Chapter 6 - Berduaan di Rumah (part 1)

2488 คำ
Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan pagi saat Karina mendengar suara bel pintu rumahnya berbunyi. Karina mendengus kesal. ‘Ck, pasti cowok menyebalkan itu lagi,’ benaknya. “Bu! Ada tamu!” teriak Karina setelahnya—merasa amat enggan untuk beranjak dari sofa empuk yang sedang didudukinya dan membukakan pintu rumahnya untuk sang tamu. “Kenapa tidak kamu saja yang bukakan pintunya, Karina? Ibu sedang sibuk masak,” ucap Arini, ibu kandung Karina, yang sedang sibuk berkutat dengan bahan masakannya di dapur. “Aku sedang sibuk,” ucap Karina malas. Arini melepas apronnya lalu menghampiri Karina setelahnya, dan mendapati putrinya sedang ‘sibuk’ berbaring di atas sofa di ruang tamu seraya membaca sebuah majalah dan memakan sekantung keripik kentang. Arini mengerutkan dahinya, “Sibuk apanya?” Karina hanya tersenyum lebar. Arini membukakan pintu rumahnya setelahnya. “Darren?!” ucapnya semangat begitu dirinya mendapati Darren dan ibunya yang lagi-lagi, berkunjung ke kediamannya pagi ini. Darren tersenyum ramah, “Selamat pagi, tante.” Karina tersenyum getir. ‘Ck, sudah kuduga,’ benaknya. Marisa, ibu kandung Darren, beralih angkat bicara. “Karina ada di rumah?” tanyanya ramah. Arini mengangguk dengan semangat, “Ada, sedang baca majalah di ruang tamu. Ayo masuk.” Arini lanjut bicara pada Karina, “Karina, ada Dar ..” Belum sempat ibu menyelesaikan ucapannya, Karina sudah keburu angkat bicara duluan. “Iya, aku tahu,” ucapnya tak suka. “Pagi, tante,” ucap Karina pada Marisa seraya tersenyum tipis. Marisa tersenyum ramah, “Panggil saja ibu, Karina.” Karina hanya tersenyum dengan raut wajahnya yang nampak begitu ogah-ogahan—sama sekali tak mempedulikan Darren, yang sedaritadi berdiri tak jauh di samping ibunya. Karina lanjut bertanya, “Ada perlu apa ibu datang ke sini?” “Ini,” jawab Marisa seraya mengeluarkan berbagai jenis desain undangan pernikahan yang terpampang melalui layar iPad-nya. “Ibu mau kalian yang memilih sendiri desain undangan untuk pernikahan kalian nanti,” ucapnya seraya tersenyum ramah. “Apa?!” ucap Darren dan Karina yang merasa amat terkejut di saat yang bersamaan. “Ibu tinggal sebentar ya, kompor di dapur masih menyala soalnya,” ucap Arini pada Karina—sengaja, tujuannya memang supaya Darren dan Karina memilih undangan pernikahannya berduaan saja. “Saya boleh ikut membantu?” tambah Marisa yang sepertinya tahu apa maksud perkataan ibu Karina tadi—supaya putranya menghabiskan waktunya sejenak berduaan saja dengan calon menantunya. Arini tersenyum ramah, “Boleh, ayo.” Akhirnya, Darren dan Karina ditinggal berduaan. “Papamu .. tidak datang?” tanya Karina bingung. Darren menggeleng. “Tidak, papa sedang ada meeting penting dengan seorang investor di kantor,” jawabnya dingin. Karina mengangguk perlahan, “Ah, begitu ..” Setelahnya, bukannya membantu Darren memilah-milah desain undangannya, Karina malah lanjut membaca majalahnya dan memakan keripik kentangnya. Darren mengerutkan dahi mulusnya, “Kamu mau ke mana?” Karina menghela napas sejenak. “Lanjut baca majalah. Kamu saja yang pilih mau pakai desain undangan seperti apa,” ucapnya acuh tak acuh. Darren tersenyum miring, “Mana bisa begitu, Miss Karina?” Karina mengerutkan dahi mulusnya, “Maksudmu?” Darren menatap Karina tajam, “Jadi kamu sama sekali tidak masalah kalau aku memilih desain undangan yang biasa-biasa saja?” “Terserah kamu,” ucap Karina dengan raut wajahnya yang terlihat begitu bodo amat. Darren terdiam sejenak untuk berpikir. “Hmm aneh sekali. Padahal seingatku, waktu itu ada seorang perempuan yang bilang kalau pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral dan hanya dilakukan sehidup sekali, jadi semua persiapannya harus dibuat matang-matang,” sindirnya. Wajah Karina memerah seketika. Rupanya sindiran seorang Darren Leonhardt tepat mengenai perasaannya. “Ah, dasar! Ya sudah, mana sini desainnya?” ucap Karina sebal. Darren tersenyum puas lalu menyerahkan iPad-nya pada Karina. “Aku bagi keripik kentangmu, ya,” ucapnya seraya mengambil sekantung keripik kentang milik Karina. “Hmm ..,” ucap Karina yang terlihat sibuk menatapi layar iPad-nya. Hampir lima belas menit kemudian, baik Darren maupun Karina rupanya tak kunjung ada yang memilih mau memakai jenis desain seperti apa untuk undangan pernikahan keduanya nanti. “Aku benar-benar bingung mau memakai desain undangan yang seperti apa .. Kamu ada ide?” tanya Karina frustrasi. Raut wajah cantik Karina seketika berubah jadi terkejut begitu melihat sekantung keripik kentangnya yang sudah habis tak tersisa. “Ah, Darren!” teriaknya kesal. Darren memutar bola matanya, “Apa?” Karina menatap Darren sebal, “Kenapa kamu habiskan keripik kentangku?!” “Kan tadi aku sudah izin ..,” ucap Darren dengan raut wajahnya yang nampak tak merasa bersalah sama sekali. Karina langsung cemberut, “Iya, tapi kan bukan berarti kamu boleh menghabiskannya seenak jidatmu! Aku masih mau memakannya tahu!” Darren mendengus kesal, “Ya, ya, berapa harganya? Biar aku ganti.” Karina langsung menggeleng, “Tidak usah.” Darren menatap Karina dingin. ‘Ck, benar-benar perempuan emosional,’ benaknya. Karina lanjut bicara. “Ini, aku sudah memilih yang ini. Terserah kamu setuju atau tidak,” ucapnya seraya mengembalikan iPad milik ibu kandung Darren. Darren menghela napas sejenak, “Okay.” ***** Satu jam kemudian, Marisa, ibu kandung Darren, akhirnya kembali menghampiri Darren dan Karina. Raut wajahnya langsung dipenuhi oleh rasa bingung begitu dirinya mendapati Darren dan Karina yang malah asik dengan ‘dunianya’ masing-masing. Karina, yang terlihat asik dengan majalahnya, dan Darren, yang terlihat sibuk memainkan ponselnya. Oh, bahkan keduanya duduk jauh-jauhan, persis seperti dua orang anak kecil yang sedang bertengkar. “Darren? Karina? Kok malah diam-diam saja? Kalian sudah memilih mau memakai desain udangan seperti apa?” tanya Marisa bingung. Karina tersenyum tipis, “Sudah, tante.” Darren lanjut bicara seraya menunjukkan salah satu desain undangan pernikahan pada ibunya. “Kami memutuskan mau pakai yang ini saja,” ucapnya dingin dengan raut wajah datar. Marisa mengangguk seraya tersenyum lebar, “Baguslah. Papamu pasti suka.” Darren hanya tersenyum miring. Karina lanjut bicara, “Permisi, saya izin ke kamar dulu sebentar.” Beberapa saat setelahnya, karena merasa begitu penasaran, akhirnya Darren memutuskan untuk pergi ke kamar mandi sejenak. “Aku mau ke kamar mandi dulu,” bohongnya—padahal aslinya Darren mau pergi sejenak untuk ‘memata-matai’ Karina. Ya, mungkin memang benar, nampaknya Darren sudah mulai jatuh hati pada Karina. Setelahnya, Darren berjalan mengendap-endap, persis seperti seorang maling yang sedang sibuk mengintai rumah mangsanya. “Kamar tidur Karina ada di mana, ya?” bisiknya. Darren tersenyum puas tak lama setelahnya. ‘Ketemu,’ benaknya begitu dirinya menemukan sebuah kamar tidur dengan papan kayu bertuliskan ‘Karina’s Bedroom’ di pintu kamarnya. Diam-diam, Darren memutuskan untuk menguping dari luar kamar tidur Karina. Suara isak tangis-lah yang pertama kali didengar telinganya. Dahi mulus Darren langsung mengerut, “Suara tangisan?” Darren langsung merasa tertegun. ’Sial, apa jangan-jangan Karina menangis karena aku?’ benaknya yang merasa amat bersalah pada Karina. “Aldric ..,” rengek Karina dari balik pintu kamar tidurnya. Dahi mulus Darren tambah mengerut. “Aldric? Siapa Aldric?” bisiknya bingung. Karina lanjut bicara, “Aku rindu denganmu, Aldric .. Aku mau bertemu denganmu ..” Sebuah petir seolah-olah langsung menyambar kepala Darren. ‘Apa? Rindu katanya?’ benaknya seraya tersenyum getir. Ogah berlama-lama menguping pembicaraan orang lain, Darren akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Karina dan kembali menghampiri ibunya. “Ada apa, Darren?” tanya Marisa seketika mendapati wajah tampan putranya yang terlihat dipenuhi raut kesal dan bingung di saat yang bersamaan. Darren menggeleng perlahan. “Tidak apa-apa,” bohongnya. Dia terdiam sejenak untuk berpikir. ‘Aldric .. Mungkinkah dia kekasih Karina?’ benaknya penasaran. ***** Karina Hadriana menatap dinding kamar tidurnya dengan tatapan nanar. “Aku mau bertemu denganmu sekarang, Aldric. Kamu .. sedang sibuk tidak?” ucapnya pada Aldric, kekasih hatinya, melalui panggilan teleponnya. Aldric beralih menatap jam tangan kulit warna hitam yang melingkari pergelangan tangan kirinya sejenak, “Sedikit .. tapi kita bisa bertemu sebentar di jam makan siang nanti. Di restoran tempat biasa kita bertemu, bagaimana?” Wajah cantik Karina langsung berseri-seri. “Benarkah?! Baiklah kalau begitu,” ucapnya semangat. Aldric mengangguk perlahan seraya tersenyum, “Iya, tapi aku tak bisa lama-lama karena harus meeting setelah ini. Tidak apa-apa kan?” Karina mengangguk. “Iya, tidak apa-apa. Sampai jumpa nanti, Aldric,” ucapnya ramah. “Hati-hati, Karina.” Panggilanpun terputus. Setelahnya, dengan secepat kilat Karina mengganti pakaiannya, menyisir rambutnya yang terlihat sedikit kusut itu sejenak, lalu beralih memulaskan riasan wajah tipis-tipis di wajah cantiknya. Begitu keluar dari kamar tidurnya, Marisa, ibu kandung Darren yang juga masih betah bertamu di rumah Karina, langsung bertanya pada dirinya. Marisa menatap Karina bingung, “Loh, Karina? Kamu mau ke mana?” Karina langsung salah tingkah, “Ah, itu tante .. Aku ada ..” Darren tersenyum kecut. “Mau bertemu dengan kekasihmu, ya?” sindirnya. Kedua mata Karina yang cantik itu langsung membulat. ‘s**t, bagaimana Darren bisa tahu kalau aku mau bertemu dengan Aldric?’ benaknya terkejut. Karina hanya terdiam, bibirnya tak mampu menjawab pertanyaan Darren yang terdengar amat menyindir dirinya itu. Marisa langsung menggeleng, “Ah, mana mungkin, Darren. Paling-paling hanya mau bertemu dengan teman. Iya kan, Karina?” Karina tersenyum kikuk, “I .. iya ..” Arini, ibu kandung Karina yang juga sedang menemani Darren dan ibunya sedaritadi, akhirnya beralih angkat bicara. “Baiklah kalau begitu. Hati-hati, Karina,” ucapnya seraya tersenyum ramah. Darren Leonhardt tersenyum miring. Entah mengapa perasaannya seolah-olah tahu kalau Karina tidak akan pergi untuk menemui temannya, melainkan pergi menemui seorang laki-laki bernama Aldric yang sempat didengar oleh Darren berbincang-bincang melalui telepon dengan Karina tadi. “Selamat bersenang-senang dengan temanmu, Nona Karina!” sarkasnya. Karina hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya buru-buru angkat kaki dari rumahnya. ***** Sesampainya di restoran tempat keduanya biasa bertemu, seperti biasa, Karina langsung memeluk erat tubuh Aldric—menyalurkan semua emosi dan rasa rindunya melalui pelukan erat tersebut. “Aldric ..,” lirihnya. Aldric melepas pelukan Karina lalu beralih memegang kedua pundaknya. “Hey .. Ada apa, Karina?” tanyanya khawatir. Karina menatap Aldric nanar, “Aku merindukanmu, Aldric.” Aldric tersenyum haru, “Aku juga merindukanmu, Karina. Tapi ..” Dahi mulus Karina langsung mengerut, “Tapi apa?” Aldric menghela napas sejenak, “Aku rasa kita tak akan bisa seperti ini selamanya.” “Kenapa, Aldric? Kamu .. sudah tidak mencintaiku?” ucap Karina seraya tersenyum kecut. Aldric langsung menggeleng, “Aku masih mencintaimu, Karina. Sungguh.” Aldric lanjut bicara seraya menatap Karina serius, “Tapi kamu akan segera menikah. Kamu akan segera menjadi istri orang lain. Aku tak lagi berhak melakukan ini semua padamu, Karina. Aku tak mau membuat hati calon suamimu kecewa.” “Tapi ..” Aldric memotong ucapan Karina, “Tidak ada tapi-tapian, Karina.” Aldric lanjut bicara seraya menatap Karina dengan raut wajahnya yang terlihat amat bersalah, “Maafkan aku ..” Karina tersenyum tipis, “Baiklah kalau memang itu maumu.” Aldric beralih menangkupkan wajah cantik Karina dengan kedua tangannya, “Aku harap hidupmu sangat berbahagia, Karina.” Karina tersenyum haru, “Kamu juga, Aldric.” Karina terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Kamu .. bersedia datang ke pesta pernikahanku nanti?” Aldric langsung terkejut. ‘Astaga, Karina, kamu mau membunuhku, ya?’ benaknya. “Aku tidak bisa janji, Karina. Aku belum siap untuk itu,” ucapnya serius. Karina menghela napas sejenak, “Baiklah ..” Karina lanjut bicara, “Kita .. masih bisa berteman, kan?” “Tentu, Karina. Tentu,” ucap Aldric seraya mengangguk dan tersenyum ramah. Aldric lanjut bicara seraya memegang kedua lengan Karina, “Aku akan selalu mencintaimu, Karina. Mungkin tidak lagi sebagai kekasihku, tapi sebagai sahabatku.” Karina tersenyum manis, “Sahabat sejati?” Aldric hanya tersenyum lebar seraya mengangguk. Karina lanjut bertanya, “Kamu sudah makan?” Aldric menggeleng, “Belum. Kamu?” “Aku juga belum makan. Mau makan bersama? Biar aku yang traktir kali ini,” ucap Karina ramah. Aldric mencubit manja pipi mulus Karina, “Okay.” ***** Hujan rintik-rintik langsung turun begitu Karina sampai di rumahnya kembali. “Terima kasih sudah mengantarku sampai ke rumah,” ucapnya seraya tersenyum manis pada Aldric, yang mengantarkan Karina sampai rumahnya menggunakan sepeda motornya. Aldric tersenyum lebar. “Sama-sama. Maaf ya, aku belum punya mobil jadi bajumu sedikit basah seperti ini,” ucapnya yang merasa amat tak enak hati pada Karina. Karina langsung menggeleng, “Jangan bicara seperti itu. Aku sama sekali tidak apa-apa, kok.” Aldric hanya tersenyum. Karina lanjut bicara, “Hati-hati di jalan, Aldric. Jalanan pasti licin.” Aldric mengangguk, “Aku balik ke kantor dulu, takut hujannya tambah deras.” Karina mencium bibir Aldric sekilas. Sebuah ciuman, yang tanpa keduanya sadari, adalah ciuman terakhir keduanya saat masih menjadi sepasang kekasih. “Sampai jumpa nanti, Aldric,” ucapnya seraya menatap Aldric nanar. Aldric hanya tersenyum haru dan mengangguk perlahan, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Karina. Begitu sampai di rumahnya, suara seorang laki-laki yang terdengar amat berat langsung menyapa seorang Karina Hadriana. “Sudah puas ngobrol dengan temanmu?” ucap laki-laki itu seraya melipat kedua tangannya di depan d**a bidangnya. Karina, yang masih merasa amat terkejut, langsung menoleh dan mendapati Darren yang sedang berdiri sendirian seraya menatapnya dengan tatapan yang terlihat amat serius. Persis seperti orangtua yang marah kala mendapati anak gadisnya pulang malam mengendap-endap tanpa izin terlebih dahulu. ‘s**t,’ benak Karina kaget. “Darren?! Kamu masih di sini?” ucapnya bingung. Darren menghela napas sejenak, “Yeah. Aku tak punya pilihan lain.” Darren lanjut bertanya seraya menatap Karina penasaran, “Kamu habis pergi dengan siapa?” Bukannya menjawab pertanyaan Darren, Karina malah balik bertanya. “Ibuku mana?” tanyanya seraya memperhatikan sekeliling rumahnya. “Sedang pergi belanja sebentar dengan ibuku,” jawab Darren acuh tak acuh. Kedua mata Karina langsung membulat, “Apa?!” “Iya, dan karena kamu tadi sedang pergi, jadi aku yang ditugaskan buat menjaga rumahmu,” ucap Darren santai. Karina lanjut bertanya, “Raphael sudah pulang?” Darren menggeleng, “Belum.” Darren terdiam sejenak sebelum kembali bicara. “Oh, iya, omong-omong soal Raphael, aku belum pernah bertemu dengan adik laki-lakimu yang satu itu. Kira-kira dia sama menyebalkannya dengan kakak perempuannya tidak ya?” sindirnya seraya tersenyum miring. Karina tidak menjawab, hanya menatap Darren dengan tatapannya yang terlihat amat tajam sebelum akhirnya pergi meninggalkan Darren sendirian di ruang tamu rumahnya. Darren mengerutkan dahi mulusnya, “Kamu mau ke mana?” “Ke kamarku. Kamu tidak lihat baju dan rambutku basah?” jawab Karina sinis. Darren langsung terkejut, “Kamu kehujanan?” Karina memutar bola matanya malas. ‘Ck, tentu saja bodoh,’ benaknya. “Hmm ..,” ucapnya. Darren menyeringai nakal. “Aku boleh ikut?” godanya seraya berjalan perlahan mendekati Karina. Karina langsung menggeleng, “Ah, minggir sana! Dasar cowok m***m!” Darren tersenyum manis, “Aku hanya bercanda, Karina sayang.” Karina hanya terdiam. Darren lanjut bicara, “Sana ganti bajumu. Aku tak mau kalau sampai kamu sakit.” Sesampainya di kamar tidurnya, Karina langsung mengunci rapat-rapat pintu kamar tidurnya. Jantungnya berdegup kencang seketika. “Sial .. kenapa juga aku harus ditinggal berduaan saja dengan cowok menyebalkan itu?” ucapnya kesal. ♥♥TO BE CONTINUED♥♥
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม