9

2162 คำ
Dara membalikkan badannya yang terkena sinar matahari . Entah kenapa sinar matahari bisa masuk padahal tirai balkonnya masih tertutup . Suara cekikikan Alfen cukup membuatnya tau apa yang menyebabkan tirai itu terbuka . Siapa lagi kalo bukan Alfen ? Cowok itu pasti sengaja membukanya . Padahal ini weekend dan Dara biasa bangun siang . Bahkan kalo bisa sampe sore . Karena weekend kemarin ia gak bisa puas tidur , harus jalan sama Dion dan nonton pertandingan Alfen tentunya . " Matahari pagi bagus buat kulit . Jangan selimutan mulu ." Ucap Alfen yang sok merentangkan tangannya didepan pintu balkon kamar Dara , seakan menikmati cahaya matahari yang menembus ke kulitnya . " Berisik lo ah ! Panas tauuu !! Gue mau tidur lagi !!" Dara berteriak dibalik selimutnya . Alfen berdecih . Emang dasar sahabatnya itu paling gak bisa diajak bangun lebih pagi . Kebayang kan dulu jaman SD sampe SMA gimana susahnya ngebangunin Dara buat berangkat sekolah . Ini aja jaman kuliah dia masih susah dibangunin . Akhirnya Alfen duduk sendirian di balkon kamar Dara yang menghadap persis ke balkon kamarnya . Ia melirik sebentar ke ranjang Dara , cewek itu masih belum bergeming juga . Ia mengulum senyum . Begini ya rasanya ngeliat orang yang disuka begitu bangun tidur . Batin Alfen . ...... Pagi-pagi Dion sudah berkumpul dimeja makan bersama keluarganya dan tentu saja calon menantu kesayangan Ibunya , Safa . Cewek itu pagi-pagi udah kesini abis jogging di sekitaran komplek dan langsung membantu ibunya memasak sarapan di dapur . Bener-bener tipe menantu idaman . Tapi bukan berarti istri idaman ya . Safa menyendoki sepiring nasi goreng dan telor dadar ke piringnya lalu memberikannya ke Dion. Tanpa komentar Dion mulai menyantap sarapannya . " Gimana skripsi kamu ? Kamu gak sengaja nunda-nunda kan ? Setahun abis wisuda inget kamu harus menikah sama Safa ." Ucap Ayahnya Dion dengan tegas setelah menyeruput kopi hitam favoritnya , buatan Safa tentunya . Dion berdecak . " Siapa yang sengaja nunda ? Kan kemaren Ayah sendiri yang nyuruh Dion cuti satu semester padahal baru kelar Magang . Gimana gak ketunda ." Protesnya yang langsung disambut dengan helaan nafas sang Ayah . Emang bener sih . " Ya pokoknya cepet-cepet wisuda . Kasian Safa nunggu kelamaan . Ayah gak mau terjadi yang aneh-aneh ." Uhuk !!! Safa terbatuk sementara Dion berdecak lagi . Cewek itu langsung meminum air putih dibantu ibu Dion . " Pelan-pelan dong sayang ." Boro-boro mau macem-macem . Suka aja enggak . Dion membatin . Gimana bisa Ayahnya berpikir seperti itu . Apa dia pikir ia sangat senang dengan pertunangan sepihak ini ? ...... Dara duduk di atas meja makannya sambil ngeliatin Alfen masak . Matanya masih keliatan ngantuk tapi gara-gara cacing diperutnya protes , mau gak mau ia harus bangun . Ngeselinnya perutnya tadi bunyi kenceng banget sampe Alfen denger dan cowok itu ketawa ngakak . Alhasil Alfen menarik paksa Dara untuk turun ke ruang makan dan memasakkannya sesuatu untuk dimakan . Dua piring nasi goreng sudah tersedia lengkap dengan telor ceploknya . Dara langsung turun dari meja dan duduk di kursinya . Alfen duduk disebelahnya . Cewek itu memotong telor ceploknya dan memisahkan kuning telurnya . Sementara Alfen memisahkan putih telurnya . Mereka sama-sama mengambil bagian yang mereka suka . Alfen mengambil kuning telur milik Dara dan Dara mengambil putih telur milik Alfen . Mereka tertawa menyadari kebiasaan mereka soal makan telur ini . " Coba aja semuanya itu kuning telur ." Ucap Alfen yang langsung dibalas dengan gelengan Dara . " Putih telur lebih enak . Kuningnya ihh ! Aneh rasanya ." Udah dari dulu mereka seperti itu , gak tau asalnya darimana . Alfen benci banget sama putih telur karena menurutnya gak ada rasanya sementara Dara gak suka banget sama kuning telur karena amis menurutnya dan bikin seret . Tapi anehnya mereka berdua suka telur dadar . Aneh ? Iya emang mereka aneh . Setelah sarapan yang telat banget itu , Dara dan Alfen ke ruang TV dan menonton apa saja yang menurut mereka seru . " Bosen ! Udah kesiangan gak ada yang seru . Masa gosip semua isinya ." Ucap Dara sambil memindah-mindahkan channel tivinya . Alfen yang duduk disebelahnya hanya menonton sambil memakan keripik kentang yang ia ambil dari kulkas . " Jalan-jalan aja yok . Kemana kek yang enak ." Alfen ikutan bosen karena Dara mengganti channel tivinya setiap satu menit sekali . " Kemana ? Masih panass . Mager keluar ." " Taman aja kek . Beli sop buah ." " Mauu mauuu !!" Dara langsung semangat begitu Alfen menyebut soal Sop buah yang menjadi favoritnya itu . Di taman komplek mereka emang ada sop buah yang enak banget dan selalu rame kalo siang-siang kayak gini . " Yaudah ayok ." Mereka pun beranjak dan langsung pergi ke taman komplek perumahan dengan jalan kaki . Karena emang deket dan Alfen males juga nyari parkiran mobil kalo cuma buat ke taman aja . Seperti biasa , Dara menendang apapun yang ada dibawahnya . Kadang batu kecil atau kaleng bekas minuman . Alfen hanya geleng-geleng kepala dan memungut apa yang Dara tendang untuk dibuang ke tempat sampah ." ada sampah tuh di buang jangan ditendang ." Ucapnya ke Dara . Cewek itu hanya terkekeh . Begitu sampai di taman , Alfen langsung nyamperin ke tukang sop buah dan memesannya . Mereka duduk di batu pinggir taman sambil menikmati sop buahnya . " Udah lama kayaknya gak kesini ." Ucap Dara sambil menikmati sop buah miliknya yang isinya kebanyakan nangka dan buah naganya . Karena memang ini favoritnya . Kalo Alfen lebih banyak buah alpukad dan melonnya . " Iya ya . Kita kan ke edelweis mulu ." Dara menggangguk membenarkan . Kalo ngeliat sop buah gini jadi inget Dion . Si cowok manis tapi dingin ya walaupun akhir-akhir ini dia udah gak dingin lagi . Udah jinak sepertinya . Hahahah …………… Gita duduk di koridor kampusnya sambil memandangi layar laptopnya yang menampilkan PPT untuk presentasi besok . Saking sibuknya anak kedokteran mau belajar kelompok pun pada bisanya pas weekend aja . Jadi ia harus merelakan weekendnya untuk ngerjain tugas . Demi bisa lulus tepat waktu . Ia gak mau menjadi seperti seniornya yang pada lulus belakangan . Bisa-bisa tua dikampus yang ada . Beberapa mahasiswa disini juga sepertinya pada kerja kelompok karena kampus weekend gini pun tetep rame . Apalagi perpustakaannya karena perpus disini paling lengkap menurut Gita . " Wey Git ! " Sapa Anisa yang berlari mendekati Gita sambil mengangkat satu tangannya . Iya partner presentasinya untuk besok udah dateng . Bagus cewek itu bisa tepat waktu . " Udah mau kelar . Tinggal desain aja nih . Sama tambahin beberapa materi yang kurang ." Ucap Gita sambil memindahkan file PPTnya ke flashdisk dan menyerahkannya ke Anisa . " Tinggal dipelajarin aja ya nanti ." " Iya yang kemaren dijelasin bu Rei . Udah jelas banget itu . Soal Patologi klinik Alzheimer ." Anisa mengangguk mengerti . " Sorry nih gue gak bisa lama-lama soalnya mau cuss maen . Butuh liburan dedek ." Ucap Gita setelah memasukkan laptopnya ke tas dan beranjak dari kursinya . Anisa mengangguk mengerti . Selama sebulan ini mereka memang kurang liburan karena banyaknya tugas kuliah yang menumpuk apalagi minggu depan udah UTS . " Yaudah nanti kalo ada yang gue gak ngerti , gue tanya elo ya ." " Sip sip !" Gita langsung berjalan cepat kearah gerbang kampusnya , tadi ia sempet ngechat Dara untuk memberi taunya kalo ia akan main ke sana . Tentu ada Alfen juga pasti . Karena katanya mereka lagi makan sop buah di taman komplek yang terkenal paling enak itu . Sialan kan mereka . Yang enak-enak aja gak ngajak . Di depan gerbang Gita berpapasan dengan cewek anak satu kelasnya juga di praktikum patologi . Tapi ia gak terlalu kenal . Ia cuma kenal nama , Safa namanya . Ya hanya sekedar itu karena Safa ini ceweknya kalem banget dan terkesan pendiem di kelas . Jadi Gita ngerasa gak nyaman kalo deket sama orang pendiem banget gitu , beda kalo sama Dara yang notabenenya blak-blakan dan gak bisa diem . Safa keluar dari mobil pajeronya , seorang cowok keluar juga dari pintu lain mobil itu . Safa keliatan tersenyum ke cowok itu tapi cowok itu hanya mengangguk kemudian masuk kembali ke mobilnya dan pergi . Safa mengetahui keberadaan Gita dan tersenyum ke cewek itu karena ia ingat kalo Gita satu kelas dengannya . Gita balas tersenyum kemudian pergi . Jadi beneran kabar kalo Safa punya tunangan ? Enak banget ya lulus kuliah pasti dinikahin . Ganteng lagi cowoknya . Batin Gita yang agak miris karena ia gak juga punya pacar . Apalagi tunangan begitu . Bukan gak ada yang mau juga tapi Gita terkesan lebih serius ke masa depan pendidikannya , karena menurutnya kalo pendidikan dan masa depannya cerah . Cowok kayak apa juga pasti bisa didapetin . ...... Dara dan Alfen baru kembali dari minimarket untuk membeli beberapa makanan dan minuman karena pas mereka lagi makan sop buah tadi , Gita memberi tau mereka kalo dia bakal main kesini . Katanya sih butuh liburan . " Mau makan apa nih ?" Alfen mengangkat sekotak spagetti di tangan kanannya dan sekotak spagetti lagi di tangan kirinya ." Spagetti atau spagetti ?" Dara memutar bola matanya . Pertanyaan Alfen bener-bener gak penting . Cowok itu malah terkekeh melihat wajah kesal yang terpasang di wajah Dara . " Serah lu Fen !" " Lagian tuh anak kedokteran tumben bisa liburan juga ya ." Dara mengangguk . Gita adalah satu-satunya orang tersibuk diantara mereka . " Gak tau tuh . Tapi bagus deh jadi bisa kumpul bareng lagi ." " Panas-panas gini bikin banana split kek Dar ." Ucap Alfen yang lagi sibuk membuat spagetti . Dara mengambil beberapa buah pisang dan es krim dari kulkasnya . Bener juga sih kalo panas gini enaknya yang dingin-dingin . " Gita nyampe jam berapa emang ? Ntar keburu encer es krimnya ." " Im here !!!!" Teriak seseorang yang langsung memeluk Dara , untung es krimnya gak tumpah . Kemudian lanjut memeluk Alfen dari belakang , cowok itu jelas kegelian dipeluk seperti itu . " Gue siram pake kuah rebusan mau lo ?!!" Sungut Alfen ketika Gita melepaskan pelukannya . Iya Gita . Siapa lagi coba yang doyan banget ngagetin orang kayak gini . Untung aja tuh anak pinter . " Yeee jahara ya kalian . Masih mending gue mau berkunjung ." " Itu emang harus k*****t !" Dara mengacungkan pisau yang akan dipakainya untuk memotong pisang . Gita bergidik ngeri kemudian menyuruh Dara untuk menurunkan pisaunya dengan mengayunkan jari telunjuknya ke bawah . Dara terkekeh . " Jadi makan apa kita hari ini ?" Ucap Gita yang langsung duduk di dekat meja makan . " Yang simpel aja kita mah . Spagetti dan banana split ." Alfen membawa sepiring besar spagetti dan Dara menyendok es krim kemudian meletakkannya diatas pisang yang udah ia potong tadi .  Lalu mereka memakannya bersama di depan tipi . Ini emang jadi kebiasaan mereka . Makan sepiring bersama . Awalnya sih karena males buat cuci piring banyak tapi lama kelamaan malah jadi kebiasaan yang paling mereka rindukan . " Gue iri deh ." Ucap Gita sambil menyendok banana splitnya . " Jorok lo !" Teriak Dara karena Gita ngomong sambil ngunyah gitu . Bisa dibayangin lah ya . Gita terkekeh . " Iri kenapa ?" Alfen menanggapi . Ia satu-satunya orang yang bakal cepat menanggapi omongan Gita dibanding Dara yang terlebih dahulu pasti selalu meledeknya . Gita menelan terlebih dahulu pisangnya sebelum berbicara karena ia gak mau kena semprot Dara lagi . " Iya dia udah tunangan gitu . Enak banget lulus pasti nikah deh ." " Sianida dong ." Dara menanggapi . " Siap nikah sesudah wisuda ." Alfen melanjutkan lalu mereka tertawa bersama . Mereka pun terlibat obrolan seru. Mulai dari perkuliahan Gita yang semakin menguji nyalinya, pertandingan futsal Alfen tempo hari serta tak lain adalah curhatan soal kencan pertama Dara dan Dion yang sukses besar. Gita tampak antusias mendengarkan curhatan Dara soal pria idamannya itu yang tentunya tak terlalu didengarkan oleh Alfen. Pria itu malah sibuk memakan banana splitnya sampai habis kemudian beranjak dan menyetel TV. “Gak asik lo!” Sungut Dara yang merasa ceritanya diabaikan. Untung ada Gita yang setia mendengarkannya.” Lo makanya jatuh cinta dong, Git. Biar kita saling tuker cerita. Jangan kayak Alfen. Hatinya dari batu kali dia.” “Gapapa daripada gue sakit hati!” Balas Alfen tak terima. Bagaimana bisa Dara menyimpulkan jika hatinya terbuat dari batu sementara dia gak tau bagaimana sulitnya menahan perasaan yang bergejolak di dadanya untuk gadis itu. “Gak deh. Gue lebih cinta sama pelajaran gue.” Gita meringis, padahal hatinya setengah menangis. Walau ia telah mampu mengendalikannya sejak dulu, ia hanya sadar jika perasaannya tidak boleh berlebihan. Apalagi pria yang disukainya mencintai gadis lain. Bisa kalian tebak. Tapi Gita sama sekali gak pernah membenci Dara. Mereka kan sahabat.  
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม