DB-2-Ketemu di Jalan, Takdir atau Kebetulan

2516 คำ
Malam ini adalah Sabtu malam, kalau kata orang-orang sih, malam Minggu. Akan tetapi, gue lebih suka dengan sebutan 'Sabtu Malam'. Sabtu malam gue dihabiskan dengan kencan bersama benda berbentuk kotak berwarna pink pastel yang sering disebut sebagai laptop. Fokus mata gue terpusat pada layar laptop yang makin lama makin bikin mata gue berair. "Ilalang adalah satu tumbuhan liar yang tersebar luas di Indonesia. Selain pertumbuhannya yang terbilang cepat, tumbuhan ini juga tidak memerlukan perawatan khusus agar tetap hidup," Mata gue menyipit saat membaca paragraf pertama dari Bab I prosposal penelitian gue. Pasalnya di sepanjang paragraf entah kenapa diwarnai kuning oleh si pak dosbing gue. Siapa lagi kalau bukan Pak Gala, si lelaki batu berwajah kaku dan beraura mistis tis tis. Bahkan revisiannyapun sangat sangat mistis. Dia hanya mewarnai sepanjang paragraf dengan note, "perbaiki kerangka tulisan". What?!!! Maksudnya kerangka tulisan gue salah total? Semua yang gue ketik di paragraf ini salah, gitu? Yang benar saja! Menghela napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan. Alangkah baiknya jika pak Gala yang terhormat itu menuliskan kutipan seperti, "Pengertian Ilalang tidak seharusnya menjadi kalimat pembuka dan berada di awal paragraf. Atau, bahaslah mengenai permasalahan energi dulu, baru ke Ilalang." Tapi sepertinya itu bukan dia banget deh. Maksud gue, mana mau si pria batu nan kaku itu menuliskan kutipan panjang dan sedetail itu? Sampai berat badan gue turun sepuluh kilopun, dia gak akan melakukan hal semacam itu. Tiba-tiba saja mood gue anjlok, terjun bebas tanpa parasut. Gue gak tahu musti merevisi proposal gue menjadi seperti apa dan mulai dari mana. Pasalnya, setelah gue baca hampir seluruh halaman di BAB I proposal gue, dia warnai kuning semuanya. Semuanya dong! Gak ngerti lagi gue. Gue tutup layar laptop gue dengan sedikit kuat-karena kalau kuat banget, bisa-bisa laptop gue retak seribu. Lalu, merebahkan tubuh gue ke kasur yang dibalut sprei berwarna biru dongker. Memejamkan mata gue selama sepersekian detik, lalu gue bangkit karena teringat sesuatu. Makanan. Gue ingat makanan. Saat-saat strong(stress tak tertolong) gini, gue akan memilih makan dari pada memikirkan revisian yang tak tahu apa yang harus gue revisi. Alhamdulillah, sore tadi gue sempat masak tumis kangkung dan ikan nila goreng. Sebelum beranjak ke dapur mini kontrakan, gue putuskan untuk membuka kembali layar laptop gue. Pasalnya, saking kesalnya tadi, gue jadi lupa buat klik shutdown dan save file revisi gue dengan benar. Yah, meski yg gue revisi barusan cuman sekadar typo yang gak seberapa. Tapi lumayanlah. Setelah selesai dengan laptop dan meletakkannya di atas nakas, gue beranjak ke luar kamar dan melangkah beberapa langkah ke dapur. Meraih piring berwarna silver yang berada di raknya dengan tangan kanan. Gue beralih membuka rice cooker berukuran mini dengan paduan warna biru putih. Membubuhkan satu centong nasi ke dalam piring dan menutup kembali rice cooker dengan pelan. Biasanya gue akan makan berdua bersama Pony, sahabat gue. Tapi, karena ini malam Minggu-eh Sabtu malam maksdunya, jadinya gue sendirian di kontrakkan. Pony bukan anak kontrakkan, dia anak kadung dari mami dan papinya. Bukan! Maksud gue dia tinggal di rumah orang tuanya. Hanya saja, hampir setiap malamnya selama semester akhir ini, itu anak akan hijrah ke kontrakkan gue. Membawa cemilan berupa makanan ringan, sampai makanan berat ke sini dan lengkap dengan tas yang berisi laptop yang di mana di dalam laptopnya itu, terdapat file revisi proposal dengan nama yang unik dan ngakak-able bagi gue. Setelah mengambil tumis dan satu potongan besar ikan nila goreng, gue kembali melangkah ke kamar. Mendaratkan p****t gue di kursi yang terbuat dari rotan yang menghadap nakas. Sebelum makan, gue alihkan laptop gue ke dalam tas ransel berwarna biru dongker yang gue letakkan di lantai dekat lemari. Ah iya! Kembali ke nama file Pony yang unik dan ngakak-able. File proposal Pony yang tertera di urutan yang paling atas, yaitu dengan nama : 1. Proposal bismillah Acc! 2. Proposal bismillah Allahuakbar Acc! 3. Proposal bismillah Acc Yaa Allah Gue masih ingat banget saat itu Pony cerita sama gue, kalau file ketiga yang dia buat itu dengan derai air mata dan duka yang melanda. Pasalnya, setiap kali dia melakukan bimbingan di prodi, pasti ia akan ke luar dengan membawa kerta yang penuh dengan coretan. Coretan yang bahkan lebih banyak dari revisian sebelumnya. "Lo tau gak, Al?-" tanya Pony saat itu dengan menggebu-gebu. "Enggak!" jawab gue cepat seraya mengunyah makanan ringan di tangan gue. "Gue belom selesai, Marimas! Dengerin dulu makanya," protesnya dengan gemas. Gue hanya terkikik seraya mengangguk-anggukan kepala. "Entah ini kutukan atau apa, tapi tiap kali gue bimbingan, itu pak Asep selalu aja ngasih revisi yang berbeda-beda," keluhnya yang menjadi terjeda karena lagi-lagi Pony harus menghirup oksigen lebih banyak untuk menceritakan kisah naasnya. "Bentar! Lo gak boleh bilang kutuan Pon! Walau kepala pak Asep suka gatal-gatal, bukan berarti beliau kutuan. Bisa jadi karena ketombe-," belum selesai gue menjabarkan nasihat singkat gue, Pony udah menepuk jidat gue yang lebar dengan cukup kuat seraya ber-istighfar ria. "Astaghfirullah Alina! Sejak kapan lo jadi Haji bolot, hah?!" pekiknya frustrasi sambil menggelenkan kepala. Gue mengerutkan kening tanda tak mengerti. "Lo kok jadi budek sih! Gue tadi bilang, ku-tuk-an! KUTUKAN ALINA! KUTUKAN! Bukan KUTUAN!" d**a Pony naik turun seraya napasnya gak teratur karena terlalu semangat meneriaki gue, saking semangatnya ngalah-ngalahin orator demo yang sedang meminta keadilan pada petinggi negeri berflower. "Ok, kutuan-eh! Kutukan. Anggap aja itu kutukan buat elo, yang gak mau hijrah dari penyuka bakso menjadi penyuka mie ayam kayak gue." Pony malah mendengkus kuat seraya mengelus d**a dengan mulut yang komat kamit. "Udah ah! Males gue curcol sama lo Al! Yang ada tensi darah gue naik drastis, terus struk. Astaghfirullah! Astaghfirullah!" Malam itu, gue dan Pony habiskan untuk meratapi nasib kami masing-masing. Gue yang kesal karena hari itu kertas proposal gue dicorat-coret abis dengan pena merah oleh Mr.G yang tak berperi-kemahasiswaan. Lalu Pony yang merana meratapi kelabilan Pak Asep dalam merevisi proposalnya. Tanpa sadar, gue sudah menghabiskan satu piring nasi dengan tumis dan ikan goreng yang sudah tak tersisa sedikitpun, kecuali tulang punggung si ikannya saja. Eh, sebentar! Tulang punggung ikan, yang mananya ya? Ah, lupakan! Sebab, sejurus kemudian ponsel gue berdering dan bergetar, namun entah di mana dia sekarang berada. Tidak ada di atas kasur. Tidak juga di atas nakas. Lalu, di atas lemari pakaian juga tidak ada. Gue mulai cemas. Gue beranjak dari kursi dan melangkah ke dapur, dan suara deringan serta getaran dari ponsel gue makin terdengar keras. Meletakkan piring kotor ke dalam sebuah baskom berukuran sedang, lalu gue mencuci tangan dengan baik dan benar sesuai anjuran ahli kesehatan, dengan menggunakan sabun cair untuk mandi. Biar hemat. Sabun mandi bisa buat cuci tangan, cuci muka dan cuci piring-eh enggak gitu sih. Cuma buat cuci tangan saja. Setelah selesai, gue mempertajam indera keenam gue-eh bukan! Maksudnya indera pendengaran gue agar lebih tajam. Pasalnya suara ponsel gue tadi terasa begitu dekat dari posisi gue yang kini berdiri di depan wastafel. Jangan bilang kalau benda pipih itu tanpa sengaja gue taruh di dalam rice cooker?!! Sontak gue langsung melesat mendekati rice cooker dan membukanya dengan cepat. Sedetik kemudian, gue bertasyakur ria seraya mengehala napas panjang. Syukurlah, ponsel gue gak ada di sana. Kalau iya?! Sudah pasti ponsel gue kepanasan dan besoknya dia bakalan demam. Gue berusaha berpikir keras mengingat-ingat di mana benda berbentuk persegi itu, gue taruh. Seingat gue terakhor gue bawa ponsel itu.... pas mau makan? Ah entahlah. Tapi yang pasti ponsel gue berbunyi dan bergetar di sekitar sini. Buru-buru gue buka segala sesuatu yang kemungkinan beradanya ponsel gue. Mulai dari tudung makanan di meja makan, sampai gue teringat pada lemari pendingin. Ya! Hanya lemari pendingin yang belum gue buka. Drrrrtttttt!!! Saat getaran susulan itu datang tepat di hadapan gue. Suaranya berasal dari dalam lemari pendingin. Allahu Akbar! Gue benar benar gak habis pikir. Kenapa gue bisa selupa ini. Benar saja, ponsel gue benar benar berada di dalam lemari pendingin. Tepat di pinggiran pintunya. Tergeletak tak berdaya dan dalam keadaan kedinginan. Dengan rasa bersalah, gue raih benda pipih itu dan membawanya ke dalam pelukan gue. Memberikannya kehangatan. Gue usap-usap layarnya dengan ujung kaus yang gue pakai, dengan pelan dan hati hati. "Kasian kamu, pasti kedinginan dan hampir beku," lirih gue seraya mengusap layarnya ke kanan dan ke kiri.. Ke kiri.. Terdapat satu panggilan tak terjawab dari Pony dan dua panggilan tak terjawab dari Mama. Gue memutuskan untuk kembali ke kamar lebih dulu, dan mendaratkan tubuh gue di kasur yang empuk dan bawaannya pengen tidur langsung. Gimana gue gak gendut coba?! Hadeuh! Gue coba buat telepon mama balik, namun tak diangkat. Sepertinya mama sudah tidur atau ketiduran karena menunggu panggilan dari gue. Akhirnya gue putuskan untuk mengirimkan pesan singkat yang berisi kalimat bahwa, gue di sini baik-baik saja dan mama papa gak perlu khawatir. Sejurus kemudian, ponsel gue tiba-tiba begetar kembali dan menapilkan ID caller Pony. Gue mengucapkan salam setelah menggesel panel hijau itu ke kanan. "Iyo Pon?" tanya gue sesaat setelah Pony menjawab salam gue. "Apa?!" Gue reflek berteriak. Pasalnya, Pony bilang ia sedang di warung pecel lele di dekat kampus. Sahabat gue itu terisak saat mengatakan hal itu barusan. Entah apa yang terjadi, yang pasti gue langsung bergegas menyambar hoodie berwarna abu-abu yang tergantung bebas di dekat lemari pakaian. Mengenakan khimar instan berwarna cokelat dan dengan baju tidur bunga bunga. Gue sudah sangat mirip kayak jemuran berjalan kalau seperti ini. Gue bergegas mengunci pintu dan melangkah dengan cepat bahkan setengah berlari untuk segera mencapai warung pecel lele yang Pony maksud. Jaraknya cukup dekat dari kontrakan gue. Lima menit kemudian, gue sampai dan sibuk menyapukan pandangan gue di setiap sudut warung. Pandangan gue berhenti pada sosok yang gak asing di mata gue yang kini tengah tertunduk lemah di kursi plastik yang menghadap meja kecil yang terdapat satu gelas air mineral. "Pony! Lo kenapa? Kasih tau sama gue! Siapa yang udah bikin lo kayak gini!" Bukannya memjawab pertanyaan gue, Pony malah semakin terisak dan berhambur memeluk gue. "Gu-Gue tidur di kontrakan e-lo ya?" pintanya dengan tersendat sendat karena sedang menangis. Gue gak punya pilihan selain mengangguk dan menuntunnya untuk pergi dari sana setelah membayar air mineral yang tadi sahabat gue minum. Di tengah perjalanan, Pony hanya diam seraya mencoba menahan isakannya. Wajahnya sudah basah karena air mata yang tak henti-hentunya ke luar dari kedua sudut matanya. Sementara itu, gue hanya bisa menepuk nepuk pundahnya pelan seraya menenangkan. Lalu, tak lama setelah itu, sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di sisi kanan jalan yang kami lalui saat ini. Disusul dengan seorang laki-laki yang turun dari sana dan melangkah terburu-buru menghampiri kami. "Put, jangan kayak gini ya. Gue masih sayang banget sama lo," mohon lelaki itu dengan lirirh seraya menggenggam tangan Pony dengan erat. Sedangkan empunya, hanya bisa terisak dan bergetar menahan tangisan yang tak terbendung. Kenapa mereka malah melakukan adegan sweet di depan gue gini, sih?! Mereka mau bikin gue inget predikat jomlo gue, apa gimana. Saat melirik tangan Pony yang digenggam erat oleh Rion, gue mendesis seraya menjauhkan tangan lelaki itu. "Al! Bantuin gue dong! Bujuk sahabat lo, buat enggak mutusin hubungan kami yang sudah terjalin selama ini. Lo tau kan, kalau gue sayang banget sama dia," rengek Rion, lelaki alay berwajah seribu dengan muka memelasnya. Cih! Dia kira gue gak tahu, kalau selama ini dia gak cuma pacarin Pony? "Gue kasih tahu, ya On! Yang namanya cinta, itu gak bisa dipaksakan! Kalau memeang Pony udah gak cinta sama lo, ya jangan lo paksain buat lanjutin hubungan! Sebab, itu hanya akan menyiksa dan menyakiti lo berdua. Jadi, gue minta lo pulang! Gue akan nenangin Pony, dan sebaiknya jangan hubungin Pony dalam waktu dekat ini." Bersamaan dengan itu, tiba - tiba saja sebuah bunyi klakson mobil membuat kami terperanjat kaget. Seseorang terlihat turun dari sebuah mobil berwarna putih. Lelaki bertubuh tegap dan atletis. Serta aura positif seolah datang bersamanya. Lelaki itu berjalan ke arah kami dengan cepat. Lalu, sedetik kemudian, gue menyesal karena sudah mengatakan kalau lelaki ini beraura positif. Pasalnya, dia adalah pria batu dengan wajah kaku serta aura mistis. Entah apa yang membuatnya melintas di sini. "Kalian tidak lihat, jalanan ini sempit? Kenapa malah ngobrol di pinggir jalan seperti ini?" Suaranya khas sekali. Terdengar berat dan menyebalkan. Rion yang menyadari kalau pria batu itu, adalah seorang dosen yang mengajar di prodi Kimia, buru-buru menyalaminya dan mengatakan selamat malam sebagai basa-basi. "Kamu mau sampai kapan di sini?" tanyanya pada Rion, dan lelaki itu dengan cepat berpamitan pada kami setelah mengatakan kata 'maaf' pada Pony. Ingin sekali aku melayangkan bogem mentahku pada buaya putih berselimut bulu kucing itu. Aku sudah menduga kalau Pony mengetahui sesuatu. Setelah kepergian Rion, tiba-tiba saja suasana hening seketika. Pria berwajah kaku di hadapanku saat ini hanya menatapku dengan ekspresi yang tak bisa ku artikan. Lega, khawatir, atau cemas? Entahlah kenapa ketiga kata itu menjadi opsi. Padahal untuk apa juga dia mengakhawatirkanku? Sangat tidak masuk akal. ====== Malam sudah semakin pekat dengan keheningan menjadi satu-satu teman. Pony sudah tertidur dengan pulas setelah menceritakan detail cerita perpisahannya dengan Rion si bawang busuk, sang mantan. Lalu, tiba-tiba saja gue teringat wajah si pria batu itu dan kata terakhir yang ia ucapkan sebelum kami akhirnya berpisah di jalan dekat warung Bude Lasmi. "Hati-hati" kata hati-hati entah kenapa menjadi tak biasa, saat yang mengucapkannya adalah si Mr.G. entah karena ia yang selama ini kaku dan dingin, makanya jadi aneh. Atau karena ini pertama kalinya ia mengucapkan kalimat itu. Ah, entahlah! Kenapa juga gue ngingat ngingat itu orang sih! Pekik hati kecil gue tak terima. Meskipun gue kepikiran, tapi gue gak boleh kebawa perasaan. Eaak! Entah kenapa gue gak bisa tidur dan iseng meraih ponsel dan mengusap layarnya dengan pelan. Seketika menampilkan home screen denga walpaper laboratorium dengan gue yang lagi berdiri sambil memegang kertas yang bertuliskan kalimat semangat. "Lo pasti bisa Al!" "Semangat S.Si!" "Pantang menyerah sebelum Wiss-udah!" "Nikah setelah wisuda!" Kalau kalimat yang ini bukan gue yang bikin. Gue terkekeh pelan seraya menatap tulisan itu. Gue masih ingat kalau Pony yang iseng nambahin kalimat "Nikah setelah wisuda." Dipikir nikah itu cuma enak-enak aja?! Gue mana mau nikah secepat itu. Bukannya gue gak mau nikah nih ya. Tapi, yang namanya nikah, itu, ibadah jangka panjang. Butuh persiapan yang matang. Gak hanya tentang kesiapan mental dan pikiran tetapi juga kesipan ilmu dan finansial. Lalu, tiba-tiba saja ada satu notifikasi i********: yang masuk dan tertampil di poup up ponsel gue. @gala_00 menyukai foto anda. Kening gue berkerut saat membaca notifikasi tersebut. Jangan bilang kalau akun @gala_00 ini adalah Gala yang sama dengan dosbing gue, si pria batu berwajah kaku?! Hahahha! Gue tertawa tertahan karena mengingat ini sudah malam. Sepertinya gue harus tidur agar pikiran gue gak mikirin yang aneh-aneh termasuk memikiran pak Gala. "Yang benar saja Alina!!! Mana mungkin pria itu bermain i********: dan dengan bodohnya mentap love postingan lo!!" Gue menggelengkan kepala kuat seraya mematikan kembali layar ponsel gue dan meletakkannya di atas nakas. Jumat kemarin gue benar-benar kelelahan dan bermandikan kekesalan yang membuncah karena acara bimbingan yang harus dicancel menjadi Senin nanti. Besok adalah hari Ahad, gue harus joging dan berolahraga untuk mengurangi strees dan penuaan dini. ======
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม