#Telahdirevisi
Author pov.
Seharian ini Aileena hanya berbaring di tempat tidur, sebenarnya dia sudah pulih namun kedua pelayan yang menjaganya tidak mengizinkannya untuk turun dari tempat tidur kecuali ke kamar mandi.
Dokter yang semalam memeriksanya datang kembali mengecek kondisi Aileena, kondisinya memang lebih baik dari semalam, namun Dokter juga menyarankan Aileena untuk istirahat total jika dia masih menginginkan kandungannya selamat, walaupun tanpa di beritahu Aileena juga akan menjaga anaknya dengan baik, namun Aileena mengingat kejadian kemarin, hanya kemarin saja dia berbuat seperti itu, melupakan janinya, dan menyiksa dirinya.
Aileena juga tidak melihat Derian dari pagi, apa yang diharapkan Aileena, bahkan Derianpun tidak perduli dengan keadaannya bagaimana, setelah Dokter pergi dan di kamar hanya ada Aileena dan Mbak rahmi yang menjaganya.
“Apa Derian tau kalau aku sakit?.” Tanya Aileena pada Mbak Rahmi.
“Tuan Derian tidak tau, apa Nona mau memberi tahu Tuan Derian?.” Mbak Rahmi bertanya pada Aileena. Itu adalah kebohongan yang diciptakan Derian, dia tidak ingin Aileena merasa senang Derian memperhatikannya, makanya sebelum dia pergi dia meminta pelayannya untuk diam, seolah olah Derian memang tidak tau jika Aileena sakit.
“Tidak, jangan beri tau Derian, apapun itu.” Aileena tau, hanya sia-sia jika dia memberi tau Derian, toh Derian sama sekali tidak perduli padanya, mau dia mati sekalipun Aileena yakin Derian tidak akan perduli padanya.
Sedangkan Mbak Rahmi hanya diam, dia tidak ingin ikut campur masalah rumah tangga majikannya. Mbak rahmi juga tidak ambil pusing, mereka sudah menikah dan masalah dalam sebuah rumah tangga memang ada, dan itu hal yang wajar.
***
Tadi sore infus Aileena sudah di lepas, Aileena tidak ingin di infus, kondisi tubuhnya sudah membaik, dia juga sudah bosan hanya berbaring di kamar tanpa melakukan apapun. Entah kenapa hari ini terasa lambat utuknya apa ini ada pengaruhnya saat dia sakit?.
Aileena berjalan kedapur sayup sayup dia mendengar Diah salah satu pelayannya sedang berbicara dengan seseorang di telfon.
“Iya Tuan keadaan Nona sudah membaik, Tuan tenang saja, nanti saya akan melapor keadaan Nona kembali.” Aileena tidak tau pelayannya itu sedang menghubungi siapa, namun yang pasti mereka membicarakan tentang kondisi seseorang. Aileena di buat bingung dengan pembicaraan Diah dengan orang itu.
“Saya akan mencari tau, dimana Nona mendapatkan luka di tangannya, Tuan tidak usah mengkawatirkan keadaan Nona, sudah Tuan saya matikan saya tidakut ada orang yang tau” Diah langsung mematikan telfonnya. Sedangkan Aileena langsung bersembunyi di balik dinding.
Aileena tidak jadi kedapur, malam ini dia memilih untuk keluar, Aileena butuh udara segar. Aileena bersiap siap, toh Derian tidak ada di rumah, keluar sebentar tidak masalah.
Menikmati suasana taman kota di malam hari membuat Aileena malah makin menjadi, setiap sudut taman ini banyak pasangan muda mudi ataupun keluarga yang memang menghabiskan waktunya bersama, sedangkan Aileena hanya sendiri.
Aileena memutuskan untuk kembali ke mobil, namun mobilnya tidak ada, dimana supirnya, padahal ponselnya di dalam mobil. Aileena berkeliling mencari mobilnya, dia tau ini sia sia, tapi mencoba lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Aileena sudah mengelilingi taman ini, mencari dimana mobilnya namun dia tidak menemukan, bahkan Aileena sampai ke kantor keamanan, Aileena tau jika ada cctv di setiap sudut taman ini, dan benar saja supirnya itu meninggalkannya setelah Aileena turun dari mobil.
Sekarang dia bagaimana, dia tidak mungkin pulang jalan kaki, baru saja dia pulih masa iya dia harus sakit lagi. Mencari taxi sepertinya bisa, namun Aileena tidak yakin akan ada taxi yang mangkal di taman malam malam begini.
Dari kejauhan Aileena melihat seorang laki laki yang sangat ia kenali, duduk di kap mobil sambil mengutak atik ponselnya, tidak lama seorang perempuan datang menghampirinya, lagi lagi Aileena di buat sakit hati, dua orang itu Derian suaminya dan Elvina adiknya sendiri, sebenarnya apa salahnya hingga dia harus seperti ini, menderita tiada akhir.
Aileena memutuskan untuk jalan kaki, Aileena sudah tidak memperdulikan seberapa jauh rumahnya dengan taman ini, dia sudah cukup lelah, apa lagi hatinya yang sedang terluka. Ingatkan dia utuk menggunakan mobilnya sendiri dari pada membawa supir.
Setelah lelah berjalan Aileena memutuskan untuk istirahat sebentar, namun sepertinya hari ini dia cukup sial, dari kejauhan Aileena dapat melihat segerombolan anak muda sedang mabuk mabukan, Aileena cukup tau apa yang akan terjadi selanjutnya, antara dirinya yang dijadikan mainan atau barang barangnya di ambil, namun barang apa yang Aileena punya, uangpun dia tidak membawa sama sekali.
Aileena kembali melangkah mempercepat langkahnya, saat segerombolan anak muda itu mendekat menghampirinya. Aileena ingin lari namun dia harus berfikir dua kali, dia sedang hamil. Dapat, seorang laki laki menarik tangan Aileena, Aileena hanya diam, dia tidak tau harus berbuat apa.
“Wih, ada Nona cantik?.” Aileena di buat ketidakutan saat orang orang itu menggodanya.
“Tolong lepasin saya.” Aileena mohon, namun mereka semua malah tertawa.
“Kami tidak mungkin melepaskanmu, lagian kamu yang berada di wilayah kami.” Para laki laki itu semakin menjadi.
“Tolong…. Tolong…” Aileena berteriak minta tolong namun tidak ada satupun orang yang lewat, segerombolan anak muda itu hanya tertawa melihat begitu kerasnya Aileena berteriak meminta bantuan.
“Lepasin….. tolong… tolong…” Berkali kali Aileena berteriak minta tolong namun usahanya sia-sia. Kedua tangan Aileena di pegang kanan dan kiri, berontak pun Aileena tidak bisa, Aileena sudah pasrah, jika sampai mereka menodainya maka ia tidak harus hidup.
Jalanan cukup sepi membuat mereka semakin leluasa menggoda Aileena.
Hingga sebuah balok kayu yang menghantam salah satu dari laki laki itu membuat Aileena sedikit lega namun melihat orang orang itu seperti pereman Aileena sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi, keluar dari kandang singa masuk kandang macan sama sama berbahaya.
Gerombolan pemuda yang menggoda Aileena pergi meninggalkan Aileena, mereka kalah melawan pereman itu, setelah belum lepas dari keterkejukan Aileena langsung di seret masuk ke sebuah mobil yang berada di pinggir jalan, Aileena ingin melarikan diri namun suara orang yang di dalam mobil membuat Aileena terpaksa masuk.
“Masuk Aileena.” Jadi Aileena memilih masuk, karena Aileena tau suara siap itu.
Aileena duduk di jok belakang, disebelah orang itu, mobil belum jalan, Aileena hanya menatap ke samping, menatap jendela.
“Apa kamu bosan hidup?.” Tanya orang di sampingnya dengan suara datar namun menakutkan bagi Aileena.
“Maaf,..” Aileena hanya bisa meminta maaf, tapi ini bukan salahnya, salahkan saja supirnya yang meninggalkannya di taman.
“Apa yang kamu lakukan Aileena, kamu selalu berbuat semaumu, apa kamu enggak mikir jika tidak ada orang orang itu kamu mungkin sudah digilir anak anak jalanan itu, apa kamu ingin menjadi jalang hah?.” Derian sungguh tidak percaya apa yang dilakukan istrinya malam malam begini, tadi dia mendapat laporan dari anak buahnya yang mengikuti Aileena ke taman makanya dia menyusul Aileena tapi dia juga bertemu dengan Elvina dan Fatur. Namun beberapa waktu lalu anak buahnya mengabari kalau Aileena sedang di hadang segerombolan anak muda.
“Aku bosan dirumah, makanya aku jalan jalan.” Aileena tidak ingin memperpanjang perdebatan ini namun sepertinya Derian tidak membiarkan Aileena lepas darinya.
“Jalan jalan kamu bilang? Apa kamu gak mikir kalau ini sudah malam?!!. Dengar, mulai malam ini jika kamu ingin keluar maka kamu harus mendapat izin dariku, tapi sepertinya kamu tau jika aku tidak akan mengizinkanmu.” Ucap Derian sambil menahan amarahnya.
“Jadi jangan coba coba keluar dari rumah jika kamu tidak mau mendapat masalah.” Setelahnya Aileena hanya mendengar suara pintu di tutup dengan kencang.
Aileena hanya menangis setelah Derian menutup pintu mobilnya, mobil melaju mereka kembali ke rumah namun Derian dan Aileena tidak satu mobil.
Sesampainya di rumah Aileena langsung masuk kedalam kamar, dia tau ada Elvina dan Fatur namun Aileena sudah cukup lelah dengan menangis sedari tadi.
Di dalam kamar Aileena lagi lagi menangis, tega teganya suaminya berkata seperti itu, apa Derian tidak sadar jika Aileena hanya melakukan itu bersamanya, jalang, apa dia terlihat seperti jalang? Aileena terlelap dengan air mata membasahi pipinya.