Geulis memandang wanita yang tengah menangis di depan ruang bersalin dengan lekat. Hatinya merasa tercubit saat melihat wanita itu menangis sebegitu hebatnya karena sahabatnya telah pergi untuk selamanya setelah melahirkan bayi perempuannya. Sejujurnya, hal yang paling tak ia sukai ketika membantu seseorang melahirkan adalah melihat kematian yang tampak jelas di depan mata. Ia paling tak bisa melihat baik ibu ataupun bayinya tak selamat. Ia merasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan mereka. Satu tepukan pelan yang mendarat di pundaknya membuat pandangan Geulis segera terputar ke samping. Ia mendapati dokter Andin—dokter yang selalu meminta bantuannya jika ingin melakukan persalinan. Ia sudah menjadi partner kerja tetap dokter satu anak tersebut. "Saya ngerasa bersalah, dok," ucap Geul

