Chapter 7 - Penerima Kejutan yang Tidak Tepat

2060 คำ
Tentu saja Kalula merasa cemburu. Sepanjang sejarah dia jadi seorang perawat, hampir tidak pernah dia berjumpa dengan seorang wanita yang datang ke dokter kandungan tidak bersama dengan suami atau keluarganya. Walaupun dia tahu kalau Henry memang ditugaskan oleh Dennis, dan toh Tamara juga tidak sedang mengandung, namun hatinya tetap merasa jengkel. “Aku baru tahu kalau menemani istri CEO periksa kandungan adalah salah satu tugas dari seorang HR legal,” ucap Kalula sarkas. Selepas Tamara pergi, Kalula langsung mengajak Henry untuk bicara empat mata dulu sebentar. “Aku juga bingung, sayang, tapi mana mungkin aku menolak permintaan Dennis?” tegas Henry. “Dennis sudah mempercayai Tamara padaku, jadi aku tak boleh menyia-nyiakan kepercayaannya.” Kalula terdiam sejenak. Dia baru ingat kalau hari ini Henry memang belum mulai masuk kerja di kantornya yang baru itu. “Apa karena kamu belum masuk kantor juga, makanya Dennis yang menyuruhmu menemani Tamara?” tanyanya sambil menerka-nerka. “Benar,” ucap Henry seraya mengangguk. Kebohongannya berjalan lancar sekali. “Kalau aku sudah mulai masuk kantor, aku mana mungkin punya waktu untuk mengerjakan hal semacam ini?” imbuhnya. Kalula tersenyum, “Maaf, aku sudah curiga denganmu.” Henry membalas senyum tunangannya. “Mau makan siang bersama?” ajaknya. Kalula menggeleng. “Kalau sekarang tidak bisa, sayang. Soalnya habis ini aku masih harus balik ke rumah sakit,” tolaknya. Henry mendengus kesal. Kalula memang masih memakai pakaian ala perawat rumah sakit, jadi kemungkinan besar ucapannya tadi benar adanya. Dia masih harus kerja. Dan lagi-lagi, dia tak punya waktu untuk Henry. Lelaki bertubuh tinggi itu mulai merasa lelah. Sampai kapan dia harus memohon cinta dan perhatian dari kekasihnya? “Sesibuk itukah kamu sampai tidak punya waktu barang setengah jam saja untuk makan siang denganku?” protes Henry. “Kalau aku sudah mulai kerja kantoran lagi, mana mungkin kita ada waktu untuk makan siang bersama?” “Habis mau bagaimana lagi, sayang?” tutur Kalula pasrah. “Kamu tahu ‘kan kalau sekarang virus itu sedang mewabah di mana-mana? Sebagai tenaga kesehatan yang baik, sudah sepantasnya aku mengerahkan tenagaku untuk melayani masyarakat yang sakit.” Bibir Henry tak mampu berucap lagi. Dia sudah kehabisan kata-kata, dan apalah dirinya, yang tak mampu mengubah keadaan. “Baiklah. Jangan lupa makan dan jaga kesehatanmu,” pesannya dengan raut agak datar. “Kamu juga, sayang.” Kalula lalu beranjak mengecup pipi kanan Henry. “Aku akan curi-curi waktu luang. Aku janji padamu,” sambungnya. Henry hanya mengangguk dengan senyumnya yang samar. ***** Setelah tahu kalau malam terlarang itu tak sampai menghasilkan buah cinta yang tak diinginkan, Henry dan Tamara akhirnya memutuskan untuk melanjutkan hidupnya masing-masing. Keduanya mencoba bersikeras untuk melupakan kejadian itu. Menganggapnya sebagai sesuatu yang tak pernah ada.  Namun tanpa keduanya sadari, malam terlarang itu sudah terlanjur menancap dalam otak masing-masing. Demi melupakan ‘kenangan buruk’ yang dia lalui bersama dengan Henry, hari ini Tamara berniat untuk merekatkan hubungan asmaranya dengan Dennis. Dia hendak membawakan sekaligus membuatkan Dennis bekal makan siang. Pagi tadi Tamara memang tak sempat bicara ataupun membuatkan Dennis sarapan dikarenakan dia masih terlelap tidur. Saat dia bangun, tahu-tahu Dennis sudah berangkat ke kantor duluan.  Maka dari itu, siang ini Tamara berniat mendatangi gedung Voyage Industries. Dan dia tidak peduli soal Henry yang juga kerja di salah satu perusahaan tersukses di dunia itu. Toh yang mau dia temui suaminya, bukan mantan cinta satu malamnya. Lagipula belum tentu juga Tamara akan berjumpa dengan Henry. Ketika Tamara tiba di ruang CEO, dia mendapati Dennis sedang tidak sendirian, melainkan sedang berbincang bersama dengan seorang kolega kerjanya. Laki-laki, usianya kira-kira dua puluhan akhir, sama seperti Dennis. Wajah keduanya nampak kusut. Beberapa lembar dokumen berceceran di atas meja kerja, bersamaan dengan dua buah laptop yang tengah menyala. “Hai, sayang,” sapa Dennis saat dia melihat kedatangan Tamara. Senyumnya tidak selebar biasanya. “Hai,” sahut Tamara. Dennis beralih bicara pada kolega kerjanya. “Kita rehat dulu sepuluh menit,” perintahnya sembari merapihkan seluruh dokumen yang berantakan di atas meja kerjanya. Kolega kerja Dennis hanya mengangguk. Dia lanjut pamitan pada Tamara, “Saya permisi dulu.” Dennis lalu meminta Tamara untuk duduk di atas pangkuannya. Sangkinan terlalu hectic dengan kerjaannya, Dennis sampai tak menyadari kalau Tamara datang sambil menenteng dua buah boks makan siang, yang dia simpan di dalam goodie bag serut warna merah muda. Dia baru menyadarinya usai Tamara meletakkan goodie bag tersebut ke atas meja. “Kok kamu tidak bilang-bilang padaku kalau mau datang ke kantor?” tanya Dennis. Tamara tersenyum seraya mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya. “Sengaja. Aku mau memberikanmu kejutan,” tuturnya. “Aku membuatkanmu bekal makan siang, sayang. Kamu pasti lapar dan belum makan, kan?” Dennis menatap sekilas goodie bag serut tersebut. “Ah,” gumamnya. “Bukannya aku tak mau makan bekal buatanmu, sayang, tapi aku sudah makan barusan.” “Kamu makan siang lebih awal?” tanya Tamara. Terkejut sekaligus kecewa. Padahal dia sudah dengan sepenuh hati membuatkan bekal itu untuk Dennis. Dennis mengangguk, “Iya, sayang.” Dia meraih tangan kanan Tamara lalu mengecup punggung tangannya, “Maaf.” “Ya sudah, bekalnya disimpan saja buat dimakan nanti.” Dennis menggeleng dengan dahi mengerut. “Jangan, aku sudah tidak punya waktu lagi buat istirahat makan,” tukasnya. “Habis ini aku ada meeting penting dengan kolegaku. Perusahaan sedang mengalami kerugian karena ada satu orang dari tim finance yang melakukan tindak korupsi.” Jadi karena itu Dennis dan kolega kerjanya tadi kelihatan murung, pikir Tamara. Dia baru saja mau menawari Dennis untuk mencicipi sedikit saja bekal buatannya, namun Dennis sudah keburu angkat bicara duluan. “Lebih baik kamu makan sendiri saja,” sambung Dennis. “Kalau makanannya ditinggal di sini, takutnya basi. Nanti yang ada malah tidak kemakan sama sekali. ‘Kan sayang.” “Baiklah,” tutur Tamara getir. Seseorang mengetuk pintu ruangan CEO selang beberapa detik kemudian. Tamara begitu kaget saat dia melihat kalau Henry yang datang. “Permisi,” sapanya.  Dennis tersenyum lebar. “Ah, kebetulan ada Henry. Kamu kasih bekal makan siangnya buat dia saja,” sarannya pada Tamara. “Bekal makan siang apa?” tanya Henry, pura-pura tak tahu, kelar dia meletakkan sebuah map plastik berisi dokumen legal permintaan Dennis ke atas meja. “Istriku buat bekal makan siang. Tapi aku sudah makan dan harus pergi ke ruang meeting sekarang, jadi kamu saja yang makan, ya?” jawab Dennis. Dia lalu mengecup pipi kanan Tamara, “Sampai jumpa nanti, sayang.” Dia beranjak dari kursi dan dengan cepat mengambil seluruh lembaran kertas-kertas tersebut. Dennis lanjut bicara kembali pada Henry sebelum keluar dari ruang kerja pribadinya, “Nanti kupanggil lagi kalau aku perlu bantuan.” “Oke,” tutur Henry dengan senyum lebarnya, yang berubah jadi sebuah seringai saat dia menatap Tamara kembali. “Hm, harusnya suamimu sadar ‘kan kalau dia meninggalkan istrinya yang cantik ini berduaan saja dengan kolega kerjanya di sini?” tanyanya separo bercanda. Tamara terduduk dengan lemas di kursi kerja Dennis. Dia menghela nafas panjang. “Pasti Dennis lagi banyak pikiran,” tuturnya. Henry mengangguk, “Anak finance ada yang ketahuan makan uang perusahaan. Kalau sudah menyangkut soal uang, siapa juga yang tidak akan sakit kepala?” Dia lalu memalingkan pandangannya pada goodie bag serut tersebut. “Jadi …,” timpal Henry sambil memegangi goodie bag yang ternyata suhunya hangat itu. “… apa aku boleh menyantap bekal makan siang buatanmu, Nona Tamara?” “Kita makan di kafetaria saja.” Henry dan Tamara lalu bertandang menuju kafetaria gedung Voyage Industries, yang letaknya ada di lower ground gedung pencakar langit setinggi tiga puluh lima lantai tersebut. Keduanya duduk di kursi yang letaknya paling belakang dan paling pojok. Sengaja, biar tidak ada mata-mata iseng yang menganggap kalau keduanya tengah bermain api. Padahal kafetaria itu juga sedang sepi pengunjung. Demi menghormati si pengelola kafetaria, Tamara memesan satu gelas iced matcha latte. Dia tidak banyak bicara, dan lebih memilih untuk memainkan ponselnya selagi menunggu Henry menghabiskan bekal makan siang buatannya dan mengembalikan kotak bekalnya. “Kamu tidak mau coba?” tawar Henry. Tamara menggeleng. “Tidak, terima kasih,” tolaknya, yang masih sibuk menatapi layar ponselnya. “Hmm rasanya hambar,” komentar Henry usai memakan bekal buatan Tamara. “Untung Dennis tidak jadi memakannya.” Barulah Tamara mau menatap balik mata lawan bicaranya. “Masa sih?” ucapnya tak percaya. Diambilnya sendok itu dari Henry dan dicobanya bekal buatannya. “Rasanya pas kok?” tukasnya. Henry tersenyum, “Mau saja kubohongi.” Dia lanjut bicara, “Habisnya kalau tidak kubohongi, kamu mana mau mencicipi makanan buatanmu sendiri, hm?”   Tamara tak merespon. “Padahal masakanmu ini rasanya enak,” sambung Henry seraya memperhatikan bekal buatan Tamara. “Kalau aku jadi Dennis, aku akan tetap memakannya walau cuma sesendok. Lanjut kerja sambil makan bekal buatan istri tidak ada salahnya, kan?” “Mungkin dia tidak akan konsentrasi kalau harus kerja sambil mengunyah makanan.” “Yeah, mungkin,” tutur Henry seraya menaikkan kedua bahunya. “Terima kasih. Berkat kamu, aku jadi tidak usah keluar uang buat beli makan siang.” “Hm, sama-sama,” gumam Tamara acuh tak acuh. “Miris sekali,” ucap Henry getir. “Padahal kemarin aku minta Kalula untuk makan siang denganku, tapi dia menolak. Terus sekarang, aku malah makan siang denganmu. Kadang hidup itu memang aneh.” Tamara terdiam sejenak. “Kemarin setelah aku pergi, apa Kalula ada bicara sesuatu padamu?” tanyanya dengan suara pelan. “Dia cemburu melihatku mengantarmu ke dokter kandungan,” jawab Henry serius. “Benarkah? Terus?” “Aku sudah pastikan padanya kalau kemarin itu aku cuma disuruh oleh Dennis.” “Dan dia percaya?” Henry hanya mengangguk. “Tapi … hubungan kalian baik-baik saja, kan?” tanya Tamara khawatir. “Sejauh ini, iya.” Gantian Henry yang bertanya, “Bagaimana dengan pernikahanmu dan Dennis?” Dahi mulus Tamara seketika mengerut. “Apa maksud pertanyaanmu?” makinya geram. “Tentu saja pernikahan kami baik-baik saja!” “Aku cuma bertanya kok. Kenapa galak sekali, hm?” “Cepat habiskan makanannya. Aku mau pulang.” “Kamu jauh-jauh datang ke kantor cuma untuk memberiku bekal makan siang?” goda Henry. “Oh, Nona Tamara, aku tak sangka ternyata kamu tipe wanita seromantis ini.” “Cepat habiskan atau aku tinggal?” Dan setelah itu, Henry dan Tamara sama sekali tidak bicara lagi. Tepat usai Henry menghabiskan bekal makan siang buatan Tamara, seorang kolega kerja memangilnya. Mereka butuh bantuan HR legal sekarang juga. Tamara pergi dari gedung Voyage Industries setelahnya. Dia hanya berpamitan pada Henry, tapi tidak dengan Dennis. ***** Tamara tiba di rumahnya kembali kira-kira pukul setengah dua siang. Begitu sampai, dia langsung merebahkan tubuhnya ke atas sofa. Diletakkannya goodie bag serut serta handbag-nya ke atas meja kaca. Dilepasnya dengan malas high heels warna hitamnya. Heran, dia jadi merasa gampang capek dan lelah. Padahal sudah terbukti jelas kalau dirinya tidak sedang mengandung.  Apakah kelelahan yang selama ini dia alami adalah efek dari tekanan psikologisnya? Ataukah efek karena mimpi buruk, yang acap kali membuat Tamara jadi kepikiran hingga kesulitan tidur? Tamara menghela nafas dalam-dalam. Dia menutup sepasang maniknya rapat-rapat. Selang setengah jam terpejam, Tamara akhirnya benar-benar jatuh terlelap. Ketika dia membuka kedua matanya kembali, dia sadar kalau dirinya tengah bermimpi. Tamara berdiri sendirian di sebuah ruangan yang cahayanya remang-remang. Lantai dan temboknya terbuat dari batu. Interiornya mengingatkan dirinya akan gaya interior di akhir abad ke-18. Dia lalu melihat sebuah pintu keluar, yang terbuat dari kayu jati tebal, lalu dibukanya pintu tersebut dengan pelan. Ternyata Tamara sedang berada di sebuah kastil tua. Hawanya dingin nan mencekam. Saat dia membuka pintu tersebut, dia melihat dari kejauhan ada sesosok laki-laki yang tengah berdiri di ujung lorong kastil. Laki-laki yang sama, yang juga dijumpainya dalam mimpi sebelumnya. Tamara mencoba sekuat tenaga memanggil laki-laki itu. Namun sayang, pita suaranya menolak untuk mengikuti permintaannya. Dia lalu mencoba untuk mendekati laki-laki itu, tetapi kakinya juga tak mampu dia gerakkan. Tubuhnya kaku. Seakan-akan pergelangan kakinya sedang menancap jauh ke dalam tanah. Dia lalu mendengar langkah kaki, yang berasal dari ruangan yang sama tempatnya keluar tadi. Langkah kaki itu makin mendekat, dan saat Tamara menoleh, dia melihat ada sosok laki-laki lain yang wajahnya juga terlihat samar. Laki-laki itu hanya bergerak melewati Tamara begitu saja, menganggapnya seakan-akan tidak ada. Laki-laki itu lalu mengeluarkan sebuah pistol, yang dia simpan di dalam saku celananya. Digunakannya pistol itu untuk menembak kepala laki-laki yang sebelumnya Tamara jumpai dalam mimpinya. Bunyi tembakan yang memekakan telinga seketika membangunkan Tamara dari tidurnya.     ♥♥TO BE CONTINUED♥♥
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม