Apa yang kau lakukan?

1068 คำ
Mobil yang di tumpangi Sagara dan Jimi terlihat baru saja memasuki areal parkiran restorant. Tanpa sengaja tatapan Sagara teralih pada gadis aneh yang temuinya tadi siang. Dia melihat gadis itu sepertinya sedang dalam masalah. Dan pria botak yang bersamanya itu sepertinya memilki niat jahat pada gadis itu. "Jimi, cepat ikuti mobil itu." Ujar Sagara tiba-tiba pada Jimi yang masih duduk di belakang kemudi. "Ada apa tuan?" Jimi bertanya dengan raut wajah kebingungan. "Cepatlah, ikuti saja, jangan sampai kita kehilangan jejak." Ujar Sagara. Daripada terkena masalah, akhirnya Jimi memilih untuk menurut. Dia mengikuti sedan hitam tua yang ada di depannya. Sagara juga tidak mengerti, kenapa dia harus sepeduli itu pada gadis aneh itu? Tadi siang orang tuanya tiba-tiba berkunjung ke apartement-nya. Dan hanya untuk protes mengenai rumor yang beredar di luaran sana, yang mengatakan kalau dirinya adalah seorang homo. Dan isu berganti-ganti pacar adalah alasannya saja untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya bahwa dirinya adalah seorang homo. Astaga... yang benar saja. Akhirnya berita itu sampai juga ke telinga mereka dan membuat kedua orang tuanya itu heboh. Ya... memang benar, isu berganti-ganti pacar memang sengaja dia sebar agar orang-orang tidak salah paham tentang kesendiriannya selama ini. Tapi tidak di sangka kebohongannya itu mulai tercium juga oleh publik. Sepertinya dirinya harus mencari cara lain untuk meredam isu bahwa dirinya adalah seorang homo. Sepanjang hari, Sagara jadi menghabiskan waktunya hanya untuk memikirkan masalah tidak penting ini. Lalu dia teringat akan gadis aneh yang di temuinya seusai seminar tadi siang. Mungkin saja dia bisa mengadakan kerja sama dengan wanita itu. Dan pucuk di cinta ulam pun tiba. Dia menemukan gadis itu, tapi seseorang tampak ingin memanfaatkannya. Sagara dan Jimi terus mengikuti mobil yang di buntutinya hingga berbelok ke pelataran sebuah hotel. Sagara melihat gadis aneh itu keluar dari dalam mobil bersama pria botak yang membawanya. Namun keadaan gadis itu sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Dia seperti orang yang sedang sangat menderita. Hingga wajahnya tampak sayu dan gelisah. Sagara segera turun dari dalam mobil dan menghampiri pasangan itu. Dia menghadang pria botak itu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Tuan maaf, apa yang akan anda lakukan pada gadis itu." Ucap Sagara tanpa basa-basi. Di liriknya gadis yang ada di samping pria botak itu. Dia seperti orang yang menderita kepanasan, seluruh tubuhnya seolah di penuhi dengan peluh, dan dia terus meracau mengatakan bahwa dirinya kepanasan dan ingin sekali membuka pakaiannya. Pria botak itu tentu saja terkejut dengan kehadiran Gara yang tiba-tiba. "Itu bukan urusan mu, jangan ikut campur." Pria itu mencoba berjalan menghindari Gara. Tapi tak ingin menyerah begitu saja. Dia kembali menghadang pria botak itu dan berkata dengan lantang, "lepaskan gadis itu?!" Pria itu mendengus kesal, "kau itu siapa sih? Ikut campur urusan orang." "Aku mengenal gadis ini, dia ... kekasih ku. Jadi tolong lepaskan dia!" Ujar Gara berbohong. Pria botak di hadapannya sedikit terhenyak, kemudian menatap ke arah Juni dan wajahnya tampak berpikir, lalu setelahnya menghadap Gara lagi dan berkata, "tidak mungkin, kau pasti berbohong!" Pria itu akhirnya memilih untuk tidak percaya. Gara berpikir, pria ini keras kepala juga rupanya. Baiklah, mungkin dia harus mencari cara lain untuk membebaskan Juni dari pria m***m ini. Gara curiga jika pria ini pasti telah menjebak gadis yang bersamanya untuk meminum atau memakan sesuatu yang telah di beri obat perangsang. Sehingga membuat gadis itu tak sadar dengan apa yang di lakukannya saat ini. Matanya setengah terpejam, dan bibirnya tak hentinya meracau. Dengan sangat terpaksa Gara meraih lengan Juni dan menariknya dalam dekapannya. Dan anehnya, tubuhnya tak menolak seperti bisanya, dia juga merasa heran, kenapa dia bisa menyentuh gadis ini? "Hei... apa yang kau lakukan? Dia milikku!" Pria botak itu protes dan hendak meraih Juni kembali dalam dekapannya. Namun gara segera menghalanginya. "Tidak tuan, dia milikku!" Ujar Gara sembari memegang kepala pria botak itu agar tidak menyentuh Juni lagi. "Ah... panas...." Juni kembali terdengar meracau, suaranya yang serak dan sendu membuat Gara merasakan aneh di tubuhnya. Tapi dia segera menepisnya karena harus membereskan pria botak di hadapannya ini. "Tunggu sebentar sayang, kau sudah tidak sabar ya? Tunggu sampai aku membereskan pria botak m***m ini." Gara membalas racauan Juni, seolah sedang memana-manasi pria botak di hadapannya. Rahang pria botak itu seketika mengeras mendengar ucapan Gara. Dia merasa tidak terima, "apa kau bilang?!" Dia hendak melayangkan tinjunya pada Gara, tapi tindakannya itu segera terhenti. Jimi menahan lengannya dan pria itu tidak bisa berkutik. "Singkirkan tangan kotor mu itu dari tuan muda." Ujar Jimi dengan nada dingin. Pria botak itu merasa makin murka dan hendak menyerang Jimi dengan tangan yang satunya. Namun Jimi berhasil menghindar dan malah menekuk lengan pria itu ke belakang punggungnya sendiri. Sontak pria itu berteriak kesakitan. "Dasar... kalian beraninya main keroyokan." Umpatnya masih dengan meringis kesakitan. "Kau mau pergi, atau mau ku buat babak belur." Ujar Jimi lagi dengan dingin. Pria itu terpaksa harus menahan segala emosinya jika dirinya tidak ingin terluka. ",Baiklah, aku akan pergi. Lepaskan aku!" Ujar pria botak itu. Jimi pun melepaskan pria itu dan mendorongnya menjauh. "Pergilah jsuh-kauh, dan coba-ciba lagi muncul di hadapan kami!" Sagara tak salah memilih asisten pribadi, Jimi memang selalu bisa di andalkan di setiap situasi. Pria itu bisa terlihat seperti pria berdarah dingin di waktu tertentu. Pria botak itu terpaksa kembali masuk ke dalam mobilnya dengan raut wajah tidak terima, bahkan dia harus memupus hasratnya pada seorang Juni. Sial! "Kerja bagus, Jimi." Puji Gara. "Terimakasih, tuan." Balas Jimi sembari menunduk hormat pada pria di hadapannya. "Baiklah, sebaiknya kita kembali ke apartement saja." Ujar Gara, kemudian dia melepaskan jas warna nevy-nya dan memakaikannya ke tubuh Juni. Gadis itu masih setengah sadar saat Gara membawanya masuk ke dalam mobil. "Jalan," perintah Gara pada Jimi yang sudah duduk di belakang kemudi. Pria patuh itu pun segera melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota. *** Sesampainya di apartement, Gara segera membopong gadis itu ke kamarnya. Dan hal selanjutnya yang terjadi adalah ... bukan sepeti yang ada di film-film romantis yang kalian tonton atau kisah-kisah novel romantis yang kalian baca. Jika kalian berpikir mereka akan berakhir di atas ranjang, kalian salah. Gara segera membawa gadis itu ke kamar mandi dan memasukkannya ke dalam bathub, kemudian mengisinya dengan air dingin agar gadis itu berhenti meracau kalau dirinya sedang kepanasan. Dia juga menyiram kepala gadis itu dengan air shower sambil berkata, "bagaimana? Sudah hilang panasnya?" Ujar Gara seraya menyeringai. Air dingin terasa menyentuh kulitnya, dan dia sedikit gelagapan karena Gara menyiram tepat ke wajahnya. "Apa yang kau lakukan?!" Teriak Juni yang kini sudah mulai tersadar. Bersambung.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม