Apartemen Jessa - 7

1165 คำ
Jessa kini berada di dalam apartemen miliknya, ia tengah duduk di sofa yang ada di ruang tamunya. Pikirannya sudah sangat kacau saat ini. pilihan untuk meninggalkan sang ibu adalah pilihan tersulit yang pernah ia ambil. Entah apa yang akan ibunya lakukan jika Jessa menjadi seperti ini. “Sebaiknya aku mulai mencari pekerjaan,” gumam Jessa. Wanita itu kini berkutat pada ponsel di tangannya, dan mencari lowongan pekerjaan di sana. Beberapa pilihan telah ia jatuhkan, perusahaan yang berjalan dibidang property ,dan juga lowongan menjadi manager di sebuah hotel mewah menjadi pilihannya. “Semoga aku beruntung dengan perusahaan ini, atau jika tidak bisa … aku harus bisa masuk menjadi manager di hotel ini,” gerutunya. Waktu masih menunjukkan pukul dua sore, dan ia masih belum memakan apapun sejak pagi. Karena keadaannya yang tidak baik dengan Evan, ia bahkan masih belum menyentuh makanan di sana saat pagi. “Aku lapar … sebaiknya aku memesan makanan,” gumam Jessa. Ia menghubungi sebuah restoran cepat saji dan memesan beberapa makanan dari sana. Setelah itu, Jessa meletakkan ponselnya di atas meja, dan berjalan menuju kamarnya untuk mulai merapikan pakaiannya. “Aku sangat beruntung karena memiliki apartemen ini,” ujarnya. Ya … hasil dari kerjanya selama beberapa tahun menjadi sebuah apartemen dan juga mobil. Bahkan Martha tidak mengetahui jika Jessa memiliki apartemen itu. karena sikap Martha yang terlalu tidak peduli pada Jessa, membuat anak itu semakin enggan untuk kembali ke rumah mengerikan itu. Jessa menyebutnya rumah mengerikan, karena setiap malam ia harus mendengarkan suara desahan yang keluar dari mulut sang ibu. Bahkan para pria yang datang berusia lebih muda dari Martha. Biasanya wanita itu tidak akan mencintai pria yang usianya jauh di bawahnya, tetapi berbeda dengan Evan. Evan memang berusia lebih muda dua tahun dari Martha. Akan tetapi … Martha telah mengamati pergerakan Evan beberapa bulan, dan juga mengetahui jika Evan seorang duda beranak satu. Keberuntungan Martha semakin bertambah saat mengetahui jika Evan adalah pimpinan anaknya. Kesempatan itu digunakan agar bisa menjadi lebih dekat dengan Jessa. Akan tetapi, justru persoalan itu membuat dirinya semakin jauh dari sang anak. Tok Tok Tok Suara itu datang dari arah pintu apartemen Jessa. Ia berjalan keluar dari kamar dan melihat siapa yang datang. Ternyata seorang kurir makanan datang dan membawakan pesanannya. “Ini pesanan anda, Nona.” “Terima kasih.” Setelah menerima makanan itu, Jessa kembali masuk ke dalam apartemennya. Jessa meletakkan bungkusan makanan itu di atas meja makan kecil miliknya. Lalu perlahan ia membukanya dan mulai menyantap makanan itu. “Akhirnya aku bisa makan.” Merasa lega karena sampai saat ini tidak ada yang menghubunginya. Akan tetapi, ada rasa dimana seperti tidak ada yang peduli pada dirinya. “Apa memang aku tidak penting untuk mereka?” gumam Jessa. Jessa dengan segera menyelesaikan kegiatannya, lalu merapikan ruangan itu. Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Sebuah nomor tidak dikenal tengah menghubungi dirinya. Ragu … hingga akhirnya Jessa memilih menerima panggilan itu. “Halo?” “Selamat sore, apa benar ini dengan Jessa Campbell?” tanya seorang wanita dari seberang telepon. “Iya benar,” jawab Jessa. “Saya dari bagian HRD hotel Four Seasons, ingin menyampaikan jika resume anda sudah kami terima, lalu … apakah besok anda bisa hadir untuk memenuhi interview dengan kepala bagian kami?” tanya wanita itu dari seberang. “Ya, tentu saja aku bisa. Jam berapa?” “Pukul delapan pagi, dan anda bisa menemui Nyonya Alice Landerson.” “Baiklah, aku akan datang besok. Terima kasih atas informasinya,” ujar Jessa. “Sama-sama, selamat sore.” Sambungan telepon itu terputus, dan Jessa merasa jika dewi fortuna sedang berpihak pada dirinya. Ia melompat karena senang, lalu berlari menuju kamar untuk menyiapkan pakaiannya. “Aku harus tampil rapi dan cantik besok,” gumam Jessa. Jessa tidak ingin terlambat, ia harus segera tidur agar bisa bangun pagi. Namun, karena di apartemen itu masih belum ada bahan makanan, Jessa memutuskan untuk pergi keluar membeli beberapa bahan makanan. Ia yang kini mengenakan pakaian santai, berjalan menuju mini market yang letaknya ada di dekat apartemen. Hanya beberapa langkah dari lobby apartemen, dan Jessa akhirnya sampai di mini market. Ia memilih beberapa bahan makanan yang bisa langsung di masak, karena Jessa masih belum begitu mahir memasak, akhirnya ia memilih untuk membeli beberapa mie instan, dan juga makanan beku. “Apa kau orang baru?” tanya pria penjaga kasir. “Ya … aku baru saja tiba beberapa jam lalu, tetapi aku sudah membeli apartemen di sini sejak tahun lalu,” jelas Jessa. “Hmm, baiklah … siapa namamu, Nona?” tanya Pria itu. Jessa tersenyum dengan melirik pada pria itu. “Kau akan sering melihatku di sini, Nona. Baiklah, namaku Declan.” Mendengar pria itu memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangan, akhirnya Jessa meraih tangan itu dan menyebutkan namanya. “Jessa.” “Kau tinggal di menara sebelah mana?” tanya Declan. “Menara hitam … tepat di samping tempat ini,” jelas Jessa. “Baiklah. Aku ada di menara kuning, apartemen yang paling murah,” ujar Declan. “Tidak penting harga, jika milik sendiri, akan jauh lebih baik dan membanggakan.” Mendengar ucapan Jessa, Declan tersenyum lalu memberikan barang belanjaan wanita itu. “Ini,” ujar Jessa sembari memberikan uangnya. “Jika kau membutuhkan sesuatu, aku akan selalu siap membantu, Nona.” “Panggil saja Jessa. Itu akan membuat kita lebih akrab.” “Baiklah … Jessa, selamat datang dan selamat menikmati harimu.” “Terima kasih.” Akhirnya Jessa kembali ke dalam apartemen miliknya, lalu ia merapikan belanjaannya. Meletakkan setiap makanan yang dibeli pada tempatnya. “Akhirnya selesai, dan aku bisa tidur dengan tenang,” gumam Jessa. Jessa kembali melihat pada ponselnya, dan di sana ada sebuah pesan masuk dari Evan juga Martha. Entah sejak kapan pesan itu masuk, Jessa memilih untuk tidak membacanya. Jessa merebahkan tubuhnya di atas ranjang, lalu memejamkan matanya. Berharap keesokan harinya akan menjadi hari paling membahagiakan untuknya. Pagi menjelang begitu cepat … Jessa membuka matanya tepat pukul enam pagi saat alarm pada ponselnya berdering. Ia meraih ponsel yang ada di atas nakas dan mematikan alarm itu. Jessa terlihat meregangkan tubuhnya dan mulai berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Ia membersihkan dirinya di dalam sana hingga beberapa menit. Setelah itu, Jessa mengeringkan tubuhnya dengan handuk, dan mulai mengenakan satu persatu kain yang akan menutupi tubuh indahnya. Jessa berjalan menuju dapur dan memanggang roti yang sudah ia beli kemarin. Ia juga menuangkan s**u pada gelas. Setelah semua siap, Jessa mulai memakan sarapan paginya. Ia melihat pada jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. “Sudah pukul tujuh, sebaiknya aku bersiap.” Jessa masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil tas dan juga kunci mobil. Jessa juga mengambil ponselnya dan langsung memasukkannya ke dalam tas. Tidak peduli ada berapa banyak pesan masuk, Jessa bahkan sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan kedua orang itu saat ini. “Sebaiknya aku segera berangkat.” Akhirnya ia melangkah keluar dari apartemennya, lalu menuju basement untuk masuk ke dalam mobilnya. Perlahan mobil itu melaju menuju hotel yang akan menjadi tempat Jessa melakukan interview. Jarak antara hotel dengan apartemennya memang cukup jauh, tetapi Jessa tidak berputus asa karena hal itu. waktu keberangkatan bisa ia majukan, hingga tidak ada lagi kata terlambat jika sudah bekerja di sana. Sampai akhirnya Jessa memarkirkan mobilnya di basement hotel. Jessa berjalan masuk ke dalam hotel dan mencari tahu letak kantor HRD pada bagian informasi. “Permisi, apakah aku bisa menemui Nyonya Alice untuk melakukan interview kerja?” tanya Jessa dengan ramah. “Tentu saja, kantor HRD ada di lantai dua, tepatnya menggunakan lift itu, lalu tepat di sisi kanan lift ada kantor dengan papan bertuliskan kantor HRD.” “Baiklah. Terima kasih banyak.” Jessa mengikuti arahan dari wanita yang ada di bagian informasi itu. Lalu ia menemukan kantor HRD dan langsung mengetuk pintu di sana. Tok Tok Tok Ceklek “Masuklah … apa kau yang bernama Jessa?” tanya seorang wanita dengan blazer abu-abu. “Iya, Nyonya.” “Duduklah … mari kita mulai sesi interview hari ini.”  
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม