Chapter 8 - Rencana Busuk

2157 คำ
Pagi ini Serena bangun dari tidurnya dengan perasaan yang entah mengapa, terasa begitu bahagia. Setelah melewati hari yang panjang dalam hidupnya dalam belenggu kekhawatiran dan kesedihan, karena terus memikirkan kesehatan ayahnya, pagi ini semua belenggu itu seketika lenyap. Hilang bagaikan ditelan Bumi. Seolah-olah rasa khawatir dan sedih yang sempat menghinggapi diri Serena memang tak pernah ada. Begitu bangun dari tidur lelapnya, Serena langsung merapihkan ranjang tempat tidurnya dengan perasaan berbunga-bunga. Bahkan tanpa disadari, sebuah alunan lagu keluar dari bibir Serena saat dirinya sedang sibuk melipat selimut putih yang digunakannya untuk menghangatkan tubuhnya di tengah dinginnya malam. Serena sedang meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku sejenak, saat tiba-tiba ponsel jadulnya berbunyi. Ada satu chat masuk. Tentu saja dari Erick Navarro. ‘Aku on the way ke rumah kamu,’ kata Erick dalam chat singkatnya yang super singkat itu. Serena memperhatikan angka-angka digital penunjuk jam yang terpampang di ponsel jadulnya sejenak. Waktu menunjukkan baru pukul enam pagi, dan Erick sudah bergerak cepat dalam perjalanan menuju rumahnya. Serena langsung tertegun, “Oh, astaga.” Setelahnya, Serena langsung beranjak mengambil sisir yang tergeletak di atas meja kayu kecil di samping tempat tidurnya, menyisir sebentar rambut panjangnya yang masih acak-acakan, lalu beranjak mengikat rambut panjangnya asal-asalan. Serena baru saja selesai mengikat rambutnya dan meletakkan sisirnya kembali di atas meja kayu kecil di samping tempat tidurnya, saat tiba-tiba kedua mata indahnya terpana akan sebuah foto kecil yang terbingkai rapih di dalam figura berwarna coklat. Foto itu tergeletak di atas kursi di samping meja kayu kecilnya, persis di samping tumpukan baju yang baru saja selesai disetrika. Ya, foto yang terbingkai rapih itu adalah foto Serena bersama dengan Pierre .. mantan tunangannya yang sudah lama pergi. Dahi mulus Serena langsung mengkerut. Padahal Serena ingat betul kalau sudah lama dirinya menyimpan foto itu di dalam laci meja kayu kecilnya. Tapi entah mengapa, pagi ini Serena mendapati foto itu sudah tergeletak rapih di atas kursi. Seolah-olah seseorang baru saja mengeluarkannya lalu meletakkannya di atas kursi dengan sengaja. “Kenapa foto ini bisa ada di sini?” tanya Serena bingung. Setelahnya, Serena hanya terdiam sejenak sambil menatapi wajah tampan Pierre yang terpotret indah dalam foto itu. Masih teringat betul dalam benak Serena, kapan dan di mana foto itu diambil. Ya, waktu itu, di sebuah pantai yang anginnya berhembus sepoi-sepoi. Di tengah indahnya matahari terbenam yang cahayanya berwarna oranye kemerahan. Sebuah hari yang indah, hari dimana Pierre memberikannya sebuah cincin emas sebagai tanda keseriusan cintanya. Sebuah kenangan indah, yang sayangnya kini hanya menyisakan rasa perih dan pilu hati saja. Serena tersenyum getir, “Mungkin aku cuman lupa menaruhnya kembali ..” Setelahnya, Serena langsung meletakkan kembali foto berfigura itu di dalam laci meja kayu kecilnya. Foto itu diletakkan Serena persis di samping sebuah kotak kecil berlapis beludru warna merah, tempat cincin emas yang diberikan Pierre padanya waktu itu. Sudah lama sekali Serena ‘mengubur’ foto dan cincin emas itu di dalam sana. Jangankan mau memakai kembali cincin emas itu, bahkan hati Serena masih terasa sakit setiap kali harus melihat wajah tampan Pierre, yang terpotret indah di dalam fotonya. Tok .. Tok .. Tok .. Dengan langkah cepat, Serena berjalan keluar menuju pintu kamarnya begitu mendengar suara pintu kayu rumahnya diketuk. Begitu membuka pintu kayu rumahnya, Serena langsung dihadiahkan sebuah senyum hangat dari seorang Erick Navarro. “Selamat pagi, Nona Serena,” sapa Erick. Serena terdiam sejenak, memperhatikan Erick dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Laki-laki tampan keturunan setengah Jerman yang tubuhnya tinggi semampai ini sudah begitu rapih. Erick Navarro terlihat bak seorang model catwalk di balik balutan suit warna abu-abu, jam tangan tissot yang warnanya senada dengan suit nya serta sepatu pantoufle warna hitam yang menutupi jari-jari kaki jenjangnya. Oh, belum lagi ditambah harum aroma parfum versace pour homme yang begitu maskulin dan segar. Ya, berbanding terbalik sekali dengan Serena, yang rambutnya hanya diikat asal-asalan dan masih dalam balutan piyama tidur warna pink nya. Serena tersenyum geli, “Ini masih pagi sekali, Erick. Aku bahkan belum mandi.” Erick tersenyum manis, “Aku boleh masuk kan, nona manis?” Serena mengangguk dan tersenyum, “Tentu.” Serena lanjut bicara, “Kok tumben kamu datang pagi-pagi begini?” “Aku rindu melihat wajah kamu yang cantik,” goda Erick sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk di ruang tamu rumah Serena. Serena langsung tersipu malu, “Dasar .. Baru kemarin kita bertemu.” Erick tersenyum lalu menepuk kedua pahanya, isyarat agar Serena duduk di atas pangkuannya, “Come here ..” Dengan senang hati, Serena langsung duduk di atas pangkuan kedua paha Erick yang kokoh itu, sambil mengalungkan tangannya dengan manja di leher Erick. “Bagaimana tidur kamu semalam, hm?” tanya Erick sambil mengelus lembut pipi Serena dengan jari-jari tangannya. Serena tersenyum manis, “Nyenyak. Kalau kamu?” Erick menyeringai nakal. “Tadi malam aku bermimpi kita bercinta di dalam mobil,” goda Erick. Pipi mulus Serena langsung merona merah, “Dasar m***m ..” Erick tersenyum lebar, “Aku cuma bercanda.” “Kamu sudah sarapan?” tanya Serena hangat. Erick menggeleng, “Belum. Soalnya habis ini aku mau ajak kamu sarapan bareng. Kamu mau kan?” Serena tersenyum geli, “Oh, jadi itu alasannya kenapa kamu datang pagi-pagi begini?” Erick tersenyum lebar, “Wanita yang pintar.” Erick terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Kamu nggak kunci pintu rumah kamu?” “Kok kamu tahu?” tanya Serena penasaran. “Soalnya daritadi aku nggak lihat kamu bawa-bawa kunci rumah,” jawab Erick. Serena menghela napas sejenak, “Nggak. Aku memang cuman kunci pintu rumah kalau mau berangkat kerja saja.” Dahi mulus Erick langsung mengkerut, “Jangan diulangi lagi, Serena. Aku nggak mau kalau sampai ada orang jahat atau maling yang masuk sembarangan ke rumah kamu.” Serena tersenyum kecut, “Buat apa juga mereka mau maling rumah aku? Toh nggak ada benda berharga yang bisa diambil di sini.” Erick menaikkan satu alisnya, “Siapa bilang? Ada kok benda berharga di rumah ini ..”  Erick mencium bibir Serena sekilas, “.. kamu. Kamu lebih berharga daripada semua barang mewah yang ada di dunia ini, Serena.” Serena langsung tersipu malu, “Idih, bisaan saja kamu.” Erick tersenyum lebar, “Aku serius. Kamu tahu nggak berapa harga jantung dan ginjal manusia di black market?” Serena menggeleng, “Nggak. Memangnya kamu tahu?” Erick mengangkat bahunya, “I don’t know. Yang pasti harganya mahal sekali.” Serena tersenyum geli, “Ya sudah, nggak usah dicari tahu.” Setelahnya, Erick hanya terdiam sambil menatapi wajah cantik Serena. Tatapan kedua mata Erick yang intens itu perlahan mulai turun, menatapi leher mulus nan jenjang milik Serena yang terkespos bebas di hadapannya. Tanda kebiruan hasil perbuatan nakal bibir Erick kemarin masih menghiasi leher Serena, bahkan tanda itu bertebaran turun hingga ke daerah gundukan ranumnya. “Ada apa, Erick?” tanya Serena bingung. Erick menyeringai, “Jangan ikat rambut kamu hari ini.” Dahi mulus Serena mengkerut, “Memangnya kenapa?” “Coba lihat leher kamu, Serena. Terlihat ‘kacau’,” kata Erick sambil mengelus leher mulus Serena dengan ibu jarinya. Kedua mata Serena langsung membulat, “Ah, iya? Memang leher aku kenapa?” Seringai di wajah ganteng Erick melebar, “Banyak kissmark nya, sayang.”    Pipi mulus Serena langsung memerah, “Oh .. Serius?” Erick menyeringai nakal dan mengangguk, “Tapi, terserah kamu mau ikat rambut kamu atau tidak.” Erick beralih berbisik tepat di depan telinga Serena, menyentuh tengkuk Serena dengan sapuan napasnya yang hangat, “Kalau ada yang tanya kenapa leher kamu bisa biru semua, bilang saja habis dicium cowok ganteng.” Rona merah di pipi Serena tambah padam, “Idih, dasar.” Erick tersenyum lebar, “Sana mandi dulu, habis itu kita sarapan bareng. Aku sudah lapar nih.” Serena tersenyum hangat, “Iya, Mister Navarro.” “Aku boleh ikut kamu mandi?” goda Erick. “No! Enak saja, kamu kan sudah mandi,” kata Serena malu-malu. ***** Begitu kelar memarkir mobil jaguar hitamnya di tempat parkiran mobil gedung kantor tempatnya dan Serena bekerja, Erick kembali angkat bicara. Erick tersenyum manis, “Nanti sore aku jemput kamu.” Serena mengangguk dan tersenyum, “Hmm.” Erick mencium bibir Serena sekilas, “Sampai jumpa nanti.” Sesampainya di ruang kerjanya, raut bahagia dan senyum manis di wajah cantik Serena tak kunjung pudar. Bahkan sampai membuat Mira dan Rian, sahabat seperjuangannya di kantor, jadi bingung sendiri. “Kayaknya ada yang lagi senang banget nih,” goda Mira pada Serena. “Ah, nggak kok. Aku biasa saja,” kata Serena malu-malu. Rian, yang daritadi hanya terdiam sambil menikmati teh hangatnya, akhirnya ikut angkat bicara. “Bagaimana operasi bokap lo?” tanya Rian penasaran.  “Operasinya berjalan lancar. Ayah sudah pulih sekarang,” jawab Serena. Rian langsung tertegun kaget, “Wah, serius? Syukur deh kalau begitu. Kok lo nggak ngabarin kita sih?” Serena tersenyum hangat, “Sorry, aku lupa mau ngabarin kalian dari kemarin.” Mira, yang daritadi sibuk merapihkan dokumen kantor yang berantakan di atas meja kerjanya, langsung menoleh menatap Serena. Mira menghela napas lega, “Untung saran gue waktu itu berhasil ya.” Rian mengerutkan dahinya, “Memang lo kasih tau Serena saran apa?” Mira memelankan suaranya sedikit, “Pinjam uang ke Mister Erick. Kayak yang waktu itu lo lakuin, Rian.” Rian tambah tertegun, kedua matanya yang memang sudah besar bak bola pingpong itu tambah membulat, “Anjrit. Padahal waktu itu gue sama sekali nggak berharap banyak. Maksudnya, kalau dikasih pinjaman uang ya syukur kalau nggak dikasih juga nggak apa-apa.” Rian beralih melihat ke sekelilingnya sebentar, sekadar untuk memastikan supaya tak ada orang lain yang mendengar ucapannya, sebelum akhirnya beralih bicara sambil berbisik, “Tapi jangan sampai ada orang lain yang tahu tentang hal ini ya. Cukup kita bertiga saja. Gue nggak mau kita dijadiin kambing hitam kalau sampai ada yang minjam uang ke Mister Erick terus nggak bisa bayar.” Mira mengangguk setuju, “Betul itu. Jangan sampai kita bertiga yang disalahin.” Setelahnya, Mira lanjut menggoda Serena. “So, bagaimana hubungan lo sama Mister Erick?” tanya Mira dengan senyum nakal di wajah manisnya. Serena langsung salah tingkah, “Eh anu .. Kok kamu tanya begitu?” Mira tersenyum hangat, “Cuman penasaran saja kok.”  Mira terdiam sejenak sebelum kembali bicara. Tiba-tiba, senyum hangat di wajah manisnya berubah menjadi sebuah seringai nakal, “Ah, apa jangan-jangan kalian sudah mulai dekat ya?” Begitu mendengar ucapan Mira, Serena malah jadi tambah salah tingkah. “Ah, nggak .. Kami biasa saja kok,” bohong Serena. Oh, seandainya saja Mira tahu, bahkan Erick dan Serena bukannya sekadar ‘teman dekat’ saja sekarang. Bahkan keduanya sudah pernah saling memuaskan satu sama lain di atas ranjang. Dan mungkin, tak lama lagi keduanya akan berubah menjadi sepasang kekasih, hingga akhirnya lanjut menjadi pasangan sehidup semati nanti .. “Ah, masa sih? Banyak yang bilang Mister Erick masih single loh,” goda Mira iseng. Serena hanya tersenyum manis. ‘Memang iya,’ batin Serena. “Idih, masih pagi sudah gosip saja lo,” canda Rian. Mira menatap Rian tak suka, “Nggak senang saja deh lo.” ***** Laki-laki muda itu duduk tenang di atas kursi kayu jati belandanya. Kedua matanya menatap tajam jam tangan tissot warna abu-abu yang ada dalam genggaman tangannya. Memperhatikan dengan tatapan serius detak jarum jam yang terus bergerak menunjuk waktu. “Adam,” panggil laki-laki itu. Suaranya terdengar berat, tatapan kedua matanya terlihat begitu intens namun dingin di saat yang bersamaan. Sebuah tatapan mata yang menyiratkan dendam dan amarah yang amat dalam. Membuat siapapun enggan menatap kedua mata laki-laki itu lebih lama. Adam, tangan kanan laki-laki itu, langsung merespon secepat mungkin begitu mendengar namanya dipanggil oleh sang boss, “Ada perlu apa, boss?” Laki-laki itu langsung menoleh, menatap kedua mata Adam, tangan kanannya itu, dengan tatapan tajam nan begitu dinginnya, “Kamu sudah siapkan anak buah terbaik kamu kan?” Adam langsung mengangguk, “Sudah, boss.” Laki-laki itu menyeringai puas, “Good.” Tak lama setelahnya, laki-laki itu langsung mengeluarkan sebuah senapan hitam, lengkap dengan isinya, dari dalam laci meja kayu jati besar di hadapannya.   Laki-laki itu meletakkan senapan hitam beserta isinya itu di atas meja kayu jati besar di hadapannya, lalu kembali menatap tajam kedua mata Adam, “Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?” “Tentu. Tenang saja. Saya berani jamin, anak buah saya tidak akan mengecewakan boss,” jawab Adam yang mencoba meyakinkan laki-laki itu sebaik mungkin. Seringai puas di wajah tampan laki-laki muda itu melebar, “Nice. Aku mau peluru ini menembus kaki kanannya.” “Kenapa tidak langsung diarahkan ke jantungnya saja, boss?” tanya Adam bingung. Laki-laki itu menggeleng, “Jangan. Terlalu dini.” Laki-laki itu lanjut bicara setelah terdiam sejenak, masih dengan tatapan kedua matanya yang begitu dingin, “Aku mau membuat dia menderita perlahan, supaya dia bisa merasakan bagaimana rasa sedih dan kehilangan yang pernah aku rasakan dulu.” ❤❤TO BE CONTINUED❤❤
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม