Setelah melakukan pelatihan selama satu minggu, kini Jessa memegang secara penuh pekerjaan itu. dan hari ini ia akan bertemu dengan beberapa tamu penting hotel. Menjadi manager tidak hanya bekerja di belakang meja saja. Jessa harus turun secara langsung untuk beberapa pertemuan penting, dan juga ia harus menemui tamu yang dianggap memiliki pengaruh besar pada hotel itu.
Setelah Hayden resmi mengundurkan diri, tidak jarang ia berkunjung saat jam istirahat tiba. Hayden biasa menemui Patricia, dan Nyonya Alice. Bahkan jika beruntung, ia juga akan menemui Jessa di dalam ruang kerjanya. Hanya saja, pekerjaan pertama sebagai manager hotel membuatnya sedikit sibuk.
Saat ini, Jessa sedang berada di sebuah ruangan untuk menyambut beberapa tamu yang akan menyewa ballroom, letaknya tepat di samping hotel. Jessa bisa melihat wajah empat orang tamu yang akan menyewa untuk sebuah acara pernikahan. Dua pasangan yang hanya bisa terdiam saat kedua orang tuanya memilih dekorasi untuk acara itu.
“Nona, apa kau bisa memberikan beberapa gambar untuk kami? Karena pilihan pertama ini sangat tidak cocok untuk mereka,” ujar seorang wanita paruh baya.
“Tentu saja ada, Nyonya. Hanya saja harganya tentu berbeda dari yang ini,” jelas Jessa.
“Bisa aku melihatnya terlebih dahulu?” tanya wanita itu.
Jessa mengambil sebuah katalog yang tertera tulisan premium package. Jessa memberikannya pada wanita yang meminta katalog itu, lalu mereka mulai melihat dan merundingkan mengenai dekorasinya.
“Aku menyukai ini, bagaimana?” tanya wanita itu pada suaminya.
“Terserah, semua bagus untukku.”
“Bagaimana dengan kalian?”
“Kami akan mengikuti keinginan ibu,” ujar calon pengantin wanita.
Jessa hanya bisa tersenyum dan menunggu keputusan akhir dari keduanya. Setelah satu jam berlalu, akhirnya mereka memutuskan untuk memilih salah satu dekorasi pada premium package. Setelah itu mereka melakukan transaksi dan memberikan uang muka untuk menyewa ballroom milik hotel Four Season. Baru saja satu tamu itu pergi, kini Jessa harus menghadapi tamu lainnya.
“Nona Jessa, Tuan Hayden menunggumu di kantor,” ujar Patricia saat bertemu dengan Jessa.
“Aku masih ada satu tamu lagi, jika ia tidak bisa menunggu, sebaiknya suruh ia pergi saja. Aku minta maaf,” ujar Jessa.
“Baiklah, akan aku sampaikan.”
Patricia berjalan kembali ke ruangannya, meninggalkan Jessa yang masih menunggu tamu-nya.
“Kemana orang yang akan menyewa aula pertemuan itu?” gumam Jessa.
Ia duduk sembari melihat beberapa katalog yang ada di meja, banyak sekali pilihan dekorasi untuk pernikahan, dan juga beberapa pilihan untuk paket lengkap. Jessa hanya bisa menghela napasnya saja saat melihat semua itu. Tidak akan ada yang bisa ia lakukan saat ini, sendiri lebih baik untuk Jessa. Hanya saja, ada satu hal yang mengganjal dipikiran wanita itu. hingga saat ini, Evan tidak menghubungi dirinya maupun mencari keberadaannya.
“Mungkin ia terlalu kecewa padaku,” gumam Jessa.
Ceklek
Suara pintu terbuka itu membuat Jessa berdiri dari tempatnya duduk. Lalu ia melihat Hayden yang masuk ke dalam sana. Jessa mengernyitkan dahinya, dan melihat Hayden dengan mata yang sedikit menyipit.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Hayden.
“Apa yang kau lakukan di sini, Tuan?”
“Ayolah, panggil saja namaku.”
“Baiklah.”
“Aku sedang menunggumu untuk makan siang yang sudah terlewatkan.”
“Aku menunggu satu klien yang akan datang beberapa saat lagi,” ujar Jessa.
“Lihat, aku membawa makanan kemari, kita makan bersama di sini, sampai tamu itu datang.”
“Baiklah, kau memang tidak bisa ditolak, Hayden.”
“Lagi pula … tamu yang akan kau temui adalah temanku, dia akan menikah beberapa minggu lagi,” ungkap Hayden.
“Benarkah? Lalu kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?”
“Itu karena kau tidak bertanya kepadaku, Jessa.”
Jessa tersenyum, tidak ada kecurigaan sama sekali pada dirinya mengenai teman Hayden yang akan memesan aula. Karena jelas, jika itu Evan … pria itu akan datang bersama dirinya.
“Bagaimana? Aku membawa makanan ini dari restoran biasanya,” tanya Hayden.
“Hmm, pantas saja rasanya seperti pernah tahu,” celetuk Jessa.
“Hahaha, dasar kau ini. sebaiknya kita cepat habiskan makanan ini, sebelum tamu yang penting itu datang.”
“Ya, kau benar.”
Jessa dan Hayden dengan segera menghabiskan makanan mereka hingga tidak tersisa. Dan setelah itu, Hayden dengan setia menmani Jessa di sana. Karena ia tahu, pasti rasanya akan sangat membosankan jika hanya menunggu. Hayden menceritakan bisnis barunya dan juga kesuksesan ia membangun semua itu dari awal.
“Kau tahu? Keluargaku memang sudah memaksa untuk segera menikah. Akan tetapi … aku masih belum menemukan wanita yang pantas untuk diriku sendiri,” jelas Hayden.
“Apa kau akan menyerah?”
“Menyerah? Pada apa?”
“Pada apa yang ada di hadapanmu saat ini. Maksudku, apa kau tidak ingin mencari wanita itu?” tanya Jessa.
“Entahlah … aku masih terlalu malas mencari seorang pasangan, hahaha. Mungkin kau mau menemani kesendirianku ini?”
“Jika hanya untuk menemani seperti saat ini, aku akan datang padamu. Tetapi jika untuk hal lain, mungkin aku akan memikirkannya lagi,” ujar Jessa dengan tersenyum.
“Kenapa? Seburuk itukah wajahku? Apa aku ini kurang tampan untukmu?” goda Hayden.
“Ayolah … jangan menggoda aku.”
“Hahaha, menyenangkan bisa menggoda dirimu, Jessa.”
Jessa ikut tertawa bersama Hayden. Hingga akhirnya dua orang pasangan datang menemui mereka. Wajah yang sangat Jessa kenali, wajah yang menyakitinya beberapa waktu lalu. Kenapa mereka harus memesan aula di hotel tempat dirinya bekerja.
“Evan … selamat atas pernikahan keduamu,” ujar Hayden.
“Terima kasih, Hayden. Kenalkan … ia adalah Martha, calon istriku,” ungkap Evan.
Hayden berbalik badan dan melihat Jessa yang kini meneteskan air matanya.
“Hei, ada apa?” tanya Hayden.
“A-aku … maaf, Hayden, bisakah kau membantuku untuk melayani mereka, aku ingin ke kamar mandi,” pamit Jessa.
“Tentu saja,” jawab Hayden.
Jessa berjalan terburu-buru, melewati sang ibu dan juga kekasihnya. Airmatanya tidak dapat dibendung saat itu, entah kenapa … dunianya seakan runtuh saat itu juga.
Di dalam kamar mandi prbadi yang ada di ruang kerjanya, Jessa meluapkan perasaannya. Sakit … itulah rasa yang saat ini hadir menyakiti hatinya.
“Apa ini? kenapa mereka bersama?” gumam Jessa.
Jessa dengan segera membuka pesan lama dari Evan dan juga Martha, ibunya. Ternyata di sana Evan tetap menjalankan rencana yang sudah ia katakan sebelumnya. Sementara Martha, ia juga memberitahu Jessa jika dirinya telah berkencan dengan Evan.
“Aku tidak bisa seperti ini,” gumamnya lagi.
Jessa memilih untuk menghapus airmata itu, dan kembali merapikan dirinya. Merias kembali wajahnya dan menutup mata sembab akibat menangis.
“Ya, aku tidak boleh seperti ini. bagaimanapun ini pekerjaanku.”
Jessa melangkah keluar dari dalam ruangannya, dan menghampiri kembali tiga orang yang kini sedang berbincang seputar dekorasi pernikahan yang akan mereka pilih.
“Maaf atas sikap saya beberapa saat lalu, kali ini biarkan saya yang melayani anda berdua.”
Jessa tersenyum menatap Hayden, dan pria itu mempersilakan Jessa untuk melanjutkan penjelasannya.
“Baik, sampai mana tadi Tuan Hayden menjelaskan pada anda?” tanya Jessa.
“Kami memilih dekorasi ini, Nona.”
Mendengar suara Evan, membuat Jessa menelan ludahnya secara kasar. Dan dengan berat hati, Jessa kembali menjelaskan semuanya. Hingga akhirnya mereka memesan aula untuk pernikahan dua minggu lagi. Setelah selesai dengan urusan mereka, keduanya segera pergi tanpa berbasa-basi dengan Jessa. Bahkan Martha seperti tidak mengenali putrinya itu.
Kepergian kedua orang itu membuat Jessa merasa lega. Kini Jessa harus membereskan semua pekerjaannya dan kembali ke rumahnya. Hayden yang melihat tingkah Jessa sedikit aneh, mencoba bertanya pada wanita itu dengan sangat hati-hati.
“Jessa, apa kau tidak apa-apa?” tanya Hayden.
“Hayden, kenapa kau masih berada di sini? Bukankah semua sudah selesai?”
“Kau baik-baik saja?”
“Ya, tentu saja. Aku dalam kondisi terbaik saat ini.”
Tidak yakin, Hayden memilih menunggu Jessa hingga selesai membereskan meja kerjanya.
“Aku akan pulang, apa kau masih ada keperluan di sini?” tanya Jessa.
“Aku menunggumu menjelaskan sesuatu.”
“Tidak ada yang perlu aku jelaskan, Hayden. Sebaiknya kau pergi, karena aku akan kembali ke apartemen.”