Leave or Stay - 9

1376 คำ
Shawn terlihat duduk di kamar Ann, di sana sudah ada Julian dan dua orang lainnya. Mendengar kabar jika Ann terkena tembakan dari musuh, pemimpin The Florrest itu langsung mendatangi sang adik di mansion milik keluarga Vergard. “Biar aku yang menggantikan Ann,” sahut Julian. “Tidak, biarkan Ann yang memutuskan,” ujar Shawn. “Tapi!” “Peluru jenis MU5-TJ dengan amunisi kaliber 5,56 x 45 mm dengan berat 12,35 gram. Sepertinya Ann mengetahui sesuatu,” ujar Shawn. Empat pria itu sudah seperti pengawal pribadi Ann di sana. Mereka bahkan tidak sungkan pada pemilik rumah. Saat semua orang tengah berdebat, Ann akhirnya mulai bergerak dan membuka matanya perlahan. “Ehm.” “Ann, kau sudah sadar.” “Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Ann. “Apa yang kau lakukan dengan menjadi perisai? Kau pikir tubuhmu itu tahan dengan peluru?” “Bukan begitu, itu hanya gerakan refleks, Kakak.” “Sekarang kau terluka, sebaiknya kau menunjuk salah satu dari mereka untuk menggantikan dirimu di sini!” “Tidak, aku baik-baik saja.” “Kau selalu keras kepala! Keselamatanmu adalah yang terpenting saat ini. Aimar mulai mengincar dirimu lagi, kau tahu bagaimana pria gila itu jika sedang mengejar sesuatu.” “Sudahlah, Kakak. Aku akan baik-baik saja! Kalian bisa kembali ke mansion.” “Baiklah, kau selalu saja seperti itu.” “Sayang … untuk sementara jangan menggunakan tangan kiri, karena luka di punggung mempengaruhi tanganmu,” jelas Julian. “Baiklah … terima kasih, Julian.” “Kami akan datang menjemputmu jika kau terluka sekali lagi, dan saat itu tiba. Kau tidak boleh melakukan misi lagi,” jelas Shawn. Ann mengangguk mengerti, ia mengenal kembarannya itu. Hampir sama dengannya, tetapi Shawn adalah kakak yang bertanggung jawab dan juga sangat pengertian pada adiknya. Setelah kepergian empat orang di hadapannya, Zack terlihat memasuki kamar Ann. Saat itu, Ann ingin mengenakan pakaiannya, tetapi ia kesulitan karena terhalang penyangga tangan. Melihat hal itu, Zack berjalan mendekat dan membantu Ann. “Terima kasih,” ucap Ann. “Kenapa kau melakukannya?” tanya Zack. “Karena tugasku adalah melindungimu. Aku tidak pernah gagal dalam misi, jadi … bekerja samalah denganku saat kau dalam bahaya.” Zack meraih tubuh Ann lalu memeluknya. Terlihat jelas jika Zack sangat khawatir pada Ann. Apalagi wanita itu tidak berpikir panjang saat melakukannya. “Jangan mengulangi hal itu,” ucap Zack. “Kenapa? Apa kini kau takut kehilangan wanita bodoh ini?” “Ya, aku takut … kali ini, kau sungguh membuat aku seperti orang tidak berguna.” “Hah … sudahlah, apa kau ada pertemuan?” tanya Ann. “Apa? Jangan katakan jika kau ingin melindungiku dengan satu tangan terluka.” “Apa kau meragukan kemampuanku?” “Kau benar-benar keras kepala! Cepat kembali ke atas ranjang! Kau perlu beristirahat!” titah Zack. “Hei! Ibumu akan mengusirku jika tahu tentang hal ini.” “Kau tenang saja, Mommy sedang berkeliling Eropa. Ia akan kembali cukup lama.” “Apa?” Ann terlihat sedikit kesal, karena ia tidak bisa hanya dengan berbaring dan dilayani seperti saat ini. Ann berusaha memberontak dan ingin melakukan sesuatu seperti biasa. “Hei, jangan memanjakan aku! Aku bukan anak kecil yang sedang sakit demam.” “Apa aku harus melakukannya?” “Apa?” “Makan dan minum obat ini.” “Apa itu?” “Hanya obat.” Ann hanya menurut pada Zack, dan ia dengan lahap memakan makanan yang ada di hadapannya. Setelah itu, Zack memberikan obat pada Ann. Beberapa menit setelah menelan obat itu, Ann merasa jika tubuhnya seperti merasa terbakar. Aneh … ada sesuatu yang terjadi di dalam tubuhnya saat ini. “Kau! Obat apa itu?” tanya Ann. “Itu adalah obat Re-generasi. Jika biasanya bernama gizi re-generasi dengan bentuk chip, kali ini ia berbentuk obat. Karena tidak ada kandungan lainnya, dan memang hanya di gunakan untuk orang yang terluka cukup parah. “Apa! Tubuhku … panas!” “Panas yang kau rasakan hanya beberapa saat saja, setelah selesai, luka di tubuhmu akan pulih.” “Akh!” Tidak lama kemudian, Ann merasa jika rasa nyeri pada punggungnya menghilang. Ia pun melepaskan penyangga tangan, dan menuju walk in closet untuk melihat bagian punggung yang tertembak. “A-apa ini? kenapa bisa hilang?” gumam Ann. “Sudah kuduga … obat itu bekerja di dalam tubuh manusia yang memang sedang terluka,” ujar Zack. “Apa maksudmu?” “Obat itu akan bekerja sebaliknya jika orang yang mengkonsumsinya dalam kondisi sehat.” “Apa? Apa aku baru saja menjadi bahan uji coba obat ini?” tanya Ann. “Tidak, Ann … aku juga sudah menguji obat itu pada tubuhku sendiri.” “Dari mana kau mendapatkan obat ini?” “Aku bekerja sama dengan seorang mafia yang tinggal di Alaska, ia sangat hebat dalam hal ini.” “Baiklah … aku sudah siap bekerja,” ucap Ann. “Hari ini aku ingin makan siang di sebuah restoran kecil.” “Baiklah, ayo pergi!” Ann melangkah melewati Zack, lalu mereka berjalan menuju lantai satu untuk segera pergi menuju restoran yang diinginkan Zack. *** Sampai di restoran yang diinginkan pria itu, Ann kembali waspada pada sekitarnya. Ia tidak ingin kesalahan kembali terulang. Dan kali ini, Ann tidak boleh mengikutsertakan perasaannya. Membuang jauh sebuah perasaan adalah hal yang utama untuk pekerjaan itu. “Aku akan menunggu di meja lain, kau bisa makan dengan tenang, Tuan.” Ann akan melangkah menjauh, tetapi tangannya di tahan oleh Zack. “Duduk!” “Bukankah kau akan makan siang bersama orang lain?” “Ya, aku akan makan denganmu.” Ann tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti keinginannya. Akhirnya, mereka memesan beebrapa menu makanan. Saat berada di satu meja, Zack terlihat beberapa kali mencuri pandang pada Ann. Wanita di hadapannya itu terlalu mewaspadai keadaan sekitarnya. Hingga orang yang kini berada di hadapannya tidak ia pedulikan. “Berhenti melakukannya!” ujar Zack. “Apa?” “Kau! Hentikan kegiatan itu.” “Aku sedang memastikan keadaan sekitar. Kau tidak akan tahu kapan mereka akan menyerang,” jawab Ann. “Sudahlah … jika memang harus mati, ya sudah … mati saja.” “Semudah itu? Baiklah, bagaimana jika aku saja yang menembak kepalamu dan mengeluarkan seluruh isinya dari dalam sana. Sepertinya kau tidak memerlukan otak untuk berpikir.” “Baiklah … lakukan! Selama itu kau, aku akan diam ditempat.” “Gila!” “Ya, aku gila.” Perbincangan itu terlalu aneh untuk Ann. Hingga akhirnya pesanan makanan mereka datang, dan ke duanya mulai mengunyah makanan di dalam mulut masing-masing. Sampai beberapa menit berlalu, dan akhirnya mereka selesai dengan kegiatan itu. Ann terlihat sedikit canggung karena tidak biasa melakukan makan bersama dengan kliennya. Sementara Zack hanya terdiam sembari membersihkan sisa makanan yang masih ada di bibirnya. “Apa kau akan ke kantor setelah ini?” tanya Ann. “Tidak. Aku ingin minum, temani aku.” “Ehm, baiklah … aku hanya akan menemani saja kan?” “Kau juga ikut minum!” “Tidak-tidak … aku tidak begitu suka dengan alkohol.” “Aku tidak peduli!” Zack beranjak dari tempatnya dan meninggalkan uang di atas meja. Sedangkan Ann hanya bisa berjalan mengekor pada pria itu. Ke duanya kembali masuk ke dalam mobil. Dan saat itu, ponsel Zack berdering. “Ada apa?” “Sampai kapan aku harus menahan wanita ini?” tanya Vincent dari seberang. “Sampai kau puas, kau bisa membuangnya!” “Baiklah.” Zack kembali meletakkan ponselnya pada holder yang terpasang di dashboard. Lalu ia mulai melajukan mobil itu ke suatu tempat. “Apa seperti itu kau memperlakukan wanita?” tanya Ann. “Kenapa? Aku tidak menginginkan wanita muurahan ada di sampingku.” “Dasar! Pria gilaa!” “Kau selalu menyebut aku seperti itu, apakah di dalam kontrak kerja tidak ada hal yang menyatakan jika menghina klien akan dikenakan denda?” Ann terdiam, ia tidak pernah membaca kontrak kerja dengan teliti. Yang ada di dalam pikiran Ann hanyalah nominal angka yang menggugah selera untuk mendapatkannya. “Kenapa kau terdiam?” tanya Zack. “Aku tidak tahu.” “Baiklah … kali ini aku akan melepaskanmu.” “Kau sungguh pria yang … ah, sudahlah!” Ann memalingkan wajahnya dan enggan menatap Zack. Ia hanya melihat jalanan kota itu yang terlihat mendung dan seperti akan turun hujan di sana.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม