Kolam

1004 คำ
"Apa?!" Pekik Viona yang terkejut dengan ucapan Dio. Sementara itu, Dio hanya membalasnya dengan senyuman yang begitu memikat. Membuat semua orang yang melihat senyuman itu akan langsung jatuh hati kepadanya. Tak heran jika makhluk berjenis kelamin laki-laki itu di kerumuni banyak wanita. Yang bagi mereka, walau pun hanya sekeder jalan-jalan., setidaknya mereka bisa menikmati sebagian waktu mereka dengan Dio, dan sudah bisa menghilangkan rasa penasarannya pada Dio. Makanya, selama ini Dio di cap sebagai cowok tengil dan playboy yang sering gonta ganti cewek di perbagai acara. Bukan hanya itu, karena kebiasaannya yang tak tegaan, suatu hari dia pernah mengiyakan ajakan jalan teman satu sekolahnya. Karena cewek itu sudah lama meminta di tani Dio ke tuku buku dan kebetulan juga dia ada yang perlu di beli, Dio setuju dan mereka berangkat bersama. Namun, saat perjalanan pulang, Dio di hadang oleh beberapa orang dan langsung menghajarnha sampai babak belur. Beberapa hari kemudian, dia baru menyadari jika orang-orang itu adalah suruhan pacar si cewek yang mengajaknya ke toko buku. Karena cemburu dan tak terima pacarnya jalan dengan cowok lain, membuat dia gelap mata dan nekad menyuruh orang untuk memberi pelajaran kepada Dio. Tanpa ingin mencari tahu alasan sebenarnya. Walau sudah jelas siapa yang membuat dirinya babak belur, namun Dio sama sekali tak ada niat untuk membalasnya. Justru dia terlihat biasa saja seperti tidak ada apa pun. Karena dia juga merasa bersalah karena tidak memastikan dulu cewek yang bersamanya itu sudah mempunyai pacar atau belum. Jadi baginya, hal itu sudah pantas dia dapatkan. Dengan berjalannya waktu, dan banyaknya pengalaman dan pelajaran selama dia dengan mudah mengiyakan ajakan cewek yang menyukainya. Kini Dio lebih bisa hati-hati dalam bertindak. Karena bukan hanya dia yang akan terkena masalah jika mengulangi kesalahannya, tapi juga sang kakak akan mendapat ancaman. Tapi, untuk urusan Viona yang sudah jelas masalahnya, Dio tak merasa takut dan justru dia sangat yakin jika memang harus membantu gadis cantik itu. Apalagi dia sendiri ikut menyaksikan bagaimana kelakuan pria yang berstarus pacarnya itu sedang bermesraan dengan wanita lain. Yang lebih parahnya lagi, tentang niat pria itu yang memang hanya ingin ikut menikmati harta peninggalan orang tuanya. Dan yang lebih parahnya lagi, dia menikmati harta keluarga Viona bukan untuk dirinya sendiri, melainkan dia nikmati bersama wanita lain. Dengan memakai usaha kafe miliknya untuk bisa dengan mudah mendapatkan uang dari Viona. Tak hanya itu, dia juga memakai alasan pengobatan ibunya yang kurang baik untuk mendapat tambahan uang dari gadis sebaik Viona. "Maksud omongan kamu tadi apaan?" tanya Viona dengan menatap lurus ke arah Dio. Membuat Dioa yang sebelumnya ikut menatap ke arah kolam renang kini menoleh. "Cewek cantik kalau lagi marah itu gampang menimbulkan kerutan, dan bisa mempercepat penuaan dini," jawab Dio bagaikan seorang dokter ahli yang tengah menjelaskan kepada pasiennya. "Sok tahu!" cetus Viona kembali membuang muka. "Ckk ... di bilangin kagak percaya, aku kan anaknya dokter spesialis kandungan, jelas tahu lah, Mbak," sahut Dio membanggakan diri. "Eh ... kagak ada hubungannya! antara dokter spesialis kandungan dengan proses penuaan dini!" "Ada ... " "Enggak!!" "Ada!" "Enggak!!" "Ada!!" "Enggak!!" Mereka berdua pun terus seperti itu hingga tanpa sadar, wajah keduanya saling mendekat. Beberapa saat kemudian, Dio yang sadar lebih dulu tampak sengaja semakin mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa senti. Sampai akhirnya Viona sadar dengan keadaannya saat ini. Sontak dia menjauh, namun karena terkejut dan juga lupa jika sekitarnya licin, tangan Viona yang belum siap menahan berat tubuhnya yang bergerak tiba-tiba membuat gadis itu tergelincir dan jatuh ke dalam kolam renang. Byuuurrr!!! Dio yang berada di tempat tersebut tak sempat menahan tubuh Viona karena dia sendiri ikut terkejut dengan pergerakan Viona yang sangat tiba-tiba. "Mbak!!" "Toloong!!" Tanpa menunggu lagi, Dio langsung saja menceburkan dirinya ke dalam kolam dan menolong gadis yang menurutnya sangat istimewa itu. Di dalam rumah, Diana yqng tengah membantu bi Yaya menyiapkan menu makan malam, terkejut dengan suara minta tolong dan juga teriakan Dio dari arah kolam renang. Kedua wanita itu pun langsung berlari ke arah sumber suara untuk melihat apa yang terjadi. Sampainya di tempat kejadian, Diana tampak membulatkan kedua matanya saat mengetahui jika sahabatnya tengah berada di dalam kolam renang bersama sang adik. Apalagi melihat Viona yang tampak sudah lemas dan hampir tak sadarkan diri. "Vio!!" Pekiknya kemudian berlari mendekat. Sementara bi Yaya berlari ke almari samping pintu untuk mengambil handuk. "Dio ... sini!" Seru Diana menyuruh adiknya agar segera menepi ke arahnya. Dengan segara dan terus berhati-hati, Dio yang berhasil meraih tubuh Viona tampak mendekat ke arah sang kakak. Sementara Viona yang memang sudah banyak menelan air kini tampak sangat lemas dan pingsan. Sampai di atas, Dio langsung membaringkan gadis itu di tepi kolam dan membantunya untuk segera sadar. "Vio ... Vi, kamu denger aku kan?" ucap Diana menepuk pelan pipi sahabatnya itu. Namun, sama sekali tak ada respon. "Bentar, Kak!" Sela Dio membuat Diana sedikit menjauh untuk memberi tuang kepada adikknya, kemudian Dio mulai memompa d**a Viona beberapa kali sampai akhirnya gadis itu terbatuh dan mengeluarkan air yang dia telan. "Uhuk, uhuk, uhukk!" "Viona," panggil Diana kembali mendekat. Perlahan, kedua mata Viona terbuka walau dengan sangat lemah. Namun, gadis itu belum bisa menjawab apa pun. Membuat Diana dan Dio semakin khawatir. Tak mau buang waktu, Diana menyuruh adiknya untuk membawa Viona ke dalam rumah. Meletakkan tubuh lemah itu di atas ranjang kamar tamu kemudian membiarkan sang kakak memberi pertolongan pertamanya. Dengan rasa khawatir yang baru saja dia rasakan, Dio keluar dari kamar tersebut dan masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk berganti pakaian. Karena dirinya juga basah kuyub, apalagi dia tidak tahan dengan dingin. Di dalam kamar, bi Yaya yang sudah kembali dari kamar Diana kmuntuk mengqmbil baju ganti untuk Viona kini milai mengganti semua baju yang basah. Sementara Diana memberikan pertolongan pertama untuk sahabatnya itu. Dia benar-benar takut jika satu-satunya sahabatnya itu kenapa-kenapa. Apalagi, mengingat jika Viona juga bernasib sama seperti dirinya. Tak ada keluarga yang mendampinginya. Hanya dirinya sendiri, dan hanya dia dan adiknya yang selama ini menemaninya walau dari jauh. Membuat Diana semakin merasa bersalah kalau sampai Viona kenapa-napa. "Vi ... kamu denger aku kan?" Ucap Diana mencoba menyadarkan Viona kembali. "Eegghhh. ..."
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม