Chapter 4 - Kawin Lari?

1960 คำ
Waktu menunjukkan hampir pukul satu siang saat Karina bertemu dengan Aldric Fernando, kekasih hatinya. “Hai, Aldric ..,” ucapnya dengan nada bicara yang terdengar amat kikuk. Dahi mulus Aldric langsung mengerut. “Ada apa, Karina?” tanyanya penasaran. Karina menatap Aldric nanar, “Aku .. aku hanya sedang ingin melihat wajahmu ..” Karina beranjak memeluk erat tubuh Aldric setelahnya, begitu erat seolah-olah keduanya tak akan pernah berjumpa lagi. “Aku sangat merindukanmu ..,” bisiknya. Aldric melepas pelukan Karina beberapa saat setelahnya. Dirinya sadar betul kalau ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada kekasih hatinya. “Apa yang sedang terjadi padamu?” tanyanya bingung. Karina hanya terdiam, membatu di tempatnya seraya terus menatap wajah tampan kekasihnya dengan raut wajah yang terlihat amat sulit untuk diartikan. Melihat Karina yang tak kunjung menjawab, akhirnya Aldric memutuskan untuk angkat bicara lagi. “Ceritakan semuanya padaku, Karina. Aku akan selalu ada di sini untukmu,” ucapnya seraya menatap wajah cantik Karina iba. Karina menatap Aldric takut-takut, “Aku .. aku akan segera dinikahkan, Aldric ..” Sebuah petir di siang bolong seolah-olah langsung menyambar kepala seorang Aldric Fernando. “Apa?” ucapnya dengan raut wajah yang terlihat amat terkejut. Karina menghela napas sejenak, “Orangtuaku menjodohkanku dengan laki-laki lain. Mereka tak punya pilihan lain karena ..” Belum sempat Karina menyelesaikan ucapannya, Aldric sudah keburu angkat bicara duluan. “Karena laki-laki itu bersedia membantu bisnis ayahmu, begitu?” ucapnya seraya tersenyum getir. Mendengar perkataan Aldric, Karina malah jadi tambah bersalah. Karina bisa merasakan betul kekecewaan dan amarah yang menyelimuti kekasih hatinya itu. “Aldric ..,” lirihnya. Aldric menatap Karina serius, “Iya, kan?” Karina memeluk Aldric lagi, “Maafkan aku ..” Aldric melepas pelukan Karina lalu beralih menatap wajah cantiknya seraya tersenyum tipis, “Tak perlu minta maaf, Karina, ini semua bukan salahmu.” Aldric lanjut bicara, “Aku paham betul kalau orangtuamu tak pernah menyetujui hubungan kita. Orangtua mana juga yang sudi anak perempuannya dinikahkan oleh seorang laki-laki miskin seperti diriku?” Begitu mendengar apa yang baru saja keluar dari bibir kekasih hatinya, entah mengapa, hati Karina malah jadi tambah terenyuh. Karina Hadriana tahu betul bahwa orangtuanya memang tak pernah menyetujui hubungannya dengan kekasih hatinya. Bahkan masih teringat jelas dalam benak Karina, hari dimana ayah tercintanya terang-terangan berkata kalau Aldric hanyalah seorang laki-laki miskin yang tak mungkin bisa menghidupi Karina dan anak-anaknya kelak.  Namun Karina tak pernah menyangka ternyata ucapan ayahnya sendirilah yang mampu menorehkan luka yang begitu tajam dalam hati kekasih hatinya. “Aldric! Jangan bicara seperti itu!” bentak Karina kesal. Wajahnya terlihat memerah, matanya terlihat berkaca-kaca menahan air mata yang rasa-rasanya sudah tak bisa dibendung lagi. Aldric tersenyum kecut, “Tapi itu kenyataannya, Karina ..” Karina terdiam sejenak sebelum kembali bicara. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyanya serius. Aldric langsung menggeleng, “Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.” Aldric lanjut bicara seraya menatap Karina tajam, “Menikahlah dengan laki-laki pilihan orangtuamu, Karina. Lupakan aku. Aku yakin dia pasti bisa membahagiakanmu sama seperti aku pernah membahagiakanmu dulu.” Kedua mata Karina langsung membulat. “Tidak! Aku tidak mau menikah dengan dia! Bagaimana bisa aku hidup bahagia bersama dengan laki-laki yang tak pernah aku cintai, Aldric?” ucapnya emosi. Aldric tersenyum miring. “Lalu? Apa yang akan kita lakukan sekarang, Karina? Kawin lari?” tantangnya. Karina menatap Aldric serius, “Baik, kalau memang itu maumu.” Dahi mulus Aldric langsung mengerut, dirinya tak menyangka ternyata Karina bersedia menerima tantangan gilanya. “Apa?” ucapnya tak percaya. “Aku bersungguh-sungguh, Aldric,” jawab Karina serius. Karina beralih memegang kedua tangan Aldric seraya menatap wajah tampannya dengan raut yang terlihat amat memohon, “Bawa aku pergi, Aldric, aku janji akan mengikutimu ke manapun kamu pergi. Bahkan kalau kamu mau, aku rela hanya makan sekali sehari asalkan bisa hidup bersama denganmu ..” Aldric hanya terdiam, tak mampu berucap lagi. Dirinya tak tahu harus merasa senang atau merasa sedih melihat Karina yang nampak begitu frustrasi seperti ini. Karina lanjut bicara, “Aku mohon, Aldric ..” “Kenapa kamu rela melakukan ini semua, Karina?” tanya Aldric iba. Karina tersenyum nanar, “Karena kamulah cinta pertamaku.” Lagi-lagi, Aldric Fernando hanya terdiam seraya terus menatapi wajah cantik kekasih hatinya. Batinnya merasa begitu bergejolak, merasa bingung ingin mengikuti kata hatinya atau egonya. “Aku tak bisa melakukannya, Karina ..,” ucapnya seraya menatap wajah cantik Karina nanar. Karina tersenyum getir. “Apa?” ucapnya tak percaya. Aldric membuang muka lalu menggeleng perlahan, “Aku tak bisa menikah denganmu. Aku tak mau menentang keinginan orangtuamu.” Karina menangkupkan wajah tampan Aldric dengan satu tangannya, membuat kedua mata Aldric bertemu kembali dengan kedua matanya. “Kenapa, Aldric?” lirihnya. Aldric tak menjawab, hanya terdiam seraya terus menatapi wajah cantik Karina dengan raut wajahnya yang nampak begitu datar—nyaris tanpa emosi. Karina lanjut bicara, “Apa .. apa karena kamu sudah tak mencintaiku lagi?” Aldric langsung menggeleng, “Tidak! Aku tetap mencintaimu, Karina, sungguh.” Aldric beralih menatap Karina serius, “Aku akan selalu mencintaimu, tak peduli apapun yang terjadi.” “Lalu?” tanya Karina seraya tersenyum miring. “Aku hanya tak mau menentang keinginan orangtuamu. Dan lagi, aku tak yakin bisa membahagiakanmu, Karina ..,” jawab Aldric. Emosi seketika memuncak dalam benak Karina. “Bagaimana kamu bisa yakin kalau aku akan bahagia bersama dengan Darren, Aldric?! Aku bahkan tak mencintai dia sebagaimana aku mencintaimu!” bentaknya kesal. Aldric tersenyum kecut, “Darren? Jadi nama laki-laki itu Darren?” Karina hanya terdiam. Melihat raut wajah Aldric yang seketika nampak begitu kecewa, entah mengapa tiba-tiba Karina langsung bungkam. Bibirnya seolah-olah terkunci, tak mampu berucap lagi. Aldric lanjut bicara, “Menikahlah dengan Darren, Karina. Aku yakin pilihan orangtuamu tak akan pernah salah.”       Setelahnya, Aldric beranjak memeluk erat tubuh Karina. Begitu erat namun juga lembut nan penuh kasih sayang di saat yang bersamaan, seolah-olah dirinya tak akan berjumpa lagi dengan kekasih hatinya itu. Aldric menangkupkan wajah Karina dengan kedua tangannya lalu mencium dahi mulusnya sejenak. “Aku mencintaimu, Karina ..,” bisiknya. “Aku juga mencintaimu, Aldric ..,” ucap Karina yang kedua matanya nampak sudah begitu berkaca-kaca. ***** Waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi saat Arini, ibu kandung Karina, mengetuk pintu kamar tidur Karina. “Karina? Kamu sudah bangun?” ucapnya dari balik pintu—mencoba membangunkan putri kesayangannya dari tidur lelapnya. “Nghh kenapa, bu?” ucap Karina yang masih merasa amat enggan membuka kedua matanya. Arini tersenyum ramah, “Darren dan orangtuanya berkunjung ke sini. Mereka bilang mau mengajakmu makan siang bersama.” Kedua mata Karina langsung terbuka lebar begitu dirinya mendengar nama Darren disebut, lagi. ‘Sial,’ benaknya getir. “Ya, ya, aku akan bangun lima menit lagi,” ucapnya acuh tak acuh. Setengah jam berlalu, dan Karina Hadriana nampaknya masih merasa amat enggan keluar dari ‘tempat persembunyiannya’. Karina masih tertidur lelap di atas ranjangnya yang empuk, di balik selimut putih tebal kesayangannya. Dirinya merasa amat enggan untuk keluar kamar, bahkan untuk bangun dan beranjak dari ranjangnya pun Karina merasa begitu ogah. Melihat putrinya tak kunjung keluar kamar, Arini akhirnya kembali mengetuk pintu kamar tidur Karina. “Karina? Kamu sudah bangun atau belum? Kasihan Darren dan orangtuanya sudah menunggumu daritadi,” ucapnya yang merasa sedikit khawatir. Karina mendengus kesal. “Iya, aku ke sana lima belas menit lagi,” ucapnya dengan nada bicara yang terdengar amat begitu terpaksa. Tak sampai setengah jam kemudian, Karina akhirnya keluar dari ‘tempat persembunyian’ alias kamar tidurnya. Darren beserta kedua orangtuanya nampak sudah menunggu daritadi di ruang makan, duduk manis di atas kursi yang empuk sembari menikmati secangkir teh manis hangat dan klappertaart buatan ibu kandung Karina. Karina tersenyum palsu. “Siang ..,” sapanya kikuk seraya menarik kursinya persis di samping Pieter Leonhardt, ayah kandung Darren. Bukannya merasa kesal dengan Karina yang nampak begitu mengulur-ulur waktunya, Pieter malah tersenyum ramah. “Bagaimana keadaanmu, Karina?” tanyanya dengan bahasa Indonesia-nya yang terdengar sedikit kaku. “Saya baik-baik saja, oom,” jawab Karina ramah. Ibu kandung Darren baru saja akan ikut angkat bicara saat tiba-tiba Karina sudah keburu angkat bicara duluan. “Tumben sekali siang-siang begini kalian datang ke sini? Ada perlu apa?” tanya Karina dengan raut wajahnya yang terlihat sedikit tak suka. Darren menatap Karina tajam. ‘Sial, kalau bukan karena orangtuaku juga aku ogah bertemu denganmu,’ benaknya kesal. Marisa, ibu kandung Darren, akhirnya beralih angkat bicara. “Kami hanya mau berkunjung sebentar kok. Dan lagi, bukankah sebentar lagi kita akan segera jadi keluarga besar?” ucapnya seraya tersenyum ramah. “Benar itu, Karina,” tambah Pieter seraya tersenyum lebar. Entah angin darimana, dan entah apakah dibuat-buat atau tidak, tiba-tiba saja Darren terbatuk-batuk. Persis seperti orang yang sedang asik menikmati makanannya lalu tiba-tiba tersedak sesuatu. Mungkin Darren merasa ‘tersedak’ dengan omongan kedua orangtuanya sendiri. “Kamu kenapa?”  tanya Pieter seraya menatap wajah tampan anak laki-laki satu-satunya itu bingung. Karina menghela napas sejenak. “Aku mau ke kamar mandi dulu,” ucapnya seraya bangkit berdiri dari kursi tempat duduknya. “Aku juga, mau cari ‘angin segar’ dulu,” ucap Darren yang nampak tak bisa mengalihkan pandangannya barang sedetik pun dari wajah cantik Karina. Begitu sampai di dapur, Karina langsung menumpahkan seluruh emosinya. “Ah, dasar sialan!” teriaknya geram seraya meremas rambut tebal nan panjangnya frustrasi. Sebuah suara laki-laki yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba langsung mengagetkan Karina, “Siapa yang sialan, hm?” Begitu menoleh, Karina mendapati Darren, yang sedang berdiri menatapinya dari belakang seraya menyenderkan punggungnya dengan santai di tembok dan melipat kedua tangannya di depan d**a bidangnya. ‘Sial,’ benak Karina kesal. “Mau apa kamu di sini?” tanyanya dengan nada bicara yang terdengar amat sinis. Darren tersenyum ramah, “Hanya mau cari ‘angin segar’. Kalau kamu?” Karina menatap Darren tak suka, “Ck, aku kan sudah bilang tadi kalau aku mau ke kamar mandi.” Darren tersenyum sinis. “Oh, jadi sekarang kamar mandimu jadi satu dengan dapur, ya?” sarkasnya. Karina membalas senyum sinis Darren, “Ck, kamu sendiri? Sudah dapat ‘angin segar’ yang kamu cari?” “Kamu tak perlu bertingkah seperti orang br*ngsek, Karina,” ucap Darren seraya menatap Karina tajam. Karina balik menatap Darren tajam lalu membentaknya, “Aku tak peduli! Dasar cowok arogan!” Bukannya langsung pergi, Darren malah terdiam di tempatnya seraya terus memperhatikan wajah cantik Karina, membuat Karina jadi sedikit salah tingkah dan tak nyaman karenanya. “Sana pergi!” bentak Karina lagi. Bukannya langsung buru-buru angkat kaki dan pergi meninggalkan Karina, Darren malah berjalan perlahan dan bergerak mendekati Karina—tanpa sedetik pun menolehkan pandangannya dari perempuan cantik yang sedang berdiri persis di hadapannya. Karina langsung membuang muka. “Aku .. aku mau ambil gula dulu,” ucapnya yang terlihat semakin kikuk. Karena tubuhnya yang tak seberapa tinggi, Karina yang terlihat tak mampu menggapai pintu lemari dapur tempat setoples gulanya di simpan, malah nampak semakin kikuk nan aneh di mata seorang Darren Leonhardt. “Tak sampai, ya?” goda Darren seraya tersenyum manis. Setelahnya, Darren—yang tubuhnya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Karina—beranjak membuka pintu lemari dapur yang terdapat di hadapan Karina, mengambil setoples gula dari dalam sana lalu memberikannya pada Karina. “Ini,” ucapnya ramah. “Thanks,” ucap Karina dengan wajahnya yang nampak begitu merona padam. Ya, Karina merasa malu dengan dirinya sendiri. Darren lanjut menggoda Karina lagi, “Buat apa mencari gula di dapur? Memangnya hidupmu kurang manis, ya?” Karina langsung menggeleng. “Ah, minggir sana!” ucapnya sebelum akhirnya buru-buru pergi meninggalkan Darren sendirian di dapur. Bukannya merasa kesal, Darren malah tersenyum seraya terus memperhatikan Karina yang mulai berjalan cepat meninggalkannya sendirian. “Semakin kamu menjauhiku, semakin kamu membuatku penasaran, Karina ..,” bisiknya. ♥♥TO BE CONTINUED♥♥
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม