12

1746 คำ
“Eh! Itu Dara kan?” Gita menatap ke dua orang yang sedang berjalan di trotoar. Ia yakin sekali itu Dara. Alfen menatap kearah yang sama. Itu memang Dara dan sedang bersama Dion. Iyalah. Sama siapa lagi? “Itu Dion?” Tanya Gita lagi, ia menyipitkan matanya agar bisa melihat lebih jelas. Sayangnya pria yang bernama Dion itu membelakanginya. Jadi ia tidak bisa melihat wajah pria yang membuat Dara berbunga-bunga itu.” Gak keliatan anjir.” “Udah lah dibilang gantengan gue.” Jawab Alfen tanpa minat. Hatinya sebenarnya panas sekali melihat kebersamaan Dara dan Dion. Padahal di café ini dingin banget, entah kenapa hatinya malah terbakar. “Nyium bau asep kebakaran gak lo?” Gita malah meledek karena menangkap raut ketidak sukaan Alfen. “Apaan sih? Gue gak nyium apa-apa.” Gita hanya senyam-senyum penuh arti. “Gak tau kenapa gue gak suka sama Dion itu.” Ucap Alfen lagi, jujur.” Dia sok misterius.“ “Cemburu kali.” “Bodo ah!” Alfen malas berdebat. Ia melihat lagi kearah Dara yang sudah tak terlihat lagi. Sepertinya mereka pergi naik taksi. Lagipula Dion memang sangat misterius. Dia tidak pernah terlihat berbaur dengan mahasiswa lain, selalu menyendiri. Dan pria yang katanya mempesona itu, apa iya masih jomblo? “Udah lah. Ntar lama-lama hati lo gosong.” Gita menepuk-nepuk pundak Alfen, tapi pria itu hanya mencebik.” Tenang aja. Kalo lo yang terbaik buat Dara, mau main-main sama siapa pun, Dara akan kembali buat lo kok.” Ucapnya sok bijak. “Aku mah apa atuh. Cuma eres-eresan rangginang di kaleng khong guan.” ………… Dara tampak menikmati berbagai macam dimsum yang berada didepannya. Ia jadi ingat waktu pertama kali makan dimsum, itu karena Alfen. Tadinya ia tak suka dengan makanan yang mirip somay itu, rasanya pun ya mirip-mirip lah sama somay langganannya di rumah. Tapi dimsum lebih banyak varian, dan ia paling suka varian udang dan salmon. “Enak, Ra?” Tanya Dion yang terpana melihat cara makan Dara yang menurutnya tidak feminism. Gadis itu bahkan tidak merasa sungkan makan banyak didepannya. Jadi apakah Dara sudah nyaman dengannya? Dara mengangguk dengan mulut berisi sepotong dimsum udang yang sebelumnya ia cocol dengan saus. Mantul. Mantap betul. “Lain kali gue harus ajak Alfen kesini. Dimsum disini enak banget.” Ucapnya yang tanpa sadar telah merubah raut wajah Dion. Tapi pria itu segera menutupinya. “Kalian deket banget ya?” Tanya Dion dengan nada sedater mungkin agar Dara tak curiga. Dara mengangguk cepat. Ia mengusap sisa saus di sudut bibirnya dengan tisu. Ia pun balik menatap Dion yang masih menatapnya.” Iya. Kita udah sahabatan dari orok tau. Soalnya kita tetangga dan orangtua kita sahabatan juga dari dulu, bahkan mereka bikin usaha bareng di Surabaya. Jadi gue sama Alfen tinggal sendiri di rumah masing-masing.” Dion mengangguk mengerti. Tampaknya ia mulai tau kenapa pria bernama Alfen itu terlihat menyukai Dara dan tak menyukai kehadirannya. Tentu saja. Kehadirannya secara langsung telah mengurangi kedekatan mereka. Semakin menarik. Dion membatin. Ia menyukai hal-hal yang berbau tantangan. Jika mendapatkan Dara sangatlah mudah, tentu membuat Dara jauh dari Alfen mungkin akan sedikit sulit. Tapi Dion ingin menilai sepenting apa Alfen dalam hidup gadis incarannya ini. Membuat pria itu sedikit kesepian mungkin akan sedikit menarik. Alfen ada salah kah sampai Dion berniat buruk begitu? Tentu tidak. Dion hanya suka mencari masalah. Alfen adalah target yang menarik. Dia tidak mungkin terima begitu saja jika sahabatnya tiba-tiba menjauhinya. Apalagi hanya karena si pacar sahabatnya. Dibenci? Tentu Dion menyukainya. Terlalu banyak hal yang tidak Dara tau soal Dion. Dan pria itu pun tak ingin memberi tau Dara secara Cuma-Cuma. Ia akan membiarkan Dara tau sendiri dan menilainya sendiri. Yang jelas ini merupakan permainan menarik yang sudah lama tidak Dion mainkan. Tidak ada satu pun yang dapat menghentikannya, termasuk Safa yang sudah tau seluk beluk kehidupannya. Tidak ada.   Safa memperhatikan dua orang yang duduk tak jauh darinya. Dua orang yang tak menyadari kehadirannya, tepatnya salah satunya memang tak pernah menyadari kehadirannya. Pria itu tampak asik makan sambil mengobrol dengan gadis lain yang mungkin seumuran dengan Safa. Gadis manis berambut tidak terlalu panjang yang diikat ekor kuda itu memang manis. Jadi diakah gadis yang berhasil menarik perhatian tunangannya? Gadis yang menurutnya biasa saja dan pastinya polos. Jelas. Dia gak tau apa-apa soal Dion. Bisa dipastikan jika dia tau Dion yang sebenarnya, gadis itu akan menjauh. Tidak seperti Safa yang memang telah mengenal Dion dan siap menerima konsekuensi hidup bersama pria itu. Ia mencintai Dion apa adanya. Sayangnya, bagi Dion, Safa hanya tameng di hubungan mereka. Sebagai penyamar agar identitas pria itu tak terbongkar. Memang tak banyak yang tau soal Dion, beberapa “partner”nya dulu mungkin tau tapi mereka jelas memilih untuk menutup mulut. Toh mereka bersuara pun tak akan ada yang mendengar . Tapi padanya, Dion tak pernah menunjukkan sifat aslinya. Ia selalu berpura-pura layaknya pria normal. Padahal, ia pun rela Dion perlakukan yang sama seperti partnernya dulu. Apa Safa tak menarik? Kurang cantik? Tentu tidak. Satu yang Dion tak suka soal Safa. Dia terlalu penurut. Bagaimana pun juga, Safa akan melakukan apa saja untuk mendapatkan hati Dion. Tapi untuk menjadi pemberontak seperti yang Dion inginkan, Safa tidak bisa. Karena pada dasarnya ia tau lika liku masa lalu Dion dengan segala kemisteriusannya. Ia paham dan menerima semuanya. Semua tentang Dion. Walau jika orang lain tau, mereka akan menganggapnya bodoh, bucin, atau mungkin naasnya dikira sama-sama gila. Padahal Safa hanya berusaha menjadi penetral dari Dion, walau pria itu sama sekali tidak bisa dikuasai olehnya. Jangankan dikuasai, disentuh olehnya Dion pun tak mau. Sejak dulu dia selalu memilih bersama wanita lain yang mungkin sejenis dengannya, atau wanita random mana pun. Tapi masalahnya sekarang wanita yang menjadi incaran Dion hanyalah gadis polos, sepertinya. Yang jelas bukan dari wanita yang tidak baik. Wanita yang bersama Dion kelihatan biasa saja, tidak seperti wanita-wanita yang sering menemani pria itu, dulu. Sebagai wanita, Safa tentu saja khawatir. Dari mengenal Dion sejak lima tahun lalu, ia sangat paham karakter pria itu. Harus mendapatkan apa yang diinginkan. Tidak peduli keinginannya benar atau salah. Tapi merecoki rencana Dion yang sudah terbaca olehnya juga sangat beresiko. Pria itu mungkin tak segan akan mengancamnya, walau ia sudah sering diperlakukan tidak baik. Tapi tidak ada jaminan jika Dion akan memberi toleransi pada orang yang berani mengusiknya. “Kenapa gak sama gue aja sih? Gue pasti rela kok.” ……………… Dara senyam senyum memperhatikan foto di layar ponselnya, foto yang baru Dion kirimkan. Foto yang mereka ambil tadi siang saat makan bersama. Ia sendiri tak menyangka jika pria idamannya itu mengajaknya selfie, padahal ia sangat malu sebenarnya. Walau senang juga sih. Dara sudah tak sabar mengupload foto mereka di social medianya, sayangnya gadis itu mengurungkan niatnya. Mengingat hubungannya dan Dion masih hanya sekedar pedekatean, gebetan lah istilahnya. Berarti kan belum ada kejelasan. Kalo ada yang nanya itu siapa? Masa Dara harus jawab itu gebetan gue. Kan gak asik banget. Yang ada ia akan dibully nanti. Masa baru gebetan aja udah dipamerin, iya kalo jadi? Kalo enggak? Malu kali. Biasa lah netijen julid sudah beredar luas dipasaran eh di social media maksudnya. Jadi Dara harus bersabar sampai setidaknya ada kejelasan hubungannya dengan Dion. Baru ia akan pamer dengan bangganya. Eh tapi Dara jadi kepikiran juga. Kapan hubungannya dengan Dion akan diperjelas? Sementara pria itu terlihat nyaman dengan status tanpa hubungan mereka. Apa Dion masih meragukan perasaannya? Atau pria itu sama sekali tak ada perasaan padanya? Atau Dion sudah ada yang punya? Dara buru-buru menggeleng. Ia yakin serratus persen jika Dion masih jomblo. Dia aja suka menyendiri di kampus dan gak pernah terlihat bersama wanita mana pun kecuali dirinya. Jadi wajar kan jika Dara mengira jika Dion masih single? “Ngapain lo ngelamun sambil senyam-senyum? Pasti ngelamun jorok ya lo?” Alfen tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Dara yang sedang asik membayangkan sosok Dion. Tapi bukan membayangkan yang enggak-enggak seperti yang Alfen tuduhkan. Emangnya Dara cewek apaan. Iya kan? “Apaan sih lo! Ganggu gue aja.” Dara meninju lengan Alfen pelan, sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit. Apalagi untuk pria seperti Alfen. Mau Dara pukul sekeras apapun tidak akan sakit. “Kan bener! Lo ngelamun jorok. Gue laporin nyokap bokap lo nih ya.” “Gak jelas dih! Otak gue mah bersih gak kayak otak kotor lo!” Alfen menyeringai.” Iya ya, otak gue kotor. Tapi lo kok santai aja disamping gue? Gak takut kita berdua aja gini? Di ranjang lagi.” Ucapnya dengan nada yang dibuat-buat. Dara memutar bola matanya dengan malas.” Gue aja meragukan kenormalan lo. Apalagi lo jomblo dari lahir, ya walaupun gue juga sih. Setidaknya gue udah punya orang yang gue suka. Lah elo? Lo normal kan, Fen?” Alfen mencebik. Kalo saja Dara tau siapa yang ia sukai sejak dulu, apa Dara masih bisa bicara seperti itu?” Normal lah. Dijamin keaslian dan keoriginalannya. Mau coba?” Dara langsung mendorong tubuh Alfen hingga pria itu hampir jatuh ke bawah ranjang.” Ogah! Gak doyan.” “Kan! Lo yang gak normal berarti.” Balas Alfen tak mau kalah. “Maksud gue gak doyan sama lo. Wlee!” Dara malah beranjak dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar. Daripada dirinya diganggu Alfen terus. “Jangan gitu lo. Ntar tau-tau jatuh cinta sama gue aja. Nyaho!” Dara melambai-lambaikan tangannya.” Nyerah deh gue! Tingkat kepedean lo diatas rata-rata. Awas jatoh! Sakit ntar yang ada.” Alfen terbahak. Memang begini adanya. Soal perasaannya pada Dara jelas ditepis gadis itu, entah dalam hal serius apalagi bercanda. Jadi mungkin akan sangat mustahil mengungkapkan semuanya. Alfen hanya takut. Kehilangan Dara. Maka jika dengan hanya memiliki hubungan persahabatan seperti ini ia tidak akan kehilangan Dara, maka Alfen rela. “Kemaren Gita mau ketemu lo padahal, tapi lo pedekatean mulu.” Alfen malah membuntuti Dara ke ruang TV, sengaja duduk berdempetan dengan gadis itu. “Terus?” Dara mencoba menahan kesabarannya. Karena semakin ia marah, maka semakin senang pula Alfen mengganggunya. “Dia liat lo sama Dion.” “Terus terus? Apa kata Gita? Ganteng kan pasti?” Dara tampak antusias, bahkan kartun doraemon yang baru disetelnya pun terabaikan. Seolah pendapat Gita soal Dion sangatlah penting. Lalu kenapa gak tanya pendapat Alfen juga soal Dion? “Apaan? Keliatan aja engga. Udah mah temen lo minus gitu.” Alfen tampak cuek, gentian menatap layar TV didepannya. Dara mencebik.” Ntar lah kalo udah jadian baru gue kenalin ke Gita. Mau pamer. Siapa tau dia minat pacaran sebelum lulus.” Ucapnya penuh keyakinan. “Ngimpi!” 
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม