Chapter 5 - Semua Baru Permulaan

2089 คำ
Malam masih panjang dan Dennis tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Dia melihat Tamara sedang merengek dalam tidurnya. Dennis tak tahu apa yang sedang dimimpikan istrinya itu, tapi jika dilihat dari suara tangisnya, itu berarti bukan mimpi yang indah. Dia menggoyang-goyangkan lengan Tamara dan coba membangunkannya. “Sayang! Bangun, sayang!” ucap Dennis cemas. Mata Tamara terbeliak lebar. Peluh sedikit membasahi pelipisnya. Mimpinya benar-benar terasa nyata. Dan hal itu sangatlah menakutkan. Tamara terduduk dengan lemas di atas ranjang. Dia menyingkirkan selimut tebal yang menutupi separo badannya. Diraba-rabanya tubuh dan wajahnya. Diperhatikannya dengan panik pergelangan kaki kanannya, yang dalam mimpinya barusan, keseleo dan bengkak. Tamara menghela nafas lega. Dia baik-baik saja. Pergelangan kakinya sehat-sehat saja. Tidak ada lecet yang menghiasi wajah ataupun lengannya. “Kamu mimpi buruk?” tanya Dennis sambil mengusap peluh di pelipis Tamara menggunakan punggung tangannya. Tamara hanya mengangguk.  Dennis lalu beranjak mengambilkannya segelas air mineral. “Apa yang terjadi dalam mimpimu sampai kamu merengek seperti itu?” tanyanya usai Tamara menenggak air pemberiannya. “Aku tersesat di hutan dan terjatuh ke dalam lubang, lalu aku … melihat sosok laki-laki. Namun wajahnya tidak jelas, dan dia tidak berkata apa-apa dalam mimpiku,” jawab Tamara. Bahkan bulu kuduk Tamara berdiri dengan tegak hanya dengan membicarakannya saja. “Mungkin efek dari film horor yang kamu tonton,” ucap Dennis. Dia tersenyum, “Tenanglah, ada aku di sini. Tidak akan ada yang menyakitimu, sayang.” “Maaf sudah membangunkanmu.” “Tidak apa-apa.” Dennis mengambil gelas kosong itu dari tangan Tamara dan lanjut merebahkan tubuhnya kembali ke atas ranjang. “Tidurlah, aku masih ngantuk,” sambungnya. Namun mimpi buruk itu membuat Tamara kesulitan untuk terlelap kembali. Dia cuma berbaring membelakangi Dennis, tanpa mengenakan kembali selimutnya, dan termenung sambil menatapi kamar tidurnya yang gelap. Masih terbayang jelas dalam ingatannya apa-apa saja yang dia lakukan dalam mimpi itu. Sosok laki-laki itu. Hutan antah berantah itu. Pikir Tamara, ini semua pasti ada hubungannya dengan malam terlarangnya dengan Henry. Kejadian itu begitu membekas di hati Tamara. Membuatnya begitu kepikiran, sampai-sampai dia jadi sering kesulitan tidur dan tidak bergaiirah saat suaminya mengajaknya melakukan hubungan intim. Padahal mungkin, Henry juga tidak merasakan apa yang dia rasakan. Malah mungkin, Henry sedang asik-asiknya tidur seperti bayi sekarang. Sepertinya malam terlarang itu juga cuma angin lalu buatnya. Tamara jadi dihantui oleh rasa bersalahnya sendiri. Dia merasa berdosa, bukan cuma pada suaminya, tapi juga pada Kalula, tunangan Henry. Keesokan paginya, ketika bangun dari tidurnya yang kurang dari lima jam itu, Tamara mendapati Dennis telah lebih dulu berangkat ke kantor. Dia meninggalkan sebuah kertas kecil yang dia letakkan di atas bantal kepalanya. Tulisannya ‘Jangan lupa makan. Aku mencintaimu’. Tamara merenggangkan otot-otot tubuhnya sejenak. Dia memakai jubah tidurnya lalu beranjak menuju ruang makan. Ternyata Dennis membuatkannya segelas susuu serta sepiring roti lapis selai kacang dan jelly kesukaannya. Diminumnya segelas susuu itu sampai habis tak tersisa. Dimakannya roti lapis itu dengan lahap. Tepat digigitan terakhir, tiba-tiba Tamara diserang oleh rasa mual.  Dengan cepat dia melangkah menuju wastafel. Tapi anehnya, meskipun merasa mual sekali, kerongkongan Tamara menolak untuk memuntahkan isi perutnya. Dia sampai menekan-nekan lehernya sendiri, dengan harapan bisa cepat muntah dan rasa mual ini bisa mereda sedikit. Namun hasilnya nol. Tamara terduduk dengan lemas di sofa ruang tamu. Bukan cuma mual, kini kepalanya juga jadi agak pusing. Tamara bergetar merinding. Pusing dan mual di pagi hari … kenapa tanda-tandanya mirip seperti wanita yang sedang hamil muda? Jangan-jangan benar dugaan Tamara kalau dia tengah mengandung buah cinta terlarangnya bersama dengan Henry? Kegelisahan mulai melanda Tamara. Dia lalu mengambil satu tablet parasetamol dan segelas air. Untungnya parasetamol dan air itu bisa sedikit meredakan pusing serta mualnya. Dia lalu beranjak meraih clutch warna emasnya, yang dia simpan di dalam lemari pakaian. Diambilnya sticky notes berisi nomor ponsel Henry, dan dengan tangan yang agak gemetaran Tamara lanjut menghubungi rival sejatinya itu. Henry menjawab panggilan masuknya selang hampir lima belas menit kemudian. Berarti benar dugaan Tamara, dia pasti tidur dengan nyenyak dan tidak terlalu memikirkan malam terlarang yang bisa berbuah fatal itu. “Henry …,” panggil Tamara dengan nada bicara lirih. Hanya dengan mendengar suaranya saja Henry langsung bisa menebak siapa yang sedang meneleponnya. Dia tersenyum. “Aku pikir kamu sudah membuang kertas berisi nomor telepon yang kuberikan padamu,” candanya. “Kamu lagi sibuk?” tanya Tamara yang tidak menghiraukan gurauan lawan bicaranya. Henry menggeleng, “Tidak.” “Lagi di kantor?” “Tidak juga. Besok aku baru berangkat ke kantor.” Henry lanjut menggoda Tamara, “Kenapa memangnya, hm? Kamu rindu padaku?” Tamara terdiam sejenak. “Apa … kamu lagi ada bersama dengan Kalula?” tanyanya ragu-ragu. Ketika mendengar nama tunangannya disebut oleh Tamara, sontak raut wajah dan nada bicara Henry jadi lebih serius dibanding sebelumnya. “Tidak, aku sendirian di apartemen,” jawabnya. “Ada masalah apa, Tamara?” Air mata Tamara mulai berjatuhan. “Aku mual dan pusing, Henry. Gejalanya … mirip seperti orang hamil,” jawabnya. “Ya, Tuhan, aku takut sekali. Aku benar-benar bodoh. Bagaimana bisa aku membiarkan malam itu terjadi?” ujarnya penuh penyesalan. Tak bisa dipungkiri, bukan cuma Tamara yang merasa deg-degan, Henry pun juga merasa kalau jantungnya mulai berpacu lebih cepat. “Baru pagi ini kamu mual dan pusing?” tanyanya. “Ya, tapi sudah sejak kemarin aku merasa lemas dan tidak bisa tidur,” jawab Tamara sembari menyeka air matanya menggunakan punggung tangan kirinya. “Aku mau bertemu denganmu sekarang. Kita harus membicarakan hal ini. Sungguh, aku merasa sangat tidak tenang. Kita harus segera melakukan sesuatu, Henry,” ajaknya separo memaksa. “Di mana alamat rumahmu?” “Kau sudah tidak waras, ya? Kalau ada yang lihat kamu datang ke rumahku terus lapor ke Dennis bagaimana?” Henry memutar bola matanya. “Ya sudah, jadi kamu mau ketemuan di mana? Di apartemenku?” tanyanya. Tamara mengangguk, “Boleh.” “Kamu masih ingat alamat apartemenku?” “Mana mungkin aku ingat, saat itu ‘kan aku mabuk berat.” “Okelah, kukirim lokasinya setelah ini lewat chat.” Henry menghela nafas panjang. “Tenanglah, Tamara, semua pasti akan baik-baik saja,” tuturnya. Tamara tidak merespon lagi. Dia mengakhiri panggilannya setelah itu. Buru-buru dia mandi dan merias diri seadanya. Tamara tiba di Apartemen Monver Estate pukul setengah sembilan pagi. Begitu keluar dari taksi, dari kejauhan, dia melihat wanita tua yang waktu itu tidak sengaja bertemu dengannya—saat dia sedang menunggu taksi di lobby bersama dengan Henry usai malam menggairahkan itu. Kalau Tamara tidak salah ingat, Henry bilang namanya adalah Niken dan dia seorang penyandang alzheimer. Niken sedang asik ngobrol di lobby dengan seorang security apartemen. Dia memang suka mengajak bicara siapapun penghuni apartemen yang tidak sengaja dia jumpai. Ada yang menyambut dengan ramah celotehannya, namun tak sedikit pula yang menganggapnya aneh dan ‘sakit’. Padahal Niken cuma mau bersosialisasi. Sebagai manusia lanjut usia yang menderita alzheimer, terkadang dia merasa kesepian karena harus ditinggal putri sematawayangnya kerja. Dan pikir Tamara, harusnya Niken sudah lupa dengannya. Tetapi tidak. Niken memang tidak tahu siapa nama Tamara, tapi dia masih mengingat wajahnya, dan terus menatapinya seakan-akan Tamara sudah kenal lama dengannya. Dia lalu melambaikan tangan kanannya ke arah Tamara, mengundangnya untuk ngobrol bersama.  “Ibu masih ingat sama saya?” tanya Tamara sambil memandang Niken heran. Sungguh menakjubkan mengingat Niken memiliki penyakit alzheimer. Yang ditanya hanya mengangguk sambil tersenyum. Tadinya Tamara mau buru-buru pamitan dan pergi meninggalkan Niken, namun tiba-tiba saja Niken menanyakan sesuatu yang kembali membuat Tamara bingung, “Apa semalam dia mendatangimu lagi?” “Siapa maksud ibu?” tanya Niken kaget. “Pria itu. Belahan jiwamu.” Tamara terdiam sejenak. Dia coba menerka-nerka apa maksud perkataan Niken. Siapa belahan jiwa yang dia maksud? Dennis? Namun mustahil bukan Niken bisa mengetahui soal Dennis kalau dia saja tidak pernah bertemu dengannya? Bahkan mungkin Niken juga tak tahu kalau ada manusia bernama Dennis Hasani di dunia ini. Apa mungkin ini ada kaitannya dengan sosok pria yang dijumpainya di mimpi buruknya tadi malam? Raut wajah Niken berubah murung. “Kasihan sekali, dia telah menunggumu sejak beratus-ratus tahun yang lalu,” sambungnya. “Ini semua baru permulaan. Persiapkanlah dirimu.” “Siapa pria yang ibu maksud?” tanya Tamara dengan dahi mengerut. “Suami saya?” Niken tidak bergeming lagi. Dia lalu diajak pergi oleh seorang ibu-ibu, yang juga penghuni apartemen tersebut, untuk menghabiskan waktu sekaligus berjemur matahari pagi bersama di taman. Henry menelepon Tamara tak lama setelahnya. Dia lalu menjemput Tamara di lobby. Diajaknya Tamara masuk ke unit apartemennya. “Merasa de javu?” tanyanya separo bercanda. “De javu bagaimana maksudmu?” Henry menyeringai, “Kamu ‘kan sudah pernah menginap di sini. Masa semudah itu kamu melupakan apartemen ini?” Wajah Tamara merona padam. Ya, dia masih ingat kejadian pagi itu. Saat dia bangun dalam keadaan tanpa busana di atas ranjang Henry, lalu melihatnya sedang push up di ruang tamu dalam keadaan bertelanjang dadaa. Dia lalu menghabiskan beberapa detik waktunya untuk melihat-lihat kembali isi apartemen Henry. Apartemennya luas. Desainnya minimalis dan tertata rapih. Mencerminkan kepribadiannya. “Tunanganmu tidak ada di sini?” tanya Tamara pada Henry, yang sedang menuangkan segelas jus jeruk untuknya. Henry menaikkan satu alisnya. “Aku tidak mungkin membawamu ke sini kalau Kalula juga ada di sini. Itu bunuh diri namanya,” jawabnya. Diberikannya segelas jus jeruknya pada Tamara, “Minumlah. Tidak ada racun atau obat tidurnya kok.” “Terima kasih,” ujar Tamara. Henry mengajaknya duduk bersama di ruang tamu. Dia lanjut bicara kembali kelar mencicipi jus jeruk tersebut, “Aku pikir kamu sudah tinggal satu atap dengan tunanganmu.” Henry menggeleng, “Tidak, kami ‘kan belum menikah.” Dia menyuguhkan tatapannya yang nakal, “Dan lagi, kalau aku tinggal dengan Kalula, aku pasti tidak akan dapat kesempatan untuk merasakan betapa menggiurkannya tubuhmu.” “Sekali lagi kamu berani bicara seperti itu, akan kusiram wajahmu pakai jus jeruk ini,” ancam Tamara dengan tatapannya yang sangar. Henry tersenyum lebar. Baginya disiram jus jeruk oleh Tamara sama sekali tidak ada apa-apanya. Karena dulu, Tamara pernah melakukan yang lebih ‘ekstrem’ daripada itu. Saat masih duduk di bangku kuliah, Tamara pernah dengan sengaja memotokopi proposal mata kuliah filsafat milik Henry tanpa sepengetahuannya. “Masih mual dan pusing?” tanyanya. “Tidak terlalu,” gumam Tamara. Dia benar-benar kelihatan takut. Dan Henry bisa memaklumi ketakutan Tamara. Karena kalau dia benar-benar hamil, dialah yang akan paling banyak terkena getahnya. Dia yang harus mengandung, melahirkan, dan mungkin saja, mengalami perceraian dengan Dennis.  Tamara meletakkan segelas jus jeruknya ke atas meja. Dia lanjut mengeluarkan kantong plastik bening berisi sebuah test pack yang dia simpan di dalam handbag-nya. “Barusan sebelum ke sini, aku sempat mampir sebentar ke apotek buat beli test pack. Aku akan mencobanya sekarang. Kita doakan saja semoga hasilnya negatif,” ucapnya penuh harap. “Buat apa pakai test pack? Kita ke dokter kandungan saja langsung biar hasilnya lebih akurat.” “Test pack ini juga hasilnya akurat kok?” tanya Tamara sambil mengernyitkan dahi. “Aku lebih percaya dokter.” “Lalu … Siapa yang akan menanggung biayanya?” “Aku,” jawab Henry mantab. “Maaf, bukannya aku tidak mau keluar uang, tapi aku takut Dennis akan curiga saat dia melihat riwayat transaksi rekeningku. Pasti pembayaran rumah sakit ini akan masuk ke riwayat transaksi kita, kan?” Henry terperangah. “Dennis tahu password rekeningmu?” tanyanya. Tamara mengangguk, “Dia juga tahu password ponsel dan laptopku.” “Posesif sekali?” ledek Henry. “Kalau aku jadi kamu, aku tak akan membiarkan siapapun, termasuk istriku sendiri, mengetahui hal-hal pribadi seperti password ponsel dan password rekeningku.” “Kenapa tidak?” debat Tamara. “Karena hal itu sifatnya privasi, Tamara. Kamu pasti paham ‘kan kalau ada beberapa hal yang seharusnya tidak kamu bagikan pada siapapun?” sergah Henry. “Dengan dia meminta password ponselmu saja, itu tandanya dia tidak begitu mempercayaimu. Yeah, bisa jadi juga dia merasa tidak percaya diri dan takut kalau kamu akan bermain api. Tapi bukankah hubungan asmara itu dilandasi salah satunya oleh rasa kepercayaan yang kuat?” “Ah, sudahlah! Berhenti membicarakan Dennis seolah-olah kamu tahu bagaimana sifat aslinya!” maki Tamara sebal. Henry tersenyum miring. “Kau memang wanita yang keras kepala,” ejeknya. Tamara tambah cemberut, “Tahu begitu kita ketemuan saja langsung di rumah sakit. Buat apa aku repot-repot ke apartemenmu lagi?” “Anggap saja sekalian datang bertamu,” tutur Henry. “Sudah lama aku tidak kedatangan tamu. Apartemenku seperti kota mati rasanya.” “Seperti kota mati?” tanya Tamara, bingung sekaligus terkejut. “Memangnya Kalula tidak pernah mendatangi apartemenmu?”   ♥♥TO BE CONTINUED♥♥
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม