"Apa?" lirih Emi. Tidak menyangka bahwa ia akan mendapat respon yang sedemikian mengejutkan dari mulut pelayan setianya. Bahkan berita ini lebih gawat dari gaji karyawannya yang telat ia bayarkan. Pak Aryo menunduk dalam-dalam. Gurat-gurat rasa bersalah terpahat penuh di wajahnya. "Maaf, Non," ucap Pak Aryo. Ia masih tidak berani menatap anak majikannya. Pada akhirnya hanya kata penyesalan yang mampu terucap. "Tapi kenapa, Pak? Untuk apa mereka mengambil semua kontak di ponsel Pak Aryo?" tanya Emi penasaran. Yudhis yang ada di sebelahnya sudah tidak bisa berkata apa-apa. Emi menghela napas berat. Menyayangkan apa yang telah dan sedang terjadi. Menyesal sepertinya bukan solusi dan sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Emi memejamkan mata mencoba menenangkan dirinya sendiri. Sedetik

