Mereka sedang berada di ruang keluarga. Emi duduk di hadapan Yudhis. Tangannya meraih salah satu tangan Yudhis. Kemudian menggenggamnya di antara kedua telapak tangan. Yudhis melihatnya. Cincin itu. Emi memakai cincin pemberian Yudhis. Sayangnya, Yudhis gagal menutupi kegembiraan. “Ada apa, Yud?” tanya Emi. Raut muka Yudhis seperti ingin mengatakan sesuatu. Mulutnya sedikit terbuka dan matanya berbinar karena terlalu senang. “Cincin itu ...” kata Yudhis ragu-ragu. “... bagus.” Nyaris saja ketahuan, batinnya. Yudhis kembali pada ekspresinya semula. Diam dan datar. Ia kembali membuang pandangan ke luar jendela. “Iya, aku setuju. Cincin ini bagus.” Emi mengangguk setuju. Pandangannya tertuju pada cincin yang ia pakai di jari manis tangan kanan. “Cincin ini dari kamu, Yud.” “Dari aku?” u
ดาวโหลดโดยการสแกนรหัส QR เพื่ออ่านเรื่องราวมากมายฟรี และหนังสือที่ได้รับการอัปเดตทุกวัน


