Mataku terbuka ketika merasakan deru nafas Kak Theo yang terdengar beraturan. Pertanda dia sudah masuk ke alam mimpi. Aku memang belum tidur sama sekali. Yang tadi itu cuma pura-pura agar Kak Theo tidak macam-macam. Bagaimana mungkin aku bisa tidur di saat terbayang dengan kondisi mengenaskan Aldy. Sahabatku itu pasti sedang kesakitan sendirian. Demi apa pun, aku sangat menghawatirkannya, akan tetapi aku tidak bisa pergi ke sana sekarang karena tidak ingin membuat suami tampanku menggila apalagi sampai kalap membunuh lagi. Dengan hati-hati aku meraih ponsel yang berada di dalam saku celanaku. Menahan nafas ketika dia bergumam tidak jelas di leherku. Setelah terasa aman, aku kembali menarik ponsel dan mengetik pesan secepat kilat. Setelah mengirimi pesan ke Milha, baru lah aku bisa ber

