Heru galau akut. Sejak keluar dari kedai ramalan itu, dia lebih banyak melamun. Chiko dan Gigih jadi kelimpungan. Chiko curiga, Gigih ingin tahu. Jadi mereka mencoba menginterogasi Heru sebisa mungkin. Ketika ada kesempatan mereka bertiga, Chiko siap mengadili. "Jadi, ceritakan!" Chiko melotot ganas. Gigih mengangguk. Heru hanya duduk lesu. Matanya berkaca-kaca. Lebay, ah, Ru! Masa hanya gara-gara ramalan begitu kamu jadi baper dan nggak jelas begitu? "Ada apa, Ru?" Chiko kembali menginterogasi. Heru menghela napas berat. "Tadi aku baru dari kedai ramalan, Ko." Chiko melongo. "Kamu percaya gituan? Biasanya kamu agak bandel sama yang kayak gitu..." Heru menggeleng. "Entah kenapa kali ini aku bisa percaya, Ko. Mungkin ini yang disebut dengan chemistry. Aku baper pas wanita itu

