“Life is a series of surprises. Cause we never know what is gonna happen next, right?” - anonymous -
# # #
Telapak tangan yang cukup kekar tengah menyeret sebuah kopor besar. Seorang pemuda berhenti di depan gerbang rumah mewah berlantai dua. Rambut model pompadour itu sudah tidak karuan lagi bentuknya akibat ulah sandaran jok bus antarkota semalam. Sudut bibirnya mengembang. Ia puas. Jari tengahnya membetulkan letak kacamata bulat John Lennon yang sedikit melorot.
Lega sekali rasanya bisa kembali lagi ke rumah ini. Sudah menggunung kerinduannya untuk kembali tinggal di kota ini seperti waktu dulu. Udara segar di pagi buta menyeruak bersama aroma kerinduan. Rasanya begitu nyaman. Segalanya sempurna.
Kicau merdu para pipit adalah harmoni paling sempurna pagi itu. Namun mentari masih terlelap. Belum nampak tanda-tandanya dari ufuk. Pagi masih sedikit berkabut sehingga jalanan tidak begitu jelas terlihat.
“Halo?” Ia menjawab dering telepon pertamanya pagi ini.
“Mas Juna!” teriak suara di seberang. Seketika Juna berjengit. Spontan ia menjauhkan badan ponsel beberapa senti dari telinganya. Sudut bibirnya terangkat, seperti sudah menduga akan ada yang menelepon.
“Gimana bisa Mas Jun meninggalkan saya dan berangkat sendiri ke sana?” Terdengar nada protes sekaligus khawatir dari lelaki paruh baya dengan logat Jawa Timurnya yang medhok.
“Tenang saja, Pak Yo. Saya baru saja sampai di depan rumah lama. Pak Yo cepatlah nyusul ke sini, oke?” kata Juna. Ia menekuk-nekuk tengkuknya yang kaku disusul dengan peregangan. Badannya terasa pegal. Duduk terlalu lama di dalam bus kota semalaman ternyata memang bukan ide yang cukup bagus.
“Saya sangat lega kalau Mas Juna baik-baik saja. Baiklah, tiga jam lagi saya tiba di sana. Tapi gimana nanti Mas Juna bisa membuka pintunya? Lha wong Mas Jun meninggalkan semua kuncinya di sini,” kata suara medhok Pak Aryo di seberang telepon. Tersirat kecemasan di sana.
“Pak Yo tenang saja. Saya sudah menggandakannya seminggu yang lalu. Maaf, karena ndak memberitahu Pak Yo sebelumnya.” Ringan saja Juna mengatakan itu sembari melambung-lambungkan segerombol kunci di tangan kanan.
“Mas Juna menggandakan semuanya?”
“Mm,” Juna membenarkan. “Saya senang melakukannya.”
“Wah, hebat tenan3 (banget) Mas Jun iki4 (ini). Selalu penuh kejutan. Dan selalu bikin saya kuatir pada akhirnya.”
Juna tergelak.
“Maafkan saya karena sudah membuat Pak Yo khawatir. Baik, sudah dulu ya, Pak. Nikmati perjalanan. Sampai ketemu tiga jam lagi.”
Klik!
Footnote:
3 sungguh/serius/banget
4 ini
# # #
“Selamat pagi. Kepolisian Kota. Ada yang bisa kami bantu?” jawab seorang petugas kepolisian yang tengah berjaga malam. Suaranya pagi ini tetap terdengar tegas walau semalaman terjaga.
“Selamat pagi, Pak. Tolong segera datang kemari. Ada maling, Pak, di sini. Maling! Sekarang sedang mencoba membobol rumah saya!!” seru seorang ibu di seberang telepon. Ibu itu terdengar panik dan ketakutan.
“Bu, mohon tenangkan diri. Tolong katakan pelan-pelan di mana lokasi Ibu sekarang.”
“Sial! Kenapa nggak bisa dibuka, sih…” Sementara itu seorang pemuda tengah sibuk berkutat dengan segerombol kunci dan gembok pintu gerbang rumah megah yang ingin ia masuki. “…kenapa lagi sih ini? Aku yakin udah benar kok bikin duplikatnya.”
Lima menit berlalu.
Pemuda itu masih saja disibukkan dengan kunci-kunci duplikat ketika suara sirene dari jauh makin lama makin dekat. Suara sirene itu tidak hanya berasal dari satu mobil. Lolongan sirene semakin jelas terdengar saling bersahutan.
“Lagi ngapain mobil ambulans pagi buta begini? Ada-ada aja sih kejadian mengerikan di kota kecil,” gumam si pemuda sembari terus memilah kunci mana yang cocok untuk membuka gembok pintu gerbang rumah besar itu.
Suara yang diduga adalah sirene ambulans tadi masih saja meraung. Disusul sorotan lampu depan mobil yang mengarah ke sosok pemuda yang tengah sibuk membuka gembok pintu gerbang. Sementara pemuda itu masih saja fokus pada gerombolan kunci duplikat hingga tak menyadari ada lampu yang menyorotinya.
“Sial! Kenapa masih tetap nggak bisa dibuka?” Pemuda itu mulai kesal. “Baiklah, ini kunci terakhir…”
“Angkat tangan!” seru seseorang dari arah samping.
Pemuda itu mendesis. “Gimana aku bisa buka gembok dengan tangan terangkat, huh? Jangan berc…”
Seketika pemuda itu menoleh. Ia membatu di tempatnya berdiri. Matanya terbelalak. Cukup jelas untuk melihat ada dua mobil polisi dan empat petugas yang saat ini tengah mengacungkan pistol ke arahnya.
“…canda.”
Segerombol kunci di tangannya terjatuh begitu saja. Menimbulkan bunyi gemerincing yang kedap. Sontak pemuda itu menuruti perintah. Ia mengangkat kedua tangannya. Keringat dingin membanjiri pelipis.
“Katakan itu di kantor polisi!” seru salah seorang polisi yang membawa borgol. Lolongan sirene yang dikira si pemuda adalah mobil ambulans, ternyata adalah mobil patroli polisi. Lebih tepatnya adalah mobil patroli polisi yang bertujuan untuk menangkap dirinya.
“Tu-tunggu, Pak! Apa salah saya?”
Tak butuh waktu lama saat sepasang borgol menghiasi kedua pergelangan tangan si pemuda. Terdengar bunyi klik yang mengerikan saat borgol itu terlilit di sana.
“Tanyakan itu di kantor polisi!” seru polisi yang tengah memborgolnya.
Sebagian yang lain tengah menyita sebuah kopor besar berwarna hitam dan satu barang bukti berupa segerombol kunci. Polisi itu kemudian memasukkan segerombol kunci ke dalam kantong plastik khusus guna penyelidikan lebih lanjut.
“Pak, tolong dengarkan penjelasan saya. Saya tinggal di rumah ini, Pak!” Pemuda itu tergagap karena gemetar.
“Katakan itu di kantor polisi! Sekarang cepat masuk!”
Dua polisi menyeret paksa pemuda itu untuk masuk ke dalam mobil patroli. Setelah pintu mobil ditutup, salah satu mobil segera melaju.
“Terima kasih banyak, Pak. Untung Pak Polisi cepat datang, kalau tidak entah apa yang akan dilakukan pencuri tadi pada saya,” kata seorang ibu yang tadi menelepon panggilan darurat kepolisian. Ia merasa sangat lega dan senang.
“Sudah menjadi tugas kami, Bu. Baik, kami permisi dulu. Selamat pagi.”
Keduanya bergegas memasuki mobil patroli setelah memberi hormat.
# # #
“Mbok Umi, aku akan sampai sekitar dua jam lagi. Apa Mbok sudah menyiapkan kamarku?” tanya Arum pada seseorang yang tengah diteleponnya pagi ini.
“Iya. Sudah Mbok siapkan sesuai pesananmu. Kamu tenang saja.” Suara ibu-ibu terdengar jelas dari pengeras suara ponsel pintar milik Arum. Aksen medhok itu tak pernah ketinggalan.
Kaki Arum perlahan menginjak pedal rem. Ia tengah duduk memegang kemudi mobil. Jazz putihnya berhenti di depan lampu merah. Ponselnya ia atur pada mode loudspeaker dan diletakkan di atas dasbor. Jalanan masih lengang pagi itu.
“Baiklah, terima kasih banyak, Mbok. Maaf sudah banyak merepotkan.”
“Iyo, Nduk5 (Nak). Yo wis6 (Ya sudah), ati-ati di jalan. Kamu nyetir sendiri, ta*?” tanya Bu Umi.
“Mm,” Arum membenarkan.
“Ya ampun, Nduk. Memangnya kamu sudah punya SIM?”
“Udah dong, Mbok. Aku lulus tes mengemudi bulan kemarin.” Ada nada bangga pada pernyataannya.
“Ealah, yo syukur7 (Wah, syukurlah). Mbok ikut seneng.”
“Sebenarnya bukan lulus tes sih, Mbok. Aku langsung tembak SIM kok,” akunya kemudian diikuti gelak tawa.
-
"Oalaah, iyo wis, ora apa-apa8 (Oh, ya sudah tidak apa-apa).” Bu Umi melanjutkan, “Akhir-akhir ini banyak polisi patroli di sekitar lingkungan sini. Mbok kuatir kalau sampeyan nyetir tanpa surat izin, Nduk.”
“Emangnya ada kejadian apa, Mbok?”
“Sampeyan tahu sendiri ta, di lingkungan Mbok banyak banget yang namanya maling. Kemarin rumah tetangga berhasil dibobol pencuri. Emas sama uang ludes. Untung pencurinya bisa segera ketangkep, karena rumah tetangga dilengkapi si-si-ti-pi.”
“CCTV maksud Mbok?” ralat Arum. Ia memaklumi karena orang Jawa sangat susah mengucapkan huruf F dan V. Sehingga di mulut orang Jawa seperti Bu Umi, kedua huruf tersebut secara otomatis akan berubah bunyi menjadi huruf P.
“Iya, si-si-ti-pi,” ulang Bu Umi dengan logat medhok-nya yang khas. Walau salah ucap, Bu Umi tetap saja mengucapkan istilah yang sama dengan percaya diri. Hal itu yang terkadang membuat Arum terkekeh geli.
“Ah, begitu.”
Arum memasukkan gigi kemudi dan menginjak gas perlahan-lahan karena lampu sudah menyala hijau.
“Dan kamu tahu ndak9 (tidak)? Pagi buta tadi, rumah Mbok nyaris saja kemasukan maling.”
“APA?! Ya Tuhan! Mbok baik-baik saja, kan?” Arum berteriak panik. Ia terkejut dan tidak sengaja menginjak pedal rem secara tiba-tiba. Lolongan klakson kendaraan di belakang Arum saling bersahutan sebagai bentuk protes. Perlahan-lahan kakinya kembali menginjak pedal gas.
“Wis, tenang wae10 (saja). Saiki11 (sekarang) wis aman. Maling itu sudah dibekuk sama pulisi. Karena Mbok segera telpun mereka setelah melihat gerak-gerik mencurigakan dari gerbang depan. Maling itu mencoba membuka gembok pintu gerbang pakek kunci palsu.”
“Maksud Mbok kunci duplikat?”
“Mbuh apa kuwi jenenge12 (Entah apa itu namanya), Mbok ndak tahu. Sing13 (Yang) jelas sampeyan kudu waspada. Elinga14 (ingatlah) nomor panggilan darurat. Yo, Nduk?”
“Iya, Mbok. Aku ngerti. Baiklah, aku tutup dulu, ya, Mbok. Oh iya! Setelah sampai di sana, aku ada urusan sebentar. Jadi akan sedikit terlambat datangnya. Nggak apa-apa, kan, Mbok?” Arum melirik benda persegi yang tergeletak di sebelah ponselnya di dasbor. Sebuah dompet yang ia temukan di dekat trotoar kemarin sore.
“Lho, kamu mau ke mana? Kamu mau kencan sama wong gantheng15 (orang tampan), yo?” Bu Umi mulai menggoda Arum seperti biasa.
“Ah, bukan kok, Mbok,” elaknya dengan senyum canggung.
“Ya wis, hati-hati di jalan. Telpun lagi kalau kamu sudah dekat.”
“Baik, Mbok.”
Klik!
■♡■
Footnote:
5 panggilan untuk anak perempuan (Jawa)
6 ya sudah
7 wah, syukurlah
8 oh, ya sudah tidak apa-apa
9 tidak
10 saja
11 sekarang
12 entah apa itu namanya
13 yang
14 ingatlah
15 orang tampan
* bunyi ‘a’ dalam bahasa Jawa terkadang diucapkan sebagai ‘o’, seperti pada kata “sombong”
# # #