NUM Bab 7

1440 คำ
Neraka Untuk Maduku Part 7 ••• Baru lihat ciuman bibir saja sudah begitu kesalnya, tapi kenapa nggak mikir bocah sunda* itu akan bagaimana perasaanku, yang di duakan karena kehadirannya. "Mas, sepertinya aku menyerah. Aku tak sanggup berbagi. Lebih baik aku mundur," ucapku pelan. Mas Aris terdiam tak mengucap apapun, tangan kirinya berkacak pinggang, sedangkan tangan kanan menutup mulutnya. Kembali terdengar suara panci jatuh dari arah dapur. "Suara apa?" tanya Mas Aris. "Kucing mungkin," jawabku, "Mas ganti baju aja, biar Rena yang cek ke dapur," ucapku pada mas Aris. Aku bergegas keluar kamar, langsung menuju dapur. Nampak beberapa panci dan perabot lain tergelak di lantai dapur. "Kamu, apa-apaan sih?" tanyaku kemudian. Indah bergeming, hanya menatap panci yang berserakan itu dengan melipat tangan di d**a. "Kenapa? Cemburu? Sudah lihat sendiri kan, kalau mas Aria lebih memilih aku dibanding kamu," ucapku dengan suara pelan. "Harusnya, kamu sadar diri, cepat pergi dari kehidupan kami. Perempuan kok murah banget, sudah gitu bangga amat jadi cewek gatel," lanjutku dengan tatapan sinis dan jijik. "Jaga bicara kamu," teriak Indah. "Marah? itu kenyataan. Apa sebutan untuk wanita tak punya harga diri, murahan seperti kamu, pelakor, atau pelacu*, hah?" "Jangan asal bicara?" "Aku tak asal bicara, ada sebutan yang pantas? Yang lebih baik dari itu, sudah menginjak harga diri sendiri, ternyata masih tak dianggap juga, kalau aku pasti dah malu banget, nggak tau kalau cewek bina' murahan seperti kamu." Sengaja aku memancing kemarahannya, dengan menjambak kemudian mendorongnya tubuhnya. Benar saja, Indah kemudian menyerangku, sengaja aku hanya berteriak kemudian tak membalasnya. "Indah, apa yang kamu lakukan." Sesuai perkiraan ku, Mas Aris datang dan mendorong tubuh bocah sunda* itu hingga hampir jatuh. "Mas, perempuan ini menghinaku, dia yang lebih dulu, menjambakku, dia juga mendorong aku," teriak Indah, Mas Aris melihat ke arahku, aku menggeleng dan masih menangis. "Aku kenal Istriku," ucap Mas Aris kemudian. "Mas nggak percaya padaku?" teriak Indah. "Sakit," ucapku memperlihatkan luka di tanganku. "Eh, eh ada apa ini?" Ibu datang dan terlihat heran dengan keadaan dapur. "Kamu kenapa?" Bunda muncul, dan langsung memindai tubuhku. "Luka," ucap Bunda, wajahnya berubah. "Siapa yang ngelakuin?" Masih dengan derai air mata, aku menunjuk Indah dengan tatapan mata. "Hai, perempuan gatel kurang ajar, kamu apakan anakku," teriak Bunda. Bunda dengan cepat berjalan ke arah Indah, tamparan mendarat dengan cepat di pipi mulus itu berkali-kali. "Nik, apa yang kamu lakukan ke mantuku, jangan gila kamu." "Ibu, sakit … Ahhh," Indah berteriak, saat Ibu memegang tangan tepat di lukanya. "Tenang saja, Ibu akan melindungi kamu," ucap Ibu. "Sakit, Bu." "Iya, Ibu tau, Ibu di sini sayang." "Ahh, sakitt … " "Lihat, mantuku kesakitan gara-gara kamu," teriak Ibu ke Bunda, masih mencengkram tangan Indah yang luka. "Bu, sakit …." Indah berusaha menarik tangannya. "Itu belum seberapa," teriak Bunda, hendak menyerang lagi. Ibu semakin mencengkram tangan Indah, dan Bocah sunda* itu semakin berteriak kesakitan. Ibu masih pura-pura tak paham. "Bunda, sudah jangan bertengkar dengan Ibu," ucap Mas Aris. Alhasil, tamparan bertubi-tubi juga mendarat di pipi suamiku itu. Bunda kemudian menarikku ke kamar, alisnya terangkat berulang. "Sakit beneran, Bund," ucapku sambil memperlihatkan bekas cakaran Indah. Bunda kemudian mengambil obat merah dari kotak obat, ditiupnya lukaku kemudian di usapnya pelan kepalaku. "Mimpi apa nduk, kamu ngalamin musibah kayak gini. Sakit, hati Bunda. Kalau nggak mandang Ningrum sama keluarganya yang lain, Bunda nggak tau lagi." Bunda mengusap air mata yang meleleh di pipinya. "Bunda, sama Ibu kamu nggak habis pikir. Kok bisa-bisanya Aris berbuat seperti itu. Sedangkan Bunda sama Ibu kamu tau, betapa cintanya Aris sama kamu. Kayak nggak masuk akal, tapi ini kenyataanya," ucap Bunda lirih. "Rena juga nggak ngira, Bund. Terlintas saja tidak, bahkan semua nya baik-baik saja. Kami nggak pernah bertengkar, mas Aris juga sayang dan perhatiannya sama sekali nggak berubah." Air mataku ikut turun, tak terbendung. "Sayang." Mas Aris muncul di ambang pintu. Menatapku dengan tatapan yang entahlah, aku tak ingin melihatnya. "Ngapain kamu kesini, urus saja Istri mudamu, yang nggak tau diri itu," ucap Bunda ketus. Mas Aris tak menggubris ucapan Bunda, dia berjalan menghampiriku. "Maafkan mas," ucapnya kemudian."Mas, laki-laki lemah, pengecut, pecundang. Mas minta maaf." "Sudahlah, jangan dekati Rena lagi. Cukup sudah kamu menyakiti anakku. Urus saja bocah pelakor itu. Bunda mau bawa Rena pulang." "Bunda, Aris minta maaf …." "Keluar!" teriak Bunda sebelum mas Aris menyelesaikan kalimatnya. Bunda menarik mas Aris, mendorongnya keluar dan menutup pintu. Bunda memegang kepalanya, kemudian mengusap dadanya, sepertinya sedang mengendalikan emosinya yang mulai lepas kontrol. Aku mengusap air mataku, kulihat jam yang tertempel di dinding. Sekarang sudah jam setengah delapan lebih. Aku beranjak bersiap untuk ke kantor. Pagi yang berat, bukan hanya perihnya luka di badan. Tapi luka dihati, meski tak berdarah lebih sakit luar biasa. "Pesan taksi online saja, jangan bawa kendaraan sendiri, apalagi berangkat sama Aris," pesan Bunda. Aku masih berdiri di depan meja rias, merapikan pakaianku, dan kembali memoleskan bedak tipis di wajahku, serta menyisir rambutku yang berantakan. Menarik nafas panjang, dan membuangnya perlahan. Sedikit membantu, meredakan gejolak dan sebah di dadaku. Tas aku ambil dari gantungan di samping lemari, memasukan ponsel dan beberapa barang lainnya. Langkahku pelan terayun menuju pintu, kemudian membuka dan beranjak keluar. Mas Aris langsung berdiri saat melihatku keluar. Tak kudengar suara Indah lagi, tapi sepertinya dia ada dikamar bersama Ibu. Mas Aris berjalan mendekat ke arahku. "Rena, ingat pesan Bunda," ucap Bunda yang berjalan di belakangku. Aku mengangguk, setelah mencium punggung tangan Bunda aku beranjak keluar. "Jangan sentuh." Terdengar suara Bunda, sepertinya menolak salim dari mas Aris. "Rena, ingat pesan Bunda!" Seru Bunda lagi. "Iya Bund," jawabku. "Sayang, bareng mas ya?" Mas Aris menyusul langkahku. Aku menggelengkan kepala, menolak ajakannya. "Rena naik taksi aja," jawabku. Aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas, hendak memesan taksi online. Mas Aris mengambil ponsel dari tanganku. "Kembalikan," pintaku. "Kamu bareng mas," ucapnya menarik tanganku ke mobil. Sengaja ponselku dia masukkan dalam sakunya. Aku mengikuti keinginannya, dan masuk ke dalam mobil. "Sayang, mas minta maaf," ucap mas Aris lagi. Entah untuk keberapa kalinya. "Sayang, jangan diemin mas," ucapnya lagi. Sepanjang jalan aku memilih diam, tak menjawab apapun. Sampai di kantor aku hanya salim dan langsung turun setelah mas Aris memberikan ponselku. •• "Mbak, laporan penjualan per marketing sudah di rekap kah?" tanya Sania, temanku bagian gudang. "Bentar lagi selesai, kenapa? Ada selisih?" "Iya, sepertinya." "Oh, aku selesaikan dulu, ntar aku bantu kroscek," ucapku padanya. Setelah Sania keluar ruanganku, aku kembali melanjutkan pekerjaan, merekap penjualan marketing, harian. Masalah rumah, tetap saja mengganggu konsentrasiku. Beberapa kali harus mengoreksi ulang karena ada yang terlewati. Aku memijat kepalaku, pusing sekali rasanya, banyak tanya yang belum menemukan jawabnya. Semua yang terjadi begitu tiba-tiba. Dan, aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan ada kejadian seperti ini. Tak ingin berlarut dan harus bisa memisahkan antara rumah tangga dan juga pekerjaan. Mudah sekali diucapkan tapi, sulit dilakukan. Ya, begitulah kenyataannya, meski telah aku coba, tetap saja masalah pribadi yang memenuhi benakku. Aku minta maaf berkali-kali, karena Sania harus menunggu lama laporan dariku. Untung, teman kantorku itu, tak mempermasalahkan hal itu. ••• Sofia, sekretaris papanya Indah. Pasti dia tahu banyak masalah ini. Aku tak terlalu akrab tapi tak ada salahnya sekarang mendekat. Aku masih menyimpan nomor teleponnya. Sekedar basa-basi, untuk bisa mendapatkan informasi. Aku butuh banyak tahu tentang kehidupan Indah dan keluarganya. Ini akan membantu menjawab pertanyaan yang berputar di otakku. Nekat, janji aku buat, besok siang di sebuah cafe di dekat taman kota. Tak terlalu jauh dari sini, semoga dia bisa berbagi informasi, alih-alih tau apa yang sebenarnya terjadi. ••• "Rena nggak bawa motor?" tanya mas Bagas salah satu marketing di kantor ini. "Nggak mas, ini mau nebeng Sania." "Kok tumben?" "Iya, ada Bunda di rumah. Kalau Rena bawa, kalau butuh kemana-mana kan bingung nggak ada kendaraan," jawabku. Sambil menunggu Sania yang masih menyelesaikan laporannya, aku mengobrol di depan kantor, bukan hanya mas Bagas, ada beberapa teman marketing juga yang nimbrung. "Sudah, mau pulang?" Aku mendongak ke atas, entah kapan Aris datang. Mas Aris hanya membalas sapaan teman-temanku dengan senyum yang dipaksakan. Dia memang tidak suka aku dekat dengan pria lain, padahal aku cukup tahu batasanku. "Rena, duluan. Mas titip sampaikan ke Sania, nggak jadi nebeng," pamitku. "Iya, hati-hati." Hanya mas Bagas yang menjawab, yang lain hanya mengacungkan jempolnya. Mas Aris menggandeng tanganku sampai ke mobilnya, wajahnya jelas terlihat kalau dia sedang kesal. "Mas, nggak suka kamu bicara akrab sama mereka," ucapnya saat kami sudah di dalam mobil. "Rena, cuma ngobrol biasa mas, sambil nunggu Sania," jawabku. "Tetap saja mas nggak suka, melihat pria berbaju biru itu menatapmu, mas nggak suka dengannya." "Hanya mengobrol saja mas sudah merasa tak suka, sakit hati. Mas mikirin nggak gimana perasaanku, saat ada wanita lain mengaku sebagai istri mas tiba-tiba datang kerumah, dan ternyata itu memang sebuah kenyataan. Pernah mas memikirkan?
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม