Hari ini merupakan hari yang Sian tunggu - tunggu selama ia menjadi mahasiswa semester akhir. Ya, hari di mana ia mampu menyelesaikan revisi skripsi dan juga menyelesaikan penelitiannya di laboratorium. Setelah penantian yang tidak bisa dikatakan sebentar dan mudah.
Kampus nampak tidak begitu ramai. Karena libur semester sudah tiba, maka sebagian besar mahasiswa tidak ada jadwal kuliah. Kecuali mereka yang sedang disibukkan dengan rangkaian urusan semester akhir mereka di kampus.
"Kamu gak capek abis begadang nulis novel. Masih ngampus sampe sore juga?" Arsen berbisik di samping telinga Sian seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling kampus.
Sian mendesah seraya membolak balik berkas yang harus ia siapkan untuk pengajuan jadwal seminar hasil penelitian.
Saat ini mereka duduk di salah satu kursi yang diletakkan di depan setiap ruangan yang ada di fakultas.
"Berhentilah mengajakku bicara di tengah keramaian seperti ini!" titah Sian seraya tetap memfokuskan atensinya pada lembaran berkas yang ia pegang sedari tadi.
Arsen berdecak sebal. Sian selalu mengabaikannya sejak mereka berjalan memasuki area kampus. Setidaknya pria itu mengatakan "Ya" atau "Tidak", bukan? Apa salahnya merespon sedikit apa yang ia tanyakan sejak tadi.
"Jangan menggangguku kali ini saja," pinta Sian seraya menutup map berwarna biru yang berisi kumpulan berkas itu dengan pelan. Lalu bangkit dari posisi duduknya.
"Aku akan ke ruang Prodi. Jangan mengikutiku, atau kalau kau mau ikut jangan mengajakku bicara. Mengerti?" Arsen hanya bisa berdecih. Namun tetap saja ia menyetujui perkataan Sian barusan.
Mereka berjalan bersisian menuju ruangan yang betulisakan Prodi Biologi. Arsen ikut masuk dan memeperhatikan wajah orang - orang yang ada di sana.
Tidak ada yang ia kenali. Tentu saja tidak ada. Ia tak pernah pergi ke tempat seperti ini sebelumnya. Entahlah, semasa ia hidup ia pernah kuliah atau tidak.
Mereka keluar setelah Sian menyelesaikan urusannya di ruang Prodi.
Arsen berjalan mengekori Sian yang melangkahkan kakinya lebih dulu. Ia ingin menanyakan sesuatu.
"Jangan mengajakku bicara!" Sian bergumam seraya memperhatikan langkahnya menuju ruangan kepala laboratorium.
Arse, lagi - lagi ia harus menutup mulutnya yang sempat ia buka. Menelan kembali pertanyaan yang ingin ia tanyakan.
Keputusannya untuk ikut bersama Sian ke kampus, nampaknya adalah keputusan yang salah. Lihatlah! Pria itu mengabaikannya.
Sian nampak tengah berbincang dengan seorang wanita berusia tiga puluhan. Entah apa yang mereka bicarakan. Arsen tidak begitu tertarik.
Saat ingin meninggalkan ruangan, Arsen dikejutkan dengan sosok yang kini juga menatap ke arahnya.
Ia tersenyum seraya melambaikan tangannya ke arah hantu perempuan yang ia temui beberapa hari yang lalu.
Mina. Hantu perempuan itu nampak senang saat ia mendapati Arsen menatap ke arahnya.
Mereka bertemu kembali. Menyusuri gedung fakultas lalu berakhir di gedung tua yang beberapa hari yang lalu menjadi markas mereka untuk berdiskusi..
"Bagiamana? Apa kau sudah menadapat petunjuk agar bisa menemukan alasan di balik kematianmu," tanya Mina dengan mata hitamnya yang nampak penasaran.
Arsen menggelengkan kepala dengan lemah.
"Belum ada pertunjuk apapun," balasnya lalu mengembuskan napas dengan lemah.
"Apa yang aku lakukan sekarang?" tanyanya seraya menatap Mina yang ada di sampingnya.
Hantu perempuan itu ikut menggelengkan kepala dengan lemah seraya mengembuskan napas dengan pelan.
"Aku juga tidak tahu. Tapi, aku terus bersaha mencari tahu mengenai apapun yang terjadi padaku di masa lalu dan menghubungkannya dengan yang terjadi padaku saat ini." Mina berujar seraya menatap langit siang yang nampak tidak begitu terik dan juga tidak mendung.
Keduanya nampak terdiam dan sibuk dengan isi kepala masing - masing. Keheningan seokah menggantung di langit - langit gedung.
"Oh iya, kenapa tadi kau bisa ada di sana ?" tanya Mina setelah terdiam beberapa saat.
Ia penasaran kenapa Arsen berada di gedung fakultas padahal ia tak pernah ke sana sebelumnya.
"Ah itu, ... Aku ke sini bersama dengan Sian, pria yang ku ceritakan padamu sebelumnya," cerita Arsen seraya membalikkan tubuhnya untuk menatap gedung yang ada di hadapan mereka saat ini.
"Apa ia membantumu sejauh ini? Maksudku, apa kau memdapat sebuah petunjuk saat kau bersamanya?" Mina kembali bertanya lalu ikut mengalihkan tatapannya pada gedung yang ada di hadapan gedung tua ini.
Arsen nampak berpikir sebeluk menjawab pertanyaan Mina.
"Sejauh ini, aku belum bisa menemukan apapaun. Entah ingatan atau apapun itu. Tapi, ada satu hal yang baru - baru ini terjadi," jelasnya seraya mengingat kejadian di mana Sian dapat melihat wujudnya. Tidak seperti sebelumnya, pria itu hanya dapat mendengar suaranya.
"Satu hal yang terjadi?" Mina membeo seraya menatap Arsen dengan penasaran.
"Apa itu?" tanyanya ingin tahu.
Arsen mulai bercerita mengenai kemampuan Sian yang datang secara tiba - tiba. Entah apa yang terjadi sebelumnya. Atau apa penyebabnya sehingga pria itu dapat melihat wujudnya.
"Kejadian itu tepat di malam hari setelah aku pulang dari menemuimu beberapa hari yang lalu. Aku bertanya apa yang ia lakukan sebelumnya, Sian bilang, ia tak melakukan apapun. Ia pun tak mengerti kenapa ia bisa melihat wujudku begitu saja."
Mina nampak berpikir keras setelah mendengar penjelasan Arsen barusan.
Ia nampak tidak asing dengan peremasalahan seperti ini. Ia ingat dan pernah menemui beberapa arwah yang mengalami kejadian serupa.
"Aku pernah mendengar kalau arwah lainnya pernaha mengalami hal yang sama sepertimu. Mereka menemukan seseorang yang cocok lalu berkerja sama dalam keadaan orang itu tidak dapat melihat wujudnya hanya bisa merasakan kehadirannya dan berbicara padanya. Namun, suatu ketika orang itu tiba - tiba saja dapat melihat wujudnya." Mina bercerita panjang lebar seraya mengingat penjelasan dari arwah itu mengenai alasan di balik apa yang terjadi.
"Lalu apa?!" tanya Arsen dengan cepat.
"Apa penyebabnya?!" Mina berdecak seraya menatap Arsen dengan mengerlingkan bola mata.
"Sabar! Aku sedang mengingat apa penyebabnya," ujar Mina seraya melanjutkan aktivitas mengingat penjelasan dari teman hantunya waktu itu.
Arsen bungkam. Menahan pertanyaan - pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Meredam rasa ingin tahunya sejenak sampai Mina mengingat kembali apa penyebab dari kasus yang Arsen alami.
"Aha!" Mina berseru seraya menatap Arsen dengan mata berbinar.
Sekarang ia ingat. Apa yang menyebabkan seseorang dapat melihat wujud arwah seperti mereka.
"Jadi, manusia dapat melihat wujud arwah yang membersamainya karena ia menyentuh benda yang juga pernah disentuh si arwah. Itu yang dikatakan oleh arwah lelaki yang waktu itu aku temui." Mina menyelasaikan penjelasannya dengan senang. Semoga saja informasi ini dapat membantu Arsen. Pikirnya.
"Benarkah seperti itu?" tanya Arsen dengan wajah nampak berpikir.
Benda apa yang pernah disentuh oleh Sian dan juga pernah disentuh olehnya?
Bagaimana mungkin? Sementara ia tahu, bahwa ia dan Sian hanya orang asing. Apa mungkin mereka punya benda yang keduanya pernah menyentuhnya?
"Tapi, kami tidak pernah saling mengenl. Bagaimana mungkin?" Arsen kembali bertanya dengan rasa tidak percaya.
"Ingat Nik! Kau tidak mengingat apa - apa yang terjadi padamu semasa kau hidup. Siapa yang tahu kalau kalian pernah saling mengenal atau bertemu sebelumnya?" ujar Mina dengan menggebu. Ia tidak suka melihat Arsen yang putus asa.
Apa iya? Arsen kembali berdebat dengan pikirannya.
Kalau ia dan Sian pernah bertemu atau saling mengenal. Kenapa Sian melupakannya? Atau pria itu sengaja berpura - pura tidak mengingatnya?
Tapi, apa iya? Dari apa yang Arsen lihat selama ini, Sian bukanlah orang seperti itu.
Lalu, apa yang menjadi alasan logis dari semua yang terjadi ini?
***
Sementara itu, di tempat lain. Sian sedang kebingungan mencari keberadaan Arsen.
Pria itu menelisik setiap sudut gedung fakultas dan tempat - tempat yang mungkin saja didatangi oleh hantu itu. Namun tak kunjung menemukannya.
Ia jadi merasa bersalah karena telah mengabaikan hantu itu.
Urusannya di kampus sudah hampir selesai. Ia hanya perlu meletakkan map berisi berkas pengajuan seminar hasilnya di ruang Prodi.
Saat langkahnya mencapai pintu Prodi Biologi, tiba - tiba saja lengan seseorang menyentuh bahunya. Hingga mengintrupsi langkahnya dan membuatnya memalingkan wajah dan mendapati dua orang lelaki yang belakangan ini jarang ditemuinya.
"Masih hidup lo?" tanya seorang di antaranya dengan senyuman menyebalkan.
"Udah berapa bulan kita gak ketemu?" tanya yang satunya seraya berpikir sejenak.
"Gak usah banyak omong, lo pada! Kalo kangen, bilang! gak usah kebanyakan basa - basi yang udah basi." Sian membalas sapaan dari kedua sahabatnya itu dengan ketus.
Bukan Sian kalau tidak begitu. Pikir keduanya seraya saling tatap dan menampilkan wajah masam.
Sebelum jam makan siang dimulai. Sian bergegas meletakkan berkas mapnya di atas meja ketua Prodi Biologi.
Berlalu ke luar ruangan seraya menyapa beberapa dosennya dengan ramah.
Ternyata, kedua sahabatnya masih setia beridiri di depan ruang Prodi.
"Ayok! Ke kantin. Udah lama kita gak ngobrol dan makan siang bareng, kan?" ajak Reno, lelaki dengan kaca mata bulat yang bertengger di hidup mancungnya yang besar--seraya merangkul kedua sahabatnya dan menyeretnya ke kantin fakultas.
"Gila, ya! Saking pengen cepet - cepet selesai ngampus. Lo jarang banget ada waktu buat kita berdua." Reno membuka suara saat mereka tengah menunggu makanan yang mereka pesan tiba.
"Sorry. Gue pengen cepat - cepat selesai kuliah. Biar bisa fokus kerja cari duit," balas Sian seraya membuka tutup botol air mineral yang tersedia di meja yang mereka tempati.
"Kalian berdua gimana?" Sian bertanya balik seraya mentap keduanya sahabatmya itu.
"Alhamdulillah, masih begitu - begitu aja," balas Rama dengan senyum nelangsa.
Hari itu, Sian bercerita banyak dengan kedua sahabatnya yang cukup lama tak berjumpa karena kesibukkan masing - masing.
Mereka bahkan mengingat kembali masa - masa di mana Sian memarahi keduanya karena proyek jurnal penelitian yang mereka kerjakan berakhir disuruh revisi.
***