Hujan rintik-rintik turun saat Arga mengantar Alina pulang. Setelah pertemuannya yang tak disengaja dengan Shenina, Arga berubah jadi lebih diam. Tak banyak bicara. Meninggalkan Alina dengan sejuta tanda tanya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Alina pada Arga yang sedang fokus menyetir mobil sport merahnya.
Arga menghela napas, “Aku lagi nyetir. Ngomongnya nanti aja.”
Deg. Sikap Arga berubah jadi dingin. Sama dinginnya seperti udara yang jadi lebih dingin karena turun hujan. Tiga puluh menit kemudian, Arga berhenti menyetir mobilnya. Padahal mereka belum sampai tujuan. Rumah Alina masih dua kilo meter lagi. Tapi Arga sudah tak tahan, ingin angkat bicara. Mengeluarkan semua isi hatinya.
“Kok berenti?” tanya Alina bingung.
Arga terdiam sejenak sebelum kembali bicara. “Yang tadi itu namanya Shenina. Dia mantan aku dulu.”
Alina mengerutkan dahi, “Yang tadi ketemu sama kita di KFC?”
Arga mengangguk. “Itu mantan kamu?” tanya Alina.
Arga mengangguk lagi. “Terus? Kenapa dia bisa sama Eras? Emang dia satu kampus sama kita? Aku nggak pernah liat dia,” tanya Alina lagi.
“Pertama, aku nggak tau dan nggak mau tau gimana caranya dia bisa sama Eras. Kedua, nggak. Dia nggak satu kampus sama kita. Dia dari kampus lain. Ketiga, aku nggak mau kamu terlalu kepikiran soal dia. Karena bagi aku, dia cuman masa lalu yang nggak mau aku inget-inget lagi,” jawab Arga.
“Ada masalah apa kamu sama dia?”
Deg. Kali ini Arga bingung harus jawab apa. Bukan hanya bingung, lebih tepatnya Arga enggan menjawab pertanyaan Alina. Arga ogah menggali masa lalu yang membuatnya sakit hati. Melihat Arga tak kunjung menjawab, akhirnya Alina angkat bicara lagi.
“Nggak apa-apa kalo kamu belum mau terbuka sama aku. Tapi please, sekarang aku pacar kamu, Arga. Kamu bisa cerita semua masalah kamu ke aku. Itupun kalau kamu mau. Aku nggak akan maksa,” kata Alina.
Arga menatap kedua mata Alina. Pandangan mereka bertemu. Arga lalu menangkupkan wajah Alina dengan kedua tangannya dan mencium bibir Alina. Ciuman Arga kali ini sangat lembut, berbeda dengan saat pertama kali Arga mencium bibir Alina. Tak ada nafsu, yang ada hanya cinta yang tulus. Setelah puas mencium bibir Alina, Arga beralih mencium dahi Alina.
Arga tersenyum, “Aku bakal cerita, tapi nggak sekarang.”
“Kenapa?”
“Udah malem, Alina. Kalo ibu kamu tau kamu pergi sama aku sampe semalem ini, bisa-bisa aku di damprat.”
Alina tersenyum, “Yah, padahal aku udah penasaran.”
“Besok? Gimana?”
Alina mengangguk, “Boleh.”
*****
Esok sorenya setelah selesai kuliah, Arga menunggu Alina di parkiran kampus. Alina selalu pulang lebih lama daripada Arga. Maklum, Alina jadi ketua salah satu organisasi mahasiswa di kampusnya. Saat sedang asik menunggu sendirian, si kembar Devan dan Revan menghampiri Arga. Revan dan Devan memang hampir selalu kemana-mana berduaan. Nempel terus. Sudah mukanya sama, ke mana-mana selalu bersama. Orang jadi makin susah membedakan mereka.
“Tumben nggak bawa mobil lagi?” tanya Devan.
“Males ah. Capek nyetir mobil,” jawab Arga.
Devan menyeringai, “Gimana kalo mobilnya buat gue aja.”
“Boleh. Tapi dicicil, cicilan 12 bulan, pake bunga 50%.”
“Itu sih untung di elo,” canda Devan.
“Lo nungguin siapa?” tanya Revan.
“Alina,” jawab Arga.
“Hah?! Jadi kalian udah jadian?!” kata Revan kaget.
“Sudah kuduga ..,” tambah Devan.
“Iya. Baru mau seminggu. Jadiannya sih emang baru seumur jagung. Tapi rasa sukanya udah lama. Sejak gue masih SD atau SMP kayaknya,” kata Arga.
“Lama banget .. Kalo udah suka dari dulu, kenapa lo nggak nembak Alina dari awal aja?” tanya Devan.
“Entah. Gue nggak berani. Entah kenapa, gue selalu gugup deket-deket Alina,” jawab Arga.
“Untung jadi. Lo tau kan saingan lo siapa? Eras Melviano coy, si senior cumlaude. Emang kalo jodoh nggak ke mana,” kata Devan.
Revan terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Ngomong-ngomong soal Eras, lo tau nggak, tadi siang gue liat dia sama Shenina ke kampus? Cuman bentar sih, abis itu pergi lagi. Gue heran aja, kok Shenina bisa kenal sama Eras?”
Arga memanas seketika. “Nggak tau. Nggak peduli gue. Mau dia sama Eras kek, sama tukang batagor yang jualan di depan kampus kek. Bodo amat.”
Tak lama kemudian, akhirnya Alina datang juga. Revan dan Devan langsung pamit. Alina tersenyum, “Udah lama ya?”
Arga membalas senyum Alina, “Nggak kok. Mau kamu satu tahun di kampus nggak keluar-keluar juga bakal aku tungguin. Aku rela kok.”
“Ish, dasar,” kata Alina malu-malu.
“Besok kan hari Sabtu, kamu mau nonton nggak?” tanya Arga.
“Hari ini? Atau besok?”
“Hari ini.”
“Boleh. Nonton di mana?”
“Di rumah? Sekalian bantuin aku revisi skripsi aku, gimana?”
“Idih, nggak mau ah. Masa cuman berduaan ..”
Arga tersenyum, “Nggak lah. Kan ada ibu sama Lia.”
“Tapi ada syaratnya,” kata Alina.
“Apa?”
“Kamu janji kan mau cerita ke aku?”
“Iya. Janji.”
Satu jam kemudian, Arga dan Alina sampai di rumah Arga. Ternyata rumah Arga kosong. Gelap. Ibu dan Lia sedang pergi. Arga menemukan sebuah notes kecil berwarna pink yang ditempel di kulkas. ‘Ibu lagi pergi keluar bentar sama temen lama. Lia pulang malem, ada les tambahan katanya. Kalau mau makan, di kulkas ada makanan tinggal diangetin pakai microwave aja ..’ kata tulisan dalam notes tersebut.
Deg deg. Jantung Arga berdegup kencang seketika. “Ibu sama Lia ke mana?” tanya Alina.
Arga tak menjawab, tapi memberikan Alina notes kecil yang dia pegang. “Lagi pada pergi?” tanya Alina setelah selesai membaca notes tersebut.
Arga mengangguk. “Kalo kamu ngerasa nggak enak dan mau pulang, nggak apa-apa. Pulang aja. Aku nggak marah kok.”
“Nggak. Kalo aku pulang, ujung-ujungnya kamu pasti nggak akan cerita.”
Arga menyeringai, “Kamu segitu penasarannya ya sama Shenina?”
Alina langsung cemberut, “Iya! Nggak suka aja.”
Arga memeluk Alina, “Kenapa, hm? Kenapa penasarannya sama dia? Kenapa nggak sama Ratna? Atau sama mantan aku yang lain? Kan mereka sama-sama pernah jadi pacar aku.”
“Soalnya beda aja rasanya. Kalo sama yang lain, aku ngerasa kamu emang nggak cinta sama mereka. Tapi beda sama Shenina. Entah kenapa, ada sesuatu yang beda dari dia,” kata Alina.
“Sesuatu yang beda? Karena dia kebule-bulean?” goda Arga.
Alina menghela napas, mulai kesal dengan Arga. Alina melepas pelukan Arga, “Jadi kita mau nonton apa kamu mau cerita soal mantan kamu yang sialan itu?”
“Pengennya sih nonton aja. Nggak mau cerita soal yang udah lalu. Tapi karena kamu nyuruh aku buat cerita, ya udah.” Kata Arga ada benarnya juga. Sebenarnya Alina juga malas dengar cerita Arga. Buat apa cari tahu soal Shenina? Bikin kesal saja. Tapi kalau tidak ditanya, malah tambah penasaran. Jadi serba salah.
Arga mencium dahi Alina, “Kamu tunggu sini. Aku mau mandi dulu bentar.”
Alina memegang lengan Arga, “Arga, takut ..”
“Nggak apa-apa. Rumah aku bersih kok, nggak ada setannya.” Arga menyeringai, “Kamu mau ikut mandi sama aku?”
Pipi Alina memerah seketika, “Idih, nggak mau.”
Akhirnya Alina menunggu Arga kelar mandi. Duduk di ruang tamu, sendirian. Kalau dipikir-pikir, rumah Arga yang luas ini sayang sekali kalau cuman dihuni lima orang. Hanya orangtua Arga, Lia, seorang asisten rumah tangga dan Arga sendiri. Itupun asisten rumah tangganya jarang nginep di rumah. Ayah Arga juga lebih banyak dinas di luar kota. Jadi sehari-hari, lebih banyak ibu, Arga dan Lia yang tinggal. Sisanya kosong.
Tak lama kemudian, Arga kelar mandi. Rambutnya masih basah. Hanya kaos putih dan celana pendek hitam yang menutupi badan dan otot-otot tubuh Arga yang terbentuk nyaris sempurna. “Kok kamu pake baju begitu?” tanya Alina kikuk.
Arga menaikkan satu alisnya, “Terus aku musti pake kemeja, gitu? Kan aku cuman lagi di rumah.”
Pipi Alina memerah. “Kamu nggak mau makan?” tanya Arga.
“Nggak. Makasih. Nanti aja kalo udah laper.” Gimana Alina bisa lapar kalau fokusnya sekarang hanya ada pada Arga?
Deg deg. Sekarang mereka bingung mau bicara apa lagi. Karena merasa kikuk, akhirnya Arga mulai menyetel filmnya. “Dari laptop ya? Aku pikir dari CD,” kata Alina.
“Aku nggak pernah beli CD lagi semenjak ada laptop.”
Akhirnya mereka berdua mulai nonton film. Tanpa Arga sadari, film itu ternyata ratingnya 17 tahun ke atas. Banyak adegan kasar dan dewasa. Padahal Arga sama sekali tidak bermaksud menonton film seperti itu. Apalagi bersama Alina. Biasanya kalau mau pun, Arga pasti nonton sendirian di kamarnya.
Hingga tiba akhirnya satu scene yang cukup membangkitkan gairah. Scene di mana pemain utama ciuman, hingga lanjut bercinta di kamarnya. Untungnya film itu tak lama. Cuman 90 menit. “Untung nggak ada ibu sama Lia. Kalo mereka tau aku nonton film begituan, bisa abis aku,” kata Arga setelah filmnya selesai.
Alina tak menjawab. Arga menatap mata Alina, “Kamu .. Nggak apa-apa kan?”
“Kamu sering nonton yang begituan ya?”
Deg. Kali ini Arga tak bisa bohong. “Iya .. Emangnya kamu belum pernah?”
“Udah. Tapi nggak sering .. Aneh rasanya.”
“Aneh gimana?”
“Aneh aja, kayak ada sensasi yang beda gitu.”
Arga mencium leher Alina, “Sensasi yang kayak gini?”
Alina menggigit bibir bawahnya, tak kuasa menahan getaran yang menjalari tubuhnya. Arga tak bisa menolak lagi. Arga langsung mencium bibir Alina. Kali ini ciuman Arga cukup intens, bahkan Arga menggigit dan melumat bibir Alina. Tangan Alina langsung bergerak, meremas rambut Arga yang masih setengah basah.
Ciuman Arga turun ke leher Alina, membuat Alina mendesah seketika. Alina sudah tak dapat menahan desahannya lagi. “Arga ..,” desah Alina.
Tangan Arga yang nakal mulai beranjak menyentuh gundukan kembar Alina yang masih tertutup kemeja hitam dan bra hitamnya. Desahan Alina tambah keras. Alina tak tahu rasanya akan seenak ini. Biasanya dia cuman lihat di film dewasa, tapi tak pernah membayangkan rasanya akan seperti ini. Arga mulai membuka kancing kemeja Alina satu per satu. Tiba-tiba Alina memegang tangan Arga, menghentikan aksinya.
“Jangan di sini ..,” bisik Alina dengan napas yang masih memburu.
Tanpa basa-basi, Arga langsung menggendong Alina ke kamar tidurnya. Kali ini kamar tidur Arga sudah jauh lebih rapih dibandingkan kali terakhir Alina berkunjung. Arga membaringkan Alina di ranjangnya. Dengan napas yang masih memburu, Arga menatap mata Alina. “Kamu yakin?”
Alina menggigit bibir bawahnya dan mengangguk. Arga menanggalkan satu per satu pakaiannya di hadapan Alina. Alina langsung terkejut, melihat betapa indahnya tubuh Arga .. dan betapa besar miliknya di bawah sana ..
Wajah Alina sudah memerah. Malu. Ini kali pertama Alina melihat secara langsung bagaimana bagian intim milik laki-laki. Karena sebelumnya Alina cuman tau dari buku Biologi dan film dewasa saja. Tak pernah lihat langsung.
Arga menyeringai dan mendekati Alina. “I love you,” bisik Arga di telinga Alina. Napas Arga yang menyentuh daun telinga Alina membuat sekujur tubuh Alina bergetar seketika. Arga langsung melanjutkan aksinya yang sempat terhenti tadi, membuka kancing baju Alina satu per satu. Setelah itu, Arga membuka kaitan bra Alina, hingga kini Alina setengah telanjang.
Awalnya Alina masih malu. Alina langsung menutupi gunung kembarnya dengan tangannya. Arga tersenyum dan memegang tangan Alina, “Jangan malu.”
Setelah menyingkirkan tangan Alina dengan lembut, Arga langsung memegang gundukan ranum Alina. Awalnya hanya memegang, tapi akhirnya berubah jadi meremas. Desahan Alina tambah kencang, apalagi sekarang bibir Arga yang nakal sudah beranjak menciumi gundukan ranum Alina juga. Arga baru tau, ternyata seperti ini rasanya mencium dan meremas gundukan kembar seorang perempuan.
Tiba-tiba ..
“Bang! Ibu di mana?!” teriak Lia dari depan kamar Arga.
Shit, Lia sudah pulang dari tempat lesnya ternyata. Padahal Arga sedang asik ‘bermain’ dengan Alina. Miliknya di bawah sana juga sudah tegang dan tegak sempurna. Tapi karena ada gangguan, Arga menghentikan aksinya.
“Stop. Ada orang ..,” kata Alina.
Arga menghela napas, “Ah, padahal lagi enak.”
Alina mencium bibir Arga, “Samperin adik kamu gih. Kasian udah nunggu.”
Akhirnya Alina dan Arga memakai pakaian mereka lagi. Menghampiri Lia yang sedang berbaring di sofa sendirian. “Ibu lagi ketemuan sama temennya,” kata Arga.
Lia mengernyitkan dahi saat melihat kakanya tak sendirian, “Ya?”
Arga mengernyitkan dahi, “Kok ‘ya’?”
Lia menyeringai, “Nggak jadi.” Lia pasti sudah mengerti apa yang terjadi. Maklum, Lia sudah cukup dewasa. Pasti sudah tak asing dengan yang namanya bercinta. Apalagi Arga dan Alina tadi cuman berduaan.
Akhirnya Alina pamit pulang. “Aku pulang dulu deh.”
“Nggak jadi nih ceritanya?” tanya Arga.
Pipi Alina memerah, “Nggak. Kapan-kapan aja.”
Arga menyeringai, “Sayang, padahal tadi lagi enak. Kapan-kapan lagi ya?”
Alina mencubit lengan Arga, “Ish, dasar.”
Malamnya, baik Alina maupun Arga sama-sama tak bisa tidur. Keduanya terus memikirkan kejadian tadi. Ternyata seperti itu rasanya?