh yang keluar dari dahinya, untung saja Brian tadi sempat memberikannya sunblock. Kulit Asha yang lumayan sensitif akan membuat dirinya terkena sun brun jika terlalu lama di bawah terik matahari. “Pakai hoodie punya gua aja mau, gak?” Tawaran Brian justru membuat Asha tertawa. Orang gila mana yang memakai hoodie hitam di bawah terik matahari yang menyengat seperti ini kecuali Brian? “Malah makin gerah gue yang ada, Bri,” ucap gadis itu di sela tawanya. “Gue bantu ambil sunblock lagi aja ya? Takutnya lo kena sunburn nanti,” ujar Brian. Tanpa menunggu persetujuan dari sahabatnya, ia langsung berlari mengambil sunblock di dalam tas Asha yang sebelumnya berada di tempat penitipan. Belum sempat dua menit kepergian Brian, Mahesa kini sudah berdiri tepat di depan Asha yang berjongkok sembari mengulurkan sebuah air mineral dan sunblock miliknya. “Um, makasih, Kak.” Ujar Asha menerima air mineral dingin itu. “Mau gue pakein sunblock gak? Tuh anak kayaknya masih lama," tawar Mahesa. Asha hampir tersedak saat mendengarkan perkataan Mahesa. Disentuh sedikit saja rasanya ia ingin pingsan, apalagi sampai di olesi sunblock? Asha bisa-bisa langsung meninggal dunia. “Kulit Asha sensitif. Dia nggak cocok pakai merk itu,” terang Brian yang sudah berada di samping Mahesa. Menatapnya dengan tatapan tak suka karena baru saja ia meninggalkan Asha, lelaki kardus ini sudah meluncurkan aksi modusnya. “Bener?” Mahesa tidak percaya dengan omongan Brian, ia ingin mencari tau jawabannya lewat Asha sendiri. “Iya, Kak. Maaf ya,” jawab Asha lalu mendapat anggukan kepala dari Mahesa. Dengan sangat terpaksa, lelaki itu pun akhirnya pergi setelah diteriaki oleh Banyu, tak lupa juga ia sengaja sedikit menyenggol badan Brian membuat Brian geram dibuatnya. Setelah menatap kepergian Mahesa yang ia harap akan pergi sejauh mungkin agar lelaki itu tak kembali lagi, Brian menatap tangan Asha yang kotor dan mengocok botol sunblock itu. Ia kemudian menyemprotkannya ke seluruh tangan dan wajah Asha, diiringi dengan gelak tawa seakan melupakan kejadian yang cukup menegangkan tadi. “Ngapain sih lo pakai segala dapet nomor enam!” omel Mahesa saat baru saja kembali kepada Banyu yang dari tadi meneriakinya dengan keras, seolah Mahesa adalah tahanan yang kabur dari penjara. “Ya mana gue tau, Hes. Gue aja nggak tau itu enam apa sembilan. Lo sekelompok sama gue tuh udah enak ya, kerjaannya marah-marah doang nggak ikut nanam,” balas Banyu tak kalah sewot. Kepalanya pusing bukan karena terkena sinar matahari, tetapi karena Mahesa yang dari tadi uring-uringan. “Gue bosen satu kelompok sama lo!” ucap lelaki itu tak tau malu, sehingga membuat Banyu harus berusaha menahan kesabaran agar tidak mengganti tanaman yang ia tanam dengan kepala Mahesa. Setelah kegiatan menanam pohon yang ditemani dengan suara tawa serta keceriaan semua orang, kecuali Mahesa yang terlihat uring-uringan dan kesal terhadap Banyu. Mereka mulai mengemasi perlengkapan masing-masing dan masuk ke dalam bus mini untuk melanjutkan perjalanan menuju area perkemahan.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม