Udara jadi semakin dingin menjelang dini hari. Gara masih tampak meringkuk di sofa ruang tengah saat tiba-tiba saja bel apartemet-nya berbunyi. Siapa yang datang bertamu sepagi ini? Karena dia merasa baru saja tidur, dia jadi enggan untuk bangun membukakan pintu.
Sedangkan Juni, baru saja keluar dari kamar mandi, dia baru saja membersihkan dirinya dan berganti pakaiannya yang semalam yang sudah dia keringkan sebelumnya. Lalu dia mendengar bel pintu yang terus berbunyi. Dia pun melangkah keluar. Sesampainya di ruang tengah, dia melihat pria yang menolongnya itu masih terlelap.
Dia pun beringsut membukakan pintu untuk tamu yang masih terus memencet bel pintu tanpa henti.
Krieekkkk....
Daun pintu pun terbuka. Dan sudah ada sepasang suami istri paruh baya tampak berdiri di sana. "Maaf... Anda siapa?" Tanya Juni dengan sopan.
Suami istri paruh baya itu saling menatap satu sama lain. Mereka merasa bingung. Ada wanita di apartement putranya? Apa tidak salah?
Jadi... benar, bahwa putranya bukan seorang homo? Namun tak ingin merasa senang dulu, Aurora ibu Gara bertanya untuk memastikan. "Kau... sendiri siapa?"
"Aku Juni, ak-"
"Dia kekasih ku!" Sahut suara dari arah belakangnya secara tiba-tiba. Gara sudah terbangun dan segera memotong kalimat Juni.
Tentu saja pernyataannya itu membuat semua orang kaget.
Namun sejenak kemudian, wajah Aurora sang Ibu berubah sumringah. "Kau tidak sedang berbohong kan, sayang?" Dia merasa tidak yakin. Karena selama ini anaknya tidak pernah mengenalkan wanita manapun sebagai kekasihnya.
"Tentu saja tidak bu, lihat lah, apa kami serasi?" Gara berjalan mendekati Juni dan merangkul pundak gadis itu. Juni hanya bisa mematung di tempat. Sedangkan Gara menerbitkan senyum pada ayah dan ibunya.
Wajah Aurora makin sumringah dan berbisik di dekat telinga sang suami, "suamiku, akhirnya kita akan memiliki cucu."
Sedangkan Juni masih tidak mengerti situasi apa yang tengah dia alami saat ini. Ini benar-benar mengejutkan, dia tidak sedang bermimpi kan?
"Kalau begitu, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" Tanya Han sang ayah tanpa basa-basi.
"Menikah?" Mata Juni melotot tak percaya.
"Secepatnya," Sembari tangannya mempererat rangkulannya di pundak Juni. Gara menatap ke arah Juni sesaat, seolah sedang memberi kode, sebaiknya dirinya menurut saja. Lalu dia menatap ke arah kedua orang tuanya lagi dan berkata. "Sekarang ayah dan ibu sudah merasa tenang kan? Sebentar lagi aku dan kekasih ku akan keluar... jadi tidak bisa lama-lama menemani ayah dan ibu mengobrol." Lanjut Gara beralasan.
"Ah... iya, maaf jika kedatangan Ayah dan Ibu terlalu mengganggu sepagi ini. Kami kemari tadi hanya mampir, kebetulan setelah berolahraga kami lewat sini dan mampir. Tidak di sangka malah langsung dapat menantu," ujar Aurora sembari menyentuh lembut pipi Juni.
Hati Juni seolah bergetar, wanita paruh baya itu tersenyum sangat tulus padanya, dia seperti baru saja merasakan kasih sayang ibu yang telah lama hilang darinya. "Siapa nama mu tadi?" Kata Aurora dan membuat Juni tersentak karena baru tersadar dari lamunannya. "Nama ku, Juni, Bi."
"Nama yang bagus, kau pasti lahir di bulan Juni ya?" Bahkan tutur bahasanya sangat halus saat bertanya, membuat Juni makin terkesan.
"Benar, bi," jawab Juni seraya tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu kami tidak akan lama, kami juga ada acara pagi ini. Kapan-kapan kita bisa bicarakan masalah ini lebih lanjut lagi." Ucap sang ayah.
"Baiklah, yah... hati-hati di jalan." Sepertinya Gara benar-benar ingin kedua orang tuanya itu segera berlalu dari apartement-nya.
"Baiklah sayang, kami permisi dulu." Aurora mendaratkan ciuman di pipi kiri dan kanan putranya. Selain Juni, selama ini hanya sentuhan ibu nya yang membuatnya tidak alergi.
Aurora beralih ke arah Juni dan melakukan hal yang sama. Aurora tidak sadar, jika yang di lakukannya itu membuat Juni ingin menangis karena terharu. Sudah lama sekali rasanya dia tidak pernah di perlakukan sehangat itu dari sosok seorang ibu.
Selama ini, hidupnya sudah terlalu keras, dia tidak mengenal kasih sayang dari seorang ibu lagi semenjak ibunya meninggal. Dan di rumah, hidupnya bagai ada di dalam neraka karena keberadaan sang ibu tiri dan adik tiri bawaan dari sang ibu tiri. Mereka mengikis kasih sayang Ayahnya kepadanya. Pria paruh baya itu, Juni seolah tak mengenalnya lagi.
Sudahlah, jangan di ingat, itu hanya akan membuat dirinya lemah.
Juni hanya mengangguk seraya tersenyum sebagai balasan, karena jika dia mulai mengeluarkan suara, dia takut air matanya akan jatuh.
Pasangan paruh baya itu akhirnya berlalu. Dan Gara akhirnya bisa menarik napas lega. Dia buru-buru menutup pintu apartement-nya kembali dan menarik Juni masuk ke dalam.
"Kau jangan salah paham ya, dengan apa yang ku katakan pada orang tua ku tadi. Aku hanya tidak ingin membuat mereka terus-terusan khawatir dengan keadaan ku. Rumor yang mengatakan bahwa aku seorang homo, sangat mengusik hati mereka. Dan karena itu, mereka jadi sering datang kesini untuk menceramahi ku. Aku jadi sedikit bosan mendengarnya. Jadi ku katakan saja kau kekasihku agar mereka berhenti menceramahi ku." Jelas Gara.
"Tuan... harusnya anda merasa bersyukur karena masih memiliki orang tua lengkap, dan mereka sangat peduli pada tuan. Karena tidak semua orang bisa seberuntung tuan." Juni menundukkan kepalanya, lalu buru-buru meralat kata-katanya, "maaf jika aku terlalu lancang bicara."
Gara kemudian berpikir, gadis ini tidak buruk. Mungkin dia bisa mengajak gadis ini untuk bekerja sama.
"Apa pekerjaan mu?" Gara tiba-tiba bertanya. "Dan siapa pria botak semalam yang hampir menjebak mu?"
"Aku...," sejenak Juni merasa ragu, tapi dia harus berani jujur pada dirinya sendiri. Dia harus berani mengatakan yang sebenarnya. "Aku... penulis novel, tapi sepertinya aku belum berhasil." Juni memejamkan matanya rapat-rapat, dia takut pria di hadapannya ini akan mengejeknya.
"Tidak apa-apa, gagal itu wajar, asal kau jangan menyerah, jika kau menyerah, impian mu selesai." Sungguh di luar dugaan, pria itu malah memotivasinya.
Juni jadi merasa bingung dengan sikap pria di hadapannya ini, kadang terlihat arogant dan sombong, tapi kadang dia juga baik hati.
"Oh... iya, aku menawarkan sebuah kerja sama padamu, apa kau bersedia?"
"Apa?"
"Aku yakin kau sedang butuh uang untuk bertahan hidup kan? Aku tahu kau belum bisa menghasilkan dari menulis novel mu itu kan? Jadi aku yakin kau tak akan menolak tawaranku."
Sialan!
Sesaat Juni merasa menyesal telah memuji pria itu baik hati tadi. Tetap saja mulutnya tajam seperti iblis.
"Jadi bagaimana?" Tanya Gara lagi memastikan.
"Aku harus tahu dulu, tawaran kerja sama apa yang tuan maksud?" Juni menatap menyelidik ke arah Gara.
Pria itu tidak sedang merencanakan sesuatu yang buruk kan? Sikapnya sungguh sulit di tebak.
Bersambung.