Airyn membuka matanya secara perlahan. Silau matahari yang menembus gorden dan menerpa wajahnya, membuat tidur lelapnya tentu saja terusik dan akhirnya, matanya yang enggan terbuka, harus menjemput sinar matahari yang menyambut paginya dengan ucapan selamat. Senyum di bibir Airyn merekah, kala pemandangan yang dia lihat pertama kali saat membuka mata adalah wajah damai Arvyn yang sedang terlelap--di depan matanya. Tangan Airyn terangkat dan mengusap wajah Arvyn dengan pelan. Dia ingin membuktikan, jika semua yang terjadi tadi malam adalah nyata. Bukanlah sebuah mimpi atau bunga tidur saja. “Sayang?” Suara serak Arvyn terdengar seiring mata tajamnya yang terbuka. Bibir tipis Arvyn pun terangkat membentuk sebuah senyuman. Sangat jelas terlihat bagaimana berbinarnya wajah pria itu seka

